Kamis, 7 Mei 2026
Beranda blog Halaman 11070

172 Unit Sepeda Motor Yamaha Terjual di Event Bluecore Yamaha Motor Show 2019

0

batampos.co.id – Yamaha Indonesia Motor Manufacturing melalui main dealernya di Pekanbaru kembali menggelar event tahunan Bluecore Yamaha Motor Show (BYMS) 2019 di lapangan SP Plaza, Batuaji, Sabtu (17/8/2019).

Acara yang digelar selama 2 hari ini berhasil menjual 172 unit motor.

“Kami sengaja buat acara ini bersamaan dengan hari kemerdekaan Indonesia, dimana seluruh rakyat dapat merasakan sensasi cinta tanah air, bergembira bersama dalam kemerdekaan negara kita tercinta ini,” ujar Koordinator Promosi Area Riau, Kepri, Hermanto.

Kegiatan yang bersamaan dengan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74 itu, diisi dengan berbagai perlombaan rakyat.

Seperti, balap karung, tarik tambang, makan kerupuk, lomba kelereng hingga panjat pinang. Kemudian lomba model cilik merah putih, lomba dance competion dan marching band tingkat TK.

“Dan di merihkan juga dengan live music, tari rampai batam, senam berhadiah doorprize, serta kesenian rakyat topeng ireng serta servis gratis berhadiah oli Yamalube,” kata Hermanto.

Hermanto menambahkan, dalam kegiatan ini Yamaha juga memberikan lomba spesial untuk membuktikan keunggulan produk terbaru mereka yaitu “Yamaha Freego Challenge”.

Dimana lomba ini warga yang hadir ditantang untuk membuktikan langsung kalau bagasi yamaha freego begitu luas.

Yamaha Indonesia Motor Manufacturing melalui main dealernya di Pekanbaru kembali menggelar event tahunan Bluecore Yamaha Motor Show (BYMS) 2019 di lapangan SP Plaza, Batuaji, Kota Batam. Foto: Yamaha untuk batampos.co.id

“Warga yang hadir ditantang untuk mengisi bagasi yamaha freego dengan sembako, dan siapa yang bisa menyusun paling banyak akan mendapatkan hadiah uang tunai langsung dari panitia,” kata Hermanto.

Di hari kemerdekaan ini, Yamaha juga memberikan spesial promo produk-produk terbaik yamaha dengan cicilan heboh.

Dengan angsuran mulai Rp 600 ribuan, konsumen sudah bisa membawa motor Yamaha. Kemudian setiap pembelian motor diberikan lagi diskon Rp 200 ribu, ditambah potongan angsuran Rp 17.000 per bulan untuk tipe tertentu.

“Antusias warga Batam sangat tinggi. Dengan banyaknya motor terjual, membuktikan produk Yamaha sangat diminati masyarakat karena terbukti handal, efisien dan irit,” jelasnya.

Para pengunjung lanjutnya juga langsung dapat melakukan test ride sebelum membeli produk pilihannya.

Dalam kesempatan ini, Yamaha juga memperkenalkan produk terbaru nya yaitu Yamaha Freego.

Kungggulannya, motor matik ini dilengkapi teknologi Smart Front Refuel. Dimana tanki motor berada di depan, dengan kapasitas 4.2 liter. Serta berbahan pelat baja.

“Saat memakai motor ini, penggunanya tidak perlu turun motor untuk mengisi bahan bakar,” kata Hermanto.

Keunggulan lainnya, motor ini dilengkapi Smart Key System (SKS) yang merupakan sistem kunci tanpa anak kunci (Keyless).

Termasuk teknologi Stop dan Start System yang membuat motor mati secara otomatis saat berhenti lebih 5 detik.

Untuk mendapatkan promo-promo produk terbaru dari Yamaha, bisa juga mendatangi dealer resmi diantaranya, PT. Alfa Scorpii Bengkong, PT Alfa Scorpii Batamcenter, PT Alfa Scorpii Botania, PT Graha Auto Perkasa Batuaji, PT Graha Auto Perkasa Seipanas, hingga PT Leo Utama Motor Batuaji.(opi)

Tahanan Titipan Kejaksaan Meninggal di Rutan Kelas IIA Batam

0

batampos.co.id – Frengky Marpaung,36, tahanan yang dititipkan Kejaksaan Negeri Kota Batam di Rutan Kelas IIA Batam meninggal dunia, Senin (19/8/2019), setelah mendapatkan perawatan di RSUD Embung Fatimah, Batuaji.

