Rabu, 13 Mei 2026
Beranda blog Halaman 11771

Dewan Pengupahan Kota Batam Bahas Sektor Unggulan

0
ilustrasi

batampos.co.id – Dewan Pengupahan Kota (DPK) Batam menggelar rapat guna membahas sektor unggulan yang akan diajukan pada Upah Minimum Sektoral Kota (UMSK) Batam 2019 mendatang.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam, Rudi Sakyakirti mengatakan sebelum pembahasan UMSK, DPK harus menyepakati terlebih dahulu sektor apa saja yang menjadi unggulan di Batam.

Ia menyebutkan selama ini, sektor galangan merupakan unggulan dan masul kategori pertama disusul industri hingga pariwisata. “Ya, tahun lalu itu yang unggulan, kalau untuk tahun depan belum tahu. Menunggu rapat besok (hari ini, red),” kata dia, Rabu (7/11).

Pria yang pernah mengepalai Dinas Perindutrian dan Perdagangan Batam ini mengungkapkan saat pertemuan pertam diagendakan penjelasan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Batam.

“Nanti akan ada pemaparan. Karena mereka punya data yang lengkap. Setelah itu baru kita bisa tahu apa saja sektor unggulan di Batam saat ini,” ujarnya.

Ia tidak memungkiri ada beberapa masukan dari anggota DPK Batam lainnya untuk menetapkan sektor yang sama dengan tahun 2018 seperti industri galangan dan lainnya. Namun tetap harus menunggu hasil rapat bersama sebelum ditetapkan.

“Kami bahas sektor dulu. Belum masuk ke angka,” sebut pria lulusan UNAND ini.

Hasil pemaparan dari BPS akan menentukan apa saja sektor unggulan yang akan ditetapkan di tahun 2019 mendatang.

“Yah liat hasil besok. Semoga ada kesepatakan sehingga bisa dilanjutkan ke pembahasan angka,” imbuhnya.

Untuk angka UMSK dibahas secara bipartet antara pengusaha dan pekerja. Hasil tersebut akan diteruskan kepada Gubernur Kepri, Nurdin Basirun untuk ditetapkan.

“Kami hanya fasilitator saja. Soal besaran angka terserah mereka,” tutupnya.(yui)

Pemko Batam Menunggu Hasil Verifikasi Penerima Bantuan Kementerian Sosial

0
Wakil Walikota Batam, Amsakar Achmad.
foto: batampos.co.id / dalil harahap

batampos.co.id – Ketua Tim Percepatan Pengentasan Kemiskinan Batam, Amsakar Achmad masih menunggu hasil verifikasi penerima bantuan dari Kementerian Sosial tahun 2019 mendatang.

“Saya belum terima datanya, lagi proses verifikasi,” kata dia, Rabu (7/11).

Ia menjelaskan tahun depan kuota bantuan untuk Batam masih sama dengan tahun ini yaitu 32.493 ribu penerima. Tim saat ini tengah turun ke lapangan dan mendata keadaan terbaru penerima bantuan tersebut.

“Mereka masih door to door memastikan penerima masih ada di Batam atau sudah pindah,” sebutnya.

Amsakar menyebutkan perhitungan penerima bantuan ini dinilai dari penghasilan perbulan, jumlah anak, kondisi rumah, serta pendidikan anak di satu keluarga. “Jadi itu kira-kira aspek yang menjadi indikator kemiskinan,” jungkapnya.

Mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Batam ini mengungkapkan hasil verifikasi akan dilaporkan ke pusat paling lambat akhir November ini.

Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat selaku dinas yang membawahi bantuan orang miskin ini masih bekerja. “Mereka yang sudah terverifikasi akan didaftarkan sebagai penerima di tahun 2019 mendatang.

“Ya, mudah-mudahan proses berjalan dengan baik. Sehingga kami bisa usulkan sebelum batas waktu berakhir,” tambahnya.

Kepala Bidang Sosial, Dinsos-PM Batam, Rayanis Aminah mengatakan saat ini masih proses pendataan. Dari kuota yang diberikan yaitu 32.493 yang berhasil melengkapi berkas sebagai penerima bantuan hanya 23.502 penerima.

“Itu yang bisa memenuhi persyaratan. Kalau yang lain tidak ada melampirkan syarat jadi tidak bisa mendapatkan bantuan,” ujarnya.

Ia menargertkan proses verifikasi selesai 20 November mendatang dan segera diusulkan untuk menjadi penerima tahun 2019 mendatang. (yui)

Ada Kesempatan Magang ke Jepang

0

batampos.co.id – Pemerintah Indonesia menjalin kerja sama di bidang pemagangan di Jepang dengan International Manpower Development Organization (IM) Japan.

“Kerjasama pemagangan antara IM dengan Kemnaker telah berlangsung sejak 1993. Hingga september 2018, peserta pemagangan yang telah ditempatkan IM Japan di perusahaan Jepang sebanyak 41.438 orang,” kata Direktur Bina Pemagangan Kemnaker, Asep Gunawan, saat mendampingi Kunjungan Kerja Tim Pengawas Pekerja Migran Indonesia DPR RI ke training center IM Japan, Kasukabe, Jepang, Selasa, (6/11/2018).

Asep menjelaskan, seleksi penerimaan pemagangan ke Jepang diselenggarakan sepanjang tahun oleh dinas tenaga kerja provinsi.

Tim yang menyeleksi peserta magang merupakan gabungan dari Kementerian Ketenagakerjaan dan IM Jepang.

“Setelah lolos seleksi, peserta pemagangan mendapatkan pelatihan bahasa dua bulan di daerah asal seleksi. Setelah menyelesaikan pelatihan di daerah, para peserta akan mengikuti pelatihan terpusat yang diselenggarakan di BBPPK & PKK Lembang. Setelah itu pemantapan di IM Japan selama sebulan sebelum magang di perusahaan,” terang Asep.

Saat ini, ujar Asep, sebanyak 142 orang peserta asal Indonesia, bersama-sama dengan peserta asal negara lain (total 246 orang) sedang mengikuti pelatihan bahasa dan budaya di training center IM Japan. Setelah mengikuti pelatihan bahasa dan budaya selama sebulan, peserta akan mulai mengikuti program pemagangan di masing-masing perusahaan penerima.

Peserta magang, lanjut Asep, mendapatkan uang saku setidaknya 100 ribu yen atau setara 13 juta setiap bulannya. Setelah program magang selesai peserta juga mendapatkan tunjangan usaha mandiri 600 ribu- 1 juta yen (78,5 juta s.d 130 juta) yang dapat digunakan sebagai modal wirausaha.

“Selain mendapatkan uang saku, peserta pemagangan juga mendapatkan akomodasi (tempat tinggal), perlindungan asuransi, tiket Jakarta-Jepang pulang dan pergi, pelatihan prapemberangkatan dan orientasi di Jepang, Alat pelindung diri (APD) dan pendukung K3 lainnya,” terang Asep.

Sejalan dengan itu, Ketua Delegasi Timwas PMI DPR RI, Fahri Hamzah, menjelaskan sistem pemagangan seperti ini hanya ada di Jepang. Oleh karenanya ini merupakan peluang yang sangat bagus dan harus dimanfaatkan.

“Kami siap mendukung kerjasama (pemagangan) untuk pemenuhan pasar yang ada agar dapat berjalan dengan baik. Kami sepakat bahwa Jepang adalah negara terbaik dalam pemenuhan hak-hak pekerja,” tegas Fahri.

