batampos.co.id – Tony Fernandes, CEO Grup Airasia, mendapatkan penghargaan dari Kerajaan Malaysia. Ia menerima penghargaan Pencapaian Sepanjang Hayat untuk pembangunan negara dari sektor swasta dalam acara Anugerah Pembangunan Negara dan Penentu Dunia 2019 yang diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (28/11) lalu.
Dilansir dari kantor berita Bernama, penghargaan tersebut diserahkan oleh Perdana Menteri Thailand, Jenderal Chavalit Yongchaiyudth disaksikan Ketua Institut Pembangunan Negara Internasional (NBII) Profesor Kriengsak Chareonwongsak.
Usai menerima penghargaan tersebut, Tony mengungkapkan pencapaian ini membuatnya bahagia dan berbesar hati untuk menerima penghargaan tersebut. Selama ini, dalam membangun maskapai Airasia, tujuan utamanya adalah mengembangkan dan membangun transportasi negara.
Tony Fernandes, CEO Grup Airasia
”Di AirAsia, agenda pembangunan negara juga menjadi tujuan utama bisnis kami dalam beroperasi. Kemakmuran berusaha mendapatkan dukungan pemerintah bukan sesuatu yang baru bagi kami. Itulah sebabnya, pembangunan ini bisa bertahan sampai sekarang, sejak 18 tahun yang lalu,” ujar Tony.
Airasia, seperti diketahui telah menjadi maskapai berbiaya rendah yang telah menjadikan Malaysia terhubung ke berbagai negara di dunia. ”Semua orang bisa terbang. Malahan dua per tiga dari rakyat Malaysia telah melakukan penerbangan. Sebagian besar berwisata, bisnis, pendidikan, bantuan kemanusiaan, dan lain-lain secara domestik dan internasional,” jelasnya.
Selain Tony, warga Malaysia yang juga mendapat penghargaan adalah istri Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr Siti Hasmah yang meraih Anugerah Pembangunan Negara Wanita.
Pemenang-pemenang anugerah ini terpilih melalui Panitia Pemilihan Internasional yang terdiri dari 14 tokoh terkenal internasional dan kriteria penilaian untuk Anugerah Pencapaian Sepanjang Hayat.
Termasuk faktor-faktor seperti prinsip yang diketengahkan, dampak, sumbangan, inovasi, bakti dan kelestarian. Acara ini diselenggarakan Institut Pembangunan Negara Internasional di Bangkok dengan kerja sama Institut Penyelidikan Ekonomi Malaysia (MIER) dan Pusat Penyelidikan, Penasihat dan Teknologi (CREATE). (*)
batampos.co.id – Plt Gubernur Kepri, Isdianto, merespons ketidaksetujuan Wakil Presiden RI, Ma’ruf Amin, terkait pemberhentian dua siswa SMPN 21 Batam, gara-gara tak mau hormat bendera Merah Putih dan tak mau menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ia meminta keputusan itu dikaji ulang.
“Saya minta keputusan dikeluarkannya siswa SMPN 21 Batam dikaji lebih matang lagi,” ujarnya di Batam Center, Sabtu (30/11/2019).
Selain itu, Isdianto juga meminta dimasukkan kembali berbagai pertimbangannya lainnya. Ia menilai, walaupun dua siswa itu tidak mengangkat tangan tanda hormat bendera Merah Putih saat upacara, tetap saja harus dipertimbangkan haknya mendapatkan pendidikan. Apalagi usia sekolahnya masih SMP.
Namun, Isdianto, mengaku akan membicarakannya ke Wali Kota Batam, Rudi. Karena untuk urusan SMP berada di tangan Pemerintahan Kota. “Saya akan tanyakan ke wali kota dulu langkah apa yang akan diambil selanjutnya,” katanya.
Sementara itu, pihak SMPN 21 Batam, Jumat (29/11) lalu, resmi mengembalikan dua siswa tersebut ke orangtua masing-masing.
Pihak sekolah memberikan orangtua siswa tersebut dua pilihan, yakni menskorsing anak mereka dari sekolah selama satu tahun untuk mengikuti pembinaan nasionalisme di luar sekolah atau mencari jalur pendidikan nonformal di luar seperti pendidikan paket atau home schooling.
“Setelah melalui perundingan dan mediasi yang panjang, hari ini resmi kami ambil keputusan. Ada dua pilihan dalam surat yang kami serahkan ke orangtua mereka. Silakan pilih yang mana,” ujar Kepsek SMPN 21, Poniman di SMPN 21.
Khusus untuk pilihan skorsing, dua siswa tadi dipastikan bisa kembali ke sekolah asalkan mau menuruti segala peraturan yang ada di sekolah, termasuk mau hormat bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan.
“Kapan saja mereka siap, silakan masuk kembali, tanpa harus tunggu sampai setahun. Tapi kalau tetap tak mau, ya harus pilihan kedua, silakan tempuh jalur pendidikan nonformal di luar sekolah,” tegas Poniman.
Keputusan ini diambil setelah pihak sekolah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Batam, KPPAD, kepolisian, TNI, serta berbagai pihak lainnya. Keputusan ini mulai berlaku setelah orangtua dua siswa ini menerima surat dari kepala sekolah.
“Tapi tadi belum ada keputusan dari orangtua mereka. Mereka menolak tanda tangan, tapi sesuai dengan keputusan bersama pihak terkait tetap kami berikan (surat). Kami buat BAP penolakan tanda tangan itu disaksikan semua pihak berkaitan untuk selanjutnya anak dikembalikan ke orangtuanya,” ujar Poniman.
Terkait alasan penolakan menghormati bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan, terang Poniman, dua siswa dan orangtua mereka tetap dengan alasan yang sama, yakni bertentangan dengan keyakinan mereka. Menghormati bendera dengan meletakan tangan di samping kepala dianggap berlebihan.
“Alasanya keyakinan mereka tadi. Tapi sekolah dan bahkan negara ini punya aturan. Aturan harus ditegakkan. Kalau mereka dibiarkan nanti bagaimana dengan ratusan siswa lainnya,” kata Poniman.
Sementara itu, Kadisdik Batam, Hendri Arulan, tidak ingin berkomentar banyak dulu atas kasus yang juga menjadi perhatian Wapres Ma’ruf Amin itu. Namun yang pasti, pihaknya akan berkoordinasi dengan berbagai pihak, supaya kasus ini bisa selesai secara bijak dan baik.
Tapi, Hendri juga tidak menampik akan memberikan pembinaan (dua siswa tidak bakal dikeluarkan) terlebih dahulu. “Mungkin bisa begitu, kami tunggu koordinasi lebih lanjut dan laporan dulu lah,” ungkapnya.
