Rabu, 22 April 2026
Beranda blog Halaman 9942

Jaga Kualitas Air Bersih, ATB Sedot Sedimentasi di Clearwell IPA Duriangkang

0

batampos.co.id – PT Adhya Tirta Batam (ATB) akan melakukan pekerjaan penyedotan sedimentasi pada penampung air hasil olahan (Clearwell) di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Duriangkang. Pekerjaan ini dilakukan pada Rabu, 2 September 2020 hingga Kamis, 10 September 2020.

Pekerjaan penyedotan sedimentasi di Clearwell ini merupakan bagian dari pemeliharaan infrastruktur, guna menjaga kualitas air bersih yang akan didistribuskan kepada pelanggan ATB.

“Ini merupakan pekerjaan rutin yang biasa dilaksanakan secara periodik,” ujar Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus.

Clearwell adalah tempat penampungan air bersih yang telah selesai diolah sebelum disalurkan kepada pelanggan.

ATB rutin membersihkan bagian ini dari endapan sedimentasi, agar kualitas air yang didistribusikan tetap terjaga dengan baik.

ATB berupaya agar tidak terjadi penurunan kualitas air bersih selama proses pekerjaan berlangsung.

PT Adhya Tirta Batam (ATB) akan melakukan pekerjaan penyedotan sedimentasi pada penampung air hasil olahan (Clearwell) di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Duriangkang. Pekerjaan ini dilakukan pada Rabu, 2 September 2020 hingga Kamis, 10 September 2020. Foto: ATB untuk batampos.co.id

ATB telah menyiapkan skema kerja yang sesuai, agar proses pekerjaan tidak mengganggu keandalan suplai kepada pelanggan.

“Kami berupaya semaksimal mungkin agar pekerjaan ini tidak mengganggu suplai kepada pelanggan,” jelasnya.

Namun menurut Maria, pelanggan di sejumlah titik terdampak perlu mulai bersiap menampung air seperlunya, guna mengurangi potensi dampak yang mungkin ditimbulkan selama pekerjaan berlangsung.

Menurut Maria, tim akan berupaya keras agar pekerjaan ini tidak memberikan dampak terhadap kualitas dan kontinyuitas suplai kepada pelanggan.

ATB mengoptimalkan kualitas air yang didistribusikan kepada pelanggan, agar tetap memenuhi standar yang disyaratkan.

Demikian juga terhadap kontinyuitas suplai. Sejumlah rekayasa akan disiapkan agar kontinyuitas suplai kepada pelanggan tetap terjaga dengan baik, terutama di sejumlah daerah yang berpotensi terkena dampak.

Beberapa titik yang kemungkinan akan terdampak adalah Perumahan Gardan Raya, Buanavista tahap 3 dan 4, Nadim Raya, Pemko Sekawan, Gesya Resident, Botania Tahap 4 dan 5, Bukit Palem, Buana Regency, Batara Raya, Rexvin dan sekitarnya.

“Jangan khawatir, karena kami akan berupaya seoptimal mungkin agar dampak yang dirasakan pelanggan seminimal mungkin,” jelasnya.

Untuk informasi lebih lanjut silakan menghubungi call center ATB (0778) 467111, atau inbox di fanpage ATB Batam.(*)

Sekda Tinjau Lokasi Pelaksanaan MTQ Kepri

0

batampos.co.id – Sekdaprov Kepri TS Arif Fadillah meninjau lokasi pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Kepri di Kawasan Gurindam 12. Di masa pandemi, keserdehanaan dan kualitas pelaksanaan diharapkan menghasilkan qori-qoriah terbaik yang ajak ikut dalam MTQ Nasional di Sumatera Barat (Sumbar).

“Kita ingin memastikan semua persiapan berjalan sebagaimana mestinya. Sehingga di hari pelaksanaan, tidak ada lagi kendala yang berarti. Sampai saat ini, pekerjaan sudah selesai 85 persen untuk pelaksanaan MTQ,” kata Arif di Gurindam 12, Senin (31/8).

Arif mengingatkan koordinator tiap acara untuk memperhatikan detil persiapan. Misalnya di astaka MTQ, semuanya harus sudah selesai secepatnya. Baik astaka, stand bazar, tenda dan semua perangkat pendukung lainnya.

Untuk persiapan pawai dari Gedung Gonggong diperhatikan betul barisan dan jumlah orangnya. Karena semua harus taat dengan protokol kesehatan pada pelaksanaan pada 19-23 September 2020 nanti.