Peserta pemagangan dapat menimba pengetahuan serta kompetensi mereka di 75 bidang kejuruan. Beberapa kejuruan yang menjadi favorit adalah manufaktur, konstruksi, perkapalan, pertanian, perikanan, perawatan mobil dan asisten perawat lansia.

(met/JPC)

Ada Yang Urung Bunuh Diri setelah Membaca Kisahnya

0
Mantan pramugari Lion Air Laura Lazarus menceritakan pengalamannya di Jakarta, Selasa (6/11). FOTO: MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

Terluka parah dan kehilangan mimpi sebagai pramugari, Laura Lazarus menemukan jalan kesuksesan lewat menulis. Inspirasi kebangkitannya terus dia bagikan dalam berbagai forum. Mulai di sekolah hingga perusahaan.

FOLLY AKBAR, Jakarta

SEMUA sudah mengiranya meninggal. Sekujur tubuhnya penuh luka: pipi di bagian kanan remuk dan cuwil, daging betis di kaki kanan habis, serta tulangnya patah tak beraturan. ”Pokoknya ngeri lah,” kata Laura Lazarus mengenang yang dia alami 14 tahun silam.

Laura bekerja sebagai pramugari di Lion Air ketika itu. Pada 30 November 2004 itu, pesawat tempatnya bertugas tergelincir ke pemakaman umum di Bandara Adi Soemarmo Solo, Jawa tengah. Sebanyak 26 orang tewas dalam musibah tersebut.

Itu bukan kecelakaan pertama yang dialami Laura dalam tugasnya sebagai pramugari Lion Air. Empat bulan sebelumnya, pesawat tempat dia bertugas juga tergelincir di Bandara Mahmud Badaruddin II Palembang. Tapi tak separah di Solo. Tak ada korban kala itu.

Untung, berkat kegigihan tim medis di Singapura dan pemberian tulang kaki warga Filipina, kondisi Laura setelah kecelakaan di Solo membaik. Perempuan kelahiran Jakarta, 25 Maret 1985, tersebut bisa berjalan meski harus dibantu kruk di kedua sisinya. Sampai kini. ”Semoga bisa jalan normal lagi,” harap dia saat memperlihatkan kondisi tubuhnya sambil berdiri ketika ditemui Jawa Pos di sebuah kafe di kawasan Jakarta Selatan Selasa lalu (6/11).

Kecelakaan di Solo itu benar-benar meruntuhkan mimpinya. Apalagi ketika kemudian dia mendapati sikap perusahaan yang tidak bisa diandalkan. Mimpi sebagai pramugari memang tidak berlanjut. Tapi, jiwa petarungnya muncul. Sebagai tulang punggung keluarga, dia melakukan segalanya. Berjualan makanan hingga kosmetik pun dia lakoni. Semua yang ada diupayakan.

Di sela-sela masa pencarian itulah, terlintas dalam benak Laura keinginan untuk memulai aktivitas baru: menulis. Dengan kemampuan seadanya, dia nekat menulis. Kisahnya yang selamat dari peristiwa mengerikan dia goreskan kalimat per kalimat. Tak disangka, satu buku berhasil dirampungkan dan terbit pada 2008.

Yang lebih mengejutkan, buku berjudul Unbroken Wings itu mendapat tanggapan positif. Banyak orang yang memburunya. Kisahnya dibaca banyak khalayak. Terlebih mereka yang tengah mencari inspirasi atau jalan keluar atas persoalan yang dialami. Pundi-pundi rupiah mulai masuk ke kantongnya.

Seiring berjalannya waktu, beberapa pembaca mulai memberikan respons balik. Rata-rata melalui surat. Di antara sekian banyak tanggapan, ada satu yang paling menyayat hatinya. Saat ada pembaca yang mengaku batal bunuh diri setelah membaca kisahnya. ”Saya merasa dari buku ini saya bisa memberikan kesempatan ke banyak orang di luar sana,” imbuhnya.

Tak pelak, upayanya untuk berbagi semangat semakin kuat. Laura mulai sering mengisi forum. Keberhasilannya bangkit dari kondisi mengenaskan dirasa cocok untuk membangkitkan antusiasme.

Forum kecil di sekolah-sekolah hingga perusahaan memintanya berbagi kunci kebangkitan. Menjadi motivator. ”Mereka harapkan kasih semangat. Ingin orang di sekeliling saya bisa belajar dari saya,” kata dia.

Pada 2013 cobaan sempat kembali menggelayutinya. Kaki kanan hasil operasi mengalami keretakan. Diduga, kaki tersebut tidak bisa menopang tubuhnya.

Sadar kebutuhan untuk menjaga kondisinya tidak mudah, Laura mulai memikirkan cara lain meraih materi. Sebab, tidak mungkin meminta pengobatan kembali ke Lion Air.

Di tengah kondisi itu, keluarlah ide untuk mendirikan penerbitan. Yang dia namai Growing Publishing. Kebetulan, saat itu juga Laura berencana menerbitkan buku baru. Berjudul Unbroken Spirit.

Laura berpikir, dengan menerbitkan sendiri buku itu, keuntungan yang didapat bisa lebih besar jika dibandingkan dengan menitip di penerbitan orang. Selain itu, Laura mulai menerima naskah dari banyak penulis. Rata-rata buku yang dia terbitkan memiliki genre buku motivasi.

Hingga lima tahun berjalan, sudah lebih dari 40 buku dia terbitkan. Selain materi, dia merasa mendapat kepuasan lain: bisa lebih bermanfaat bagi banyak orang. ”Ini lebih dari uang yang saya dapatkan,” tuturnya.

Laura bersyukur atas apa yang diraih. Kalaupun Lion Air tidak lagi menjamin biaya pengobatannya, kini Tuhan menggantinya dengan cara yang lain. Sebab, setiap beberapa bulan, dia masih harus berobat. Bukan lagi ke Singapura, melainkan ke Penang, Malaysia. ”Saya nggak mampu biaya di Singapura,” ucapnya.

Kini, saat kecelakaan pesawat Lion Air kembali terjadi, Laura semakin sibuk. Dia harus mondar-mandir memenuhi wawancara media. Bukan itu saja, kasus kecelakaan yang terjadi di perairan Karawang tersebut juga kembali membawanya ke ingatan masa lalu. ”Setiap ada kecelakaan pesawat, saya selalu teringat. Ikut takut,” ungkapnya. (*/c9/ttg)

Giliran Solar yang Langka

0

batampos.co.id – Rabu (7/11) kemarin, pemilik kendaraan pengguna bahan bakar solar mengeluh karena sulit mendapatkan solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Saiful, warga Seibeduk, mengaku sulit mendapatkan bahan bakar solar dua minggu belakangan ini. Solar di SPBU Tanjungpiayu dan lainnya yang ia datangi selalu habis. ”Kalau pun ada harus mengantre berjam-jam,” ujar Saiful, kemarin.

Dia mengatakan, saat pasokan solar di beberapa SPBU di Seibeduk kosong, ia terpaksa harus berkeliling mencari di SPBU lainnya. Namun, beberapa SPBU yang ia datangi juga kerap kehabisan stok solar.

”Paling dekat itu di Tembesi. Nah, di sana juga sering kosong, dan kalau pun ada pasti diserbu warga lainnya,” sebutnya.

Kelangkaan solar juga terjadi di SPBU Codo di Sagulung. Pantauan Batam Pos, sejumlah mobil truk, angkutan umum, dan kendaraan lain yang berbahan bakar solar terlihat mengantre dan menunggu di luar SPBU. SPBU juga memajang tulisan ’BMM Bio Solar Dalam Pengiriman’ akan segera masuk.

