Senin, 6 April 2026
Beranda blog Halaman 12644

Trail Adventure di Sambas, Jelajahi Surga di Ekor Borneo

0
ilustrasi. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggoda wisman asal Malaysia melalui pintu Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar) lewat One Day-AMTC Trail Adventure, Jelajah Batas Negeri, Surga di Ekor Borneo, 2-3 Desember 2017.

Para crosser di event ini diajak menjelajahi tempat-tempat wisata yang alamnya masih sangat terjaga. Selama sekitar 6 jam perjalanan, 100 peserta, 15 peserta diantaranya dari Malaysia ini melewati Pantai Camar Wulan, Pantai Bahari Teluk Atung, Pantai Maludin dan Pantai Temajuk serta desa-desa sekitar.

Ketua panitia, Erwanto mengatakan, event adventure yang didukung Kemenpar ini sengaja dibuat untuk memperkenalkan destinasi wisata yang ada di desa Temaji dan sekitarnya. Event yang akan menjadi kegiatan tahunan ini akan terus ditingkatkan kualitasnya agar makin diminati warga negara tetangga.

“Kami sengaja membuat event adventure. Peserta harus melewati rintangan tapi tetap menikmati pemandangan alam yang indah. Di Pantai Bahari Teluk Atung, ini salah satu pesisir pantai terpanjang di Indonesia pasirnya sangat lembut. Sedangkan di Pantai Temajuk ada rintangan bebatuan. Pantai ini mirip Tanjung Tinggi di Belitung banyak batu besar-besar juga,” tutur Erwanto, Sabtu (2/12).

Sementara, penasehat lomba, Subhan Nur mengapresiasi dukungan yang diberikan Kemenpar. Menurutnya, Sambas yang merupakan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) perlu sinergi semua pihak untuk pembangunan dan promosinya.

Di menyebut, program crossborder yang digaungkan Kemenpar merupakan promosi yang tepat. Namun dirinya berharap dukungan dari pihak lainnya merespon serius hal ini, khususnya terkait infrastruktur.

“Sambas tidak bisa dikembangkan hanya mengandalkan APBD, harus ada sentuhan langsung dari pemerintah pusat. Jalan paralel sudah dalam proses pembangunan, tinggal infrastruktur penunjang yang harus dipersiapkan untuk mengangkat pariwisata di Sambas,” ujar pria yang juga anggota DPRD Provinsi Kalbar ini.

Dia mencontohkan, Sambas, khususnya Temajo yang berbatasan langsung dengan Malaysia, sangat potensial menarik wisman Malaysia. Yang dibutuhkan selain kemudahan akses, juga jaringan internet dan perbankan.

“Internet sangat diperlukan untuk mempromosikan wisata di sini. Internet juga bisa membuat masyarakat lebih kreatif. Sedangkan ATM, ini agar pengunjung bisa menghabiskan uangnya di sini. Karena wisatawan itu tidak mungkin mau bawa uang cash banyak. Tapi dengan adanya ATM, mereka bisa lebih tenang,” jelas Subhan.

Di hari dan lokasi yang sama juga digelar event lomba mancing mania, lomba fotografi, dan panggung hiburan yang diisi pentas kesenian budaya dan live music. Tentu itu menjadi magnet untuk promosi wisata setempat. Dan melihat peluang yang ada, Kemenpar berniat untuk memaksimalkannya.

“Selain wisata budaya dan alam, salah satu potensi wisata yang bisa mendulang banyak wisatawan ya konsep sport tourism. Konsep ini memadukan antara aktivitas olahraga dengan aktivitas turisme. Saya senang event sport tourism semacam ini diselenggarakan, karena bisa meningkatkan sektor pariwisata. Ajang ini kita support,” ujar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti didampingi Kepala Bidang Wisata Perjalanan Insentif Hendri Karnoza.

Hendri menambahkan, Kemenpar akan memaksimalkan aspek promosi sebagai bagian dari kampanye “Wonderful Indonesia”. “Sport tourism itu yang besar bukan efek secara langsungnya, justru efek yang tidak langsung lah yang memiliki value atau nilai besar, seperti media value, bantuan rekan-rekan wartawan semua mempromosikan event ini,” kata Hendri.

Menpar Arief Yahya mengapresiasi penyelenggaraan event sport tourism ini. Menurutnya, event Motorcross Lintas Batas yang merupakan sport tourism ini mempunyai nilai pemberitaan (news value) yang tinggi sehingga menjadi sarana promosi efektif serta memberikan dampak langsung (direct impact) pada ekonomi masyarakat termasuk pula mendorong percepatan pembangunan infrastruktur di Sambas.

