Kamis, 30 April 2026
Beranda blog Halaman 11773

Polsek Lubukbaja Bekuk Pelaku Pembobolan

0
ilustrasi

batampos.co.id – Jajaran Polsek Lubukbaja mengamankan seorang pelaku pembobolan rumah milik Taufik, 23 di kawasan Tanjunguma, Jumat (28/9) lalu. Dalam aksinya itu, Al alias Botak, 31 berhasil membawa kabur barang berharga korban senilai Rp 4 juta. Al diamankan Unit Reskrim Polsek Lubukbaja, Sabtu (29/9) sekitar pukul 02.00 WIB.

Kanit Reskrim Polsek Lubukbaja Iptu Awal Sya’ban Harahap mengatakan, penangkapan terhadap Al bermula dari pihaknya mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa ada seseoang yang diduga pelaku pencurian. Dari informasi tersebut, selanjutnya Unit Opsnal Polsek Lubukbaja menindak lanjuti dengan melakukan penangkapan terhadap Al.

“Saat kita amankan, ia mengakui bahwa ia baru saja mencuri di salah satu rumah warga yang berada di Tanjunguma. Dari penangkapan ini, kita amankan lima hape korban dan uang Rp 3 juta,” ujarnya.

Dijelaskan Awal, pencurian ini bermula dari Al yang mengintai rumah korban. Saat mengetahui korban keluar meninggalkan rumah bersama dengan keluarganya, Al langsung menjalankan aksinya dengan masuk melalui pintu samping rumah korban. Pelaku lantas masuk ke dalam rumah dan mengambil lima unit ponsel dan uang tunai sebesar Rp 3 juta yang ada di dalam kamar.

“Korban baru mengetahui kejadian ini pada malam harinya setelah pulang sekitar pukul 21.00 WIB. Korban melihat kondisi kamarnya sudah dalam keadaan berantakan dan beberapa barang berharganya hilang,” ujar Awal, kemarin.

Karena ada barang yang hilang, kemudian dilaporkan ke Polsek Lubukbaja. Dalam laporannya itu, Taufik mengaku mengalami kerugian sebesar Rp 4 juta.

“Dari tangan tersangka ini, kami amankan lima unit handphone milik korban sama uang tunai sebesar Rp 3 juta. Handphone sama uang itu belum sempat dijual tersangka. Kemudian tersangka dan barang bukti kita bawa ke polsek,” tuturnya.

Awal menambahkan, dari pengakuan Al alias Botak kepada penyidik, ia baru kali ini melakukan pencurian. Namun, pihaknya tidak begitu saja dengan pengakuan tersangka dan masih melakukan penyelidikan. Atas perbuatannya, pria yang bekerja sebagai buruh bangunan itu dijerat dengan Pasal 363 KUH Pidana tentang pencurian dengan pidana kurungan selama tujuh tahun penjara. (gie)

Seorang Wanita Tewas Diduga Dianiaya Pasangannya

0
ilustrasi

batampos.co.id – Seorang wanita berinisial Sp tewas karena diduga menjadi korban penganiayaan oleh pasangannya sendiri berinisial Aw, 31. Wanita berusia 29 tahun itu tewas setelah dibawa ke Rumah Sakit Awal Bros, Jumat (5/10) sekitar pukul 06.00 WIB.

Saat ditemui di Mapolresta Barelang, Aw mengaku tidak mengetahui apa yang terjadi kepada wanita yang diakuinya sudah dinikahinya secara siri itu. Sebab, sebelum Sp tewas keduanya sempat menghisap sabu bersama-sama.

“Kami dua kali hisap sabu. Yang pertama saya masih sadar, kemudian yang kedua itu saya tidak sadar lagi setelah dikasih obat sama dia,” ujarnya, kemarin.

Aw mengaku tidak mengetahui obat apa yang diberikan Sp kepadanya. Sebab, usai mengkonsumsi sabu yang kedua kalinya dan ditambah setengah butir obat, Aw mengaku tidak sadarkan diri dengan apa yang terjadi saat itu.

“Tiba-tiba saya sudah di hotel, kemudian saya lihat dia (Sp, red) tidak ada. Saya tunggu dia tidak kembali dan baru saya pulang ke kos,” tuturnya.