”Iya dari pagi (kemarin, red) memang sudah kosong, malamnya ada tapi cepat habis,” kata seorang petugas SPBU tersebut.

Di SPBU Tembesi antrean kendaraan juga mengular. Dewa, sopir lori mengaku terpaksa mengantre karena lelah mencari solar. ”Baru dari SPBU Batuaji, di sana solar juga kosong,” jelasnya.

Sementara itu, Area Manager Communication and Relations Pertamina MOR 1 Sumbagut, Rudi Ariffianto belum berhasil dikonfirmasi. Beberapa kali dihubungi melalui sambungn telepon, tapi sedang tidak aktif. Pesan singkat melalui WhatsApp juga belum mendapat balasan.

Namun, beberapa waktu lalu, Rudi menegaskan pengiriman pasokan solar ke Batam sudah sesuai kebutuhan. Apalagi untuk kuota solar yang dikirim ke masing-masing daerah telah diatur pemerintah karena disubsidi melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Dijelaskannya, peruntukan solar subsidi juga telah diatur pemerintah, seperti nelayan, petani, angkutan umum dan publik. Perusahaan besar atau industri dilarang membeli solar subsidi. ”Jadi, seharusnya tak ada kekurangan solar, sebab penyalurannya lancar,” kata Rudi. (yul/eja)

TNI AU Usir Enam Pesawat Asing

0
Tiga Sukhoi dari Skuadron 11 Makassar saat parkir di Bandara Internasional Hang Nadim, Selasa (30/10). Pesawat Sukhoi yang berada di Bandara Internasional Hang Nadim ini dalam rangka Operasi Tangkis Petir. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) berhasil menghalau pesawat asing dari wilayah udara Kepri selama Operasi Tangkis Petir sejak 30 Oktober lalu. Keenam pesawat asing itu terdiri dari pesawat sipil dan militer.

Komandan Lanud Raja Haji Fisabilillah, Kolonel ­­Pnb M Dadan Gunawan mengatakan, keenam pesawat ini tidak dilengkapi flight clearance saat memasuki wilayah Indonesia. Sehingga harus diusir dari langit NKRI.

“Penyebabnya itu bisa dibilang karena ketidaktahuan, ketidakpahaman atau mereka berpatokan kawasan yang mereka masuki di bawah kontrol Singapura,” kata Dadan, Rabu (7/11).

Dadan menjelaskan, saat dalam kendali otoritas Singapura, pesawat asing itu merasa wilayah yang dilewatinya adalah milik Singapura.

“Jalur yang ditentukan sudah ada, tapi ada juga yang sedikit melenceng dan melanggar jalur. Sehingga memasuki wilayah kedaulatan NKRI,” ungkap Dadan.

Setiap pelanggaran yang dilakukan pesawat asing ini, menurut Dadan, telah dilaporkan ke Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas). Baik itu karena ketidaktahuan, sengaja melanggar atau melenceng dari jalur, atau karena hal lain.

“Biar Mabes TNI AU yang memutuskan dan memberikan tindakan. Kami hanya menjalani perintah melaksanakan operasi saja,” tuturnya.

Sementara Komandan Skuadron 11 Makassar Letkol PnB Anton Pallaguna menambah-kan, pesawat yang diusir tersebut telah diidentifikasi secara elektronik dan visual. “Elektronik itu melalui radar dan informasi pusat kontrol. Visual itu, kami datangi lalu foto. Dan semua ini kami kirim ke pihak pusat,” ucapnya.

Selama operasi ini, kata Anton, daerah yang paling sering dimasuki pesawat asing tanpa izin di kawasan Anambas. “Kebanyakan dari 6 pesawat yang kami usir itu di kawasan tersebut,” tuturnya.

Anton menjelaskan, selama operasi berlangsung tidak ada upaya perlawanan dari pesawat asing yang diusir.

“Tidak ada yang ngeyel. Saat kami komunikasikan, mereka langsung keluar,” ungkapnya.

Anton menjelaskan, wilayah udara Kepri memang rawan pelanggaran oleh pesawat asing. Ini karena Kepri berbatasan dengan Singapura yang memiliki aktivitas penerbangan sangat sibuk. Apalagi sebagian Flight Information Region (FIR) Kepri saat ini masih dikuasai Singapura.

“Kalau di Makassar itu kebanyakan jalur domestik, jadi jarang ada pelanggaran,” tuturnya.

Dijelaskan, area kontrol penerbangan sipil di Kepri dari ketinggian nol hingga 3 ribu kaki saja. Di atas itu, dikendalikan pihak Singapura. Meski begitu, TNI AU tetap akan mengawasi area FIR Kepri yang dikendalikan Singapura itu.(ska)

Onderdil Pesawat Lion Air JT 610 Diganti di Bali

0
Tim SAR gabungan mengangkat ban pesawat Lion Air JT610 ke atas Kapal Baruna Jaya I di Perairan Karawang, Jawa Barat, Minggu (4/11/2018). Ban pesawat tersebut ditemukan di kedalaman 32 meter.FOTO : TAUFIK/JAWA POS

batampos.co.id – Penyelidikan kasus kecelakaan jatuhanya pesawat Lion Air PK-LQP terus dilakukan. Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menemukan fakta Angle of Attack (AOA) indicator pesawat tersebut diganti di sewaktu di Bali. Di sisi lain, proses evakuasi korban diperpanjang hingga tiga hari nanti.

Sebelumnya KNKT telah menemukan fakta bahwa pada empat penerbangan sebelumnya, pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 itu rusak. Empat penerbangan tersebut termasuk saat kejadian nahas pada 29 Oktober lalu. Permasalahan tersebut terletak pada penunjuk kecepatan atau Air Speed Indicator.

”Saat di Bali pada 28 Oktober, AOA sem­pat diganti setelah pilot,” tutur Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, Rabu (7/11).

AOA sensor yang dilepas di Bali menurut Soerjanto sudah dibawa ke kantor KNKT. Selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan di pabrik pembuatnya di Chicago.

Selain itu, dari Flight Data Recoder (FDR) menunjukkan saat penerbangan dari Bali ke Jakarta pesawat mengalami perbedaan AOA indicator. Di sisi kiri atau pada bagian kapten pilot berbeda 20 derajat dari sisi kanan atau first officer (FO). Saat di udara, tidak bisa diketahui bagian yang benar antara sisi kanan atau kiri. Namun pilot berhasil mendaratkan pesawatnya di Jakarta.

”Keberhasilan pilot menerbangkan pesawat yang mengalami kerusakan ini menjadi dasar KNKT memberikan rekomendasi kepada Boeing untuk disampaikan kepada airline di seluruh dunia jika menghadapi situasi yang sama,” ungkapnya.

Terkait kerusakan tersebut, baik Plt Dirjen Perhubungan Udara Pramintohadi Sukarno dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi tidak memberikan respons saat dihubungi Jawa Pos (grup Batam Pos) kemarin. Padahal Kementerian Perhubungan mengklaim bahwa pihaknya rutin melakukan rampcheck.

Sejauh ini, KNKT tidak hanya melakukan penyelidikan pada kondisi fisik atau rekaman FDR. Namun juga melakukan wawancara dan pengumpulan dokumen ke beberapa pihak. Mereka tidak hanya memeriksa kru pesawat yang terbang dari Bali ke Jakarta. Tetapi juga wawancara dengan kru yang tugas dari Manado ke Bali.

”Kami Sudah melaksanakan wawancara dengan teknisi yang melakukan perbaikan di Manado, Bali, dan Jakarta,” ujar Soerjanto.