“Sambil mengembangkan pulau terluar (baca: terdepan, red), dan daerah perbatasan yang harus maju secara ekonomi. Dan pariwisata bisa dijadikan sarana untuk memajukan ekonomi mereka,” ujar Menpar Arief Yahya.(*)

Festival Durian Sinapeul 2017, Mari ke Majalengka

0

Festival Durian Sinapeul 2017 digagas oleh Pemerintah Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Bukan hanya Durian, pesona Majalengka juga akan tersaji di acara yang dijamin seru ini.

Festival yang juga didukung Kementerian Pariwisata (Kemrnpar) ini akan berlangsung pada 9 hingga 10 Desember 2017, tepatnya di Pasar Ikan Regional Desa Lengkongkulon, Kecamatan Sindangwangi, Majalengka.

Acaranya dijamin paten. Apalagi selain durian lokal Sinapeul yang dihadirkan, para wisatawan juga akan disuguhkan dengan acara-acara menarik. Seperti Pameran, Pertunjukan, Games dan Bazaar.

“Ada juga Helaran, atau yang dalam bahasa Sunda artinya adalah arak-arakan, parade, atau pawai. Pada helaran ini nantinya akan ada suguhan penampilan seni dan berbagai kreasi lainnya,” ujar Deputi Bidang Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astuti.

Esthy mengatakan, pihaknya mendukung penyelenggaraan “Festival Durian Sinapeul 2017” sebagai bagian dari upaya promosi pariwisata. Khususnya mengangkat Kawasan Wisata Sindangwangi atau yang biasa dikenal dengan nama “Kawitwangi”.

Banyak potensi yang bisa digarap di Sindangwangi ini, termasuk sektor argowisata. “Diharapkan Festival ini akan menjadi promosi pariwisata berbasis kreatifitas masyarakat di Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat,” ujar Esthy didampingi Kepala Bidang Promosi Wisata Budaya Kemenpar, Wawan Gunawan.

Lebih lanjut Wawan Gunawan mengatakan, Sindangwangi merupakan Kecamatan dengan potensi Pariwisata berlimpah yang berada di belahan Timur wilayah Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat.

“Festival ini berisi rangkaian pameran produk olahan durian, crafts, game, Durian lokal, pertunjukan budaya, dan Promosi Wisata Sindangwangi,” ujar Wawan.

Kecamatan Sindangwangi sendiri dikatakannya memang memiliki potensi yang besar untuk agro wisata, khususnya durian. Sebab di Sindangwangi terdapat hamparan kebun durian yang luasnya mencapai 16 hektar, dan terkonsentrasi di satu Desa Ujungberung.

Selain itu juga tersebar dibeberapa kebun milik masyarakat di desa-desa yang berada di wilayah Kecamatan Sindangwangi dan menghasilkan produk durian lokal unggulan yang cukup dikenal yaitu Durian Sinapeul.

“Tujuan diadakannya Festival Durian Sinapeul selain mengembangkan potensi wisata Sindangwangi, tapi tujuan utama tentu saja lebih memperkenalkan Durian Sinapeul ke masyarakat Indonesia dan internasional,” ujarnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut baik rencana penyelenggaraan Festival Durian Sinapeul 2017. Festival ini dikatakannya akan memperkaya Kabupaten Majalengka, dan Jawa Barat pada umumnya sebagai destinasi yang komplit.

Seperti diketahui, Jawa Barat selama ini dikenal dengan ragam potensinya di sektor budaya. Jawa Barat juga menarik dengan keindahan alamnya.

“Dan kini Jawa Barat juga dikenal dengan agro wisata, khususnya durian,” ujar Menpar Arief Yahya.

Lebih lanjut ia mengatakan, dengan acara ini diharapkan popularitas durian Sinampeul bakal makin dikenal. Ia mengatakan, kuliner bisa menjadi salah satu bentuk diplomasi budaya dan juga pariwisata ke dunia luar.

Ia mencontohkan bagaimana durian montong asal Thailand yang begitu dikenal. Banyak wisatawan pun yang kemudian memburunya.