Dikatakannya, saat itu ia pulang ke kosannya yang berada di kompleks Ruko Aladin Batamcenter, Jumat (5/10) sekitar pukul 03.00 WIB. Sesampainya ia di kosnya, Aw menemukan Sp sudah dalam keadaan tergeletak di dalam kamar.

“Setelah itu, saya pakaikan baju dia terus langsung saya bawa ke rumah sakit dengan mobil rental. Sampai di rumah sakit dia sudah meninggal,” tuturnya.

Selama menjalin hubungan dengan Sp, Aw mengaku bahwa selama ini Sp harus mendapat kekerasan dalam melakukan hubungan badan. Hal tersebut merupakan permintaan dari Sp sendiri.

“Dia pernah minta cewek saya kasih, pernah juga minta brondong saya kasi. Saya tidak pernah larang dia karena selama ini memang saya sayang sama dia,” akunya.

Sementara itu, Wakasat Reskrim Polresta Barelang AKP Andi Sutrisno membenarkan adanya laporan adanya seorang wanita tewas saat dibawa ke rumah sakit. Menurut dia, sejauh ini pihaknya belum bisa menyimpulkan kasus ini. Ia juga belum bisa menyimpulkan adanya keterlibatan Aw dalam kematian Sp.

“Rekannya yang laki-laki sudah kita amankan dan akan dilakukan pemeriksaan. Kita belum bisa simpulkan penyebab kematiannya karena belum dapat keterangan dari dokter,” ujarnya singkat. (gie)

Omudas 3D Printing Memakai Sistem FDM

0
istimewa

x.batampos.co.id – Perkembangan teknologi yang kian canggih membawa dunia memasuki era revolusi industri 4.0 yakni, menekankan pada fenomena industri yang serba otomatisasi. Tidak terkecuali di Indonesia, tantangan tersebut juga harus diikuti seiring dengan pengembangan lima sektor manufaktur yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, dan industri elektronik.

Peluang inilah yang dilihat Suminto Husin Giman, selaku CEO Omudas 3D Printing. Kehadiran Omudas sejak September tahun lalu di Pluit, Jakarta Utara, menjadi salah satu perusahaan yang mengusung teknologi pabrik digital pertama di Indonesia, dan mendukung revolusi industri 4.0.

Suminto mengatakan, Omudas 3D printing menggandeng mesin besutan Stratasys yang diimpor langsung dari Amerika, yaitu Stratasys F370, Fortus 450mc, dan kedepannya Omudas akan mendatangkan mesin Fortus 900mc.

“Mesin dari Stratasys ini menggunakan sistem produksi FDM (Fused Deposition Modelling) yang merupakan sistem paling modern di industri 3d printing,” terangnya.

Material yang dapat digunakan dalam proses produksi juga berbagai macam sesuai kebutuhan seperti menggunakan material ABS, PLA, sampai ULTEM yang merupakan material paling kuat dan tahan panas.

Ia menjelaskan, industri 3D Printing terbagi dalam beberapa kelas, dari yang paling kecil untuk produksi modeling kit ukuran kecil dengan mesin ukuran desktop, sampai ke kelas industrial seperti yang menjadi fokus dari Omudas 3D Printing untuk memproduksi bagian-bagian dari mesin otomotif sampai ke interior kabin pesawat.

“Seperti yang dilakukan oleh perusahaan Airbus yang bekerjasama dengan Stratasys untuk memproduksi bagian dari pesawat A350 XWB dengan 3D Printer Stratasys,” sebut Suminto.

Pria yang juga bergelut di industri pelayaran itu menambahkan, produksi menggunakan 3d printing memiliki banyak kelebihan. Salah satunya efisiensi. “3d printing sekali cetak langsung keseluruhan design, tidak seperti mekanisme saat ini yang harus mencetak molding satu persatu bagian dari sebuah desain produk,” paparnya.

Menurut Suminto, tantangan untuk industri 3d printing saat ini karena belum banyak orang mengenal teknologi tersebut, sehingga perlunya edukasi terhadap klien. Dalam hal itu, Omudas 3D Printing mencoba bekerja sama dengan perusahan seperti Astra Otoparts dan perusahaan produsen part otomotif lainnya.