Data lain yang diperlukan KNKT adalah mengenai percakapan pilot dan FO. Data tersebut berada di cockpit voice recorder (CVR). Alat tersebut belum ketemu hingga berita ini ditulis. ”Saat dilakukan pencarian dengan ping locator sinyalnya lemah sekali. Kemungkinan tertimbun lumpur,” ungkapnya.

Untuk itu kemarin KNKT mendatangkan kapal penyedot lumpur dari Balikpapan. Diperkirakan dalam dua hari ke depan, kapal tersebut akan berada di lokasi jatuhnya pesawat PK-LQP. ”Pencarian CVR untuk mengetahui tindakan yang dilakukan dan koordinasi antar pilot,” bebernya.

Selain itu KNKT juga merencanakan rekonstruksi penerbangan PK-LQP di engineering simulator milik Boeing di Seattle. Tujuannya untuk melihat kejadian kecelakaan pesawat dengan nomer penerbangan JT-610 tersebut.

Kasubkom Investigasi Keselamatan Penerbangan Nurcahyo Utomo juga menambahkan saat simulasi akan menggunakan data dari FDR. Indonesia atau Singapura memang memiliki simulator. Namun KNKT ingin simulasi tersebut seperti pesawat sesungguhnya sehingga harus dilakukan di kantor Boeing.

“Engineering simulator benar-benar bisa mensimulasikan seperti di pesawat,” ujar Nurcahyo.

Di sisi lain, evakuasi penumpang pesawat Lion Air PK-LQP diperpanjang tiga hari. Sebelumnya Kepala Basarnas Muhammad Syaugi telah memperpanjang selama tiga hari.

”Khusus untuk tim Basarnas,” ujar Syaugi.

Saat ini, ada 220 personel termasuk 60 penyelam yang ikut dalam evakuasi. Tim pencariakan fokus mencari korban dengan locus radius 250 meter pada koordinat yang selama ini menjadi pusat pencarian.

”Operasi ini sudah berlang-sung sepuluh hari, dan tren dari hasil penyisiran di permukaan maupun di dasar laut sudah menurun,” ungkapnya. (lyn/JPG)

FPI: Kasus Rizieq Direkayasa

0

batampos.co.id – Kasus yang mendera Muhammad Rizieq Shihab atau Habieb Rizieq Shihab (HRS) di Arab Saudi bertambah. Setelah tersangkut persoalan izin tinggal yang sudah kedaluwarsa, Rizieq dikabarkan sempat ditangkap polisi karena kedapatan ada bendera hitam dan mengarah pada ciri gerakan ekstrimis di rumahnya di Saudi, Senin (5/11) lalu.

Kasus ini langsung ditanggapi Sekretaris Umum DPP Front Pembela Islam (FPI) Munarman. Ia menyatakan ada pihak yang sengaja memasang bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid di kediaman Rizieq Shihab di Makkah, Arab Saudi.

“Bendera dipasang oleh tu­kang fitnah. Ada operasi false flag terhadap Habib Rizieq Shihab di Makkah saat ini,” ucap Munarman, Rabu (7/11).

Munarman enggan merinci kronologi Rizieq diperiksa aparat setempat. Dia hanya menyayangkan ada pihak yang masih terus berupaya merekayasa kasus untuk menjatuh-kan Rizieq. Baik sejak Rizieq masih di Indonesia hingga saat berada di Makkah.

“Tujuannya hanya satu, yaitu Habib Rizieq Shihab mendapatkan kesulitan dan mereka para tukang fitnah berharap celaka kepada Habib Rizieq Shihab,” tutur Munarman.

Hingga tadi malam Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) belum mengonfirmasi status dari Rizieq. Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (BHI) Kemenlu Lalu Muhammad Iqbal tidak memberikan informasi status hukum pentolan Front Pembela Islam (FPI) tersebut.

Saat ditanya lebih detail terkait kasus terbaru Rizieq tersebut, Iqbal hanya menjawab diplomatis.

’’Bagi kami kasus ini tidak berbeda dengan kasus WNI lainnya yang menghadapi permasalahan hukum di luar negeri,’’ jelasnya. Menurut dia tugas perwakilan Indonesia sebatas memberikan pendampingan kekonsuleran untuk memastikan hak-hak hukum WNI yang bermasalah terpenuhi.

Dubes Indonesia di Riyadh Agus Maftuh Abegebriel juga tidak memberikan informasi terkini terkait status hukum Rizieq. Jawa Pos (grup Batam Pos) sudah berusaha mengguhubunginya, namun Dubes Agus tidak memberikan balasan atau tanggapan.

Dalam keterangan tertulisnya, Dubes Agus menjelaskan kronologi persoalan yang mendera Rizieq itu. Kasus ini bermula pada 5 November lalu sekitar pukul 08.00 waktu setempat, tempat tinggal Rizieq didatangi oleh kepolisian Makkah. Petugas kepolisian datang karena mengetahui adanya pemasangan bendera hitam yang mengarah pada ciri-ciri gerakan ekstrimis. Bendera tersebut dipasang di dinding bagian belakang kediaman Rizieq.

Setelah itu pada hari yang sama, sekitar pukul 16.00 waktu setempat, Rizieq dijemput oleh kepolisian Makkah dan Mabahis Ammah atau intelejen umum (General Investigation Directorate/GID). Kemudian Rizieq dibawa ke kantor kepolisian. Selanjutnya untuk keperluan proses penyelidikan dan penyidikan, Rizieq sempat ditetapkan untuk ditahan oleh kepolisian wilayah Makkah.

Setelah ditahan semalaman, pada 6 November Rizieq dilepas dan dikeluarkan dari tahanan kepolisian Makkah. Upaya ini dilakukan dengan jaminan yang diberikan oleh perwakilan Indonesia. Tetapi belum ada kejelasan apa bentuk jaminan yang bisa membuat Rizieq dikeluarkan dari tahanan kepolisian.

Agus menjelaskan Arab Saudi sangat melarang keras segala bentuk jargon, label, dan atribut apapun yang melambangkan atau berbau terorisme. Baik itu terkait dengan simbol ISIS, Al-Qaedah, Al-Jamaah al-Islamiyah, dan organisasi sejenis lainnya. Pemerintah Saudi juga melakukan pemantauan aktivitas tersebut di media sosial. Kasus ini bisa berujung pidana berat jika terbukti bersentuhan dengan organisasi terorisme.

Habib Rizieq Shihab sempat dimintai keterangan oleh polisi Arab Saudi terkait adanya bendera bertuliskan Tauhid di tembok rumahnya. (ist/JawaPos.com)

Dia mengatakan KBRI di Riyadh akan terus berkoordinasi dengan otoritas di Arab Saudi. Supaya bisa memantau perkembangan tuduhan apa yang sebenarnya dijatuhkan kepolisian setempat kepada Rizieq. Dia berharap Rizieq hanya tersangkut masalah overstay saja. Dimana persoalan overstay merupakan pelanggaarn keimigrasian saja.

Sebaliknya dia mengaku khawatir jika tuduhan kepada Rizieq terkait dengan keamanan Kerajaan Arab Saudi. Jika benar tuduhan ini yang diberikan ke Rizieq, maka kasusnya akan ditangani oleh Riasah Amni ad-Daulah atau Presidency of State Security. Lembaga ini menurut Agus, merupakan sebuah lembaga yang bersifat superbody.

Sementara terkait pemeriksaan HRS oleh Pemerintah Arab Saudi, Polri bersikap pasif. Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada informasi police to police antara Polri dengan kepolisian Arab Saudi.