Kepala Rutan Kelas II A Batam, Robinson Perangin, mengatakan, belum diketahui apa yang menyebabkan tahanan kasus narkotika itu merenggang nyawa.

“Tahanan ini merupakan tahanan titipan jaksa dan menuju proses sidang pada 29 Agustus mendatang,” jelasnya, Selasa (20/8).

Frengky lanjutnya merupakan tangkapan Polresta Barelang yang diamankan di kawasan Welcome To Batam, Batam center.

“Belum diketahui korban sakit apa, mendadak sebelum dilarikan ke RSUD.
Tahanan mendekam di Rutan selama 19 hari,” katanya.

Kata dia, petugas rutan yang mengetahui korban sakit sempat membawanya ke klinik yang berada didalam Rutan.

Kepala Rutan Kelas II A Batam, Robinson Perangin saat memberikan penjelasan mengenai meninggalnya Frengky warga binaan kasus narkoba di dalam Rutan. Foto: Azis Maulana/batampos.co.id

Namun sekitar pukul 11.00 WIB, korban dilarikan ke RSUD Embung Fatimah dan  dinyatakan meninggal pada pukul 18.00 WIB.

“Kami tak ada menutup-nutupi, sebelum meninggal, diketahui dia sakit mendadak,” ujarnya.

“Pihak Rutan sudah memberikan pertolongan pertama, namun tahanan meninggal di RSUD dan kita masih menunggu hasil autopsi,” jelasnya.

Menurutnya, apabila ada perkelahian dan sejenisnya di dalam Rutan, pasti akan ada laporannya ke pihak Rutan.

“Tetapi kemarin tak ada,” terangnya.

Informasi yang didapat, keluarga korban yang melihat dari kondisi tubuh Frengky, tidak yakin jika almarhum meninggal karena sakit. Sebab di bagian bahu dada dan lengan terdapat memar.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Sagulung, Iptu Supardi, membenarkan adanya laporan tersebut.

Pihaknya akan melakukan pengembangan setelah ada hasil autopsi dari pihak rumah sakit.(cr1)

Jaket yang Selalu In Sepanjang Masa

0

batampos.co.id – Berbicara tentang outfit, beberapa hal seperti jin, kaos, dan kemeja adalah fashion item yang dipastikan ada dalam lemari pakaian.

Busana tersebut selalu in sepanjang masa. Namun dibalik itu, nyatanya masih ada busana yang tak kalah eksis yakni jaket.

Kehadirannya dinilai tepat sebagai pelindung dari panas hingga dinginnya cuaca.
Pengamat fashion Batam, Silfi, mengatakan, bagi wanita, jaket bukan hanya sebagai pelindung melainkan juga penunjang gaya.

”Untuk itu, mereka (wanita) pasti akan memilih jaket yang sesuai pada tubuhnya, sehingga hadir beragam jaket yang umum untuk kalangan wanita, yang bahkan tidak memperdulikan kondisi cuaca saat mengenakannya,” terang Silfi.

Dari survei Batam Pos yang dilakukan ke beberapa wanita, 90 persennya menyatakan jaket jin wajib dimiliki.

Jaket berbahan denim nan modis itu memang tidak terbatas untuk digunakan kapan saja.

Ayunia mengenakan jaket berbahan denim untuk menunjang outfit dress pendek yang ia kenakan. Foto: Welly Hendra/batam pos

”Cocok untuk dipakai dalam berbagai aktivitas, dan menambah kualitas gaya dari yang biasa menjadi fashionista,” ujar mahasiswi Uniba pengguna jaket jin, Wanna.

Lain dari jaket jin, ada jaket kulit yang jadi idola wanita selanjutnya. Model-modelnya yang ciamik, menonjolkan sisi wanita yang penuh gaya.

Berteman dengan midi skirt, celana pendek, celana panjang, bahkan dress, jaket kulit adalah pilihan paling pas untuk tampilan yang lebih keren.

Selanjutnya, ada coat. Coat diartikan sebagai jaket panjang hingga 3/4 mata kaki. Biasa-nya, jaket ini dikenal untuk daerah bermusim dingin, namun kini juga laris manis di daerah tropis.