“Protokol kesehatan harus ketat. Yakinkan benar setiap peserta, panitia, pelaksana dan undangan lainnya sudah dirapidtest,” kata Arif. Karena itu, Arif mengingatkan agar pada tanggal 12 September nanti sudah disiapkan posko untuk rapid test.

Arif meninjau bersama sejumlah Kepala OPD. Tampak hadir Asisten Administrasi Umum Muhammad Hasbi, Kadis Pariwisata Buralimar, Kadis PU Abu Bakar, Kasis Perkim Mahyudin, KadisPerindag Burhanuddin, Kadis Kebudayaan Yerry Suparna. Hadir juga Karo Kesra Aiyub, Karo Pembangunan Aries Fhariandi dan Plt Karo Humas Protokol dan Penghubunh Zulkifli. (*/uma)

100 Dokter Gugur Akibat Covid-19, IDI Minta Diberi Perlindungan Ekstra

0

batampos.co.id – Duka mendalam kembali menyelimuti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), khususnya di Medan dan Sumut. Dua dokter spesialis meninggal dunia akibat terserang Covid-19. Keduanya adalah dr Daud Ginting SpPD FINASIM dan dr Edwin Parlindungan Marpaung SpOT. Mereka adalah dokter ke-99 dan 100 yang gugur akibat Covid-19.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat, hingga 30 Agustus sebanyak 101 dokter meninggal akibat Covid-19. Ada dokter umum, banyak juga yang dokter spesialis. Bahkan, tidak sedikit yang tidak secara langsung menangani pasien Covid-19.

Ketua IDI Cabang Medan dr Wijaya Juwarna Sp-THT-KL menjelaskan, dr Daud Ginting yang berusia 66 tahun meninggal pada Minggu (30/8) sekitar pukul 02.00 WIB. Kesehariannya bertugas di RSUD dr Pirngadi Medan.

’’Beliau (dr Daud Ginting) dirawat seminggu di RSU Mitra Sejati. Kemudian dirujuk dan dirawat selama seminggu pula di RSU Martha Friska Multatuli,’’ terang dr Wijaya kepada Sumut Pos kemarin (31/8). Selain itu, sambung dia, istri dr Daud juga dirawat di RSU Martha Friska Multatuli karena Covid-19. Hingga kemarin, sang istri masih menjalani perawatan intensif.

Sementara itu, dr Edwin Parlindungan Marpaung meninggal pada Minggu (30/8) pukul 21.44 WIB. Dokter spesialis bedah tulang tersebut wafat di RS Columbia Asia. ’’Usia dr Edwin sekitar 44 tahun. Selama ini bertugas di RS Siloam, RS Murni Teguh, dan sejumlah rumah sakit lain,’’ tutur Wijaya.

Lebih lanjut, Wijaya mengatakan, saat ini masih ada 14 anggota IDI Cabang Medan yang sedang berjuang melawan Covid-19. Mereka diisolasi di rumah sakit. Ada juga yang memilih isolasi mandiri. ’’Ada 7 orang yang dirawat di rumah sakit dan 7 lagi isolasi mandiri,’’ katanya.

Itu baru dokter. Belum termasuk perawat. Menurut Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), ada 70 perawat yang meninggal karena Covid-19. Jawa Timur menjadi penyumbang terbanyak kematian perawat. Sama halnya dengan dokter yang meninggal.

Ketua PPNI Pusat Harif Fadilah kemarin (31/8) menyatakan, tenaga kesehatan (nakes) menjadi garda depan dalam mengatasi Covid-19. Karena itu, risiko terpapar Covid-19 sangat besar. Risiko tersebut juga mengintai keluarga atau orang dekat. Bagi mereka yang belum terpapar, bisa saja akhirnya menanggung waktu kerja temannya yang terpapar.

”Perubahan waktu kerja pasti ada. Terutama di tempat yang perawatnya banyak terpapar,” ujarnya.

Risiko besar yang terus mengancam tenaga kesehatan itu turut diamini Ketua PB IDI Daeng M. Faqih. Terlebih dengan bertambahnya pasien Covid-19 saat ini. ”Dengan tambah banyaknya pasien, memang risiko bagi petugas kesehatan makin besar pula,” ujarnya. Karena itu, Daeng menekankan pentingnya perlindungan ekstra bagi petugas kesehatan.