“Model bisnis dari OMudas 3D Printing sangat sederhana. Klien cukup mengirim email ke [email protected] berupa file desain barang yang dicetak dalam bentuk file STL. Setelah memilih material yang akan dicetak, maka proses produksi dijalankan. Hasilnya dapat dikirimkan ke kantor klien,” ujar Suminto.

Pihaknya berharap, kedepannya banyak industri dengan sistem produksi konvensional yang berubah ke sistem 3d printer sesuai dengan revolusi industry 4.0.

“Salah satunya dengan mengandalakan jasa yang ditawarkan Omudas 3D Printing,” ungkapnya berpromosi. (nji)

Misteri Uang di Dalam Amplop

0

KOLONG meja, karpet, sampai tempat sampah sudah mereka periksa. Hasilnya nihil. Suami istri Ben dan Jackee Belnap tak bisa menemukan uang dalam amplop.

Jumlahnya lumayan, USD 1.060 atau sekitar Rp 16 juta. Yang sedianya digunakan membayar utang ke orang tua Ben. Pasangan yang berdomisili di Utah, Amerika Serikat, itu meminjam uang untuk membeli tiket American Football.

Jawaban misteri itu akhirnya mereka temukan di mesin penghancur kertas. ”Selama sekitar lima menit kami tertegun tak bicara,” ujar Ben seperti dilansir CNN.

Maklum, uang hasil menabung selama setahun tersebut sudah berubah bentuk. Jadi sobekan-sobekan kecil. Detik itu juga mereka tahu siapa pelakunya. Leo, putra mereka. Tapi, ya keduanya hanya bisa garuk-garuk kepala dan tertawa lepas.

Sebab, mereka tahu buyung berusia 2 tahun itu hanya ingin membantu. Dia sering melihat orang tuanya menghancurkan dokumen-dokumen di mesin tersebut.

Beruntung, Ben tetap bisa membayar utang. Sebab, Departemen Keuangan AS Divisi Mata Uang yang Rusak mau mengganti. Persoalannya, butuh satu hingga dua tahun untuk memproses. Ben dan Jackee sih bisa sabar. Tapi, bagaimana dengan si pemberi utang? (sha/c10/ttg)

Segera Pindahkan Limbah Beracun

0

PT Haikki Green diminta segera memindahkan 15 ribu ton limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang sudah 10 tahun ditimbun di perusahaan tersebut. Sebab, limbah karbit tersebut dikhawatirkan akan berdampak pada kesehatan warga yang ada di sekitar lokasi timbunan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepri Tjetjep Yudiana mengatakan, limbah B3 karbit tersebut mengandung logam berat yang berbahaya bagi kesehatan. Jika terlalu lama ditimbun, maka kandungan logam itu bisa bercampur dengan air tanah di sekitarnya. Air rembesan tersebut sangat berbahaya jika dikonsumsi makhluk hidup, termasuk manusia.

“Dampaknya akan menyerang ke pencernaan, hati, limpa, dan terjadi penumpukan atau penggumpalan di dalam organ tubuh,” kata Tjetjep, Jumat (5/10).

Namun Tjetjep menegaskan, tidak semua limbah karbit berbahaya bagi kesehatan. Tergantung ambang batasnya.

“Kalau nilai ambang batasnya rendah, pastinya tak akan membahayakan,” terangnya.

Mantan CEO PT Haikki Green Kurniawan menjelaskan, saat ia menjadi CEO pada 2008-2014, biaya penampungan limbah karbit tersebut sebesar 60 dolar AS per ton. Biaya tersebut dibayarkan oleh perusahaan atau pabrik yang dalam kegiatan produksinya menghasilkan limbah karbit dan mengirim limbah tersebuk ke PT Haikki Green.

“Tapi setelah saya keluar saya tak tahu lagi dan tak ada urusan lagi secara hukum dengan PT Haikki Green,” ujarnya melalui sambungan telepon, kemarin.

Sedangkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kepri Yerri Suparna mengatakan belasan ribu ton limbah karbit di PT Haikki Green sudah ditangani Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Karena izin pemanfaatan dikeluarkan atau menajdi kewenangan Kementerian LHK.

