Minggu, 3 Mei 2026
Beranda blog Halaman 11544

Retribusi Sampah Untuk Mengelola Sampah

0

batampos.co.id – Akademisi bidang sosial Lagat Parroha Patar Siadari menilai, retribusi sampah yang dibayar oleh masyarakat jangan dianggap sebagai pendapatan daerah. Tetapi dikembalikan dalam bentuk pembiayaan gaji bagi para pengakut sampah.

“Ini yang salah total, retribusi sampah dianggap pemasukan untuk membayar di luar itu,” kata Lagat, Rabu (16/1/2019).

Menurutnya, pengakutan sampah merupakan hak masyarakat karena mereka telah membayar retribusi. Hal ini menjadi masalah ketika pemerintah daerah sebagai pengelola sampah tak mampu maksimal atau terkendala karena ada masalah operasional sampah.

“Artinya jangan hitung bisnis. Tapi dikembalikan dalam bentuk pembiayaan,” ucapnya.

Pembiayaan yang dimaksud yakni dengan melibatkan masyarakat dan perangkat RT RW. “Tiap RW menunjuk petugas yang bertanggung jawab. Mereka digaji dari retribusi saya pikir ini lebih efektif. Masalah sampah dikelola perangkat setempat,” kata Lagat.

Selama ini, lanjutnya ketika mobil pengakutan sampah rusak, imbasnya sampah di perumahan akan telat diangkut. Akibatnya, sampah berumpuk dan tidak sedikit warga membuang sampah sembarangan.

“Kalau sudah ada yang bertanggung jawab seperti ini, sehingga ketika ada masalah pengakutan, penumpukan sampah bisa dihindari,” ujarnya.

Menujuk petugas yang bertanggung jawab di setiap RW diyakini bisa menghemat biaya operasional Pemko. Sebab, petugas sampah akan langsung membawa sampah ke TPS, dan kerja dari dinas terkait akan lebih ringan karena hanya mengambil sampah dari TPS.

“Jadi adakah kemauan Pemko mengeshare retribusi sampah ke petugas sampah yang dibentuk perangkat RT RW ini,” tambah Lagat.

Selain itu cara ini diyakini mampu menumbuhkan rasa kepedulian sampah di masyarakat karena melibatkan masyarakat sekitar. Belum lagi dengan cara ini mampu membuka lapangan kerja. “Katakan ada 2.000 RW di Batam, kalau satu RW satu petugas sampah yang diberi tanggung jawab, artinya ada 2.000 serapan tenaga kerja,” ungkap Lagat.

“Jadi saat ini sampah selalu dianggap masalah, itu salah. Masyarakat juga bertanggung jawab bukan hanya Pemko Batam,” jelasnya. (rng)

Batam Segera Punya Perda HIV/AIDS

0

batampos.co.id – Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Penanggulangan HIV/AIDS segera digulirkan awal tahun 2019 ini. Ranperda ini dianggap penting, menngingat tingginya angka penderita HIV/AIDS di Kota Batam.

“Masuk prioritas dan segera ditetapkan diprogram legislasi 2019,” kata Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kota Batam Sukaryo, Rabu (16/1).

Diakuinya, Ranperda itu merupakan usulan atau inisiasi dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam. Hal ini ditujukan sebagai bentuk kehadiran pemerintah di tengah-tengah persoalan yang ada di masyarakat. Sejauh ini, Dinkes sudah menyiapkan naskah akademik untuk diajukan dalam Program Legislasi Daerah (Prolegda).

Ranperda ini nantinya diharapkan mampu meminimalisir penanggulangan HIV/AIDS. Disini juga diatur kewajiban pemerintah untuk menyediakan pusat rehabilitasi bagi penderita serta sanksi bagi pelaku penyebar virus.

“Untuk tahap awal akan dibentuk Pansus (Pansus) sebelum dilakukan kajian,” tuturnya.

Seperti diketahui, sebanyak 11 puskesmas dan rumah sakit di Batam membuka layanan pengobatan untuk pasien HIV/AIDS di tahun ini. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam Didi Kusmarjadi mengatakan pasien akan mendapatkan jenis obat Antiretroviral (ARV) guna menekan jumlah virus yang ada di tubuh penderita HIV/AIDS.