Wakil Ketua Umum PB IDI Mohammad Adib Khumaidi menambahkan, pihaknya kini sedang menelusuri penyebab kematian para dokter. Apakah karena komorbid atau tertular langsung. Baik itu kaitannya dengan pelayanan maupun bukan.

Yang jelas, sebagian besar korban justru bukan dokter yang menangani pasien Covid-19 secara langsung. ”Artinya, sebenarnya risiko bukan hanya yang melayani pasien Covid-19 saja. Tapi, seluruh pelayanan aspek kesehatan saat ini,” tegasnya.

Hal ini, kata dia, disebabkan banyak pasien yang OTG (orang tanpa gejala) ataupun pasien Covid-19 dengan faktor lain. Misalnya, kehamilan dengan Covid-19, kecelakaan dengan Covid-19, atau gagal ginjal dengan Covid-19.

”Faktor itu yang kemudian menjadi dasar bahwa semua tenaga medis dan kesehatan yang menangani pasien itu berisiko,” papar dokter spesialis ortopedi tersebut.

Terkait penambahan pasien yang melonjak tajam beberapa hari terakhir, Adib mengaku cukup prihatin. Sebab, nakes sedang berjuang mati-matian dalam perang melawan pandemi ini.

Pihaknya mendorong adanya komite tenaga medis dan kesehatan pada pemerintah. Nantinya, komite itulah yang membuat langkah-langkah perlindungan bagi tenaga medis. Mulai pengaturan sistem kerja, jam istirahat yang tepat, nutrisi, hingga APD. ”Karena perang ini masih panjang. Dan negara butuh tenaga medis dan kesehatan untuk menghadapi ini,” tegasnya.

Sementara itu, epidemiolog Universitas Indonesia Syahrizal Syarif menjelaskan, gugurnya para dokter dan tenaga kesehatan tidak terlepas dari beban kerja yang berlebihan. Sebagian dokter yang meninggal adalah dokter umum dan spesialis penyakit dalam. ’’Artinya apa, memang mereka adalah petugas terdepan dalam menangani kasus,’’ terangnya kepada Jawa Pos kemarin.

Setiap kali ada kasus baru, yang menangani kali pertama adalah dokter-dokter tersebut. ’’Saya kira faktor kelelahan juga menyebabkan situasi yang kurang waspada,’’ lanjut Syahrizal. Padahal, di Indonesia tenaga dokter begitu berharga. Sebab, rasio dokter dengan penduduk masih sangat lebar. Mereka yang seharusnya menjadi garda terakhir malah menjadi garda terdepan.

Syahrizal menguraikan, 50 ribu kasus pertama di Indonesia dicapai dalam 114 hari. Itu cukup lama. Namun, 50 ribu kasus kedua dicapai hanya dalam 33 hari dan 50 ribu ketiga dalam 23 hari. Sementara itu, 50 ribu kasus keempat diprediksi tercapai pada 10–11 September atau 18 hari. ’’Akhir Desember kita akan mencapai angka 500 ribu kasus,’’ tuturnya.

Dengan kasus lebih dari 174 ribu, sudah ada 100 dokter yang meninggal. Tidak terbayangkan berapa dokter lagi yang akan menyusul bila kasusnya sudah mencapai angka setengah juta penularan. Karena itu, pemerintah harus melakukan segala cara untuk menekan penularan Covid-19. Dan yang penting, sanksi denda diberikan kepada mereka yang tidak patuh.

’’(Sanksinya, Red) Jangan push-up, push-up begitu, tidak memadai,’’ tambah Syahrizal.(jpg)

12 Nakes Positif Corona, RS Elizabeth Tetap Buka Layanan

0

batampos.co.id – Sebanyak 12 orang tenaga medis di Rumah Sakit Elizabeth terinveksi Covid-19. Ke-12 orang ini diisolasi di empat ruangan di RS Elizabeth Lubukbaja. Kepala Rumah Sakit Elizabeth, Dr Sahat H Siahaan mengatakan, ke-12 tenaga medis tersebut berasal dari RS Elizabeth Lubukbaja.

”Mereka sehat, tanpa gejala. Jadi kita isolasi di rumah sakit (RS Elisabeth Lubukbaja) saja,” kata Sahat dialsnir Harian Batam Pos, Senin (31/8).