”Ini sebenarnya kewenangan Kementerian Luar Negeri,” ujarnya.

Bila dibutuhkan tentu Polri akan ikut berkoordinasi dengan kepolisian Arab Saudi.

”Ini kan soal warga negara Indonesia yang diperiksa di luar negeri. Bukan di dalam negeri,” tutur jenderal berbintang satu tersebut. Sementara Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menjelaskan bahwa terkait HRS sebenarnya perlu dipahami adanya kedaulatan sebuah negara. Bila ada masalah di luar negeri tentunya negeri lain tidak bisa terlibat.

”Begitu sebaliknya, orang luar diharapkan menghormati proses hukum di Indonesia,” ujarnya.(wan/idr/jpg)

Menjual Kesunyian di Laut Bintan

0
Turis menikmati sunset di atas kelong di laut Bintan. Foto: dok.traveller Bintan

Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau memang terkenal dengan pariwisatanya. Khususnya kawasan wisata Lagoi. Ada banyak resort di sana. Keindahan pantai dan lautnya tak kalah dengan Bali. Ratusan ribu wisatawan berkunjung ke sana setiap tahunnya. Pengelola wisata juga berlomba membuat event bertaraf internasional. Namun ada satu destinasi wisata berbeda di Bintan yang kini terkenal hingga ke Eropa.

MUHAMMAD NUR, Bintan

WISATA tak selalu identik dengan hingar bingar musik remix dari suatu tempat hiburan malam di suatu kawasan pariwisata. Juga tak selalu identik dengan minuman beralkohol ditemani wanita-wanita cantik nan seksi yang bisa menjadi selimut malam. Juga tak selalu identik perjudian yang dibalut gelandang permainan (gelper).

Bagi sebagian wisatawan, kesunyian malam di alam terbuka adalah sebuah kemewahan tiada tara. Lebih mewah dari hotel berbintang lima. Alam semula jadi bisa membuat wisatawan betah berlama-lama, menikmati karunia Tuhan yang tak bisa diukur dengan lembaran mata uang banyak negara.

Lihatlah kelong tempat menangkap ikan warga di laut Bintan. Sepintas memang hanya terlihat seperti onggokan bangunan yang tiangnya menghujam ke dasar laut. Ada juga yang bak onggokan “sampah” mengapung di atas laut yang tertambat jangkar ke dasar laut. Sebagian orang menyebutnya rumpon. Namun di Bintan lebih dikenal dengan nama kelong terapung. Alat apungnya umumnya menggunakan drum plastik yang dirakit sedemikan rupa.

Bila senja tiba, barulah mata dimanjakan dengan cahaya lampu dari kelong-kelong itu. Bila mata hari benar-benar kembali ke peraduan, kelong-kelong itu bak kunang-kunang berjejer. Sedap dipandang mata dari kejauhan. Namun siapa sangka kelong-kelong warga itu bisa disulap menjadi destinasi wisata yang memiliki nilai jual tinggi.

Selama ini, fungsi kelong yang tersebar di perairan Bintan tak lebih dari sekadar tempat menangkap ikan, udang, dan aneka hewan laut lainnya. Khususnya ikan teri. Jumlah kelong itu semakin bertambah di musim ikan teri tiba. Namun menjadi tak berguna dikala musim utara. Kelong-kelong terapung itu ditarik dan ditambat di bibir pantai. Menunggu angin dan ombak besar reda, lalu kembali ditarik ke tengah laut.

Selama ditambat, kelong itu tak menghasilkan apa-apa. Pemilik hanya bisa pasrah menunggu musim utara redah. Kadang pemilik banting setir ke pekerjaan lain agar dapur tetap mengepul. Sambil menunggu musim utara berakhir untuk kembali menarik kelong ke tengah laut untuk menangkap ikan.

Sekadar gambaran, kelong-kelong ini dibuat sekat-sekat dari kawat atau jaring dan ditaruh di permukaan hingga menjuntai ke dalam laut sedalam 3-5 meter. Sekat-sekat itulah yang berfungsi sebagai perangkap ikan.

Di Bintan, Kelong milik warga dilengkapi bangunan di sampingnya yang menyatu dengan sekat-sekat perangkap ikan. Bangunan menyerupai pondok tempat menunggu ikan-ikan memasuki ke perangkap. Juga berfungsi tempat isitirahat nelayan. Ada juga dilengkapi kamar untuk tempat istirahat yang nyaman. Juga ada ruang lain untuk tempat bersantai.

Dua setengah tahun belakangan ini, seorang wanita muda yang kaya ide bernama Mirawati mengangkat derajat kelong dari sekadar tempat nelayan menangkap ikan menjadi destinasi wisata yang menarik. Mengusung brand Traveller Bintan, wanita yang memiliki julukan si kecil cabe rawit ini menghimpun sejumlah pemilik kelong di Bintan, mengubah mindset mereka, bahwa kelong bisa menangguk lebih banyak uang tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai tempat menangkap ikan.

“Ada belasan yang sudah bergabung. Ada yang punya satu kelong, ada yang dua,” ujar Mira, sapaan akrab Mirawati, Rabu (7/11/2018).

Dengan memberi sentuhan di sana sini, terutama di bagian tempat istirahat yang dilengkapi tempat tidur yang nyaman, lengkap dengan toilet dan air bersihnya, juga tempat bersantainya, kelong warga kemudian disulap menjadi “hotel” yang terapung di laut Bintan.

“Saya hanya mengarahkan, pemilik kelong yang melakukannya,” ujarnya.

Setelah menyulap kelong warga menjadi “hotel” terapung, Mira juga mengajak pemilik perahu pancung, sejenis kapal kecil bermesin tempel untuk bergabung. Fungsinya, mengantarkan wisatawan ke kelong dan ke berbagai tempat wisata lainnya di Bintan.

Para pemilik yang sekaligus driver pancung juga dibekali standar pemahaman keselamatan. Pancung-pancung yang terbuat dari kayu itu juga dilengkapi dengan alat keselamatan, seperti baju pelampung, lampu menunjuk arah, kompas, dan lainnya.

“Jadi tidak asal, karena kenyamana dan keselamatan wisatawan itu jadi prioritas utama,” tegasnya.

Tak berhenti di situ, Mira juga menggandeng anak-anak muda Bintan yang memiliki kemampuan menyelam (diving). Terutama yang sudah memiliki sertifikasi untuk diving. Tujuannya, untuk memandu wisatawan yang ingin menyelam menikmati alam bawah laut Bintan atau memandu wisatawan yang ingin snorkling.

Tak cukup sampai di situ, Mira dan tiga tim intinya juga mengajak warga yang memiliki usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ada di beberapa pulau dan desa untuk mengambil peran. Mereka menyediakan cenderamata atau oleh-oleh, terutama olahan makanan berbahan baku hasil laut yang bisa dinikmati langsungn atau dibawa pulang wisatawan.

Mira juga bermitra dengan sejumlah aktivis lingkungan atau pelestari hutan mangrove di Bintan. Serta berbagai elemen masyarakat lainnya. “Semua tenaga lapangan melibatkan warga tempatan di sana. Konsep kami menciptakan destinasi wisata yang berbeda dengan memberdayakan masyarakat sehingga ekonomi masyarakat juga meningkat,” ungkap Mira.

Setelah merintis jejaring itu, Mira kemudian membuatkan paket-paket wisata melalui travelnya bernama Traveller Bintan yang ia pasarkan secara digital ke market-market potensial ke berbagai belahan dunia, termasuk di dalam negeri.