Komisioner KPPAD Kepri, Erry Syahrial menambahkan, pihaknya juga akan melakukan asesmen lebih lanjut atas dua siswa tersebut. “Hal ini berdasarkan arahan langsung dari KPAI,” ujarnya.
Asesmen ini tidak hanya dilakukan terhadap anak. Tapi juga orangtua siswa. “Putusan dikeluarkan atau tidak, itu pihak sekolah,” pungkasnya.
Pernyataan Sikap PGI
Sementara itu, Persekutuan Gereja Gereja Indonesia (PGI) Kepri dan Batam menyikapi situasi sehubungan kasus dua siswa di SMPN 21, Sagulung penganut Saksi Yehuwah (Yehovah), yang tidak mau hormat bendera Merah Putih.
“PGI tidak menyetujui dogma yang dianut dan diyakini Saksi Yehovah (Yehuwah). Tidak menyetujui kelompok tersebut yang tidak mengakui Pancasila dan UUD 45, lalu konstitusi yang harus dipatuhi,” ucap Ketua PGI Kepri, Pendeta Pinda Hamonangan Harahap, Sabtu (30/11).
PGI wilayah Kepri dan PGI se-Kota Batam meminta agar semua pihak menanggapi permasalahan ini secara bijaksana. Ia juga menegaskan PGI tidak ada hubungnnya dengan Saksi Yehuwah. Apalagi kelompok ini bukan anggota PGI.
“Agar semua pihak melihat ini secara teologi dan bukan secara politis. Maka para pihak berkewajiban untuk mengembalikan prinsip dan pemahaman mereka kepada hukum dan aturan yang berlaku di NKRI,” tuturnya.
Namun, pihaknya juga menyayangkan dikeluarkannya dua siswa penganut Saksi Yehuwah di SMPN 21 dikarenakan tidak menghormati bendera tersebut.
“Karena pendidikan adalah hak dari setiap anak, oleh karena mereka masih anak-anak di bawah umur tentu masih ada kemungkinan mere-ka kembali ke pemahaman yang benar sesuai dengan hukum dan undang-undang yang berlaku di NKRI,” jelasnya.Langkah ke depan, pihaknya akan mencoba berdialog dengan pihak terkait baik itu Pemko Batam yakni Dinas Pendidikan dan Kemenag, guna mencari informasi mendalam.
“Tidak mungkin kami langsung ke jemaatnya. Tetapi kepada yang berwenang dari pihak Yehova agar bisa berdialog dengan pendekatan berkaitan gereja sebagai bagian dari NKRI. Jadi sikap dan cara kita juga cermat sehingga tujuan berbangsa dan negara tetap berjalan,” paparnya.
PGI pun berharap agar semua pihak berkenan membantu menumbuhkan nasionalisme kepada dua anak tersebut. Mengingat usia anak yang masih bisa dibina kembali.
PGI sendiri menyatakan sikap tidak menyetujui kelompok yang tidak mengakui Pancasila dan UUD 45, serta Bhinnekka Tunggal Ika yang wajib dipatuhi sebagai warga negara. (ska/zis)
batampos.co.id – Universitas Internasional Batam (UIB) punya rektor baru. Dia adalah Profesor Iskandar Itan, SE, MM. Ia resmi menjabat sebagai rektor UIB periode 2019-2024, setelah dilantik, Jumat (29/11/2019) di kampus UIB.
Iskandar menggantikan Profesor Handoko Kartjantoro, yang sudah berdedikasi selama 17 tahun, tepatnya dari periode 2002-2019.
”Yang pasti untuk waktu yang dekat ini kita akan pertahankan apa sudah ada, kemudian akan mengembangkan apa yang sudah berjalan. Salah satu program ke depan memproses akreditasi internasional,” ujar Iskandar, sesaat setelah dilantik.
Ia menjelaskan, proses tersebut telah dirintis dan harus diusahakan dalam waktu secepat mungkin, meskipun banyak hal yang harus disiapkan.
Selain itu, UIB juga berencana menambah gedung setinggi 12 lantai. Pembangunan gedung menjadi keharusan untuk menunjang proses perkuliahan 3.500 mahasiswa.
”Jadi, setiap penerimaan mahasiswa per tahunnya lebih kurang seribu orang. Tentu mengalami kekurangan ruangan. Apalagi kita tahu di Batam ini kebanyakan mahasiswa kuliah di malam hari, sehingga otamatis ditumpukkan. Pembangunan dimulai awal tahun depan,” jelasnya.
Saat ini, UIB telah bekerja sama dengan Universitas di tujuh negara Asean dan Asia. Adapun penambahan Universitas ada di satu negara tersebut, terkadang penambahan juga di negaranya.
F. Cecep Mulyana/Batam Pos Ketua Yayasan Marga Tionghoa Indonesia Batam, Soehendro Gautama (kanan), melantik Rektor Universitas Internasioal Batam, Prof Dr Iskandar Itan, di gedung UIB, Jumat (29/11).
”Kerja sama ini kita terus jalin antar-universitas tersebut, apa yang dikerjasamakan, harus mengacu pada aturan dari UIB, karena pemberian gelar berkaitan dengan kurikulum dan regulasi yang ada,” paparnya.
Untuk akreditasi internasional, beriringan dengan program studi S1. Sebab, kata Iskandar, selama ini UIB telah mendapatkan akreditasi A. Jika nantinya satu periode ke depan mendapatkan A, maka sudah yang ketiga kalinya.
Manfaatnya cukup banyak untuk mahasiswa. Mereka yang kuliah di satu Universitas yang mendapatkan pengakuan luas, baik Indonesia maupun internasional, maka akan lebih mudah terserap pasar kerja dalam dan luar negeri.
”Maka setelah ini kita memproses akreditasi internasional, untuk waktu akan segera. Estimasinya dua tahun paling dekat,” ujarnya.
Mantan Rektor UIB, Handoko, mengatakan, dua target yang harus dicapai rektor baru adalah pekerjaan rumah yang berat. Namun, dia bisa fokus karena setidaknya yang mengemban amanah memiliki usia lebih muda darinya.
”Paling berat PR akreditasi internasional dan pembangunan gedung. Namun, memasuki era industri 4.0 ini, kita juga harus mengarah ke sana. Kita coba kurikulumnya ke arah sana agar mahasiswa mendapatkan pelayanan lebih baik dan dosen bisa lebih mudah memberikan materi,” paparnya.
Adapun kontribusi besar yang diberikan selama menjabat, mencetak berbagai pencapaian yang mengantarkan UIB menjadi universitas paling berpengaruh di Batam.
Sebagai universitas terbaik di Provinsi Kepri 2019, dan masuk ke dalam Top 5 universitas terbaik seluruh Indonesia (berdasarkan pemeringkatan Kemenristekdikti 2019).