“Setiap daerah harus dapat mengangkat potensi lokal yang dimiliki. Melalui festival ini, Kabupaten Majalengka telah memperkenalkan lagi salah satu potensinya,” ujar Menpar Arief Yahya.(*)

Satu Rumah Warga Hangus Terbakar

0
Ilustrasi. Foto: dok JPNN

batampos.co.id – Rumah milik Rosadi yang terletak di Gang Kembangan, RT 001/ RW 004 Parit Benut, Jalan Letjen Soeprapto, Kelurahan Sei Raya, Kecamatan Meral hangus terbakar, Sabtu (2/12) pukul 20.00 WIB. Saat peristiwa ini terjadi, pemilik rumah bersama istri sedang tidak berada di rumah. Namun, saat kejadian ada satu orang anaknya yang berkebutuhan khusus tinggal di rumah tersebut.

”Berdasarkan keterangan warga sekitar yang melihat peristiwa kebakaran ini bahwa api diperkirakan berasal dari belakang rumah dan semakin membesar. Kemudian, terus menjalar keseluruh bangunan. Agus Hendriansyah, anak pemilik rumah saat itu memang sedang ada di dalam rumah, hanya saja karena berkebutuhan khusus, tidak bisa berteriak,” ujar Kapolsek Meral, AKP Syaiful Badawi.

Meski demikian, katanya, warga melihat Agus Hendriansyah telah ke luar dari rumah. Sementara itu, masyarakat lain yang tinggal disekitar rumah tersebut bersama-sama berusaha memadamkan api. Tidak lama kemudian, dua unit mobil pemadam kebakaran datang dan berhqasil memadamkan api. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun, polisi bersama masyarakat sempat mencari keberadaan Agus Herdiansyah.

”Pada saat itu, masyarakat bersama polisi dan orang tua sempat mencari-cari dimana keberadaan Agus Hendriansyah. Dan, tidak lama kemudian, anak pemilik rumah berhasil ditemukan di Simpang Mutiara. Lokasi tempat ditemukannya cukup jauh dari rumah. Penyebab kebakaran masih belum dpat dipastikan, diduga akibat korsleting arus litrik. Kerugian materil mencapai ratusan juta rupiah,” papar Badawi. (san)

Padang Indian Ocean Music Festival, Menikmati Sajian Musik Sunset di Jembatan Siti Nurbaya

0

Padang Indian Ocean Music Festival (PIOMFest) 2017 yang akan berlangsung pada 8 hingga 10 Desember 2017. Acaranya dijamin oke. Penampilnya musisi klasik dari sejumlah negara Asia. India, Singapura, Jepang dan Indonesia.

“Ada empat negara yang akan hadir di festival ini. Semuanya akan menghadirkan musisi musik klasik terbaiknya,” ujar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Esthy Reko Astuti, yang didampingi Kabid Promosi Wisata Alam Hendry Noviardi.

India misalnya. Mereka akan menampilkan dua musisi klasiknya, Nikhil Patwardhan dan Partha Mukherjee. Sedangkan Jepang menampilkan Seiki Onizuka.

“Selain Jepang dan India, Singapura malah memboyong cukup banyak pemusik. Mulai dari Ms Tan Su-Hui, Sophy, Ms Tan Su-Min, Clara, dan Mr Ng Chee Yao. Semuanya adalah musisi musik etnik yang sangat famous di negaranya,” ujar Esthy.

Sementara tuan rumah Indonesia menampilkan sejumlah grup musik. Seperti Arastra asal Bengkulu, Talago Buni (Sumbar), Riau Rhytm Chambers (Pekanbaru), Taufik Adam (Jakarta), dan De Tradisi (Medan).

“Selain itu, Gazal Himpunan Keluarga Muhadan (Padang). Balega (Padangpanjang), Sanggar Seni Dayung Dayung (INS Kayu Tanam), serta Komunitas Seni Nan Tumpah (Padang),” paparnya.

IORA atau Indian Ocean Rim Association sendiri adalah organisasi negara-negara yang berada di sepanjang Samudera Hindia. Kota Padang adalah satu titik dari 21 negara yang bersentuhan dengan Samudra Hindia. Ditambah lagi dengan enam negara mitra. Seperti Jepang, Cina, Prancis, dan lain-lain.

Bagi Esthy, kehadiran empat negara di tahun pertama Festival ini sudah sangat menggembirakan.

“Baru pertama kali digelar, empat negara berpartisipasi. Ini luar biasa. Kota Padang tegaskan diri sebagai jaringan IORA,” lanjut Esthy

Esthy pun optimistis, ia yakin acara ini bakal menjadi atraksi yang kuat. Wisatawan akan tergoda untuk datang.