“Kami mengandalkan digital marketing untuk menawarkan paket wisata kami. Kami hadir di semua platform digital, termauk di Instagram, facebook, twitter, dan platform digital lainnya dengan brand Traveller Bintan,” ujar Mira.

Cara pemasaran dengan mengandalkan digital marketing ternyata cukup efektif. Selain efisien dari sisi biaya, juga bisa langsung menyasar market potensial. Responnya pun luar biasa. Banyak pesanan masuk dari berbagai negara.

Lalu apa yang ditawarkan ke wisatawan di kelong itu? Mira menjawab kenyamanan alam semula jadi. Di kelong terapung yang sudah disulap menjadi hotel terapung di laut Bintan, turis bisa langsung disapa angin laut sepoi-sepoi yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela kelong. Turis juga bisa berjemur di siang hari sembari menikmati hamparan laut luas bersama orang tercinta.

Begitupun di sore hari, Turis bisa menyaksikan matahari tenggelam di sisi barat. Apalagi matahari seolah tenggelam di tengah laut, berganti malam yang suasananya tak kalah menariknya. Nyanyian lembut suara lautan hingga kesunyian malam di tengah laut menjadi fasilitas mewah.

Jika cuaca terang atau bulan purnama, pemandangan menjadi lebih indah. Cukup berbaring menghadap langit di atas kelong, memandangi bulan dan jutaan bintang yang kerlap kerlip menghampar begitu luas di langit jauh. Temaram cahayanya menyapa turis yang menghuni kelong.

Turis juga dengan leluasa menghirup udara malam yang sejuk, segar, bersih, dan bebas polusi.

Jika Ingin merasakan secara nyata menjadi nelayan, bisa melempar pancing atau jaring sembari bercengkrama dengan orang tercinta. Apalagi jika berada di laut saat bulan gelap, ikan-ikan akan sangat mudah mendekat dan dijaring.

Tak hanya itu, hasil tangkapan yang sangat segar, bisa diolah secara tradisional dengan bumbu segar, membuat lidah terus bergoyang. Sungguh kenikmatan yang tak dapat didustakan.

Belum lagi saat terjaga di subuh hari, kemewahan itu kembali menghampiri. Sunrise selalu menyambut dengan cahayanya yang indah di antara gumpalan awal yang seolah muncul dari tengah laut.

Turis asing dibawa keliling menikmati bakau di Bintan. Foto: dok. Traveller Bintan

Mau bermain dengan ikan-ikan dan melihat keindahan terumbu karang di siang hari? Tinggal mencemplungkan diri untuk diving atau sekadar snorkeling. Turis bisa menyapa ikan Nemo dan ikan lain beragam corak di antara terumbu karang yang indah. Sungguh akuarium raksasa yang tak berpenghujung.

“Itulah gunanya kami menggandeng warga sebagai pemandu menyelam atau snorkling,” ujar Mira.

Tak hanya itu, aneka biota laut yang punya karakater dan ciri menarik itu semakin memanjakan mata karena berenang di antara terumbu karang warna warni dengan beragam bentuk yang indah. Sungguh keindahan dan kemewahan luar biasa bagi penyuka nature dan adventure.

“Keindahan alam semula jadi itu yang kami jual dan laku dijual. Turis yang pernah mencoba pasti ingin kembali lagi,” ujar anak nelayan yang pernah menimba ilmu di Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) di Dompak, Tanjungpinang, ini.

Tak hanya menghabiskan waktu di kelong, turis juga bisa diajak berkeliling pulau menyapa warga yang mayoritas nelayan. Juga membeli aneka panganan dan oleh-oleh yang disediakan para UMKM di desa atau pulau nelayan yang disinggahi.

“Makanya kami berdayakan UMKM juga, turis bisa langsung transaksi dengan para UMKM itu. Dengan begitu, ekonomi masyarakat setempat bergerak,” ujar Mira.

Mira mencontohkan turis lokal dari Bank Indonesia pusat berjumlah 150 orang yang baru saja selesai menikmati paket wisata alam Bintan yang ia tawarkan. “Saat kami bawa belanja di UMKM milik warga, dua jam saja penjualan tembus Rp 12 juta. Lumayan membantu warga,” ujar Mira.

Turis juga bisa diajak menikmati hutan bakau. Bahkan, untuk menamkan rasa cinta pada lingkungan, turis bisa diajak menanam bakau di tepi laut yang di lokasi yang sudah disediakan.

Bahkan turis juga bisa berkunjung ke sekolah-sekolah untuk sekadar bercengkramah dengan anak-anak sekolah di pulau-pulau di Bintan. Jika ingin memberikan bantuan, juga bisa.

Rata-rata turis yang datang ingin bertemu dengan nelayan untuk sekadar berbagi cerita. “Jarang-jarang kan turis bisa ngobrol denga nelayan, di sini kita siapkan paketnya,” ujar Mira.

“Pokoknya kami selalu berusaha memberikan yang terbaik, sehingga setiap turis yang datang pulangnya punya cerita yang menarik yang bisa mereka bagi ke yang lainnya,” ujar Mira.

Sejak berdiri 24 Maret 2016 lalu, setiap tahunnya Mira kedatangan lebih dari 1000 orang untuk turis nusantara (Indonesia) dan ratusan turis asing dari berbagai negara di dunia.

“Ada yang dari Eropa, salah satunya Inggris. Banyak juga dari Asia, dan berbagai negara lainnya. Karena menggunakan digital marketing, makanya penawaran paketnya bisa ke berbagai belahan dunia,” ujar Mira.

Menariknya, turis dua atau tiga orang tetap dilayani dengan konsep privat. Artinya, tidak bercampur dengan turis lainnya. “Kami selalu menawarkan ke turis paket yang mereka inginkan, bisa kami penuhi. Rata-rata yang pernah ke sini kembali lagi dan lagi,” ungkap Mira sambil tersenyum. ***

Hijrah ke BBM Pertamina Beroktan Tinggi, Mesin Kendaraan Lebih Awet

0
Operator SPBU Simpang Kabil, Batam, Kepri mengisi bahan bakar Pertamax Turbo ke salah satu kendaraan beberapa waktu lalu. Warga Batam saat ini banyak beralih ke bahan bakar beroktan tinggi seperti Petralite dan Pertamax Plus untuk performa kendaraan lebih baik. F. Dalil Harahap/Batam Pos

Memberikan “minum” kendaraan sesuai dengan kebutuhannya tak hanya membuat performa kendaraan menjadi lebih baik, tapi juga bisa memperpanjang umur kendaraan. Pertamina sudah sejak lama menghadirkan beberapa jenis bahan bakar minyak (BBM) yang bisa digunakan kendaran tua hingga kendaraan keluaran terbaru dengan teknologi terbaru.

MUHAMMAD NUR, Batam

JEMARI Muhammad bergegas meraih telepon pintar dari balik saku bajunya, 7 Agustus 2018 lalu. Sebuah pesan masuk ke whatsappnya. Telunjuknya menari di atas layar sentuh membuka pola kunci gawainya. Dalam hitungan detik, aplikasi whatsapp sudah ia buka untuk melihat isi pesan yang masuk.

“Oh, dari Pak Jufri,” ujarnya pada istrinya, Nisa Nisyana yang duduk di sampingnya.

Jufri seorang ahli pengobatan akupuntur yang tinggal di Perumahan Taman Mutiara Duta, Tiban, Sekupang, Batam, Kepulauan Riau. Ia menawarkan mobil kepada Muhammad.