Kemudian terjalinnya kerja sama luar negri dalam program internasional yang sudah merambah ke 32 universitas di Asean dan Asia. Lalu, Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) dengan nilai B , akreditasi program studi minimal B. Bahkan enam prodi meraih akreditasi A. (zis)
batampos.co.id – Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi kembali mengeluarkan peraturan yang memicu polemik. Kali ini adalah kebijakan majelis taklim harus daftar ke Kemenag. Setiap tahun majelis taklim juga diminta untuk melaporkan kegiatannya.
Kebijakan yang mengharuskan majelis terdaftar di kantor Kemenag kabupaten atau kota itu tertuang dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) 29/2019 tentang Majelis Taklim. Peraturan yang diteken pada 13 November 2019 itu menggunakan kata majelis taklim harus mendaftar. Bukan wajib mendaftar.
Karena menggunakan kata harus, maka tidak ada ada sanksi bagi majelis taklim yang tidak mau mendaftar. Ini dipertegas penjelasan dari Direktur Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kemenag, Juraidi. Dia menegaskan bahwa PMA itu tidak mewajibkan majelis taklim untuk mendaftar.
“Dalam pasal 6, kita gunakan istilah harus, bukan wajib. Harus sifatnya lebih ke administratif. Kalau wajib berdampak sanksi,” kata Juraidi di Jakarta, Sabtu (30/11).
Dia menjelaskan dengan terdaftarnya sebuah majelis taklim, maka akan memudahkan Kemenag untuk melakukan pembinaan. Juraidi menjelaskan banyak pembinaan yang bisa dilakukan Kemenag untuk majelis taklim. Misalnya workshop dan dialog tentang manajemen majelis taklim. Kemudian pembinaan soal materi dakwah, penguatan organisasi, peningkatan kompetensi pengurus, dan pemberdayaan jemaah.
“Termasuk juga pemberian bantuan pemerintah. Baik melalui APBN maupun APBD. PMA ini bisa dijadikan dasar atau payung hukum,” jelasnya. Juraidi menuturkan PMA itu bisa jadi panduan saat membentuk majelis taklim.
F. Dokumentasi Batam Pos Suasana pengajian ibu-ibu majelis taklim di Masjid Jabal Arafah, Nagoya, beberapa waktu lalu.
Misalnya ada ketentuan soal rukun sebuah majelis taklim untuk didaftarkan ke Kemenag. Salah satu rukun majelis taklim adalah jemaah. Dalam regulasi itu diatur jumlahnya minimal 15 orang. Tujuan ketentuan ini supaya majelis taklim yang dibentuk itu benar-benar ada jemaahnya. Selain soal jemaah, rukun majelis taklim lainnya adalah ustaz, pengurus, sarana tempat atau domisili, dan materi.
Mantan Dekan Fakultas Dakwah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Arief Subhan, mengatakan PMA tersebut isinya terlalu administrasi. Yakni soal pendaftaran dan peluang mendapatkan pendanaan. Namun, dia kurang melihat adanya upaya Kemenag untuk meningkatkan mutu majelis taklim.
“Padahal cantolan aturan ini adalah UU Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional, red),” jelasnya.
Dia mengatakan di UU Sisdiknas, majelis taklim masuk kategori satuan pendidikan nonformal. Dia mengatakan sebagai sebuah satuan pendidikan nonformal maka harus dijaga mutunya.
Pada prinsipnya Arief menuturkan Kemenag sah saja mengatur majelis taklim karena masuk kategori satuan pendidikan nonformal. Namun menurutnya, PMA ini menempatkan majelis taklim di bawah Ditjen Bimas Islam. Harusnya berada di bawah Ditjen Pendidikan Islam.
Kemudian jika ketentuan pendaftaran dilakukan terlalu kaku, malah merepotkan masyarakat. Padahal selama ini majelis taklim muncul swadaya dari masyarakat. Idealnya pengaturan soal majelis taklim tidak malah membuat gairah masyarakat menjalankan majelis taklim malah meredup. (wan)
batampos.co.id – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepri, Candra Ibrahim menutup sesi pendaftaran di Partai Hanura Batam. Ditemani beberapa relawannya, Candra kemarin mengembalikan formulir, beberapa menit sebelum pendaftaran ditutup pukul 16.00 WIB di sekretariat DPC Hanura Batam.
Maju sebagai bakal calon wakil wali kota Batam, Direktur Utama (Dirut) Batam Pos itu resmi mengembalikan formulir pendaftaran bakal calon wakil walikota Batam di sekretariat Partai Hanura kota Batam, Minggu (30/11).
Candra datang ke kantor Hanura Batam sekitar pukul 16.00 WIB. Mengenakan peci hitam baju orange khas Hanura, ia ditemani sejumlah tim relawan dan awak media.
Di Hanura, Candra diterima langsung Ketua Bapilu yang juga Wakil Ketua DPC Hanura Batam, Dado Herdiansyah.
Dalam sambutannya, Dado mengatakan, Hari ini merupakan batas terakhir pendaftaran dan pentupan yang dibuka Hanura. Yang menariknya pada hari penutupan ini, Candra merupakan pendaftar yang ke 13. Sementara partai Hanura sendiri di 2019, nomor urut 13.
“Sampai saat ini yang mendaftar dan mengembalikan fomulir di Hanura ada 13 calon dan bang Candra orang yang ke 13. Ada apa dengan angka 13. Apakah ini kode alam yang membuat kita berjodoh,” ucap Dado.
Mendengar hal itu, Candra mengaku, angka 13 merupakan surprise bagi dirinya. Sebab sebagai orang yang mendaftar ke 13 di partai nomor urut 13 diharapkan menjadi keberuntungan bagi dirinya.
“Kita harapkan ini pertanda baik dan kita memecahkan mitos angka 13 ini,” sebut Candra.
Disinggung apakah dia mengembalikan formulir untuk Batam 1 atau Batam 2, ia menjawab sebagai calon wakil walikota Batam. Namun demikian ia menyerahkan rekomendasi sepenuhnya kepada partai Hanura, apakah nantinya akan dipercaya sebagai Batam 1 atau Batam 2.
“Hari ini saya mengembalikan sebagai calon wakil walikota. Namun begitu tentu partai politik lebih tau. Paling penting bagaimana kita membuat calon yang diusung partai ini menang,” ungkap Candra. (rng)
batampos.co.id – Pemerintah Kota Batam sedang gencar-gencarnya meningkatkan sektor pariwisata. Dari data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam, Kepri menempati urutan nomor dua dengan jumlah wisatawan terbanyak se Indonesia. Dengan Batam sebagai penyumbang wisatawan terbanyak. Jumlah wisatawan yang datang setiap tahun terus meningkat. Catatan Disbudpar Januari-September 2019, sebanyak 1,4 juta wisatawan mancanegara (wisman) masuk ke Batam.