Sementara Kabid Pengolahan Limbah Badan Pengusahaan (BP) Batam Iyus Rusmana mengoreksi, sebenarnya PT Haikki Green telah mendapatkan izin pemanfaatan limbah karbit tersebut sejak 2016. Sebelumnya PT Haikki Green hanya memiliki izin pengumpulan limbah B3.

Menurut Iyus, setelah mendapat izin tersebut, PT Haikki Green memanfaatkan limbah B3 itu untuk campuran bahan pembuatan paving blok dan batako.

“Sehingga limbah yang tadinya sebanyak 30 ribu ton, sekarang berkurang dan tersisa jadi 15 ribu ton saja,” kata Iyus.

Terpisah, anggota Komisi I DPRD Batam, Jurado, meminta pihak kepolisian menindak kasus penimbunan limbah B3 di PT Haikki Green. Menurut Jurado, kegiatan tersebut melanggar peraturan pemerintah (PP) Ini Nomor 101 Tahun 2014 dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Setahu saya ini adalah pidana,” kata Jurado, Jumat (5/10).

Dalam undang-undang tersebut dijelaskan, penimbunan limbah B3 boleh dilakukan maksimal hanya 90 hari atau tiga bulan. Sementara di PT Haikki Green penimbunan sudah berlangsung sejak 2008 atau 10 tahun.

Selain polisi, Jurado berharap BP Batam sebagai pemilik Kawasan Pengelolaan Limbah Industri (KPLI) juga menindak tegas perusahaan jika terbukti ada pelanggaran.

“Yang paling berperan di sini adalah BP Batam sebagai pemilik lahan. Harus tegas. Jangan dibiarkan perusahaan yang seperti ini di Batam,” katanya.

Sedangkan anggota Komisi I DPRD Kepri Ruslan Kasbulatov menyayangkan sikap DLH Kota Batam dan Provinsi Kepri yang terkesan tidak tahu mengenai timbunan limbah tersebut. “Jadi kemana selama ini mereka. Masa sudah sepuluh tahun mereka tidak tahu,” katanya.

Senada dengan Jurado, ia berharap pihak kepolisian segera menindak perusahan nakal tersebut. Ia juga berharap BP Batam untuk lebih tegas terhadap perusahaan.

“Yang ini jelas sudah melanggar. Ngapain ini dipertahankan. Banyak kok perusahaan yang hendak masuk ke sana. Intinya kami minta itu harus segera dikirim ke Cilengsi. Atau bagaimana limbah itu tidak di Kepri ini,” terangnya.  (gas/ian)

Wajah Rosmah yang Lebih Dibahas

0

Rosmah Mansor akhirnya ditangkap. Tapi tetap saja, perhatian orang pada dokter siapa yang begitu gagalnya melakukan operasi plastik pada wajahnya.

Kemarin Rosmah langsung disidangkan untuk diputuskan oleh pengadilan: apakah dakwaan tersebut kuat. Juga: apakah perlu ditahan. Atau cukup seperti suaminya, mantan perdana menteri Malaysia Najib Razak itu: cukup membayar jaminan Rp 15 miliar untuk bisa ditahan luar.

Waktu ditangkap Rabu lalu Rosmah lagi memberikan keterangan pers. Dia baru saja diperiksa KPK-nya Malaysia. Ternyata langsung ditahan sore itu juga.

Di Malaysia ada hukum: seseorang bisa jadi tersangka kalau bukti-buktinya kuat. Yang berhak mengatakan bukti itu kuat atau tidak adalah pengadilan. Bukan polisi atau jaksa. Kalau pun diputuskan buktinya kuat hak pengadilan untuk memutuskan: perlu ditahan atau tidak. Bukan hak polisi atau jaksa.

Ternyata pengadilan memutuskan: bukti kuat. Rosmah harus diadili. Hanya saja tidak ditahan. Cukup memberikan uang jaminan: sekitar Rp 7,3 miliar.

Saat Rosmah ke pengadilan kemarin kembali wajahnya yang jadi sorotan. Dia kelihatan tampil lebih sederhana. Wajahnya tanpa make up yang berat. Kerudungnya yang tetap mencolok: oranye. Wajah itu begitu dikenalnya. Saking seringnya dibahas.