Didi menyebutkan ada enam puskesmas yang menyediakan pengobatan HIV/AIDS, yaitu Puskesmas Sekupang, Batuaji, Botania, Sambau, Seilangkai, dan Lubukbaja. Pasien bisa datang langsung berobat ke lima puskesmas tersebut. Selain puskesmas, lima rumah sakit juga telah membuka pelayanan pengobatan untuk pasien HIV/AIDS, yaitu Rumah Sakit Badan Pengusahaan (BP) Batam, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah, Rumah Sakit Awal Bros, Rumah Sakit Santa Elisabeth-Lubukbaja, dan Rumah Sakit Budi Kemuliaan.

Berdasarkan data 2018 terdapat 718 penderita HIV baru di Batam. Terdiri 486 laki-laki dan 232 perempuan. Dalam bidang pekerjaan, buruh dan karyawan pabrik menjadi pengidap HIV baru tertinggi, yaitu sebanyak 151 jiwa. Sedangkan paling rendah disusul ibu rumah tangga, nelayan, petani, dan peternak yakni dua penderita.

Didi mengatakan, kasus HIV/AIDS di Batam terus meningkat karena penularan dan penyebarannya sangat cepat dan meluas tanpa mengenal usia, status sosial. Sehingga perlu upaya penanggulangan yang maksimal, komprehensif, terpadu, dan berkesinambungan. (rng)

TPA Longsor, Alasan Batam Tak Dapat Adipura

0
TPA punggur.
F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Jika tahun 2017, Batam mendapat sertifikat Adipura. Untuk penghargaan 2018 Batam justru tidak mendapat piala maupun sertifikat Adipura. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam Herman Rozie mengatakan, penyebab utama Batam tidak meraih penghargaan kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan ini, karena longsor yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telagapunggur di penghujung 2017 lalu.

”Penilaian tersebut dilakukan pas seminggu (setelah) TPA longsor,” kata Herman, Rabu (16/1/2019).

Bencana longsor tersebut membuat bak lindi di TPA tertutup tanah. Karena dianggap tidak ada pengolahan air lindi dari tumpukan sampah. Keadaan ini membuat penilaian Adipura di TPA bernilai 0.

”Belum lagi pascalongsor terjadi kebakaran di area TPA. Padahal persentase nilai yang paling besar yakni pengolahan sampah di TPA,” imbuhnya.

Ia juga mengatakan, selama ini belum ada pengolahan sampah di TPA Punggur karena hanya menggunakan sistem sanitary landfill (menumpuk). Maka kini sedang digodok pengolahan sampah yang akan diubah menjadi energi.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) juga sudah membangun bak pengolahan air sel baru dengan menggelontorkan anggaran sebesar Rp 23 miliar. Sel baru ini berdiri di atas lahan 2,4 hektare dengan ketinggian 30 meter. Dan diperkirakan mampu menampung sampah rumah tangga hingga 7-10 tahun.

Soal pelayanan persampahan seperti di perumahan-perumahan, Herman mengatakan pihaknya telah melakukan semaksimal mungkin. Bahkan diakuinya keluhan soal pengakutan sampah dari tahun ke tahun cenderung berkurang.

Akan tetapi, ia berharap kepada masyarakat juga dapat andil menjaga lingkungan baik tempat umum maupun di permukiman masing-masing.

”Seperti di pasar, ada tong sampah buangnya di luar. Padahal jelas ada larangannya,” sesal dia.

Ia mengaku, Tempat Pembuangan Sementara (TPS) selalu jadi masalah karena berdiri di pinggir jalan, sementara pihaknya tidak pernah mendapat alokasi lahan. ”Sebenarnya kita tak punya TPS, hanya menempatkan bin kontainer. Bin ini ibaratnya seperti tong sampah,” ucap dia.

Ia menyampaikan, pihaknya terus melakukan perbaikan layanan dan pengelolaan sampah di Batam. Walau diakui-nya sejauh ini tidak ada penambahan armada sampah. Tapi persoalan persampahan akan tuntas jika seluruh komponen, baik masyarakat maupun pemerintah ikut turun tangan.

”Yang jelas keinginan kita bersama Batam ini bersih dan rapi demi kenyamanan kita semua. Adipura itu bukan target. Akan tetapi jika Batam bersih, Adipura ini akan kita dapat,” tuturnya.