Dia menjelaskan, dengan terinfeksinya tenaga medis ini, pelayanan di RS Elisabeth Lubukbaja maupun RS Elisabeth Batam Kota, tetap berjalan normal. ”Tidak ada gangguan, semuanya buka, dan berjalan seperti biasanya. Baik itu emergency, pelayanan melahirkan, maupun operasi,” sebutnya.

Sahat menjelaskan, saat ini tenaga medis memang banyak tertular Covid-19. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat mematuhi protokol kesehatan. ”Tetapi tenaga medis ini tertular bukan saat bertugas. Karena saat bertugas sudah sangat safety. Tertular seperti saat makan di luar bersama teman-temannya. Kan itu tidak pakai masker saat makan,” ungkapnya.

Dengan kejadian ini, Sahat meminta kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan kedisiplinan mematuhi protokol kesehatan. Di antaranya, wajib menggunakan masker dan menjaga jarak. ”Kalau pakai masker, potensi tertularnya itu sangat kecil. Jadi kedisiplinan itu sangat penting,” tutupnya.(*/jpg)

Krisis 2020 Berbeda Jauh dengan Krisis 1998

0

batampos.co.id – Anggota MPR dari Fraksi Demokrat Herman Khaeron mengatakan, UMKM dan koperasi merupakan pilar perekonomian bangsa. Meskipun ada ketimpangan dalam pertumbuhan kalangan usaha kecil dengan perusahaan besar.

Menurut Herman, UMKM merupakan jangkar perekonomian. Meski demikian diakui sektor ini bukan menjadi sektor utama pertumbuhan ekonomi. Disebut ada ketimpangan dalam pertumbuhan UMKM dan perusahaan besar.

“Jumlah UMKM kita mencapai puluhan juta. Dan UMKM itu jangkar perekonomian,” ujar Herman dalam Diskusi Empat Pilar MPR bertema ‘Optimalisasi Pemberdayaan UMKM di Tengah Pandemi’, gedung parlemen, Jakarta, Senin (31/8).

Data yang menyebut jumlah sektor itu mencapai 27 juta hingga 60 juta menurutnya diperlu terus untuk di up date. Sebab, krisis yang terjadi pada tahun 2020 kata Herman, berbeda dengan krisis yang terjadi pada tahun 1998.

“Pada tahun 1998, yang terpukul hanya pada sektor perekonomian. Beda dengan krisis saat ini,” tuturnya.

Saat ini yang terdampak tidak hanya pada sektor ekonomi namun juga sektor kesehatan. Hal demikian disebut dialami oleh seluruh negara yang ada di dunia. Dipaparkan, bila pada tahun 1998, di tengah krisis ekonomi, masyarakat masih bisa jalan-jalan, ngobrol dengan tetangganya, serta aktivitas lainnya. Namun aktivitas seperti itu tidak bisa dialami oleh masyarakat pada masa sekarang.

“Antar tetangga pun sudah saling curiga, jangan-jangan menularkan Covid-19,” ungkapnya.

Semua usaha bisa dikatakan mengalami goncangan. Meski demikian disebut ada sektor yang masih bisa berjalan pada masa pendemi Covid-19. Sektor itu disebut pada bidang pangan, farmasi, dan kesehatan.

Lebih lanjut, Herman menyarankan, untuk menumbuhkan sektor ekonomi dan usaha, maka pemerintah dan masyarakat harus menyelesaikan masalah yang ada tidak boleh segmentasi. “Harus ada kerja yang komprehensif baik untuk mengatasi pandemi serta memulihkan UMKM maupun usaha yang besar,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Paramadina Prof. Firmanzah menuturkan, UMKM mempunyai peran yang sangat besar dalam pertumbuhan ekonomi. Kontribusi terhadap PDB mencapai lebih dari 60 persen. Sektor ini juga mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Firmanzah mengatakan, model perekonomian Indonesia berbeda dengan yang berkembang di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Di negara-negara itu, orientasinya ekspor.

Sedang model perekonomian yang ada di Indonesia berupa perekonomian kerumunan. Model perekonomian seperti ini, yakni 99 persen adalah UMKM, maka ia menjadi penopang perekonomian. Perekonomian tumbuh atau tidak, tergantung sektor ini. Meski demikian, model perekonomian seperti ini memiliki sisi positif dan negatif.

“Ekonomi kerumunan itu kalau satu gulung tikar masih banyak yang lain yang masih menopang,” ujarnya.