Esthy memang tidak asal bicara. Ibarat Nasi Padang dengan lauknya yang lengkap, inilah suguhan yang juga lengkap. Semuanya komplit. Musik, pemandangan indah, kuliner lezat, ditambah temaram lampu, akan membuat suasana begitu hangat.

Seluruh pemusik akan tampil di panggung terbuka POIMFest 2017 dan menghibur penikmat musik. “PIOMFest ini akan menjadi agenda tahunan di Kota Padang,” lanjut Esthy.

Sementara Hendry Noviardi menambahkan, pertunjukan musik etnik ini dimainkan selama tiga hari. Mulai Jumat (8/12) pukul 20.00 WIB hingga 22.30 WIB. Sedangkan pada Sabtu dan Minggu (9-10/12), digelar mulai pukul 15.30 WIB hingga 22.30 WIB.

“Pertunjukkan ini dapat dinikmati pengujung tanpa dipungut biaya,” sebut Henry.

Bicara soal Jembatan Siti Nurbaya, inilah salah satu ikon wisata yang ada di Kota Padang, Sumatera Barat. Jembatan besar ini berada di atas Sungai/Muara Batang Arau. Jembatan ini juga menghubungkan kota tua Padang dengan Taman Siti Nurbaya, tempat yang konon katanya menjadi lokasi Siti Nurbaya dimakamkan.

Mengunjungi lokasi ini memang lebih baik saat matahari terbenam. Melihat detik demi detik matahari kembali ke peraduannya akan menjadi momen yang sangat menyenangkan.

Usai matahari terbenam, para penjual makanan kuliner khas Padang giliran yang akan menggoda. Satai Padang, Jagung Bakar, Teh Talua, adalah deretan makanan yang siap menggoyang lidah.

Jika ingin menikmati suasana sekitar jembatan juga bisa. Anda akan disuguhkan deretan bangunan tua di sekitar jembatan.

Ke arah pusat kota tak jauh dari Jembatan Siti Nurbaya, anda bisa menjangkau deretan pusat oleh-oleh. Salah satu yang paling terkenal adalah keripik balado Christine Hakim.

Menteri Pariwisata Arief Yahya tak kalah antusiasnya dengan acara ini. Ia mengapresiasi kehadiran festival yang dikombinasikan dengan deretan potensi pariwisata lokal.

“Ini menjadi tambahan atraksi baru di kota Padang , membangun platform industri musik di Samudera Hindia. Bila dikemas dengan standar global, akan menjadi daya tarik wisata global juga,” kata Menpar Arief Yahya

Ia selalu melihat sebuah kegiatan itu dari dua sisi. Cultural value dan commercial value. Bahasa mudahnya, semua potensi, kegiatan, dan atraksi harus memberi dampak ekonomis yang konkret bagi masyarakat.

Untuk itu, bagi Menpar Arief, hukumnya wajib untuk memberikan dukungan untuk kegiatan musik ini.

“Musisi-musisi yang tampil sangat keren dan level dunia. Sama menariknya dengan pariwisata Indonesia. Penikmat musik etnik, jangan sampai ketinggalan acara yang satu ini. Ayunkan langkah segera ke Padang,” ajaknya.(*)

863 Santri Diwisuda

0
Bupati dan wakil Bupati saat melakukan proses wisuda santri. F. Tri Haryono/Batam Pos.

batampos.co.id – Sebanyak 863 santri dan santriwati di lima kecamatan Pulau Karimun diwisuda oleh Bupati Karimun Aunur Rafiq didampingi Wakil Bupati Anwar Hasyim di halaman rumah dinas Bupati Karimun, Minggu (3/12).

Dari total 1.006 santri santriwati yang telah lulus belajar Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) se-Kabupaten Karimun di tahun 2017 ini. “Selamat kepada anak-anak ku santri dan santriwati. Teruslah belajar mengaji, walaupun sudah diwisuda,” pesan Aunur Rafiq.

Dikatakan, walaupun wisuda santri dan santriwati secara swadaya dari orangtua. Tidak menjadi alasan, untuk terus memberikan dukungan kepada anak-anak agar dapat meningkatkan pemahaman terhadap isi kandungan Al Quran. Sehingga, saat melanjutkan sekolah hingga jenjang perkuliahan nanti bisa menjadi benteng keimaman anak tersebut.

“Maklum zaman sekarang, kalau tidak dibekali agama anak-anak kita akan salah langkah. Zaman terus berubah, seiiring dengan perkembangan dunia yang tanpa batas, apapun bisa terjadi kepada anak-anak kita,” tuturnya.