Selain pengelolaan sampah di TPA, komponen penilaian Adipura yang lain adalah pasar, sekolah, jalan arteri, saluran terbuka, hutan kota, pohon peneduh. Lokasi penilaian diacak setiap tahunnya.(iza)

14 Hari, 160 Pasangan Gugat Cerai

0

batampos.co.id – Tahun 2019 ini baru dua pekan, tapi Kantor Pengadilan Agama (PA) Kota Batam mencatat sudah sekitar 200 perkara yang masuk. Sebanyak 160 kasus merupakan kasus perceraian, di susul kasus isbat nikah, serta perkara waris, dan lainnya.

Tingginya kasus gugatan percerian yang ditangani Kantor PA Batam dipicu banyak faktor. Namun terbesar adalah masalah ekonomi, lalu perselingkuhan, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun masalah perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga angkanya kecil.

ilustrasi

”Kondisi ekonomi di Batam sekarang memang sedang sakit. Inilah yang banyak memicu poerceraian,” kata Ifdal Tanjung, Humas Pengadilan Agama Kota Batam, Selasa (15/1/2019).

Sedangkan faktor lainnya adalah penggunaan media sosial (medsos) yang sangat bebas, sehingga rawan terjadi perselingkuhan baik dilakukan pria maupun perempuan.

”Di medsos mereka berkenalan, ketemuan, lalu timbul suka sama suka. Akhirnya ketahuan pasangan masing-masing hingga berujung perceraian,” terangnya.

Ifdal menyebutkan dari 160 kasus perceraian yang ditangan selama 14 hari ini, 75 persen di antaranya cerai gugat. Artinya perempuan yang mengajukan untuk bercerai. Sedangkan jika yang mengajukan laki-laki adalah cerai talak.

Diakuinya, memang selama ini memang didominasi perempuan mengajukan perceraian karena merasa dirugikan. Mulai tidak dinafkahi hingga ditelantarkan.

Adapun mereka yang mengajukan cerai pada awal 2019 ini umumnya masih pasangan muda, dengan kisaran umur 20-35 tahun. Menurut Ifdal, untuk kasus perceraian pasangan usia dini, laki-laki umur di bawah 21 tahun dan perempuan usia di bawah 16 tahun saat ini tidak ada karena memang harus mendapat dispensasi dari PA.

”Dari segi umur memang mereka sudah cukup matang dalam rumah tangga, tapi mungkin masih lemah dalam urusan ekonomi, sehingga sangat rentan untuk bercerai,” kata ifdal.(cr2)

Renang Butuh Venue Berstandar Internasional

0

batampos.co.id – Ketersediaan sarana dan prasarana menjadi salah satu kendala dalam perkembangan olahraga renang di Kepri. Terutama tidak tersedianya venue yang memenuhi standar nasional di Kepri.

Sekretaris Umum Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Kepri Ali Amran menuturkan, penghambat perkembangan renang di Kepri, juga dipengaruhi beberapa faktor lainnya. Minimnya perhatian pemerintah dan ketersediaan anggaran dalam pembinaan cabor renang diakuinya masih menjadi kendala terbesar.

”Bagaimana kami mau melaksanakan prog-ram kerja jika dukungan anggaran belum tersedia. Hanya sesekali saat menggelar kegi-atan KONI Kepri memberikan bantuan.

Itupun bisa dibilang belum bisa menutup kebutuhan,” keluh Ali Amran, Kamis (17/1) lalu.
PRSI Kepri sendiri sejatinya akan menggelar beberapa kejuaraan baik itu kategori kelompok umur (KU) hingga di tingkat pelajar untuk memotivasi atlet renang di Kepri.

”Event ini dimaksudkan untuk uji kemampuan atlet renang di Kepri. Jadi, bisa mengetahui sejauh mana perkembangan olahraga renang di Kepri,” paparnya.

Rencananya PRSI Kepri akan menggelar kejuaraan setiap dua hingga tiga bulan sekali. Karena semakin sering kejuaraan digelar maka akan semakin tahu kekuarangan dalam pembinaan renang. Terdekat adalah kejuaraan antarpelajar Guberbur Cup 2019. Rencananya akan dilaksanakan Maret mendatang.

Ali mengatakan kejuaraan ini salah satu ajang ujicoba bagi perenang Kepri menuju ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas).

ilustrasi

”Karena tidak ada Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Kepri untuk cabor renang, maka kejuaraan menjadi salah satu ajang untuk mengetahui perkembangan atlet,” tuturnya.

Ketiadaaan PPLP untuk cabor renang sangat disayangkan Ali. Padahal, renang sebagai olahraga terukur memiliki potensi besar untuk menyumbangkan medali.