Peranan Perusahaan Gas Negara (PGN) pada sektor pariwisata di Batam, sudah terasa sejak wisatawan masuk ke Kota Bandar Madani ini. Apabila masuk melalui Pelabuhan Internasional Batamcenter hampir sebagian taksi yang ditumpangi wisatawan menggunakan bahan bakar gas, yang diisi ulang di Kampung Belian. Dari beberapa pengakuan pengemudi taksi, kendaraan yang menggunakan Bahan Bakar Gas (BBG) lebih baik dan lebih murah. Selain itu juga lebih aman.
Para wisatawan yang datang, setelah melalui perjalanan panjang, pasti akan singgah ke rumah makan. Beberapa rumah makan berbau etnik seperti nasi padang dan soto medan, juga telah dimasuki oleh PGN. Salah satu pengusaha kuliner Soto Medan Lezat di Batamcenter Square, Tanto Gunawan mengatakan sudah lama menggunakan gas PGN.
“Kurang lebih hampir 8 tahun. Sejak tanam pipa, kami mendaftarkan diri,” katanya, Jumat (29/11).
Ia mengatakan, penggunaan gas PGN ini, membuat pengapian untuk memasak lebih stabil. Sehingga masakannya jarang gosong. Selain faktor tersebut, Tanto menyebut sejak menggunakan gas PGN, ia bisa meraup untung lebih banyak.
“Lebih murah 30 persen daripada beli tabung elpiji,” ucapnya.
Pemakaian gas PGN diakuinya juga lebih simpel. Karena tidak perlu ganti tabung setiap saat. Dulu, Tanto harus menganti tabung setiap gas habis. Kadang akibat sering ganti tabung, regulator jadi mudah rusak atau bocor halus.
“Tapi kini kan gas mengalir saja. Cara cek kebocoran juga gampang, matikan semua aliran gas. Lalu kalau meteran gas masih jalan, berarti ada kebocoran. Tinggal kontak layanan gasnya saja. Mereka responsif dan cepat,” ungkapnya.
Saat terjadi perbaikan, jadwal pemadaman gas dengan jelas diberitahukan ke pelanggan. Sehingga pelanggan sudah mempersiapkan diri. Tanto yang mengaku menjual ratusan mangkuk soto setiap hari ini, merasa lebih untung menggunakan gas PGN. “Tidak hanya orang sekitar sini yang datang makan. Wisman dan domestik juga sering ke sini. Jaraknya kan tidak jauh dari Pelabuhan Internasional Batamcenter,” ujarnya.
Kepala Disbudpar Batam Ardiwinata menyambut baik masuknya PGN dalam membangun sektor pariwisata. Mulai dari membuat mural serta taman. Namun ada satu hal yang paling penting dirasa Ardi, dan hal ini bisa menjadi daya tarik Batam. Apabila dibranding dengan baik.
“Batam dengan tingkat emisi rendah, kualitas udara terbaik. Saat ini kan baru sebatas taksi dan beberapa kendaraan menggunakan BBG. Ke depan jika semakin banyak kendaraan menggunakan BBG, tentu emisi akan semakin berkurang. Kualitas udara semakin bagus,” ucapnya.
Emisi rendah dan kualitas udara sehat ini, bisa menjadi daya tarik Batam. “Batam kota ramah lingkungan. Nah inilah yang diperlukan. Kami menyambut baik usaha yang dilakukan PGN selama ini dalam meningkatkan pariwisata di Batam,” tuturnya.
Ardi menyebut pertumbuhan ekonomi di Batam di tahun 2019 diperkirakan diatas 5 persen. Salah satu penyumbang pertumbuhan ini adalah pariwisata. “Item pariwisata tidak masuk dalam data BPS. Tapi harus diketahui, sebanyak 17 sektor pariwisata menyumbang pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya.
Beberapa sektor tersebut seperti jasa (layanan sopir taksi), makanan (restoran-restoran), hotel dan pusat jajanan. “Harapan kita semua, semoga sektor pariwisata ini semakin bertumbuh. Dan sinergi perusahaan seperti PGN meningkatkan perekonomian serta sektor pariwisata,” ucapnya.
Sales Area Head PGN Batam, Wendi Purwanto mengatakan, sejauh ini PGN berkomitmen memberikan yang terbaik dan melayani para pelanggannya. Bahkan kini dibuat beragam inovasi, salah satunya memberikan pelayanan kepada calon pelanggan yg belum terkoneksi jaringan pipa, yaitu melayani dengan Compressed Natural Gas (CNG) yang harganya masih lebih efisien dari elpiji non subsidi.
Dengan inovasi ini PGN berharap dapat lebih banyak melayani industri komersil yang berhubungan dengan dunia pariwisata seperti hotel, rumah makan dan laundry. Wendi mengatakan jaringan pipa kini sudah ada di sekitar Nagoya dan Jodoh dan sudah digunakan di Grand I Hotel, Swiss-Belhotel, Harmoni Hotel, Nagoya Mansion, Haris Hotel Batamcenter, Best Western Panbil dan beberapa hotel lainnya di seputaran Nagoya dan Batamcenter.
Dalam waktu dekat ini, JW Marriott yang berlokasi di Harbourbay Batuampar juga akan menjadi pelanggan PGN. Sementara untuk daerah yang belum ada pipa PGN, Wendi mengatakan akan melayani dengan menggunakan CNG yaitu Harris Resort Marina, Harris Resort Barelang dan Montigo Resort di Nongsa. Juga ada KLA Laundry di Bengkong dan beberapa usaha katering.
Tidak hanya menyokong pariwisata dalam segi penyaluran gas. PGN juga ikut serta dalam bidang Corporate Social Responsibility (CSR) dengan membangun Taman Tuah Melayu, membuat mural demi memperindah Batam dan menyediakan fasilitas umum yg dapat dinikmati bersama oleh masyarakat Batam. Hal ini menjadi bukti PGN terus bertumbuh seiring berkembangnya Batam.
Ke depannya Wendi mengatakan PGN akan terus membangun infrastruktur di tempat yg belum ada jaringan pipanya dan menyediakan cradle CNG lebih banyak. “Sehingga masyarakat batam dapat menikmati energi baik yg bersih dan efisien serta ramah lingkungan,” pungkasnya. (fiska juanda)
Perusahaan Gas Negara (PGN) berkomitmen untuk mengembangkan pariwisata di Batam. Sejumlah hotel dan resort di kota ini menggunakan gas bumi sebagai bahan bakar utama dalam operasionalnya, khususnya di dapur. Selain lebih hemat dan efisien, juga ramah lingkungan sehingga mendukung Batam sebagai kota wisata ramah lingkungan.