Berbeda dengan ekonomi yang berbasis konglomerasi. “Satu konglomerasi gagal akan berpengaruh pada ekonomi yang lain seperti yang terjadi pada tahun 1998,” ungkapnya.

Untuk optimalisasi UMKM menurut Firmanzah ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah, yakni pertama, memberi stimulus. Dana yang sudah dianggarkan harus segera direalisasikan. Kedua, stimulus yang ada harus tepat sasaran. “Jangan sampai salah sasaran,” ujarnya.

Ketiga, harus kontekstual artinya ada daerah-daerah di mana populasi UMKM-nya perlu menjadi fokus dari kebijakan stimulus.

Dari model perekonomian kerumunan, Firmanzah mencontohkan negara Aljazair. Pada tahun 1998, negara itu memformalkan ekonomi kerumunan. “Agar ekonomi kerumunan bisa terstruktur, caranya adalah formalisasi dunia usaha,” ungkapnya.

Ia yakin dan optimis bahwa Covid-19 akan berlalu. Dikatakan menangani Covid-19 rumusnya sederhana. “Tinggal menunggu vaksin datang. Bila sudah divaksinkan maka selanjutnya masyarakat terbebas Covid-19,” ujarnya.

Sementara ituSekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof. Dr. Rully Indrawan mengatakan, UMKM sering dianggap sebagai pahlawan di saat krisis ekonomi.

“Namun begitu krisis selesai, UMKM dilupakan,” tuturnya.

Padahal di berbagai negara termasuk di negara maju seperti Jepang, Amerika, dan Singapura, sector ini memiliki kontribusi yang besar dan sangat signifikans.

Membedakan UKMK di antara negara maju dan berkembang menurut Rully hanya pada standar dan klasifikasinya. “Kalau di Indonesia UMKM standarnya di bawah Rp 50 juta. Di Jepang batasnya lebih tinggi dari itu,” tambahnya.(jpg)

PGRI Sarankan Guru yang Dapat Tunjangan Kinerja Tidak Diberi Kuota Gratis

0

batampos.co.id –  Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Unifah Rosyidi, menyampaikan kepada pemerintah untuk mengklasifikasikan siapa saja yang berhak dan tidak berhak dapat bantuan kuota gratis.

“Jadi dilihat dari keadaan sosial ekonomi, itu pemerintah punya kriteria. Sebenarnya yang harus dilakukan adalah bagaimana kita melihat klasifikasi guru, misalnya guru di daerah mana yang berhak dan tidak berhak,” ungkapnya, Senin (31/8/2020) seperti yang dilansir dari JawaPos.com.

Misalnya saja, yang mendapatkan tunjangan kinerja pemerintah daerah tidak diberikan kuota gratis.

Sedangkan, yang tidak mendapat tunjangan diperbolehkan, itu merupakan salah satu keadilan sosial.

Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi. Foto: Hilmi Setiawan/Jawa Pos

“Yang dapat tunjangan kinerja pemerintah daerah mungkin digeser dulu, diberikan kepada yang tidak dapat mendapatkan tunjangan kinerja,” ungkapnya.

Maka dari itu, pemerintah pusat harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, dinas pendidikan daerah serta kepala sekolah untuk mengawasi anggaran besar itu tidak tepat sasaran.

“Sekarang tinggal bagaimana proses, jangan sampai bocor kemana-mana. itu perlu data, juklak, juknis dan koordinasi. Langkah tercepat yang harus dilakukan adalah membuat juklak (petunjuk pelaksana) dan juknis (petunjuk teknis), disosialisasikan,” terang dia.

Seperti diketahui, pemerintah akan memberikan subsidi kuota gratis untuk murid, guru, mahasiswa dan dosen.

Untuk guru sendiri akan mendapatkan bantuan sebesar 40 GB selama empat bulan ke depan.(jpg)

Kini, Hanya Dua Kecamatan di Batam yang Masuk Zona Hijau

0

batampos.co.id – Penyebaran virus Covid-19 pada Agustus 2020 terus terjadi dan pada Senin (31/8/2020) empat warga Kota Batam kembali terkonfirmasi positif.

Dilansir dari website lawancorona.batam.go.id, diketahui saat ini total jumlah pasien Covid-19 di Kota Batam sebanyak 667 orang.