”Kalau ada PPLP, maka kita tidak akan kesulitan mencari atlet yang akan diturunkan di tingkat Popda, Popwil dan Popnas. Lagi pula, keberadaan PPLP akan membuat pembinaan renang di Kepri semakin fokus dan merata,” tutur pria yang pernah terpilih sebagai atlet pelatnas di nomor polo air untuk SEA Games 1991.

Ali menyebut jika permasalahan venue menjadi poin penting dalam perkembangan olahraga renang. Di Kepri belum ada venue yang berstandar nasional dan internasional. Padahal keberadaan venue ini sangat penting dalam perkembangan olahraga renang. Juga bisa menggelar kejuaraan-kejuaraan renang tingkat nasional bahkan internasional di Kepri. (yan)

Kaum Milenial Harus Semangat Cari Ilmu

0
Kunjungan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr Haedar Nasir

batampos.co.id – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr Haedar Nashir berkunjung ke Kota Batam untuk bersilaturahmi bersama Pimpinan Muhammadiyah Daerah Batam dan Pimpinan Provinsi Kepualauan Riau di Masjid Hamka, Batuaji, Kamis malam (17/01).

Haedar Nashir menyampaikan tausiah kepada kader Muhammadiyah untuk meningkatkan keikhlasan dalam hidup serta memperkaya ilmu, agar menjadi muslim yang berilmu.

Tak lupa, ia memberikan motivasi kepada kaum milenial agar menjaga tali persaudaraan antar sesama umat muslim.

”Harus punya semangat mencari ilmu, terutama bagi kaum milenial agar bisa memanfaatkan waktu,” pesan Haedar.

Menurut Haedar, pertemuan semacam itu merupakan cara bersilaturahmi dengan warga Muhammadiyah dari semua lapisan masyarakat.

Sekaligus, untuk mengikat persaudaraan dan memotivasi generasi muda sehingga mereka bisa menjadi generasi yang optimistis, semangat meraih ilmu dan teknologi serta berakhlak dan maju.

Ia juga ingin Muhammadiyah Batam terus berkosentrasi membangun dan berkemajuan, hal ini dilihat dari segi wilayah Batam yang menjadi pintu membuka jalan ke kancah internasional.

Melihat perkembangan Muhammadiyah mulai dari siswa-siswi dan lapisan warganya di Batam, menurutnya beberapa sudah maju positif, tinggal mendorong perguruan tingginya saja.

Saat ini sudah beroperasi yaitu sekolah tinggi ilmu komputer, dan nantinya juga untuk  tingkat TK, SD, SMP, SMA.

”Alhamdulilah, sejauh ini dari segi pendidikan terus maju, dan optimis ke depannya,” ujarnya.

Karena itu, ia juga mendorong agar ada sekolah unggulan yang bisa bersaing di tingkat nasional maupun internasional. (cr1)

Menag Usulkan Biaya Haji Pakai Dolar AS

0

batampos.co.id – Kementerian Agama (Kemenag) semakin mantap mengusulkan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) 2019 menggunakan mata uang dolar AS.

Sementara itu, DPR tidak begitu saja menyetujui usulan tersebut. Sebab penggunaan mata uang dolar AS dalam BPIH 2019 bisa bermuatan politis. Keterangan tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sodik Mudjahid. Dia mengatakan pembahasan BPIH 2019 akan dilanjutkan Senin pekan depan (21/1) dengan agenda konsinyering.

Dia menegaskan parlemen masih mencermati dan mempelajari secara mendalam usulan Kemenag yang ingin menetapkan BPIH 2019 dalam kurs dolar AS.

’’Tahun lalu implementasi BPIH menggunakan Rupiah berjalan lancar,’’ katanya, Jumat (18/1/2019).

Dia mengatakan penggunaan mata uang dolar AS bisa saja supaya mengesankan kepada masyarakat bahwa biaya haji tidak naik. Politisi Gerindra itu mengatakan jika tahun ini BPIH menggunakan mata uang dolar AS, angkanya terlihat bakal sama atau bahkan lebih rendah dibanding tahun lalu.

Tetapi jika dihitung dalam Rupiah, bisa jadi BPIH tahun ini lebih mahal atau mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu. Sodik menuturkan jika alasan pemerintah penggunaan mata uang dolar AS untuk kemudahan bertran-saksi, perlu dipertanyakan juga. Sebab tahun lalu meskipun BPIH ditetapkan dalam mata uang Rupiah, transaksi juga berjalan lancar.

