Jumat, 24 April 2026
Beranda blog Halaman 12664

Masyarakat Perlu Dipahamkan, Apa Itu Gambut

0

batampos.co.id – Sony Mumbunan, pakar dari Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Indonesia (UI) berpendapat, masih banyak yang belum paham pentingnya kelestarian ekosistem gambut.

Untuk itu, diperlukan narasi bersama pengelolaan lahan gambut, supaya informasi yang diterima masyarakat tidak simpang siur.

Usulan ia utarakan pada diskusi pakar bertajuk Perlindungan Gambut dan Pembangunan Ekonomi di Jakarta, Selasa (27/12).

“Di dalam gambut ada nilai ekonomi, dan gambut harus dijadikan sebagai imput ekonomi untuk menghidupi masyarakat,” kata Sony Mumbunan.

Diskusi ini dihadiri Dr Suraya Afif dari Departemen Antropologi UI, Iwan Gunawan dari Bank Dunia, dan I Nyoman Suradiputra dari Wetlands Indonesia. Acara juga dihadiri Dr Myrna Asnawati Safitri, deputi III Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut (BRG).

Menurut Sony, narasi ekonomi konvensional melihat lahan gambut sebagai lahan kebun sawit. Padahal, ekosistem gambut juga memiliki nilai ekonomi yang menghidupi masyarakat. Konversi lahan gambut hanya akan meniadakan nilai ekonomi lahan gambut.

“Badan Restorasi Gambut (BRG) telah melakukan itu lewat budidaya tanaman yang ramah terhadap gambut, yaitu jelutung, sagu, nanas, dan purun,” kata Sony. “Tanaman-tanaman ramah ini disebut paludikultur.”

Narasi ekonomi yang menjadikan lahan gambut bernilai ekonomi jika ditanami komoditas ekspor, menurut I Nyoman Suradiputra, berujung pada hilangnya lahan gambut. Kehilangan ini dimulai dengan pembuatan kanal-kanal oleh pengusaha, yang menyebabkan terjadinya kekeringan lahan gambut.

“Kanal-kanal dibangun untuk mengeringkan gambut, agar lahan bisa ditanami sawit,” kata I Nyoman. “Dampak buruk lainnya adalah penggunaan pestisida, yang merusak ekosistem lahan.”

I Nyoman mengingatkan banyak pulau di pantai timur Sumatera terbentuk dari gambut. Pulau Padang dan Bengkalis salah satunya. Jika penanaman kelapa sawit dibiarkan di kedua pulau itu, lahan gambut akan amblas (subsidence), hilang, dan berpengaruh pada zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia.
Berbeda dengan Sony dan I Nyoman, Dr Suraya Afif secara serius mengomentari hasil kajian LPEM Universitas Indonesia (UI) yang menyebut PP 71 tahun 2014 Jo PP 57 tahun 2016 soal ekosistem gambut merugikan dunia usaha Rp 76 triliun. Menurutnya, kajian LPEM UI kekurangan review dan tidak netral.

“Kelihatan sekali keberpihakan terhadap pengusaha,” kata Dr Suraya. “Sebelum PP 71 keluar, pemerintah sudah mengeluarkan Keppres No 32 tahun 1990 tentang kawasan hutan lindung.

Anehnya, kajian LPEM UI tidak mereview produk hukum ini.
Ia juga mengkritisi hutan tanaman industri, dengan menyebutnya sebagai penyumbang cost paling besar dibanding keuntungan yang diperoleh. Land clearing, misalnya, menyebabkan hilangnnya keanekaragaman hayati. Belum lagi kebakaran hutan yang menimbulkan multiplier effect cost.

“Yang juga aneh tidak ada riset jangka panjang tentang efek biaya berkelanjutan akibat kebakaran hutan,” katanya.

Iwan Gunawan mengatakan setiap bencana menyebabkan gangguan pertumbuhan eonomi. Bencana kebakaran hutan, menurutnya, berdampak pada ketidak-seimbangan, gangguan terhadap prospek pembangunan, dan deficit yang harus ditutupi tidak cukup satu tahun anggaran.