“Assalamualaikum, saya mau nawarin mobil saya Mitsubishi Space Wagon keluaran tahun 2000. Mesin 2000 cc, surat lengkap, pajak hidup, siapa tahu bapak berminat,” tulis Jefri melalui pesan WA.

Jufri lalu mengirimkan foto-foto mobilnya dari berbagai sudut. Baik bagian eksterior maupun interiornya. Muhammad yang sudah beberapa kali datang ke rumah itu untuk terapi akupuntur, sudah pernah melihat langsung mobil tersebut. Namun belum tahu kondisi mesinnya.

“Kondisi mesin bagaimana?” tanya Muhammad, balik.

“Kondisinya oke, tak pernah ada masalah, silakan datang lihat, sekalian langsung tes,” ujar Jufri.

Muhammad pun sepakat datang ke rumah Jufri pada 8 Agustus 2018 lalu. Pukul 10.00 WIB ia sudah tiba di rumah Jufri. “Langsung tes saja,” ujar Jufri sambil memberikan kunci mobilnya ke Muhammad.

Sejurus kemudian bapak tiga anak ini memacu mobil tersebut di jalan lurus, belokan, hingga tanjakan. Setelah itu ia kembali ke rumah Jufri. “Tarikan masih bagus. Mesin masih halus. Di tanjakan masih kuat. BBM-nya pakai apa?” tanya Muhammad.

Jufri lalu menjelaskan, meski Mitsubishi Space Wagon keluaran tahun 2000, namun sudah mengusung teknologi yang maju. Menggendong mesin 2000 cc dengan menggunakan teknologi Gasoline Direct Injection (GDI) pada sistem pembakaran bahan bakarnya, mobil tersebut dirancang untuk menggunakan BBM ber-RON tinggi.

RON (research octane number) atau dikenal dengan Oktan adalah angka atau rasio yang menunjukkan besaran tekanan yang bisa diberikan sebelum BBM terbakar secara spontan.

“Mobil ini harus pakai Pertamax Plus yang beroktan 95. Tapi di Batam sekarang kan cuma ada Pertamax Turbo (oktan 98) itu jauh lebih bagus lagi,” ujar Jufri.
Mendengar mobil tersebut menggunakan Pertamax Turbo, kening Muhammad langsung berkerut. “Waduh, mahal itu, apalagi kalau Pertamax Turbo. Bisa koyak kantong,” ujarnya.

“Bisa tak pakai premium?” tanya Muhammad, lagi.

Jufri langsung mengingatkan bahwa jauh lebih baik memberi “minum” kendaraan sesuai kebutuhannya. “Kalau pakai premium larinya tersendat-sendat, berat, ngelitik, orang teknisi mobil bilang knocking karena mesin mobil ini rasio kompresinya tinggi sehingga direkomendasikan menggunakan BBM beroktan tinggi,” ungkap Jufri.

Dengan BBM beroktan tinggi, pembakarannya jauh lebih sempurna, sehingga performa mobil jauh lebih baik dan bertenaga. Jarak tempuhnya pun lebih jauh daripada menggunakan BBM jenis Premium (oktan 88). “Premium lebih cocok untuk kendaraan dengan kompresi rendah,” ujar Jufri.

Ia pun menceritakan, selama 13 tahun ia menggunakan mobil tersebut tidak pernah ada masalah karena selalu memberinya “minum” Pertamax, Pertamax Plus lalu beralih ke Pertamax Turbo setelah Pertamax Plus tak dijual lagi di Batam. Apalagi sedari awal mobil tersebut sudah menggunakan BBM beroktan tinggi.

“Ini kan seken Singapura, di Singapura BBM rata-rata beroktan tinggi di atas 90 semua dan mereka disiplin menggunakan BBM sesuai kebutuhan mesin kendaraannya,” ungkap Jufri. “Kalau tak percaya, coba tanya orang Pertamina atau teknisi yang paham mobil,” ujarnya, lagi.

Mendengar penjelasan Jufri, Muhammad menganggukkan kepala. Sejurus kemudian mereka negosiasi laluketemu angka harga yang cocok. Pada 12 Agustus akad jual beli berlangsung sekaligus serah terima kendaraan.

Muhammad kemudian memacu kendaraan yang ia beli ke kediamannya di Perumahan Legenda Malaka, Batam Centre, Batam, Kepulauan Riau. “Tapi dalam perjalanan, saya masih tak begitu yakin kalau pakai premium jadi berat tarikannya,” ujar Muhammad kepada Batam Pos, Kamis(1/11/2018).

Karena penasaran, beberapa hari kemudian ia mencoba mengisi Premium. Namun karena khawatir ngelitik, ia mencapurnya dengan Pertalite yang kadar oktannya 90. “Saya isi Premium Rp 50 ribu, Pertalite Rp 50 ribu,” ujarnya.

Ia merasaka perbedaan saat menggunakan campuran Premium dan Pertalite ternyata. “Tersendat-sendat sih tidak, tapi memang lebih cepat ngacir kalau pakai Pertama Turbo,” ujarnya.

Dari beberapa literatur yang ia baca, penjelasan yang ia dapat dari pemilik sebelumnya (Jufri) ternyata benar. Mencapur dua jenis BBM yang beda kadar oktannya selain berbahaya bagi mesin untuk jangka panjang, juga tak akan menghasilkan performa jarak tempuh yang ideal karena pembakaran BBM menjadi tidak sempurna. Apalagi kalau menggunakan BBM beroktan rendah seperti Premium.

Muhammad akhirnya memilih menghentikan mencampur Premium dan Pertalite setelah dua kali pengisian. Ia memilih menggunakan Pertalite yang oktanya 90 namun harganya masih terjangkau. Itupun tidak lama. Ia kembali hijrah menggunakan Pertamax Turbo yang kadar oktannya 98 setelah mendengarkan masukan dari Edi Suprapto, teknisi mobil yang memasangkan pipa pompa pendingin mobilnya, pekan lalu.

“Mobil saya ternyata dirancang menggunakan BBM beroktan 95+ seperti tertera di balik tutup tempat mengisi BBM. Artinya minimal pakai Pertamax Plus, Pertamax Turbo lebih bagus,” ujarnya.

Edi menyarankan agar ia tetap menggunakan Pertamax Turbo jika tak ada Pertamax atau Pertamax Plus. Supaya performa mesin tetap terjaga. Pria yang sudah lebih dari 15 tahun menangani berbagai jenis mobil, mulai dari mobil tua hingga seri terbaru menilai mobil Muhammad yang sudah berusia 18 tahun itu masih bagus. Selain faktor perawatan oli, pendingin, dan komponan lainnya, juga faktor penggunaan BBM yang sesuai kebutuhan mesin mobil tersebut.

“Performa mesinnya tak kalah dengan mobil baru. Salah satunya karena pemilik sebelumnya konsisten menggunakan BBM oktan tinggi. Mobil ini rasio kompresinya tinggi, maka memang sebaiknya pakai BBM oktan tinggi,” ujarnya.

Harga BBM beroktan tinggi seperti Pertalite, Pertamax, Pertamax Plus maupun Pertamax Turbo keluaran Pertamina memang lebih tinggi dibandingkan dengan Premium (bensin). Namun, Edi meyakinkan jika mau dicermati, sesungguhnya performa mesin dan jarak tempuh yang dihasilkan lebih baik dan lebih jauh dari BBM beroktan rendah yang harganya relatif murah. Juga lebih seimbang dengan jumlah lembaran rupiah yang dikeluarkan.

“Kan sayang, mesin dengan kompresi tinggi diberi minum BBM beroktan rendah yang sejatinya untuk mesin berkompresi rendah. Batuk dia, ngelitik mesinnya,” ujar Edi.