’’Jangan-jangan secara politik (BPIH dalam dolar AS, red) ini lebih mengun-tungkan (pemerintah, red),’’ jelasnya.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan Kemenag akan mengajukan BPIH 2019 dengan kurs dolar AS. Pertimbangannya adalah kurs dolar AS nilainya lebih objektif.

Usulan BPIH menggunakan kurs dolar tersebut berbeda dengan tahun lalu. Seperti diketahui tahun lalu BPIH ditetapkan dalam Rupiah (Rp). Besaran rata-rata BPIH tahun lalu adalah Rp 35,2 jutaan/jamaah. Karena ditetapkan dalam bentuk Rupiah, maka jemaah tidak menanggung gejolak melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.

’’Kami akan ajukan BPIH pakai kurs dolar. Jika harus dirupiahkan, itu akan gunakan kurs saat musim haji tiba,’’ jelasnya.

Jika BPIH 2019 ditetapkan dalam bentuk dolar AS, jamaah tetap menyetor uang pelunasan ke bank menggunakan rupiah. Hanya saja besaran rupiah yang disetor jamaah bisa berbeda-beda setiap harinya. Sebab patokannya adalah kurs rupiah terhadap dolar saat hari pelunasan.

Sampai saat ini Kemenag masih berupaya mencermati harga-harga kebutuhan jamaah haji selama berada di Arab Saudi. Kebutuhan itu meliputi tenda di Arafah, katering, hotel, dan sebaginya. Tim dari Kemenag juga diharapkan bisa berkomunikasi dengan penyelenggara haji dari negara lain. Sehingga bisa mendapatkan gambaran harga sewa yang ideal. (wan)

Kisah Herman, Si Pencukur Rambut Presiden @Jokowi

0
Herman tengah beraksi memangkas rambut Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Presiden)

batampos.co.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencukur / pangkas rambutnya saat mendatangi lokasi wisata Situ Bagendit yang terletak di Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut. Ternyata, tak jauh dari lokasi tersebut tampak para pemangkas rambut asli Garut yang sedang mencukur rambut puluhan orang.

Di area lokasi, memang sedang digelar acara cukur massal dengan para pemangkas rambut yang tergabung dalam Persaudaraan Pangkas Rambut Garut (PPRG).

Mantan Walikota Surakarta itupun kemudian duduk di salah satu bangku kosong yang ada. Ditemani Ibu Negara Iriana Joko Widodo, dirinya menjadi peserta dari acara cukur massal tersebut.

Herman, seorang pria bertopi lantas mulai memangkas rambut orang nomor 1 di republik itu. Sebelumnya, Herman yang merupakan pemangkas rambut asli Garut ini memang telah menjadi langganan Presiden Jokowi sejak 2013.

“Mas Herman ini tukang cukur saya di Jakarta. Sudah berapa? Enam tahun ya? Sejak gubernur di Jakarta. Mas Herman ini kebetulan memang dari Garut,” kata Presiden.

Saat dimintai tanggapannya oleh para jurnalis, Herman yang berada di samping Presiden mengatakan, menjadi suatu kebanggaan tersendiri baginya dapat menjadi pemangkas rambut langganan Presiden.

“Lumayan,” jawabnya ketika ditanya apakah merasa gugup tiap memangkas rambut Presiden Jokowi.

Ia menuturkan bahwa tak banyak permintaan dari Presiden Joko Widodo saat hendak pangkas rambut. Sejak menjadi langganan Presiden, ia juga mengaku usahanya menjadi lebih ramai dari biasanya.

“Pasti itu. Lumayan lah,” ucapnya. (JPC)

Masih Terbuka, Pendaftaran Jadi Relawan Demokrasi

0

batampos.co.id – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Batam membuka perekrutan Relawan Demokrasi untuk menyukseskan Pemilu 2019. Sekarang sudah ada 44 warga yang mendaftar. Jumlah tersebut masih di bawah kuota sebanyak 55 orang. Kendati demikian, para pendaftar tetap diproses sambil meneruskan pendaftaran hingga beberapa hari ke depan.