”Kan coat juga banyak jenisnya yang bisa dibedakan dari bahan, mau yang tebal atau tipis,” ujarnya.

“Saya pribadi senang dengan trench coat untuk kegiatan lebih formal, dan duster coat untuk penampilan kasual,” ungkap wanita lainnya, Gina Wira, seorang teller bank swasta yang gemar dengan coat.

Selain itu, wanita 24 tahun ini mengaku jenis kedua coat favoritnya itupun tak sulit didapatkan di pasaran Indonesia.

”Banyak di sini dan harganya juga relatif terjangkau. Bahkan coat yang dari luar pun mudah didapat di pasar seken,” ucapnya.

Terakhir, ada jaket bomber yang juga masuk sebagai jaket idola kalangan wanita. Desain bomber yang terkesan menggelembung itu, dianggap sebagai pasangan serasi dengan celana legging atau skinny jeans yang ngetren sebagai gaya keseharian model Amerika Serikat, Gigi Hadid.(nji)

Terkait Rotasi Guru Berdasarkan Zonasi, Kadisdik Kota Batam: Psikologi Anak Juga Kami Perhatikan

0

batampos.co.id – Kepala Disdik Batam, Hendri Arulan mengatakan, rotasi berdasarkan zonasi akan diterapkan perlahan.

Berbagai pertimbangan akan dibahas sebelum perpindahan guru berdasarkan zonasinya.

”Psikologi anak juga kami perhatikan. Jadi tak mutlak langsung kami terapkan. Untuk itu kami melakukan pendataan terlebih dahulu,” jelasnya.

Guru akan dikembalikan ke zonasi tempat dia tinggal dan satu lokasi dengan sekolah tempat mereka mengajar nanti.

Tujuannya memberikan kemudahan baik guru maupun siswanya nanti.

”Kalau gurunya dekat dengan tempat tinggal siswa pasti akan sangat membantu, terutama jika ada kesulitan belajar nantinya,” kata Hendri.

Suasana belajar mengajar di SMA Negeri 17 Kota Batam. Tahun 2020 Dinas Pendidikan Kota Batam akan menerapkan sistem zonasi kepada para tenaga pengajar. Foto: Azis Maulana/batampos.co.id

Penerapan rotasi berdasarkan zonasi ini memang masih menunggu aturan baku. Kendati demikian, guru harus siap dengan kondisi ini.

”Jangan sampai ketika nanti dipindah malah tidak siap,” ucapnya.

Mengenai hinterland, saat ini tidak ada masalah terkait kebutuhan guru. Persoalan malah di mainland karena ada penambahan sekolah.

”Di pesisir itu mayoritas guru lokal atau asli orang sana. Memang ada beberapa juga yang ditugaskan untuk me-ngajar di sana,” ujarnya.

“Tapi sejauh ini mereka tak ada masalah. Karena jumlah siswa mereka juga tak sebanyak di kota,” terangnya lagi.(yui)

2020 Guru Dirotasi Berdasarkan Zonasi

0

batampos.co.id – Dinas Pendidikan (Disdik) Batam mulai memetakan rencana pemerataan guru berdasarkan zonasi tahun ini.

Rencana rotasi ini akan mulai diterapkan penuh di 2020 mendatang. Yelsi, salah seorang guru, menuturkan penempatan guru berdasarkan zonasi memang baik.

Karena, pertama, berdekatan dengan tempat tinggal guru. Sehingga lebih efisiens waktu ketika menjalankan tugas.

”Dari segi waktu mungkin baik, tapi ada beberapa faktor yang perlu disesuaikan lagi dengan tempat baru pastinya,” kata dia, Senin (20/8/2019).

Menurutnya, yang paling menjadi perhatian adalah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah baru.

Suasana belajar mengajar di SMP Negeri 9 Kota Batam. Pada 2020 mendatang Dinas Pendidikan kota Batam akan menerapkan rotasi guru berdasarkan zonasi. Foto: Azis Maulana/batampos.co.id

Karena sudah terbiasa dengan sekolah lama, berarti guru harus cepat beradaptasi dengan sekolah baru.

”Ini yang memerlukan sedikit waktu, apalagi perpindahan saat tahun ajaran sudah berjalan dan kenyamanan siswa juga menjadi perhatian,” imbuhnya.