Memang setiap kali Rosmah jadi berita setiap itu pula muncul pertanyaan: siapa sih dokter bedah plastiknya. Kok wajah cantik Rosmah menjadi begitu hancurnya?

Rosmah selalu berkilah. Dia selalu mengaku tidak melakukan apa pun dengan wajahnya. Tapi putrinya belakangan keprucut kata: beberapa dokter kecantikan datang ke rumahnya mengerjakan wajah ibunya.

Tanpa keterangan anaknya pun para ahli bisa menyimpulkannya. Mereka bisa mengumpulan foto-foto Rosmah waktu masih muda. Banyak sekali. Lihatlah foto-foto mudanya.

‘Kasus seremnya wajah baru Rosmah’ ini tidak hanya sebatas bisik-bisik tetangga.

Wajah baru Rosmah itu juga jadi poster di ruang kuliah untuk para mahasiswa spesialis bedah plastik. Di mana-mana. Dijadikan kasus ‘wajah gagal’. Agar jangan ada lagi ahli bedah plastik yang melalukan pekerjaan seperti itu.

Seorang dokter ahli kecantikan Singapura bahkan membeberkannya secara terbuka. Di website resminya: Dr Siew Tuck Wah.

Di media sosial ‘wajah gagal’ Rosmah juga dibahas seru. Jelaslah bahwa Dr Siew memberikan koreksi total. Pipinya terlalu banyak dimasuki dermal. Pengganjal di balik kulitnya terlalu banyak.

Mungkin, semula, diinginkan agar pipinya berisi. Agar tidak kempong. Pipi yang ‘kempong peyot’ adalah ejekan yang menyakitkan bagi wanita berumur.

Bagian dahi terlalu banyak dimasuki bottox. Semula mungkin dimaksudkan agar bisa menarik alis. Agar bisa agak ke atas untuk mengurangi keriput di mata bagian atas.

Tapi, akibatnya justru terlihat mengerikan.

Hidungnya adalah kasus kegagalan estitika. Kegagalan seni. Hidung itu terlalu banyak ganjal. Mancungnya berlebihan. Tidak alami. Akibatnya seperti hidung habis kena tinju.

Dagunya juga gagal total. Terlalu panjang. Di Jawa memang ada omongan ini: dia cantik… dagunya nyathis…

Tapi dagu baru Rosma bukan kategori nyathis lagi. Di media sosial disebutkan dagu baru itu membuat Rosmah seperti nenek sihir.

Keterlaluan.

Padahal untuk itu biayanya mahal. Sampai mencelakakan suami. Kalau suaminya merasa.

Begitu dianggap gagalnya wajah baru Rosmah, sampai-sampai ada yang bilang: menenteng tas Hermes-Birkin berapa pun tidak akan bisa menutupi kegagalan wajahnya.

Juga seandainya hidung itu ditempeli berlian sekali pun.

Saya tidak sampai hati meneruskan tulisan ini. Apalagi saya sudah membaca habis buku “Billion Dollar Whale’’ itu. Yang saya beli di Houston itu. Yang menceritakan bagaimana Rosmah mendapatkan Birkin-Birkinnya. Berlian-berliannya. Yang semuanya sungguh keterlaluan.

Kini suami istri Najib-Rosmah senasib. Rodanya lagi di bawah. Mereka sudah terlalu tua untuk memutarnya ke atas. Juga terlalu sulit. Bagian bawah roda itu terlalu dalam. Tenggelam di lumpurnya. (dahlan iskan)

Kantor Camat Sagulung Cetak 150 e- KTP per Hari

0
foto: batampos.co.id / dalil harahap

batampos.co.id – Petugas kecamatan Sagulung gesa pencetakan e-KTP warga. Ini bertujuan untuk mendukung pesta demokrasi di tahun 2019 mendatang.

Camat Sagulung Reza Khadafi mengatakan, sisa berkas e KTP yang belum dicetak di kecamatan Sagulung tidak sampai seribu, sehingga pihaknya bertekad akan merampungkan semuanya dalam waktu dekat ini.