RIFKI SETIAWAN LUBIS, BATAM
280 pesepeda dari 20 negara berkunjung ke Batam pada 1 November lalu. Tujuannya adalah untuk mengikuti Tour De Kepri yang digelar pada 1-3 November 2019. Event olahraga yang digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Riau (Kepri) tiap tahun ini melintasi tiga wilayah besar di Kepri, mulai dari Tanjungpinang, Bintan dan berakhir di Batam. Panitia berharap dengan menggelar event olahraga seperti ini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kepri.
Seorang wisatawan asal Singapura berswafoto dengan latar belakang Welcome To Batam. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id
Salah seorang pesepeda asal Belanda, Tim Van Der Werff merupakan langganan tahunan dari event ini. Tiap tahun, ia selalu menyempatkan diri datang ke Batam. Alasannya tentu saja bukan karena hanya ingin bersepeda, tapi juga ingin berwisata.
Saat ditemui di Wey Wey Life Seafood di Harbour Bay, Batam, Sabtu (9/11/2019), pria bertubuh tambun ini tengah asyik menyantap sajian makan malamnya berupa kepiting telur asin. Tim merupakan pria ramah, ia tersenyum ketika disapa dan bahkan mempersilahkan penulis untuk duduk di sebelahnya.
Tak disangka, Tim bisa berbicara Bahasa Indonesia dengan lancar. Tapi ia meminta waktu untuk menyelesaikan makan malamnya terlebih dahulu. 15 menit kemudian, Tim selesai makan dan mulai membuka pembicaraan.
“Tahun ini merupakan yang kelima saya datang ke Batam. Dulu, saya kerja di salah satu perusahaan industri disini. Setelah berhenti tiga tahun lalu, saya pulang. Tapi selalu datang tiap tahun untuk bersepeda disini dan juga jalan-jalan,” ungkapnya.
Karena tiap tahun berkunjung ke Batam, ia juga tahu bahwa Batam terus berkembang pesat, khususnya dari segi infrastruktur dan kualitas udara. Jalannya lebar-lebar sehingga mobilitas pun lebih cepat. Sedangkan kualitas udara sudah mengalami peningkatan lebih baik.
“Dari teman-teman yang masih kerja di Batam, saya tahu bahwa banyak perusahaan industri di Batam yang sudah pakai gas bumi. Alasannya lebih efisien dan ramah lingkungan. Begitu juga hotel-hotel dan resort, sudah ada yang pakai gas,” tuturnya.
Di Batam, Tim sering menginap di Hotel Harris Batamcentre. Hotel Harris juga menggunakan gas bumi dari PGN untuk kegiatan operasional di dapur. Tim mengakui pelayanan di hotel berbintang empat ini memang bagus, ditambah lagi sejak memakai gas maka pelayanannya lebih cepat dan mampu menciptakan atmosfer hijau yang ramah lingkungan.
Dari hotel, ia sering menggunakan taksi untuk mobilitasnya di Batam. Tim yang hobi mengobrol ini sering berbincang-bincang dengan supir-supir taksi, sehingga ia tahu kalau sudah banyak taksi di Batam yang menggunakan bahan bakar gas (BBG), seperti Taksi Blue Bird.
“Kata mereka, pakai BBG bisa hemat 30 sampai 40 persen. Lalu, tidak antre lagi. Dan tentu saja ramah lingkungan,” ucapnya.
Di Batam, aktivitas harian yang sering dilakukannya sebagai wisman yakni makan dan berbelanja. Restoran Wey-Wey tempat ia makan malam juga memakai gas bumi untuk operasional dapurnya. Sedangkan tempat ia sering berbelanja yakni Mega Mall Batamcentre juga menggunakan gas bumi. Begitu juga dengan perusahaan penyedia listrik di Batam, Bright PLN yang juga menggunakan gas bumi sebagai bahan bakar pembangkit listrik.
“Dimana-mana sudah pakai gas, pantas saja masih bersih udaranya sekarang,” jelasnya.
Ia kemudian membandingkan Batam dengan kota kelahirannya, Amsterdam di Belanda. Amsterdam merupakan salah satu kota di dunia yang dikenal sebagai kota ramah lingkungan.
Tim menceritakan sebuah perusahaan energi Eropa bernama Vattenfall yang menyediakan energi dari tenaga angin dan matahari, serta beberapa pembangkit listrik bertenaga gas.
”Ini memberi Amsterdam, poin pengisian daya untuk rumah, bisnis dan tempat-tempat umum,” paparnya.
Sekarang Amsterdam memang tengah berusaha membersihkan udara dengan cara menggalakkan kendaraan bebas emisi seperti kendaraan berbahan listrik dan gas.
“Kalau udara bersih, maka harapan hidup akan meningkat dan mengurangi emisi CO2,” tuturnya.
Meski belum mencapai tingkatan yang sama dengan Amsterdam, Tim menjelaskan bahwa Batam sudah memulai langkah yang bagus untuk menjadi kota ramah lingkungan.
Gas alam adalah hidrokarbon dengan pembakaran paling bersih yang menghasilkan sekitar setengah emisi karbon dioksida dan rendah polutan.
Dengan makin bertambahnya jumlah warga Batam dan juga industri, kualitas udara akan semakin menurun. Namun, pemilihan gas sebagai bahan bakar akan mengurangi polusi dan menjaga kualitas udara tetap baik.
Saat ini, kualitas udara di Batam berdasar kadar Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) berada dibawah 99, rata-rata berada di angka 40. Kualitas udara diatas 99, maka sudah termasuk kategori udara tidak sehat. Semakin turun, maka kualitas udara semakin bagus.
”Seperti di Amsterdam, maka lebih baik penduduk di Batam gunakan transportasi berbahan bakar gas. Maka dengan itu akan mengurangi polusi udara,” katanya.
Kalau kualitas udara bagus, maka potensi pariwisata di kota Batam akan meningkat. Wisman akan senang berkunjung dan menghabiskan waktu dan uangnya di Batam.
”Contohnya saya,” katanya sambil tersenyum.
Kepri memang merupakan provinsi urutan ketiga untuk jumlah kunjungan wisman terbanyak di Indonesia setelah Bali dan Jakarta. Tetapi itu sebelum tahun 2019, karena hingga semester pertama 2019, Kepri sekarang telah melewati Jakarta dan duduk di urutan kedua.
Sektor pariwisata merupakan andalan Kepri selain sektor industri. Lokasinya yang strategis berada di perbatasan dengan dunia internasional mendukung hal tersebut. Banyak wisman yang datang berkunjung ke Kepri khususnya Batam, kemudian meneruskan perjalanannya ke daerah lainnya di Indonesia. Batam memang merupakan salah satu pintu gerbang utama untuk masuk ke Indonesia.
Berdasarkan data yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, pada tahun 2016 jumlah wisman yang berkunjung ke Kepri mencapai 1.920.232 wisman. Dari jumlah kunjungan tersebut, Batam menyumbang 1.432.427 wisman atau sekitar 80 persen.