“Akibatnya, landskap berubah dan pola distribusi juga berubah,” katanya. “Bencana kebakaran juga menyebabkan stock flow, atau aset yang rusak.” (*)

PTT dan THL Belum Terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan

0

batampos.co.id – Kepala Seksi Perselisihan Hubungan Industrial (PHI) dan Jamsostek Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Lingga Rachman mengatakan, seluruh Pegawai Tidak Tetap (PTT) dan Tenaga Harian Lepas (THL) di Kabupaten Lingga belum dimasukkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Penyebabnya karena tidak tersedianya anggaran untuk program tersebut.

“Sudah kami ajukan pada APBD Perubahan tahun ini, tapi karena anggaran tidak tersedia maka PTT dan THL batal menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan,” kata Rachman ketika ditemui di Dabo Singkep, Rabu (27/12) pagi.

Namun, Pemkab Lingga berencana akan mendaftarkan seluruh PTT dan THL di Kabupaten Bunda Tanah Melayu ini sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Jumlah keseluruhan PTT dan THL di Kabupaten Lingga berkisar 1.400 orang.

Pada pengajuan APBD Perubahan lalu, Dinas Ketenagakerjaan mengajukan anggaran sebesar Rp 200 juta untuk mendaftarkan seluruh PTT dan THL dalam dua program BPJS Ketenagakerjaan. Dua program tersebut yakni, jaminan kematian dan kecelakaan kerja.
“Untuk dua program yang akan diikuti ini keseluruhannya ditanggung oleh Pemkab Lingga. Dua program ini diperlukan dana Rp 200 juta selama setahun,” kata Rachman.

Sedangkan program Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun yang ada di BPJS Ketenagakerjaan tidak diikuti oleh PTT dan THL Kabupaten Lingga. Jika PTT dan THL mengikuti dua program ini maka mereka dikenakan iuran pembayaran sesuai dengan persentase yang telah ditentukan.

Sementara itu Kabid Ketenagakerjaan Dedi Supartono mengatakan, tahun depan Pemkab Lingga telah mengalokasikan dana untuk keikutsertaan PTT dan THL menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Saat ini, Dinas Ketenagakerjaan sedang melakukan pendataan nama dan identitas PTT dan THL bersama SKPD terkait. “Kami masih melakukan pendataan administrasi terkait data peserta yang akan mengikuti BPJS Ketenagakerjaan,” kata Dedi. (wsa)

Pembangunan Gerbang Kantor Bupati Terancam Molor

0
Pembangunan gerbang masuk di kompleks Bandar Seri Bentan kantor Bupati Bintan di Bintan Buyu, digesa, Rabu (27/12). F. Slamet Nofasusanto/Batam Pos

batampos.co.id – Pembangunan gerbang komplek perkantoran Bupati Bintan terancam molor. Empat hari menjelang penutupan tahun 2017, proyek tersebut belum juga rampung. “Batas akhir pekerjaan pembangunan sampai 31 Desember, kita masih menunggu karena beberapa proyek memang sedang tahap finishing,” kata Sekdakab Bintan Adi Prihantara, Rabu (27/12).

Terkait persoalan itu, ia meminta handphone Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan harus tetap standby. ” Sehingga memudahkan koordinasi antar instansi menjelang akhir tahun,” ungkapnya

Wakil Bupati Bintan Dalmasri Syam langsung menggelar rapat evaluasi pembangunan fisik tahun anggaran 2017 di Kantor Bupati Bintan, Rabu (27/12).

Dalmasri meminta realisasi pembangunn fisik dimotori dengan koordinasi yang baik antar semua lini. Pencapaian yang baik akan terjadi jika monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkesinambungan.

“Ke depannya setiap pembangunan yang sedang berlangsung harus dipantau terus, jangan sampai kita melewati setiap proses pembangunannya. Kita yang memegang kendali, kita yang mengarahkan pembangunan itu,” tegasnya.

Kepala BPPPD Bintan Wan Rudy memaparkan realisasi pembangunan fisik yang masuk dalam APBD murni telah mencapai progres 90 persen lebih. Sedangkan untuk pembangunan fisik yang berasal dari APBD-P masih dalam progres penyelesaian. Namun demikian, dirinya optimis beberapa pencapaian yang masih kurang akan rampung sesuai target yang dintentukan.