“Sehari kami layani hingga 150 berkas jadi untuk berkas yang sudah masuk secepatnya diselesaikan. Tim digesah untuk segera bereskan masalah e KTP ini,” ujar Reza, Kamis (4/10).

Pernyataan Reza ini juga menepis keluhan masyarakat akan lambatnya proses pengurusan e KTP di kecamatan. “Bukan lambat, tapi memang agak antre. Alat terbatas jadi ada batasan (cetakan) perharinya,” ujarnya.

Kepada masyarakat Sagulung yang belum mengurus e KTP, Reza berharap agar segera datang ke kantor camat dengan membawa berkas persyaratan yang susah ditentukan. “Harus segera dibereskan agar bisa ikut pemilu nanti,” imbaunya. (eja)

Dua Gorong-Gorong Rampung, Risiko Banjir Berkurang di Sagulung

0
foto: batampos.co.id / dalil harahap

batampos.co.id – Wilayah kecamatan Sagulung mendapat perhatian yang serius dalam hal penanganan masalah banjir. Pemko Batam melalui Dinas Bina Marga telah merampungkan sejumlah proyek besar diantaranya normalisasi drainase dan pembangunan gorong-gorong.

Proyek terakhir yang baru saja rampung adalah proyek pelintas air atau gorong-gorong depan sekolah MAN I. Meskipun sempat terhambat pembangunannya, pelintas air tersebut kini sudah bisa mengurangi risiko banjir bagi pemukiman sekitarnya.

“Kami apresiasi itu. Perhatian pemerintah sudah cukup maksimal,” ujar Reza, Kamis (4/10).

Sebelumnya proyek serupa juga telah mengatasi persoalan banjir di wilayah Batuaji dan Sagulung yakni pembangunan gorong-gorong di simpang Kaveling Baru. Gorong-gorong tersebut dibangun dibawa jembatan sehingga cukup lebar dan dalam. Air dari wilayah Batuaji khususnya dari kelurahan Buliang tak lagi tersumbat di lokasi penyebrangan air itu.

“Untuk gorong sudah dua ini. Kalau drainase sudah banyak juga. Seperti normalisasi sungai seilekop, drainase induk seipelenggut, tembesi dan di Seibinti” sebut Reza.

Namun demikian Reza tetap berharap agar titik-titik lokasi rawan banjir lain juga segera diatasi dengan proyek-proyek serupa seperti pembangunan gorong-gorong di Seilangkai dan juga normalisasi drainasenya. “Belum semua. Masih ada beberapa yang belum seperti Seilangkai. Ini akan kami koordinasikan lagi dengan Dinas Bina Marga,” ujar Reza.

Penanganan masalah banjir di Sagulung diakui Reza sangat diperlukan. Itu karena wilayah kerjanya itu merupakan masuk jalur pembuangan air dari separuh wilayah kecamatan Batuaji. Jika saja drainase tak beres maka bukan saja warganya yang terkena imbas tapi juga warga Batuaji.

“Contohnya di kawasan SP itu. Kalau tersumbat disitu tentu MKGR (Batuaji) kesana juga kena imbasnya,” ujarnya.

Dengan adanya perhatian pemerintah itu, Reza menghimbau agar segenap masyarakat di Batuaji dan Sagulung sama-sama menjaga saluran drainase yang ada dengan tidak membuang sampah kedalamnya.

“Tradisi buang sampah ke drainase itu harus dihilangkan. Sekarang sudah lancar armada pengangkut sampah. Percuma kalau dibuat drainase lebar-lebar tapi sampah dibuang ke dalam drainase,” imbau Reza. (eja)

DPRD Batam Kecewa pada Dinas Koperasi dan UKM

0

batampos.co.id – DPRD Kota Batam meminta Pemko Batam membuat rancangan atau usulan anggaran yang signifikan untuk Koperasi, Usaha Kecil dan Mikro yang ada di Batam. Jangan seperti tahun ini dimana kegiatan Dinas Koperasi dan UKM hanya dua kegiatan dalam setahun. Penambahan anggaran ini penting penting untuk mendorong semakin banyaknya wiraswasta dan industri mikro yang ada di Batam.