Pada tahun 2017, kunjungan ke Kepri meningkat hingga menjadi 2.074.534 wisman, Batam menyumbang wisman sebanyak 1.504.275 atau sekitar 75 persen. Tahun 2018, kunjungan wisman terus meningkat menjadi 2.635.004 wisman, Batam menyumbang 1.887.284 wisman atau sekitar 75 persen. Dan hingga September 2019, jumlah wisman yang berkunjung ke Kepri sudah mencapai 2.120.711 wisman. Batam menyumbang 1.431.166 wisman atau 67 persen.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisbudpar) Pemerintah Kota (Pemko) Batam, Ardiwinata mengatakan selain berbagai program yang ditawarkan pemerintah, banyaknya atraksi yang diselenggarakan di kota itu mampu menjadi magnet kunjungan wisman.
“Atraksi setiap minggu ada. Ada banyak agenda di Batam, sampai 114 acara lebih dalam setahun,” kata dia.
Disbudpar Batam juga selalu merilis agenda yang diselenggarakan oleh destinasi wisata, termasuk pusat perbelanjaan yang menjadi favorit wisman yang datang ke Batam.
Desember ini, event pariwisata yang akan digelar di Batam yakni Batam Great Sale, Batam International Cultural Carnival (BICC), Tering Bay Spin Golf, Batam Internationla Marathon, Pesta Rakyat Hari Jadi Batam, Gebyar Budaya Nusantara, Series Xmas dan New Years Eve Mega Celebration Nongsa Sensation, Golf and Boaters Night, Kenduri Seni Melayu, Kenduri Akhir Tahun, Cobra Golf Kakis dan SPGA Golf Tournament Party.
Batam International Cultural Carnival (BICC) tahun 2018 lalu. Foto: batampos.co.id / cecep mulyana
Ardi percaya, banyaknya atraksi yang digelar pemerintah dan swasta mampu menjadi magnet wisman untuk datang berkunjung. Adapun beberapa program menarik yakni Hot Deals, Travel Hub dan lainnya. Hot Deals berupa paket kunjungan kepada wisman dalam bentuk diskon. Lalu Travel Hub berupa program untuk mengajak pelancong yang datang dari Singapura untuk melanjutkan perjalanannya ke Batam, Tanjungpinang, Bintan dan Karimun.
Kemudian, Batam juga memiliki aksesibilitas dan amenitas yang baik, sehingga membuat wisman nyaman berada di Batam.“Jalan-jalan di Batam sekarang lebar, taman kota indah ada juga pedestrian. Ini daya tarik. Dari amenitas, kita punya 232 hotel, dan terminal feri yang lancar,” lanjut Ardi.
Ardi mengakui peningkatan jumlah wisman yang datang ke Batam juga tidak terlepas dari dukungan infrastruktur dan utilitas yang mumpuni. “Salah satunya gas bumi. Energi yang hemat dan ramah lingkungan itu luar biasa bagi Batam,” katanya lagi.
Isu mengenai lingkungan selalu menjadi isu yang penting bagi wisman yang mau berkunjung ke Batam. “Jika suatu kota itu bersih, tidak ada polusi dan sampah plastik, maka itu akan menjadi brand yang luas biasa. Sekaligus juga promosi gratis tentunya,” ujarnya.
Sebagai kota wisata, Batam memiliki sarana yang memadai untuk menggelar berbagai event, baik itu event berskala nasional maupun internasional. “Batam ini kota Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) di Indonesia. Bahkan konferensi lingkungan hidup juga bisa digelar disini,” tuturnya.
Kegiatan MICE memang tengah berkembang di Indonesia. Wisatawan MICE yang sering dengan disebut dengan business traveler memiliki kelebihan dibanding wisatawan biasa. “Mereka itu juga bisa sebagai penilai tentang kualitas sebuah kota dalam menggelar acara-acara seperti rapat, konvensi, eksibisi dan lain-lain,” ujar pria berkacamata ini.
Untuk menjadi sebuah kota destinasi MICE tentu membutuhkan dukungan infrastruktur, utilitas dan akomodasi yang memadai seperti hotel, restoran, destinasi wisata dan masih banyak lagi.
”Hotel dan restoran yang menggunakan gas bumi tentu memilki nilai lebih di mata wisman karena dianggap ramah lingkungan,” paparnya.
Di Batam, hotel dan resort yang menggunakan gas bumi untuk kegiatan operasionalnya antara lain Hotel Harmoni One Batamcentre, Hotel Harris Batamcentre, Harris Resort Waterfront Sekupang, Grand I Hotel, Hotel Best Western Premiere Panbil, Hotel Swissbell, Hotel Planet Holiday, Nagoya Mansion, Hotel Harmoni Nagoya, Hotel Mercure, Hotel Travelodge, Hotel Pacific, Hotel Da Vienna Boutique, I Hotel Baloi, Hotel The Hills dan Hotel Biz. Sebagian besar merupakan hotel berbintang empat keatas.
Hotel Harris Batamcentre merupakan salah satu hotel yang pertama mendapatkan pengalaman berharga dalam menggunakan gas bumi. Chief Engineer Shared Service Hotel Harris Batamcentre, Bejo Wahyono mengatakan hotel yang identik dengan warna orange ini sudah pakai gas bumi sejak 2014.
“Menurut analisa saya, ada tiga keuntungan menggunakan gas PGN ini yakni dari sisi finansial sudah jelas lebih hemat. Dari sisi operasional tidak ribet dan dari sisi ramah lingkungan, sangat mendukung kami untuk menjadi green hotel,” ungkapnya saat ditemui di lobi Hotel Harris, Sabtu (16/11/2019).
Dari sisi finansial, hotel mampu berhemat 30 persen. Dari sisi operasional, Bejo mengakui sangat mudah mengoperasikannya. “Kalau dulu pakai gas tabung harus purchasing order. Kadang-kadang terima tabung yang sudah kosong, maka ditimbang lagi. Lalu penggantian gas kan kadang mendadak, misalnya habis masak tiba-tiba habis. Atau kalau lagi malam-malam gas habis bagaimana. Makanya dari segi operasional, kita sudah dienakkan. Begitu juga dari keamanannya juga terjamin,” paparnya.
Dari sisi ramah lingkungan, Bejo mengakui pemakaian gas bumi akan mendukung program pemerintah yang ingin menciptakan lingkungan hijau.
Dalam sebulan, pemakaian gas bumi di Hotel Harris mencapai 2,379.70 meter kubik per bulan. Kebutuhan tersebut digunakan untuk kegiatan operasional di dapur.
“Kalau hotel ini biasanya ramai dikunjungi pebisnis. Kebanyakan tidak terlalu cerewet soal makanan. Bagi mereka yang penting breakfast mewah dan cepat. Nah, pakai gas ini kerja chef lebih cepat, tamu pun senang,” ungkapnya sembari tersenyum.