“Untuk capaian fisik hampir 90 persen lebih, seluruh OPD telah berada pada capaian tinggi. Sedangkan untuk capaian keuangan, ada beberapa yang masih rendah termasuk BPPPD sendiri,” terangnya.

Beberapa realisasi fisik seperti batu miring dan gerbang perkantoran di simpang Bandar Seri Bentan telah berada pada tahap akhir penyelesaian. “Koordinasi antar satker menjadi semakin urgen, mengingat di akhir triwulan IV ini dibutuhkan kedisiplinan laporan yang tepat waktu,” tegasnya.

Terpisah kontraktor pembangunan gerbang masuk Kantor Bupati Bintan, Jhon memastikan pembangunan rampung  sebelum akhir tahun. “Tinggal finishing saja, ngecat. Yang lain seperti pemasangan keramik dan konstruksi sudah selesai,” katanya.

Soal kendala di lapangan dalam pembangunan gerbang masuk itu, ia
menyalahkan cuaca. “Cuaca saja kemarin,” jawabnya. (cr21)

Pintar saat Kuliah, Peluang Jadi Pegawai Negeri

0
Sejumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemko Batam meninggalkan Dataran Engku Putri Batam Center. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Kamu yang berminat dan berniat jadi ASN harus membaca artikel ini. Sebuah artikel yang bersumber dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) tentang rekrutmen.

“Dulu ada PNS yang diterima tanpa tes. Untuk itu saya ingin menyampaikan dalam kesempatan ini, bahwa sistem rekrutmen harus kita perbaiki dan ini sudah kita mulai dari 2017 kemarin,” ujar Menteri PAN-RB Asman Abnur di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (27/12).

Selain itu, sistem yang baru juga diterapkan berdasarkan prestasi di perguruan tinggi. KemenPAN-RB mengharuskan calon PNS mendapat predikat cumlaude pada masa kuliah.

“Saya syaratkan adalah anak-anak yang berasal dari lulusan cumlaude. Ini sistem rekrutmen yang kami lakukan sekarang,” tandasnya.

Asman mengatakan, di 2017, pihaknya membuka formasi sebanyak 37.000 untuk 60 lebih kementerian dan lembaga.

“Kami memilih 37.000 orang dari 2,6 juta (pendaftar). Saya yakin kami akan dapat pegawai-pegawai pilihan,” katanya.

Selain sistem rekrutmen, KemenPAN-RB juga memperbaiki manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi berbasis kinerja. Setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) harus melakukan perjanjian kinerja kepada gubernur dan wakil gubernur.

“Jadi saya ingin mengingatkan kepada seluruh OPD jangan sekarang terlena dengan tunjangan kinerja yang ada sekarang. Tolong dipertahankan karena ini akan dievaluasi setiap tahun,” terang Asman.

Tak kalah penting, pelayanan publik juga menjadi sasaran perbaikan. KemenPAN-RB mendorong agar setiap provinsi membuat minimum satu mal pelayanan publik.

“Kalau warga datang ke gedung itu semua perizinan ada di situ. Perizinan tingkat provinsi ada, perizinan pemerintah pusat ada. Ada kantor pajak di dalam nya, ada imigrasi di dalamnya, ada pengurusan SIM di dalamnya, ada pengurusan tanah atau BPN di dalamnya,” tegas Asman. (yes/JPC)

Motif Pencurian Barang Majikan dengan Menggandakan Kuncu Gudang

0
Tersangka pencurian, Am digiring petugas di Mapolsek Bukit Bestari Tanjungpinang, Rabu (27/12). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Seorang pemuda berusia 20 tahun berinisial Am dibekuk Unit Reskrim Polsek Bukit Bestari, Sabtu (23/12) lalu. Ia diamakan polisi karena mencuri sejumlah barang elektronik senilai Rp 22 juta di gudang milik Lidia, kawasan Komplek Bintan Plaza, Rabu (20/12).

Kanit Reskrim Polsek Bukit Bestari, Aiptu Fredy Simanjuntak mengatakan bahwa penangkapan terhadap Am bermula dari adanya laporan pencurian dari korban. “Dari hasil penyelidikan, kita mendapati rekaman CCTv dan mengetahui kendaraan yang digunakan tersangka pada saat melakukan pencurian itu,” ujarnya, Rabu (27/12) kemarin.