Selain itu kata Rafiq juga, telah berjanji secara bertahap ditahun berikutnya akan memperhatikan kesejahteraan guru-guru TPQ yang diwadahi oleh Badan Musyawarah Pengurus dan Guru (BMPG). Sebab, saat ini belum bisa menaikan insentif para guru-guru TPQ tersebut dikarenakan defisit anggaran.

“Saya bersama Pak Wakil Bupati telah berkomitmen untuk memperhatikan guru-guru TPQ. Tapi harap bersabar dahulu,” ungkapnya.

Sementara Ketua TPQ Kabupaten Karimun Zaini mengungkapkan, dari 1.006 santri santriwati se Kabupaten Karimun, hanya 863 orang yang diwisuda dengan rincian kecamatan Karimun 258, Meral 236, Meral Barat 162, Tebing 104, dan Buru 103.
“Wisuda ini atas peran serta orangtua. Sehingga terlaksanakan, wisuda secara masal dari berbagai TPQ yang ada di lima kecamatan,” singkatnya.

Pantauan di lapangan, walaupun sebelum dilaksanakan wisuda cuaca turun hujan namun tidak surut semangat para santri santriwati menunggu untuk diwisuda oleh Bupati Karimun. ” Banggalah, anak saya diwisuda oleh Bupati Karimun,” kata Eddy sambil berfoto bersama dengan Bupati dan anaknya.(tri)

Long Weekend, Desa Wisata Pentingsari Kebanjiran Tamu

0

Liburan long weekend Maulid Nabi yang jatuh di awal bulan menjadi berkah bagi pariwisata. Tempat-tempat wisata di seluruh tanah air pun ramai dikunjungi wisatawan.

“Tiga hari berturut-turut, Jumat, Sabtu, Minggu libut itu sesuatu banget, buat industri pariwisata,” ungkap Arief Yahya.

Dia berharap cuaca ekstrem tidak terlalu mengganggu aktivitas travelling.

“Silakan berwisata budaya, alam, atau buatan. Enjoy your holiday!” sebut Arief Yahya. Tak terkecuali tempat wisata seperti yang berada di Sleman, Yogyakarta.

Salah satunya Desa Wisata Pentingsari. Desa Wisata pemenang Indonesia Sustainable Tourism Award 2017 kategori Green Bronze ini kebanjiran seribuan tamu dari 30 November. Baik yang datang berkegiatan (field trip) maupun yang menginap (live in).

Ada beberapa rombongan besar tamu menginap. Tanggal 30 November-1 November rombongan dari Desa Wisata Panglipuran melakukan studi banding pengelolaan desa wisata. Bersamaan dengan rombongan Panglipuran ini ada pula 200 orang mahasiswa Universitas Santa Darma Yogya yang melakukan live in.

Kemudian ada juga family gathering keluarga GKBI sebanyak 50 orang. Lalu satu rombongan dari SMA Al Azhar 3 Jakarta yang berkegiatan di Jogja sejak 29 November hingga 2 November. Sebanyak 199 siswa beserta guru pendamping dan pengurus komite sekolah ini pun menginap di Pentingsari.

Rombongan lainnya, Trah S. Wirjomihardjo dari Surabaya, Jawa Timur. Rombongan Trah S. Wirjomihardjo ini ada 80-an orang.

Sabtu (2/12) pagi ada dua group field trip masing-masing 120 orang dan 60 orang. Kemudian sore harinya ada 120 orang lagi dari Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY).

Selama di Pentingsari, siswa Al Azhar melakukan berbagai kegiatan. Selain melakukan wawancara dengan warga sekitar dan menyusun laporan kegiatannya, mereka juga mengikuti kegiatan harian tuan rumah homestay tempat mereka tinggal.

“Kelompok kami lakukan survei mengenai kripik jamur sebagai tugas sekolah. Kelompok yang lain temanya lain. Senang bisa merasakan keramahan warga di sini,” tutur M Aksan, salah seorang siswa Al Azhar.

Sedangkan Trah S Wirjomihardjo memiliki agenda utama mengadakan pemilihan ketua. Pemilihan berlangsung di Pendopo Tengah dilakukan setelah mereka kembul bujono (makan bersama). Rombongan keluarga ini juga “pesta” bakar jagung usai pemilihan ketua berlangsung.

Dengan rombongan tamu kelompok besar yang menginap ini, suasana malam di Pentingsari pun terlihat semarak. Jalan-jalan kampung ramai dengan lalu-lalang sekelompok siswa yang mengerjakan tugas kelompoknya.