Dapur hotel Harris Batam Center. Mereka menggunakan gas PGN untuk kebutuhan dapur mereka. foto: batampos.co.id / cecep mulyana
Untuk pelayanan, Bejo mengakui PGN memiliki komitmen yang baik. Bahkan, ia sendiri tak sungkan untuk mempromosikan penggunaan gas bumi ke hotel-hotel yang belum menggunakannya.
“PGN itu cepat bergerak kalau ada keluhan. Mereka siaga 24 jam penuh. Refill atau inject pagi-pagi dan subuh diladeni oleh PGN. Gas mau habis jam 2 pagi, datang petugas PGN. Saya sampai mikir bagus sekali komitmen mereka ya,” kata Bejo yang juga merupakan ketua umum Asosiasi Chief Engineer Kepri ini.
PGN memang mendukung penuh pengembangan pariwisata di Indonesia. Pada awal Agustus lalu, PGN dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) hari ini menandatangani nota kesepahaman tentang kerja sama pemanfaatan gas bumi dan penyediaan Information and Communication Technology (ICT), 7 Agustus 2019 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.
Direktur Strategi Pengembangan Bisnis PGN Syahrial Mukhtar mengatakan dalam jangka waktu setahun pemanfaatan gas bumi bagi para anggota PHRI dapat terwujud.
“Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang transmisi dan distribusi gas bumi, PGN memiliki komitmen untuk terus meningkatkan pemanfaatan energi baik gas bumi di dalam negeri,” ujarnya.
Menurut Syahrial, ruang lingkup kerja sama dengan PHRI ini meliputi penyediaan dan pemanfaatan gas bumi dan ICT untuk hotel dan restoran, serta bentuk kerja sama potensial lainnya yang dapat dilakukan oleh seluruh pihak untuk pengembangan dan pertumbuhan sektor-sektor penting industri pariwisata di Indonesia.
Syahrial menambahkan, PGN sesungguhnya telah memasok kebutuhan gas bumi di sejumlah hotel dan restoran di berbagai wilayah. Namun, kerjasama dengan PHRI baru sekarang dilaksanakan dan PGN berharap semakin banyak hotel dan restoran yang dapat memanfaatkan energi baik gas bumi yang terbukti lebih aman, efisien, dan ramah lingkungan bagi masyarakat.
“Sebagai subholding gas, PGN akan terus mengambil inisiatif untuk memperluas pemanfaatan gas melalui pembangunan infrastruktur di berbagai segmen pasar termasuk komersial. PGN harus bisa memberikan layanan optimal untuk sektor ini. Sektor perhotelan dan restoran dapat ikut berperan memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi sumber energi. Kerjasama ini akan membuka peluang-peluang baru untuk pemanfaatan gas bumi domestik,” tambah Gigih Prakoso, Direktur Utama PGN.
Hingga periode Juni 2019, sebanyak lebih kurang 370 hotel dan restoran yang telah dilayani energi baik gas bumi PGN di beberapa lokasi, antara lain di Jabodetabek, Cirebon, Medan Palembang, Lampung, Surabaya, Sidoardjo dan Batam.
Ketua Umum PHRI, Hariyadi BS Sukamdani berharap kerja sama ini dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi setiap hotel dan restoran di Indonesia. Melalui pemanfaatan gas bumi, para pelaku usaha juga dapat membantu pemerintah mengurangi ketergantungan pada energi impor. “Banyak hal yang bisa dikerjasamakan dengan PGN untuk layanan selain gas bumi termasuk ICT dan produk layanan lainnya. Energi menjadi konsen bersama anggota PHRI. Dengan solusi moda transportasi gas bumi selain pipa, akan memudahkan anggota PHRI mengakses energi,” kata Hariyadi.
Hingga saat ini, sebanyak lebih kurang 44.000 hotel dan restoran tergabung dalam PHRI. Dari jumlah tersebut, 29.000 diantaranya merupakan hotel dan 15.000 restoran. Menurutnya, jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan pembangunan hotel dan restoran di wilayah Indonesia. Pada tahun ini, PHRI memperkirakan tambahan kamar mencapai 50.000 unit untuk mengakomodasi kebutuhan wisatawan mancanegara.
Di Batam, PGN terus membangun jaringan pipa gas bumi untuk memperluas pemanfaatan energi baik itu untuk seluruh konsumen di Batam. Adapun jaringan pipa yang sudah dibangun mencapai 141,3 kilometer yang tersebar di Batamcentre, Batuaji, Nagoya, Batuampar dan Kabil.
Sales Area Head PGN Batam, Wendi Purwanto mengatakan jumlah volume pemakaian gas bumi di Batam tahun ini mencapai 70 BBTUD. “Meningkat dari tahun lalu yang hanya 62 BBTUD. Industri dan komersil menyukai gas karena lebih efisien,” ucapnya.
PGN Batam sudah melayani 4.800 pelanggan yang terdiri dari sektor rumah tangga, komersial dan indsutri. “4.600 diantaranya itu pelanggan rumah tangga,” imbuh Wendi.
Jadi, dari segala sektor, Batam memang telah menjelma menjadi kota gas yang ramah lingkungan. Mulai dari sektor industri, sektor komersial, sektor pariwisata, sektor energi, sektor transportasi dan rumah tangga sudah memakai gas.
Atas pencapaian dalam melaksanakan lingkungan kerja yang sehat, selamat, aman, dan ramah lingkungan, PGN mendapatkan apresiasi dari Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM berupa Penghargaan Keselamatan Migas Tahun 2019.
Melayani air bersih bagi masyarakat Batam, PT Adhya Tirta Batam (ATB) berperan besar menanamkan nilai-nilai edukasi pada generasi muda. Secara aktif ATB gencar memberikan program-program edukasi mulai dari siswa sekolah hingga masyarakat umum.
“ATB memiliki program-program edukasi mengajak masyarakat menjaga lingkungan dan menghemat penggunaan air bersih. Langkah sederhana ini harus tertanam pada setiap insan masyarakat Batam dan harus dikembangkan jadi sebuah budaya,” ujar Maria Jacobus, Head of Corporate Secretary ATB, Sabtu (30/11/2019).
Secara berkelanjutan ATB rutin menggelar kegiatan-kegiatan edukasi melibatkan masyarakat. Setiap program edukasi masyarakat atau pelajar diajak berkunjung ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang dikelola ATB.
“Ada beragam program ATB dibidang edukasi yang diberikan langsung ke masyarakat, mulai contact forum atau wisata edukasi, School campaign hingga school visit ke IPA. Semua kita siapkan dengan menarik,” ajak Maria.