Pada Agustus 2020 pasien Covid-19 didominasi oleh tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas di RSUD Embung Fatimah dan RS Elisabeth.

Tangkapan layar peta penyebaran Covid-19 di Kota Batam hingga Senin (31/8/2020).

Tingginya jumlah kasus positif Covid-19 di Kota Batam menyebabkan 6 kecamatan masuk dalam zona merah, yaitu:

1. Nongsa
2. Batam Kota
3. Batu Aji
4. Sei Beduk
5. Lubuk Baja
6. Sekupang

Sementara dua kecamatan masuk zona merah muda, yaitu:

1. Sagulung
2. Bengkong

Selain itu dua kecamatan masuk dalam zona kuning, yaitu:

1. Bulang
2. Batu Ampar

Sedangkan dua kecamatan yang masih aman atau zona hijau, yaitu:

1. Belakang Padang
2. Galang

Perlu diketahui, meski saat ini Kecamatan Belakang Padang termasuk zona hijau, namun beberapa waktu lalu dua warganya pernah dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

Dari dua orang tersebut diketahui satu orang meninggal dunia dan satu dinyatakan sembuh.(*/esa)

Jika RUU Ciptaker Disahkan, Indonesia Bisa Kebanjiran Ijazah Palsu

0

batampos.co.id – Anggota Komisi X DPR Fahmy Alaydroes khawatir dengan disahkannya RUU Cipta Kerja. Karena jika disahkan bisa jadi akan marak dengan penerbitan ijazah palsu.

Pasalnya, kata Fahmy, tiga pasal yang terkait dengan hal tersebut yang tercantum dalam UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003 akan dihapuskan.

Pasal tersebut adalah Pasal 67, 68, dan 69. Ketiganya mengatur sanksi bagi pelaku pelanggaran yang menerbitkan, membantu, maupun yang memakai ijazah, sertifikat akademik palsu.

“Dihapusnya pasal sanksi di RUU ini tidak mendapat sanksi terhadap pelanggaran perseoarangan, organisasi atau penyelanggara pendidikan dalam pemberian izin atau sertifikasi kompetensi,” jelas Fahmy dalam sebuah webinar, Senin (31/8).

Maka dari itu, penghapusan tersebut akan menimbulkan ijazah palsu bermunculan. Kata Fahmy, RUU Ciptaker dinilai seperti membiarkan orang lain untuk membuat tindakan tidak terpuji atau pengkhianatan terhadap pendidikan.

Dia pun tidak menerima penghapusan tiga pasal tersebut. Pasal sanksi yang dihapus itu pun, menurutnya telah bertolakbelakang dengan moral akademik.

“Ini benar-benar tidak bisa diterima. Bagaimana mungkin ada ijazah palsu ada sertifikat palsu itu tidak dikenakan sanksi. Berat itu bukan delik hukum, bukan delik pidana,” imbuhnya.

Fahmy melanjutkan, pada saat ada sanksi saja, ijazah masih banyak yang memalsukan, apalagi jika tidak. “Apalagi kalau tidak ada sanksi. Saya khawatir negeri kita akan kebanjiran ijazah palsu dan sertifikat palsu,” tegas dia.(jpg)

Marlin Ikut Bagikan Seragam Gratis untuk 734 Murid SD dan SMP di Kecamatan Galang

0

batampos.co.id – Dinas Pendidikan Kota Batam membagikan 734 Baju seragam untuk siswa-siswi SD dan SMP di Kecamatan Galang. Dengan rincian 397 anak SMP yang tersebar di 7 sekolah dan 337 anak SD yang tersebar di 16 Sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan juga melibatkan Bunda PAUD Kota Batam Marlin Agustina dalam kegiatan yang dilaksanakan di Kantor Camat Galang, Senin (31/08/2020).

Selaku Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kota Batam Marlin Agustina mengapresiasi kebijakan Walikota Batam Muhammad Rudi ini. Ia mengakui bahwa beban orang tua disaat pandemik ini sangat luar biasa, terlebih ibu.

Di mana sebelumnya tanggung jawab mendidik anak diberikan ke sekolah, namun saat ini ibu menjadi guru yang mendampingi anak di rumah.

“Sebenarnya sekolah seharusnya sudah mau dibuka Pak Wali, tapi karena ada penambahan (kasus Covid-19) lagi terpaksa ditunda, kesian juga anak-anak ini belajar di rumah. Apalagi kalau emaknya yang ngajar, karena itu mari kita jalankan protokol kesehatan sehingga Kota Batam bisa cepat pulih,” ajak Marlin saat memberikan sambutan.