Meskipun belum sepenuhnya diterapkan, namun pihaknya mendukung rotasi ini jika bertujuan baik dan memajukan sistem pendidikan.

”Perpindahan tempat mengajar itu biasa terjadi selama ini, tapi tidak berdasarkan zonasi atau tempat tinggal guru,” ungkap Yelsi.

Untuk itu, jika nanti kebijakan ini diterapkan, satu hal yang menjadi pertimbangan yakni waktu pelaksanaan rotasi.

Agar tidak mengganggu konsentrasi siswa, mungkin bisa diterapkan saat pergantian tahun ajaran baru.

”Biar lebih memudahkan. Jadi, baik siswa maupun guru lebih nyaman dan sama-sama beradaptasi,” ungkap lulusan FKIP Unrika ini.(yui)

Objek Wisata Alam di Kota Batam Tak Sumbang PAD

0

batampos.co.id – Sebagai daerah kepulauan, Batam memiliki banyak pantai atau panorama alam yang menjadi tujuan wisata.

Namun, banyak di antaranya tidak dikelola pemerintah, melainkan oleh swasta maupun kelompok masyarakat.

Sayangnya, dari kegiatan tersebut tidak memberikan sumbangsih bagi pendapatan asli daerah (PAD).

”Memang tidak ada, untuk masuk wisata pantai belum ada (sumbangsih ke kas daerah),” kata Sekretaris Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kota Batam, Aditya Guntur Nugraha, Senin (19/8/2019).

Ia menerangkan, hal inilah yang dalam waktu dekat ini akan dibicarakan dan dikaji dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam.

”Akan diatur. Kamis ini kami rencananya akan rapat,” katanya.

Dalam hal ini, Adit menerangkan, Disbudpar akan menginventarisir semua destinasi wisata pantai se-Batam. Selanjutnya, potensi pendapatan akan dikaji.

”Misalnya di dalamnya ada kegiatan hiburan, mungkin masuk pajak hiburan karena kan setiap kegiatan (hiburan) yang dipungut biaya dan mengeluarkan tiket, wajib membayar (bagian) ke kas daerah. Begitu juga dengan parkir,” papar dia.

Taman bermain dibawah Jembatan I Barelang sudah digunakan warga untuk bermain, Minggu (17/12). Taman ini Sabtu dan Minggu ramai dikunjungi warga untuk nongkrong sambil memandang laut. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

Tidak ada sumbangsih bagi pendapatan daerah justru berbanding terbalik dengan banyaknya pungutan biaya di destinasi wisata.

Termasuk, di destinasi wisata yang berada di bawah pengelolaan Disbudpar Batam yakni Dendang Melayu di dekat Jembatan I Barelang.

Di kawasan itu, banyak dijumpai pungutan, mulai dari ongkos parkir yang melebihi ketentuan, failitas yang mestinya gratis malah disewakan, hingga mahalnya penjualan aneka makanan di lokasi tersebut.

Kepala Disbudpar Kota Batam Ardiwinata geram dengan pungutan ini. Pihaknya meng-aku tidak akan tinggal diam dengan keadaan tersebut. ”Ini akan jadi dasar kami bertindak,” katanya.

Namun, terkait upaya untuk mengambil alih pengelolaan tempat wisata swasta, menurut Ardi, belum ada payung hukumnya.

Sehingga, pihaknya masih akan melakukan kajian dan pendalaman.

”Nanti kita rapatkan bersama bagaimana solusi ke depannya,” tuturnya.(iza)

Batam Bagaimana?

0

Bagaimana nasib Batam? Masih belum ada kejelasan. Masih sekadar PHP (pemberi harapan palsu).

Itulah yang terjadi. Semua dibuat menunggu. Sama-sama wait and see. Berada di persimpangan. Diselimuti ketidakpastian. Juga kegalauan.

Pekan lalu tersiar kabar bahwa akan segera dilantik ex officio. Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Darmin Nasution menyebut jika regulasi akan segera keluar. Satu atau dua pekan ke depan.

Tapi, ini adalah yang kesekian kali pemerintah pusat menggulirkan soal ex officio. Terlalu lama ditunda. Dulu, katanya ditetapkan 30 April 2019 setelah diputuskan awal Januari 2019. Nyatanya sudah pertengahan Agustus tidak ada gerakan.

Katanya, dari Januari hing­ga April adalah masa transisi. Momen untuk merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46/2007 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam akan direvisi.