Program wisata edukasi dari sejumlah sekolah di Batam beberapa waktu lalu. yang berkunjung ke IPA Mukakuning.
Setiap jenis program edukasi dikemas dengan menarik. Hal ini bertujuan, edukasi mudah dipahami oleh siswa maupun pelanggan. ATB jadi pusat studi kunjungan favorit bagi sekolah-sekolah di Batam, bahkan sekolah atau warga yang telah berkunjung memberikan apresiasi atas layanan edukasi dari ATB.
“Kami ingin memperkenalkan ke anak-anak proses pengolahan air bersih milik ATB. Mereka bisa memahami air bisa dinikmati dirumah. Kegiatan edukasi ini sangat bermanfaat, terutama anak didik kami,” ujar Hefrina, Kepala Sekolah SLB Putera Kami Batam saat berkunjung ke IPA Mukakuning.
Manfaat lain dirasakan oleh warga Batu Aji, melalui contact forum sejumlah warga mendapatkan informasi baru seputar pengolahn air, tak sedikit dari mereka memberikan apresiasi. Mereka berharap kegiatan edukai ini bisa digelar berkelanjutan.
“Tentunya kami cukup senang dengan berkunjung ke ATB, ini sebuah pengalaman berharga bagi kami sebagai pelanggan, sebab tidak semua pelaggan bisa mendapatkan kesempatan seperti ini. Sekarang kami jadi tahu proses air yang kami gunakan sehari hari prosesnya cukup panjang,” jelas Sinur Mauli pelanggan ATB di perum Bukit Indah Batu Aji.
Lebih dari itu, kegiatan edukasi ATB diharapkan bisa memberikan wawasan lebih luas kepada seluruh elemen masyarakat. Masyarakat bisa lebih memahami bahwa mengelola air bersih tidak lah mudah, mengingat Batam yang tidak memiliki sumber air baku yang terbatas.
Melalui program-program edukasi ini, diharapkan masyarakat bisa aktif berpartisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menghemat penggunaan air bersih untuk masa depan Batam yang lebih baik.
Meski terlihat sederhana, efek dari sosialisasi yang diberikan diharapkan bisa memberikan dampak besar.
Edukasi yang diberikan merupakan bagian dari tanggung jawab moral perusahan yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat maupun instansi hingga sekolah.
“Setiap warga atau siswa yang berkunjung ke ATB bisa semakin peduli terhadap lingkungan maupun menghemat dalam penggunaan air bersih yang tersedia,” ujar Maria.
ATB mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan perilaku hemat air dan menjaga lingkungan sebagai budaya sehari-hari. Agar pemanfaatan air bersih maupun kelangsungan ketersediaan air bersih bisa terus terjaga. (*)
batampos.co.id – Atas pencapaian dalam melaksanakan lingkungan kerja yang sehat, selamat, aman, dan ramah lingkungan, PGN mendapatkan apresiasi dari Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM berupa Penghargaan Keselamatan Migas Tahun 2019.
PGN mendapatkan penghargaan dalam kategori “Tanpa Kehilangan Jam Kerja Sebagai Akibat Kecelakaan” dan “Manajemen Keselamatan Migas”.
Penghargaan diserahkan oleh Plt. Dirjen Migas Djoko Siswanto di Grand Ballroom Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa (26/11) lalu. Tak tanggung-tanggung, PGN Group mampu menyabet sejumlah penghargaan.
Antara lain Gas Distribution Management Regional I mendapatkan penghargaan Patra Karya dan Penghargaan Adinugraha, Gas Transportation Management, Gas Distribution Management Regional II & III mendapatkan Penghargaan Karya Utama.
Sementara Project Management Office mendapatkan Penghargaan Karya Madya. Lalu, Unit Layanan Jargas mendapatkan Penghargaan Karya Pratama.
PGN Sabet Penghargaan Keselamatan Migas 2019. Foto: PGN untuk batampos.co.id
Sementara anak perusahaan PGN yang mendapatkan penghargaan antara lain PT Pertagas, PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) mendapatkan Penghargaan Adinugraha, PT Kalimantan Jawa Gas (KJG), PT Perta Arun Gas, PT Perta Samtan Gas & Saka Indonesia Pangkah Ltd. mendapatkan Penghargaan Karya Madya, dan PT Gagas Energi Indonesia.
“Ini merupakan capaian yang luar biasa bagi PGN. Upaya yang selama ini dioptimalkan oleh PGN dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat, ternyata membuahkan hasil yang sangat membanggakan,” ungkap Rachmat Hutama, Sekretaris Perusahaan PGN, (27/11/2019) lalu.
PGN sebagai Subholding Gas di Indonesia, dalam menjalankan perannya berkomitmen untuk terus memperhatikan keselamatan kerja.
Hal ini dilakukan demi berjalannya operasional yang baik dan optimal. PGN fokus untuk menyalurkan energi alternatif yang ramah lingkungan, maka keselamatan dan kesehatan kerja juga menjadi hal yang utama.
“Penting bagi PGN untuk patuh terhadap peraturan dan undang-undang dalam bidang K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) untuk meningkatkan kredibilitas PGN, selain untuk memastikan keselamatan serta kesehatan setiap insan PGN,” imbuh Redy Ferryanto selaku Direktur Infrastruktur dan Teknologi, Rabu, (27/11).
“Oleh karena itu, PGN melakukan sertifikasi pada bidang-bidang yang dibutuhkan, termasuk sertifikasi OHSAS 18001: 2007 dan SMK3 yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 di kantor pusat dan seluruh unit serta proyek,” lanjut Redy.
PGN selalu berkomitmen untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, selamat, aman, dan ramah lingkungan di seluruh wilayah pengelolaan usaha perusahaan, demi menjamin keselamatan pekerja, asset perusahaan dan lingkungan.
Termasuk entitas anak usaha dan joint ventures yang berada di bawah kendali PGN, serta penyedia barang dan jasa yang bekerja atas nama PGN.
Dengan segala upaya preventif dan proaktif dalam menjalankan sistem manajemen HSSE, hingga sekarang target inerja “zero tolerance” tetap tercapai dengan pencatatan 0 (nol) kejadian terhadap kecelakaan kerja.
Sementara jumlah jam kerja selamat PGN per bulan Januari hingga Oktober 2019 sebanyak 8,4 juta jam.(leo)
Petugas Gagas Energi Indonesia yang merupakan anak usaha dari Perusahaan Gas Negara (PGN) melakukan pengecekan Cradle dan PRS Gaslink di Kla Wash Laundry di Bengkong, Batam-Kepulauan Riau, Senin (18/11/2019).
Gaslink ini bisa menjadi solusi pemanfaatan gas bumi untuk lokasi yang belum ada jaringan pipa gas bumi yang berdampak cukup signifikan pada sektor komersial dalam mendorong pertumbuhan perekonomian.