Bunda PAUD Kota Batam Hj Marlin Agustina dalam kegiatan yang dilaksanakan di Kantor Camat Galang, Senin (31/08/2020). (istimewa)

Sebelum menutup sambutannya Marlin menegaskan kepada orang tua untuk lebih bersabar lagi. Sehingga anak-anak di rumah juga dapat lebih betah dan dapat mengikuti proses belajar dengan tenang.

“Saya mewakili anak-anak kita ini, meminta kepada ibu dan bapak untuk bersabar, jangan marah-marah, anak- anak ini juga stress bu, jadi harus banyak sabar ya ibu dan bapak,” tutup Marlin disambut tawa para orang tua.

Hendri Arulan melaporkan bahwa kegiatan ini adalah bentuk perhatian Pemerintah Kota Batam dalam menghadapi pandemik Covid-19 yang masih melanda Kota Batam.

Kegiatan ini merupakan buah pemikiran Walikota Batam Muhammad Rudi dalam meringankan beban orang tua dengan menggandeng Bank Riau Kepri melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR).

Selain itu, Hendri juga menekankan bahwa tidak ada pengadaan baju seragam untuk peserta didik pada tahun ajaran 2020 ini. Sehingga orang tua tidak perlu bingung ataupun resah dalam penerimaan siswa baru tahun ini.

Perwakilan Orang tua murid, Tamrin mengapresiasi dan berterima kasih dengan dibagikannya baju seragam ini.

“Terima kasih untuk Pak Walikota, Tahun ini anak-anak kita tidak diwajibkan memakai seragam. Malah kita dikasih gratis, hal ini sangat membantu kami masyarakat pulau ini,” ucap Tamrin. (*/uma)

33 Tenaga Medis di Batam Positif Covid-19, Totalnya Kini 85 Orang

0

batampos.co.id – Jumlah tenaga medis (nakes) yang terinfeksi Covid-19 di Batam terus bertambah. Data Gugus Tugas Percepatan Penangan Covid-19 Kota Batam pada Minggu (30/8), dari 46 pasien Covid-19 baru (versi Gugus Tugas Provinsi Kepri 59 kasus baru), 33 di antaranya tenaga kesehatan (nakes).

Bahkan, jika ditotal sedari awal Covid-19 jadi pandemi di Batam, sudah 85 nakes yang terinfeksi. Beberapa di antaranya sudah ada yang sembuh. Namun yang terbanyak dalam satu bulan terakhir. Baik dari fasilitas kesehatan (faskes) milik pemerintah maupun swasta.

Anggota Komisi IV DPRD Batam, Aman, menegaskan, semua pihak harus tetap menerapkan protokol kesehatan, terutama untuk tenaga medis yang setiap saat bersentuhan langsung dengan masyarakat yang sakit. Setiap orang sakit itu juga belum bisa dipastikan apakah sakit biasa atau suspect Covid-19.

”Memang harus sesuai standar medis diperlakukan, apakah orang sakit biasa atau orang sakit yang terkena Covid-19. Ketika belum tahu, dia (tenaga kesehatan, red) harus jaga diri dulu,” tegasnya dilansir Harian Batam Pos.

Sebab, kata Aman, ketika standar itu tidak dilakukan, maka dampaknya akan seperti yang terjadi pada saat ini. Semakin banyaknya tenaga kesehatan yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Aman mengatakan, dengan semakin banyaknya tenaga kesehatan yang terkonfirmasi positif, ia mengkhawatirkan pelayanan kepada masyarakat juga akan terganggu ke depannya.

”Padahal tenaga medis ini garda terdepan untuk memastikan masyarakat harus sehat, ditangani dan dilayani dengan baik. Ini perlu perhatian yang sangat serius,” katanya.

Ia mengingatkan, jangan gara-gara ada pemberlakuan adaptasi kehidupan baru, lalai dengan persoalan Covid-19 ini yang pada akhirnya tidak memakai alat pelindung diri (APD) dan segala macam pelindung diri.

”Saya pikir sampai kapan pun sebelum Covid-19 ini selesai, maka tenaga medis harus mengikuti protokol kesehatan dan menggunakan APD ketika menangani pasien,” lanjutnya.(*/jpg)