Komisioner Divisi Sumber Daya Masyarakat dan Partisipasi Masyarakat KPU Kota Batam M Sidik mengatakan, para pendaftar akan mengikuti proses selanjutnya berupa wawancara. Pelaksanaannya dijadwalkan pada 23 atau 24 Januari 2019.

Bagi masyarakat yang ingin bergabung menjadi Relawan Demokrasi, masih diberikan waktu untuk mendaftar hingga Senin (21/1).

“Yang sudah mendaftar akan kami wawancara lagi sesuai dengan ketentuan KPU,” kata Sidik di Batam, Sabtu (19/1/2019).

Hadirnya relawan dalam Pemilu 2019 dinilai sangat penting untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Nantinya para relawan memberikan pemahaman seputar proses pemilihan. Salah satunya soal lima surat suara yang harus dicoblos masyarakat.

KPU Kota Batam menargetkan Relawan Demokrasi adalah mereka yang berstatus mahasiswa dan aktif di organisasi kampus. Begitu juga dengan mereka yang berasal dari luar kampus, diharapkan warga yang aktif di organisasi masyarakatan (ormas).

Nantinya para relawan ditempatkan berdasarkan beberapa basis. Di antaranya basis Keluarga, pemilih pemula, pemilih muda, pemilih perempuan, penyandang disabilitas, pemilihan berkebutuhan khusus, kalangan marginal, komunitas, keagamaan, dan pengguna internet atau netizen.

Dari 41 calon relawan yang telah mendaftar, sebagian besar untuk basis netizen. Diharapkan semua basis bisa dipegang para relawan yang dinyatakan lulus seleksi.

Dalam prosesnya, para relawan akan bekerja selama tiga bulan hingga proses pemilihan. Hadirnya para relawan diharapkan bisa meningkatkan kualitas pemilu dan kepercayaan publik terhadap proses demokrasi. (bbi/jpc)

Dicari Peserta Magang ke Jepang

0
ilustrasi

batampos.co.id – Kepala Bidang Ketenagakerjaan Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, UKM dan Perindustrian Kabupaten Lingga Wahyudi Eka Putra akan menjaring seluruh putra daerah yang telah mengikuti latihan di sejumlah Balai Besar Pelatihan Kerja (BBPLK). Mereka merupakan SDM potensial untuk mengikuti program magang di Jepang.

“Kami telah menerima surat dari Dinas Ketenagakerjaan Provinsi untuk mengikutsertakan putra daerah Bunda Tanah Melayu program magang ke Jepang,” kata Wahyudi ketika ditemui di kantornya, Dabo Singkep, Jumat (18/1/2019) pagi.

Wahyudi menambahkan, program kerja sama dengan Negara Sakura ini menjadi program prioritas Kementerian Tenaga Kerja untuk meningkatkan SDM anak bangsa agar dapat bersaing dengan tenaga ahli dari negara lainnya. Untuk itu, Pemerintah kabupaten dan kota diminta untuk mempersiapkan putra untuk mengikuti program ini.

Kabupaten Lingga, kata Wah-yudi, berencana akan mengu-tus sejumlah putra asal Lingga untuk mengikuti program atau kegiatan yang memiliki nilai plus dalam hal peningkatan kualitas putra daerah. Sekaligus menambah kemahiran bagi anak yang telah mengikuti program pelatihan di sejumlah BBPLK.

Seperti diketahui Kabu-paten Lingga melalui Dinas Tenaga Kerja telah melakukan sejumlah program terkait peningkatan mutu SDM putra daerah yakni dengan bekerjasama dengan sejumlah BBPLK yang tersebar di sejumlah daerah di Indonesia. Program ini juga telah melahirkan SDM andal dari Kabupaten Lingga.

Program magang ke Jepang ini diperuntukkan bagi putra dengan batas usia minimal 19 tahun enam bulan dan umur maksimal 26 tahun.

Namun jika lulusan SMK dengan umur 18 diperbolehkan untuk mengikuti program yang terbuka untuk tamatan SMA sederajat hingga lulusan S1.

“Bagi lulusan nonteknik harus mengantongi 160 jam praktek, ini juga sebagai acuan untuk dapat mengikuti program ini,” katanya.

Selanjutnya bagi seluruh peserta atau yang berminat mengikuti program ini dapat membuat surat lamaran yang ditujukan kepada Gubernur Kepri Nurdin Basirun. Nantinya Pemerintah Provinsi Kepri yang menyaring untuk keberangkatan peserta dari masing-masing kabupaten atau kota. (wsa)