Pengelola Desa Wisata Pentingsari Doto Yogantoro terlihat sibuk berkordinasi dengan sejumlah pengurus. Mereka berbagi tugas sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Serombongan ibu terlihat menyiapkan konsumsi bagi tamu, beberapa pemuda memandu tamu menuju homestay, yang lain pun menyiapkan peralatan sound system yang dibutuhkan tamu dan sebagainya.

“Semua terlibat. Tidak hanya yang terlihat di Pendopo ini. Yang di rumah pun menyiapkan kamar homestay untuk tamu. Kemudian memberikan layanan pada tamunya, termasuk menyiapkan sarapan pagi. Kami batasi maksimal seribu tamu dalam sehari dengan kegiatan berbeda. Kenyamanan tamu yang kami utamakan,” urai Doto.

Keterlibatan masyarakat itulah yang membuat Pentingsari menjadi rujukan pengelolaan wisata berbasis masyarakat. Bahkan oleh organisasi pariwisata dunia PBB atau UNWTO, Desa Wisata Pentingsari ditunjuk sebagai salah satu pilot project program Community Based Tourism dan Sustainable Tourism Development (Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan).

Di tengah kesibukan menerima tamu, pengelola Desa Wisata Pentingsari terus meningkatkan pelayanan dan kenyamanan. Peningkatan kapasitas homestay salah satunya.

“Pemilik homestay kami minta berbenah. Dan 6 Desember ini penghargaan lomba homestay internal ini kami umumkan,” tandas Doto. (*)

Cuti Bersama, Pelayanan Masyarakat Harus Tetap Buka

0

batampos.co.id – Pemerintah Republik Indonesia telah menerbitkan Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 707 tahun 2017. nomor 256 tahun 2017, nomor 01/skb/Menpan-RB/09/2017 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama tahun 2018.

Dalam keputusan bersama tiga menteri, disepakati hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2018 sebanyak 21 hari. Di mana, 16 hari libur nasional dan 5 hari cuti bersama Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.

Adapun, rincian Hari Libur Nasional tahun 2018 yakni 1 Januari atau Tahun Baru 2018 Masehi), 16 Februari atau Tahun Baru Imlek 2569, 17 Maret atau perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940), 30 Maret atau peringatan Wafat Isa Al Masih, 14 April atau peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, 1 Mei peringatan Hari Buruh Internasional, 10 Mei Kenaikan Isa Al Masih, 29 Mei Hari Raya Waisak 2562, 1 Juni peringatan Hari Lahir Pancasila, 15-16 Juni perayaan Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriyah.

Menanggapi hal ini, Bupati Bintan Apri Sujadi mengatakan, pihaknya akan segera menyosialisasikan ke organisasi perangkat daerah di pemerintahan kabupaten Bintan. Selain hal itu, menurutnya, yang penting adalah jadwal hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2018 tidak menganggu berbagai pelayanan di masyarakat.

“Meskipun Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama, namun tugas dan fungsi aparatur khususnya yang menyangkut pelayanan hajat orang banyak harus tetap berjalan dan tetap buka, misalnya pelayanan kesehatan di puskesmas dan rumah sakit umum daerah kabupaten Bintan harus buka,” tegasnya. (cr21)

Purwakarta Diserbu 4 Juta Travelista

0

Berbagai langkah cerdas yang diambil Pemkab Purwakarta membuat industri pariwisata makin berkibar.

Setidaknya, hal itu terlihat dari jumlah wisatawan yang berkunjung ke Purwakarta.
Pemkab mengklaim empat juta wisatawan menyerbu Purwakarta pada 2017. Jumlah itu lebih banyak dari target yang dipatok, yakni tiga juta travelista.

Melonjaknya kunjungan wisatawan tak lepas dari gerak cepat Pemkab Purwakarta membangun dan memoles destinasi wisata.
Kabid Pariwisata, Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Budaya (‎Disporaprbud) Kabupaten Purwakarta Heri Anwar mengatakan, destinasi wisata di daerahnya berjumlah 45.

Destinasi-destinasi itu tersebar di hampir seluruh kecamatan. Menurut Heri, jumlah destinasi wisata di Purwakarta bertambah 13 selama dua tahun.
“‎Pada 2015 lalu, destinasi wisata yang ada hanya 32 lokasi. Setiap tahun ada penambahan. Sampai saat ini sudah ada 45 lokasi wisata. Kebanyakan wisata alam. Selebihnya kuliner serta wisata religi,” kata Heri.