Lagi-lagi cuma katanya. PHP lagi. Efeknya besar. Sebagian besar hanya menunggu. Belum berani memutuskan, berinvestasi atau tidak. Menanti kepastian regulasi. Jadi ex officio atau tidak.

Tak hanya itu. Kebijakan yang sifatnya strategis juga tidak bisa diputuskan. Di antaranya seperti lelang pengelolaan Dam Tembesi dan pengembangan Bandara Internasional Hang Nadim.

Sebenarnya, mau seperti apa regulasi yang diberlakukan di Batam, terserah pemerintah pusat. Apakah dipimpin orang profesional atau ex officio, terserah saja. Yang penting ada kejelasan.

Jangan digantung seperti sekarang. Malah bikin bingung semua orang. Di tengah ketidakpastian seperti sekarang, justru menghambat pem­bangunan Batam. Pembangunan infrastruktur mandek. Pertumbuhan ekonomi jalan di tempat. Entah apa lagi.

Sampai saat ini saya masih bingung. Seperti apa Batam ke depannya. Lalu, muncul pertanyaan, apakah regulasi yang (akan) diputuskan sudah final. Atau malah berubah-ubah lagi. Entah lah.

Beberapa perusahaan sudah mulai tutup. Melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Saya tidak tahu pasti penyebabnya. Apakah terkait dengan regulasi atau faktor lain. Belum ada kajian yang mempelajari itu.

Tapi jika ada yang mengaitkan dengan ketidakjelasan nasib Batam, sah-sah saja. Boleh-boleh saja. Itu pendapat masing-masing pihak. Ini negara bebas. Boleh beropini dan menyampaikan pendapatnya.

Saya pun sempat punya pemikiran radikal mengenai Batam: jangan-jangan Batam dianggap sebelah mata.

Lagi-lagi itu pendapat. Opini. Muncul sekelebat saja. Mencoba merangkai semua persoalan yang terjadi, dan memunculkan pemikiran miring. Mungkin yang lain juga sama. Mungkin ada juga yang berpikiran berbeda. Sah-sah saja.

Apapun pendapatnya mengenai Batam, yang pasti kondisinya bisa kita rasakan bersama. Butuh penanganan khusus terhadap Batam. Karena Batam adalah etalase Indonesia di negara-negara ASEAN.

Lagi-lagi saya mau sampaikan, Batam adalah wajah Indonesia. Apa yang terjadi di Batam, merupakan gambaran bagi wajah Indonesia. Ketika Batam lesu, negara tetangga akan menilai Indonesia lesu.

Tentu kita berharap, situasi Batam segera membaik. Segera dibenahi. Bukan untuk kepentingan sesaat, namun untuk selama-lamanya. Karena nasib Batam ada di tangan para penguasa negeri ini.

Saking strategisnya Batam, mesti ada perlakuan khusus untuk kawasan berjuluk Serambi ASEAN ini. Semoga. (*)

Jemaah Haji Natuna Disambut Haru

0

batampos.co.id – Rombongan jemaah haji Natuna yang baru sampai dari menjalan-kan ibadah haji di Tanah Suci disambut haru. Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti turut menyambut kedatangan jemaah di Masjid Agung Natuna, Senin (19/8/2019).

Kedatangan jemaah haji yang sebelumnya sudah tiba di Batam, kembali dengan kondisi sehat. Wakil Bupati Natuna mengucapkan selamat datang kepada seluruh jemaah haji dan mendoakan semoga menjadi haji mabrur.

”Yang sudah melaksanakan ibadah haji, sekarang sudah mendapatkan status haji dan hajah, semoga menjadi haji yang mabrur,” kata Ngesti.

F. HUMAS PEMPROV KEPRI UNTUK BATAM POS
Suasana haru terlihat saat penyambutan jemaah haji Natuna di Masjid Agung Natuna, Senin (19/8).

Menurut Ngesti, diberikan kesempatan menjalankan ibadah haji merupakan karunia dari Allah SWT. Karena tidak semua muslim dan muslimah dapat menunaikan rukun Islam yang ke-5 tersebut.

”Perjalanan panjang selama 40 hari menjadi perjalanan yang luar biasa. Tidak semua orang bisa melaksanakan ibadah haji,” sambung Ngesti.