Ia menceritakan pengalamannya menangani mobil pelanggannya yang serupa dengan mobil Muhammad. Gara-gara pemiliknya nekat memberi Premium, padahal rekomendasi pabrikan Jepang harus menggunakan BBM beroktan tinggi, GDI mobil tersebut rusak. Begitupun beberapa kendaraan kompresi tinggi dengan teknologi di luar GDI.

“Cari part GDI di Batam itu susah. Untung masih ada dijual di negeri tetangga Singapura. Begitu ganti bagus lagi. Sejak itu mobilnya tak mau lagi dikasi Premium. Hijarh ke BBM beroktan tinggi. Hasilnya, mobilnya awet hingga saat ini masih bagus,” ujar Edi.

Secara teknis, Edi menjelaskan pentingnya memberi “minum” kendaraan sesuai BBM yang dibutuhkan. Dalam hal ini kendaraan kompresi tinggi memang minumnya sebaiknya BBM beroktan tinggi. Terutama kendaraan keluaran baru saat ini umumnya memiliki rasio kompresi mesin yang tinggi, sehingga BBM-nya harus sinergi dengan yang dibutuhkan. Tentu BBM beroktan tinggi seperti Pertamax, Pertamax Plus atau Pertamax Turbo.

Yang paling dikhawatirkan, kata Edi, jika kendaraan memiliki rasio kompresi mesin yang tinggi, diberi BBM oktan rendah. Bisa menyebabkan knocking atau ngelitik akibat pembakaran menjadi tidak sempurna di dapur pacu.

Gambaran sederhananya, lanjut pria yang juga bekerja di bengkel Auto Sport 1 di kawasan Mega Legenda 2 Batam Centre ini, jika menggunakan BBM oktan rendah sementara rasio mesin berkompresi tinggi, maka yang terjadi di dapur pacu, campuran udara dan BBM akan meledak sendiri sebelum ada percikan api dari busi.

Akibatnya, piston belum muncul sempurna sudah dihantam ledakan bahan bakar bercampur udara yang meledak sebelum ada percikan api dari busi sehingga tenaga yang dihasilkan tak maksimal. “Lama-lama pistonnya bisa jebol, akselerasi kendaraan juga menjadi kurang bagus karena terasa berat,” ujarnya.

Berbeda jika rasio mesin berkompresi tinggi diberi BBM beroktan tinggi. Pembakaran di dapur pacu akan sempurna. Campuran BBM dengan udara baru akan meledak setelah ada percikan api dari busi, sehingga pergerakan piston sesuai dengan semestinya. Hasilnya, tenaga yang dihasilkan menjadi lebih maksimal.

Selain itu, penggunaan BBM oktan tinggi seperti Pertamax, Pertamax Plus atau Pertamax Turbo juga menghasilkan ruang bakar yang bersih, sehingga mengurangi biaya perawatan dan mesin lebih awet. Emisi gas buang juga menjadi lebih ramah lingkungan.

“Jadi perlu disinergikan spesifikasi kendaraan dengan kebutuhan bakarnya. Itu tadi, kalau rasio kompresi kendaraan tinggi ya pakai BBM oktan tinggi. Pertamina sudah menghadirkan varian BBM beroktan tinggi sesuai kebutuhan kendaraan yang ada,” ujarnya.

Edi kemudian mengutip apa yang pernah disampaikan Indra Pratama, Commercial Fuel Marketing PT Pertamina. Kalau kendaraan dengan rasio kompresi mesin lebih tinggi diberi BBM oktan rendah, jarak tempuhnya berkurang karena pembakaran tidak sempurna. Bahkan bisa menimbulkan flek atau ngelitik.

“BBM oktan tinggi harganya memang tinggi, tapi sesuai dengan kualitasnya. Performa kendaraan menjadi lebih baik dan awet. Itu penting,” ujarnya.

Area Manager Communication & Relation Pertamina Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut/MOR 1), Rudi Ariffianto membenarkan penggunaan BBM beroktan tinggi pada kendaraan yang mesinnya memiliki kompresi tinggi sangat penting. Ia menyebutkan BBM Pertamina yang beroktan tinggi memiliki zat yang lebih encer dibandingkan dengan Premium yang memiliki Oktan 88.

“Kalau mesin kendaraan berkompresi tinggi memang membutuhkan BBM beroktan tinggi untuk menghasilkan pembakaran yang sempurna, sehingga performa kendaraan menjadi lebih maksimal dan tidak mudah rusak. Pertamina memiliki BBM dengan kadar oktan tinggi untuk memenuhi kebutuhan kendaraan tersebut,” ujar Rudi, Rabu (7/11/2018).

Ia mencontohkan BBM Pertamina beroktan tinggi seperti Pertalite beroktan 90, Pertamax beroktan 92, Pertamax Plus beroktan 95, dan Pertamax Turbo beroktan 98, cocok untuk kendaraan yang menggunakan mesin berkompresi tinggi.

“Kalau dari sisi irit, kalau pakai BBM Pertamina yang beroktan tinggi tersebut, justerui lebih irit dan pembakaran sempurna sehingga jarak tempuh pun menjadi lebih jauh,” ujarnya.

Berbeda jika menggunakan BBM beroktan 88, maka pembakaran menjadi tidak sempurna sehingga penggunaan bahan bakar menjadi lebih boros.

Tak hanya itu, bila kendaraan dengan rasio kompresi yang tinggi menggunakan BBM dengan oktan yang rendah, akan menyebabkan pengendapan arang pada mesin kendaraan. Hal ini dikarenakan mesin kendaraan tidak melakukan pembakaran yang sempurna, sehingga berpengaruh terhadap kinerja mesin kendaraan.

Soal di Kepri kini hanya tersedia Pertamax Turbo dan sudah tak ada lagi Pertamax dan Pertamax Plus, Rudi menjelaskan pada awalnya produk yang tersedia untuk wilayah Kepri adalah Pertamax Plus, bukan Pertamax dikarenakan alasan kemudahan pasokan. Seiring perubahan produk Pertamax Plus menjadi Produk Pertamax Turbo, maka Top Tier Product yang tersedia saat ini di Kepri adalah produk Pertamax Turbo.

Namun, menyambut keinginan masyarakat terhadap produk Pertamax yang luar biasa di wilayah Kepri, Pertamina berencana akan mengadakan produk Pertamax. “Paling lambat akhir 2018 sudah ada,” ujar Rudi.

Rudi juga menyebutkan tren pembelian BBM beroktan tinggi di Kepri, khususnya Batam, cukup bagus. Proporsi penjualannya mencapai 33 persen dari total gasoline yang disalurkan Pertamina
. Hal itu tak terlepas dari kesadaran pengguna kendaraan, pentingnya menggunakan BBM beroktan tinggi agar performa kendaraan mereka lebih baik. Apalagi perkembangan kendaraan di Kepri cukup pesat. Kendaraan seperti mobil keluaran terbaru dengan teknologi terbaru cukup banyak beredar, sehingga kebutuhan BBM beroktan tinggi terus meningkat.

Pertamina saat ini gencar melakukan sosialisasi agar masyarakat beralih ke BBM beroktan tinggi melalui program Berkah Energi Pertamina. Termasuk membuka outlet-outlet baru. Selain itu, Pertamina juga melakukan edukasi ke kampus-kampus maupun komunitas. “Sponsorship kegiatan olahraga seperti IBL, Proliga, dan lain sebagainya juga dalam rangka promosi,” ujarnya. ***

Play sound