Salah satu destinasi yang menjadi tujuan wajib wisatawan saat berlibur ke Purwakarta adalah Taman Sri Baduga. Air menari yang soft launchingnya diluncurkan Menpar Arief Yahya itu diharapkan terus melakukan improvisasi dan makin baik.

Belajar dari pertunjukan dengan menggunakan media air di danau West Lake atau XiHu di Hangzhou, sekitar 1 jam dari Shanghai, China. “Mereka bisa menciptakan tarian dan performance di atas air dengan sangat istimewa, itu bisa dijadikan inspirasi,” papar Arief Yahya Menpar RI.

Menurut Heri, sekitar 30 ribu wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, mengunjungi Taman Sri Baduga setiap pekan.
“‎Itu yang datang ke Taman Sri Baduga saja. Belum yang ke lokasi wisata lainnya,” tambah Heri.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi pun tak menampik andil Taman Sri Baduga dalam mendatangkan wisatawan.
“Air mancur menari ini memang sudah menjadi ikon Purwakarta. Masyarakat awam sampai Presiden Jokowi juga sudah melihat air mancur ini,” ujar Dedi.

Di sisi lain, Pemkab Purwakarta juga akan menyulap 16 desa menjadi desa wisata. Di antaranya, Desa Pesanggrahan dan Sukamulya di Kecamatan Tegalwaru. Ada juga Desa Sindang Panon, Cihanjawar, dan Cipeundeuy di Kecamatan Bojong.

“Potensi pariwisata di setiap desa itu berbeda. Ada basis kuliner, wisata alam, panjat tebing, dan wisata air. Makanya, kami inventarisasi,” kata Dedi.

Pemkab Purwakarta juga terus memperbaiki akses dan amenitas di destinasi wisata.
Sesuai rumus Menteri Pariwisata Arief Yahya, akses dan amenitas merupakan unsur 3A untuk memajukan pariwisata tanah air. Satu unsur lainnya adalah atraksi.

“Lokasi wisata Gunung Parang, misalnya. Selain hotel gantung, kami tambahkan toilet khusus wisatawan. Jadi, tidak toilet umum lagi. Fasilitas lain berupa akses jalan dan rumah makan pun segera kami bereskan,” imbuh Dedi. (*)

Festival Kora-Kora Hidupkan Wisata Bahari Ternate

0

Kota Ternate memiliki beragam cara untuk mendongkrak potensi wisata bahari.

Salah atraksi paling dinanti setiap tahun adalah, Festival Perahu Kora-Kora.

Pada 2017, Festival Kora-kora memasuki tahun ke-7. Dinas Pariwisata Ternate sengaja memilih kora-Kora karena perahu ini bagian dari sejarah Ternate di masa lalu. Festival ini menjadi cara Pulau Seribu Benteng ini melestarikan budaya.

Kora-Kora nama perahu perang khas Kesultanan Ternate. Zaman Kesultanan Ternate, Kora-Kora menjadi kendaraan perang untuk menalukkan musuh sekaligus memperluas jajahan Kerajaan Ternate.

Kemudian, masa kolonial VOC perahu Kora-Kora digunakan untuk Pelayaran Hongi atau Ekspedisi Hongi, suatu bentuk pelayaran dengan tujuan menjaga monopoli rempah-rempah termasuk Hak Ekstirpasi, hak memusnahkan pala dan cengkeh.

Sejarah panjang Kora-Kora menjadi inspirasi Dinas Pariwisata Ternate membuat event pariwisata reguler setiap tahun. Selain ramai pengunjung, gelaran ini sukses menggaet minat promotor wisata menghelat expo/ pameran untuk plesir ke Ternate.

Deputi Pengembangan Pariwisata Nusantara, Esthy Reko Astuti menilai, Festival Kora-Kora di Ternate bukan cuma atraksi budaya, tetapi memiliki nilai sejarah di masa lampau untuk mengundang wisatawan .

“Festival ini mempromosikan Kora-Kora sebagai bagian penting sejarah dan budaya masa lalu di Ternate. Sebagai bagian dari budaya, atraksi ini tentu sangat menarik kunjungan wisatawan,” ujar wanita berkacamata ini.

Budaya masih memegang peranan penting sektor pariwisata di Indonesia. Dia menjelaskan ,60 persen wisatawan mancanegara ke Indonesia karena budaya, 35 persen karena alam, dan 5 persen karena faktor buatan seperti meeting, incentive, conference, dan exhibition (MICE), wisata olahraga, dan hiburan.