Ia berharap, jemaah haji yang sudah kembali kepada keluarga dapat memberikan manfaat, baik kepada keluarga, masyarakat, dan Kabupaten Natuna. Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Natuna Ahmad Husin menjelaskan, jumlah keseluruhan jemaah haji Natuna tahun 2019 sebanyak 118 termasuk pendamping. Namun, jemaah haji tiba di Natuna berjumlah 107 orang.

”Dari 112 jamaah kloter pertama, tiba di Natuna 107 orang jemaah, sisanya langsung pulang ke kampung halamannya masing-masing,” jelasnya. (arn)

Anggota DPRD Batam Beda Pendapat soal Lonjakan Dana Bansos

0

batampos.co.id – Anggota DPRD Batam beda pendapat mengenai melonjaknya anggaran dana Bantuan Sosial (Bansos) di APBD Perubahan 2019.

Anggaran Bansos yang semula Rp 3,3 miliar di APBD murni 2019, naik menjadi Rp 6,3 miliar di APBD Perubahan (APBD-P).

Anggota DPRD Batam, Aman, mengatakan kenaikan dana bansos di APBD-P disebabkan adanya sejumlah kejadian bencana alam di 2019.

Sementara, Dinas Sosial yang membawahi bansos tidak menganggarkan untuk itu, sehingga untuk membantu korban kebakaran, pemerintah daerah mengambil dari biaya tak terduga.

”Pos apa saja dan berapa jumlahnya, detail ada di Pak Malik (Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah/BPKAD Batam),” kata Aman, Senin (19/8/2019).

“Tapi yang jelas, salah satunya dapur umum korban kebakaran, karena aturannya harus masuk di pos bansos, sementara tidak dianggarkan, maka di APBD Perubahan ini harus diakomodir menjadi bagian yang tidak dipisahkan,” ujarnya lagi.

Aman juga membantah ada kenaikan atau menambah untuk kegiatan selanjutnya di APBD-P 2019.

”Kita bukan menambah, anggaran itu sudah terealisasi diambil dari biaya tak terduga yang diperuntukkan bagi bantuan korban bencana alam,” paparnya.

Nilainya kata Aman, naik karena di pembukuan anggaran harus dimasukkan ke bansos.
Sama halnya ketika pemerintah memberikan gaji ke-13. Sementara di APBD murni sendiri tidak dianggarkan.

Lalu, pemerintah mengambil dari sumber anggaran lain dan untuk selanjutnya diakomodir pada APBD-P.

”Seperti itu kira-kira karena belanja sudah dilakukan duluan,” jelas politikus PKB tersebut.

Sementara itu, Sekretaris Komisi IV yang juga anggota Badan Anggaran DPRD Batam Udin P Sihaloho, mengaku, tidak pernah setuju dana bansos dinaikkan.

ilustrasi

Alasannya, selain dilakukan pada saat APBD-P, ia melihat penyaluran dana bansos oleh Pemko Batam tidak pernah transparan dan melenceng dari semangat awalnya.

”Misalnya beasiswa untuk anak-anak di Batam, yang dulunya diberikan kepada mereka yang lulus di lima perguruan tinggi negeri ternama,” jelasnya.

“Namun sekarang, lulus di perguruan tinggi lokal swasta pun diberikan bantuan,” sesal Udin.

DPRD Batam pun tidak pernah mendapatkan nama dan alamat (by name by address) siapa penerima dana bansos ini.

”Tak pernah disampaikan ke dewan. Jadi, seolah-olah lembaga DPRD ini sebagai lembaga stempel,” ucapnya.

“Kalau saya pribadi sebaiknya didalami saja mengenai bansos ini, ke mana larinya, biar terbuka semuanya,” tegasnya lagi.

Ia juga mengaku heran dengan skala prioritas pemerintah. Dimana, di satu sisi dana untuk perlindungan anak dinolkan, untuk bansos malah ditambah.

Artinya kata Udin, DPRD berupaya anggaran itu maksimal untuk kesejahteraan masyarakat.

“Jadi kalau misalnya ada kepentingan lain di balik dari penyaluran dana bansos atau hibah saya enggak tahu, biar masyarakat yang menilai,” bebernya.

Disinggung mengenai persetujuan dan pengesahan anggaran ada di Dewan, Udin menjawab betul.