“Janganlah seperti tahun ini. Hanya sekitar Rp 1 miliar untuk anggaran dinas Koperasi dan UKM. Itu sama saja, dinas tersebut makan gaji buta karena tidak ada kegatan,” kata anggota komisi I DPRD Kota Batam, Tumbur Sihaloho, Kamis (4/10).

Tumbur mengatakan, koperasi dan usaha mikro harusnya didorong agar terus berkembang. Di mana saat banyak industri rumahan dan koperasi yang masih butuh pendampingan dan suntikan dana.

“Kalau industri mikro ini tumbuh, perekonomian kita juga tumbuh. Tahun ini hanya sekitar Rp 1 miliar. Bisa apa kalau anggaran hanya segitu,’ tambahnya.

Menurut, Tumbur, di tahun ini kegiatan dari dinas koperasi dan UKM sangat minim. Hanya satu atau dua kegiatan yang dilakukan langsung bersentuhan dengan pelaku usaha kecil dan mikro.

“Kalau saya tak salah hanya sertifikasi saja. Jadi sangat minim kegiatannya. Kita berharap anggaran di tahun 2019 mendatang harus lebih signifikan,” katanya.

Sementara itu, kepala dinas koperasi dan UKM Kota Batam Suleman Nababan mengatakan, tahun ini pihaknya tidak bisa berbuat banyak karena memang anggaran yang terbatas. Ia mencatat hanya dua kegiatan yang dilakukan dalam setahun ini

“Mau bagaimana lagi. Anggaran kita hanya Rp 1 miliar. Jadi hanya sertifikasi halal saja yang kita lakukan dan ikut pameran di Tanjungpinang,” katanya.

Menurutnya, pendampingan dan pelatihan kepada pelaku usaha mikro tidak bisa dilakukan. Ia berharap tahun depan bisa merealisasikannya agar pelaku koperasi dan UKM di Batam bisa terbantu.

“Masih banyak pengusaha mikro yang belum mengetahui mengenai akses pembiayaan ke bank. Di sini masih banyak yang perlu didampingi,” katanya. (ian)

Akhir Oktober, Lampu WTB Nyala

0
Foto. Yusuf Hidayat/Batam Pos

batampos.co.id – Pemasangan kembali perangkat listrik untuk penerangan Welcome To Batam sudah mulai dilakukan. Targetnya lampu ikon Kota Batam tersebut bakal kembali menyala akhir Oktober ini.

“Sudah mulai kami kerjakan. Satu dua hari ini, kita mulai dengan memasang tiang agar lampunya agak tinggi,” ungkap Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (CKTR) Kota Batam, Suhar, kemarin.

Penempatan tiang lebih tinggi karean ampu selama ini rendah. Dengan harapan tidak bisa dijangkau jika ada kemungkinan percobaan pencurian. Suhar mengatakan, pengerjaan perangkat listrik tersebut memerlukan waktu paling lama tiga minggu.

“Maka Oktober ini sudah selesai itu,” ucap dia.

Tentang penempatan Satpol PP di Bukit Clara (lokasi WTB berdiri), ia mengatakan telah mendapat arahan dari Wali Kota Batam Muhammad Rudi untuk dilakukan.

“Tinggal kami yang dibawah. Soal ini kami (CKTR) akan berkoordinasi dengan Satpol PP Batam,” imbuhnya.

Sementara itu, tidak adanya penerangan di WTB disayangkan masyarakat. Padahal ikon tersebut berada di daerah yang notabenennya berada di dekat pemerintahan dan terlihat langsung ketika ada kedatangan internasional di pelabuhan Internasional Batamcenter.

“Sampai hilang begitu, heran juga selama ini tak ada pengamanan,” ucap seorang warga, Jaidun.

Sementara itu Sekretaris Daerah Kota Batam Jefridin mengatakan tidak adanya pengamanan sebelumnya di lokasi tersebut, dengan asumsi masyarakat juga turut serta ikut menjaga. Namun nyatanya, kata dia, tidak hanya lampu, panel PLN pun turut digondol maling.

“Kami berharaplah supaya masyarakat ikut juga menjaga. Dengan kejadian ini (kehilangan), mau tidak mau kita harus tempatkan pengamanan di sana,” kata dia.

(iza)