Menurut Esthy, Ternate terletak di lokasi strategis jalur perdagangan dan jasa menuju ke Indonesia Timur sehingga membuat sektor wisata Ternate memiliki nilai tambah dari daerah lain di ujung timur nusantara.

“Festival Kora-Kora bisa menjadi daya tarik sendiri bagi sebelum berkunjung lebih jauh ke Maluku Utara. Potensi ini sangat besar bagi Ternate untuk mengembangkan sektor parwisata sekaligus meningkatkan sektor perekonomian, karena Ternate ini terletak di lokasi sangat startegis, “ ucap Esthy.

Tahun ini, Festival Kora-Kora dipusatkan di kawasan Land Mark Pantai Ternate atau Alun-Alun Kota Ternate. Kegiatan Festival Kora-Kora beraneka ragam mulai dari lomba dayung perahu kora-kora, peserta hanya bermodal dayung dan peralatan keselamatan seperti life jacket sedangkan untuk perahu kora-kora akan disiapkan oleh Disbudpar Ternate. Festival ini semakin lengkap dengan lansekap pemandangan Gunung Gamalama di kota Ternate.

Meski event ini sudah cukup populer di Ternate, namun Wali Kota Ternate, Burhan Abdurahman menilai event ini masih terlalu singkat dan minim atraksi. Dia berjanji, tahun depan bakal membuat festival serupa namun dengan jangka waktu lebih panjang.

“Tahun depan, kami bakal merancang event ini bakal lebih lama dan menantang. Kami akan buat peserta mengelilingi pulau Ternate sepanjang kurang lebih 10 km. Nanti kami juga membedakan antara kapal kora -kora Sultan dan para hulubalang. Selain menarik, tentu event ini ke depan bakal lebih panjang.” papar Burhan.

Terpenting, dari seluruh rangkaian Festival Kora-kora, bagi Menteri Pariwisata, Arief Yahya ini mampu membangkitkan sektor perekonomian masyarakat.

“Culture values harus ada tiap daerah. Terpenting itu harus ada economic value. Ternate terletak di lokasi startegis, sektor pariwisata di Ternate harus memberikan dampak perekonomian besar bagi masyarakat . Ternate harus menjadi pemain utama untuk menggerakkan sektor pariwisata di Indonesia Timur,”kata Menpar Arief Yahya.(*)

Kapal Pengangkut Ikan Tabrak Karang

0
Ilustrasi

batampos.co.id – Kapal pengangkut ikan Kapal Motor (KM) Dayang Samudra tenggelam di perairan Letung. Sabtu (2/12) sekitar pukul 14.00 WIB. KM. Dayang Samudera yang bermuatan sekitar 6 ton ikan basah tersebut karam setelah bertolak dari Pelabuhan Letung  menuju Pelabuhan Kijang Kabupaten Bintan lantaran diduga menyerempet karang setelah berjalan sekitar 500 meter dari pelabuhan Pemda Letung.

“Setelah lambung kiri kapal serempet karang, langsung bocor sehingga kapal milik Kiapok yang dinahkodai oleh Hairuddin bersama lima ABK lainnya secara perlahan kapal tenggelam,” ungkap Kapolres Kepulauan Anambas AKBP Junoto, Minggu (3/12).

Junoto, mengatakan, dalam Kejadian tersebut tidak memakan korban jiwa tapi cukup mengehbohkan warga setempat. Meski tidak ada korban jiwa, tapi kerugian material diperkirakan mencapai Rp 500 juta.

Mengetahui hal itu, tambah Junto, Kapolsek Jemaja yakni Iptu Roswandi, Dan Posal Jemaja Letda Arif Budiman bersama masyarakat dan nelayan melakukan evakuasi korban dan muatan kapal, pada saat dilakukan evakuasi tidak ditemukan korban jiwa.

Salah seorang saksi mata yang enggan  namanya  dipubilkasikan mengatakan, ketika mengetahui ada kapal tenggelam, kepolisian dan Angkatan Laut serta Masyarakat langsung berupaya unttuk melakukan pertolongan dengan menggunaka pompong untuk menjemput korban.

“Selain menjemput korban, masyarakat bersama-sama menevakuasi ikan yang sudah dikemas dalam fiber dari dalam air. Hasilnya ada sekitar 63 fiber ikan alhamdulillah berhasil diselamatkan,” imbuhnya. (sya)