Ia menambahkan, ada 50 orang di DPRD dan semuanya tidaklah sama. Ketika tidak ada kesepakatan di DPRD, bahkan tidak setuju dengan apa yang disampaikan Pemko Batam, beberapa kali rapat paripurna harus ditunda karena tidak kourum.

”Ini bentuk ketidakpuasan dari teman-teman. Apalagi saran-saran kita selama ini hanya dianggap angin lalu oleh kepala daerah sehingga ketika terjadi seperti ini enggak pernah kourum,” ucapnya.

Terpisah, anggota Komisi IV DPRD Batam Riky Indrakari menilai tidak ada konsistensi apa yang sudah dibahas di banggar dengan apa yang difinalisasikan di nota keuangan APBD-P 2019.

”Memang beberapa kali terakhir saya tak ikut membahas,” jelasnya.

Namun lanjutnya, tertundanya pengesahan APBD-P karena apa yang menjadi draf finalisasi ketika direview di Komisi 2, ternyata banyak yang berubah.

“Termasuk dinolkannya dana untuk perlindungan anak,” katanya.

Padahal, pembahasan di komisi dan banggar memakan waktu berhari-hari bahkan sampai malam hari dan masih dilakukan pembahasan.

Namun, ketika difinalisasi terindikasi dimentahkan begitu saja oleh Pemko Batam.

”Banyak teman-teman dewan yang kecewa, apa yang disepakati di banggar ternyata berubah dalam dokumen nota keuangan yang sudah disahkan,” sesalnya.

Riky menyebutkan, ada beberapa kegiatan di Dispora yang cukup besar anggarannya. Namun di APBD murni tidak dialokasikan dan dianggarkan di APBD-P 2019.

Kemudian, ada juga anggaran baju seragam PKK. Kedua kegiatan itu di DPRD diminta dirasionalisasikan dan dipindah ke kegiatan yang lebih pokok dan prioritas.

”Apakah itu masih tetap dipaksakan masuk, kita tak tahu. Kalau masih, berarti indikasi pelanggaran, dalam arti DPRD hanya sebagai stempel pengesahan dan secara etika publik itu buruk,” ucapnya.

Riky menegaskan, APBD-P tetap akan disepakati sesuai jadwal yang ditentukan. Di akhir masa jabatannya, ia tak ingin kepentingan publik tertunda.

”Walaupun kita sudah dicederai di akhir masa jabatan ini, kita ingin menunjukan kepada masyarakat siapa yang membawa kepentingan kelompok atau kepentingan masyarakat pada umumnya, biar masyarakat yang menilainya,” pungkas Riky.(rng)

Gerakan Menghadap ke Laut Serentak

0

batampos.co.id – Gerakan menghadap laut yang dilakukan serentak pada Minggu (18/8) lalu, juga dilaksanakan di Lanal Ranai. Gerakan ini diikuti jajaran Lanal Ranai, taruna SMK Kelautan warga dan WNA. Kegiatan ini sekali-gus upaya melakukan bersih-bersih pantai.

Komandan Lanal Ranai Kolonel Laut (P) Harry Setyawan mengatakan, kegiatan menghadap ke laut merupakan gerakan bersih pantai dan laut dan sudah menjadi program tahunan yang dilakukan sejak tahun 2002 lalu.

”Gerakan menghadap laut ini adalah aksi rencana nasional untuk pengurangan sampah plastik yang masuk ke laut. Pandu Laut Nusantara menjadikan agenda ini sebagai bagian penting dari aksi melestarikan laut Indonesia,” kata Danlanal.

F. AULIA RAHMAN/batam pos
Anggota Lanal Ranai bersama instansi terkait dan masyarakat melakukan gerakan menghadap laut 74 di Pantai Sepasir belakang Mess Tjiptadi Lanal Ranai, Minggu (18/8).

Danlanal juga mengimbau, agar gerakan menghadap laut mendapat dukungan dari seluruh kalangan masyarakat. Dengan tidak membuang sampah ke laut dan kurangi penggunaan plastik sekali pakai. Karena laut milik bangsa, yang harus menjaga bukan hanya pemerintah atau pandu laut saja, namun semua pihak.

”Sampah plastik sekali pakai salah satu persoalan terbesar di lautan nusantara karena mengancam lebih dari 800 spesies biota laut, termasuk terumbu karang pantai belakang Mess Tjiptadi Lanal Ranai ini,” ujarnya. (arn)