Selanjutnya Unit Reskrim Polsek Bukit Bestari melakukan pengejaran hingga akhirnya Sabtu lalu menemukan mobil yang dicurigai tengah melintas di Jalan Sumatra. Saat hendak dilakukan penangkapan, pelaku Am sempat berusaha kabur dengan menambah kecepatan mobilnya.

“Sempat terjadi kejar-kejaran, hingga akhirnya tersangka berhasil kita amankan. Saat melakukan aksi dan mencoba kabur itu, tersangka menggunakan mobil yang direntalnya,” bebernya.

Usai mengamankan tersangka, selanjutnya Unit Reskrim Polsek Bukit Bestari mengamankan beberapa barang elektronik yang belum sempat dijualnya. Adapun barang elektronik yang berhasil diamankan diantaranya dua unit dispenser dan alat blender. Hingga saat ini, polisi masih mencari barang hasil curian itu.

“Pencurian ini telah dilakukannya secara berulang-ulang kali. Namun, yang terakhir ini kerugiannya besar, sehingga pemilik merasa curiga dan melaporkannya ke polsek,” tuturnya.

Dari hasil pemeriksaan sementara, modus Am mencuri di gudang tersebut ialah dengan cara menggandakan kunci gudang. Pasalnya, Am merupakan mantan karyawan yang sempat berkeja dengan Lidia. Hingga saat ini, Am telah ditahan di dalam sel Polsek Bukit Bestari guna penyelidikan lebih lanjut.

“Pelaku kita kenakan pasal 363 KUH Pidana dengan ancaman maksimal selama tujuh tahun penjara,” imbuhnya. (cr1)

Empat Tersangka Kasus Umrah Ditahan di Rutan

0
Empat tersangka korupsi UMRAH saat akan dijebloskan ke Rutan Tanjungpinang, Rabu (27/12). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kepri menyerahkan empat tersangka serta barang bukti korupsi pengadaan program integrasi sistem akademik dan administrasi Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) Tanjungpinang kepada pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kepri.

Para tersangka Wakil Rektor Umrah Hery Suryadi, Direktur PT Jovan Karya Perkasa Henri Gultom, Ulzana Zizi yang merupakan penyusun draft, dan Yusmawan sebagai distributor langsung ditahan di Rutan Tanjungpinang.

Kasubdit III Tindak Pidana Korupsi (Tipidkor) Ditreskrimsus Polda Kepri, AKBP Ponco Indriyo mengatakan penyerahan tahap II dilakukan setelah pihak kejati menyatakan berkas yang dikirim pihak kepolisian dinyatakan lengkap (P21), Jumat (22/12) lalu. “Karenanya langsung kita serahkan saja.Semua bukti-bukti berkaitand dengan kegiatan para tersangka kami berikan,” ucap mantan Ksat Reskrim Polresta Barelang ini.

Ke depan, pihaknya akan fokus melakukan pengembangan atas kasus ini. Penyidik akan menyelidiki keterlibatan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dari proyek ini.

Selain itu lanjut Ponco, pihaknya akan mengusut dua kasus lainnya di Umrah. Yakni pengadaan sarana dan prasarana untuk studi kemaritiman. Proyek yang dikerjakan PT KI menelan anggaran Rp 40 miliar.

Serta proyek pengadaan sarana dan prasarana untuk studi alternatif pada daerah kepulauan. Proyek yang dikerjakan PT AIT ini menelan angaran Rp 30 miliar. “Dua kasus ini pendanaanya dari APBN 2015, tahun depan kami akan tindak lanjuti,” tuturnya.

Kepala Seksi (Kasi) Penuntutan Kejati Kepri, Siswanto mengaku telah menerima tersangka serta barang bukti dari penyidik Ditreskrimsus Polda Kepri. Para tersangka dinilai penyidik telah merugikan negara hingga Rp 12 miliar. Kerugian tersebut berdasarkan hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Kepri.

“Tahun depan kita limpahkan ke pengadilan. Modusnya, yang jelas mark up dari anggaran Rp 30 miliar. Hasil audit BPKP pelaku telah merugikan negara Rp 12 miliar,” katanya.

Terkait pengajuan pra peradilan oleh kuasa hukum salah satu tersangka, Siswanto menyatakan jika upaya hukum tersebut ditujukan kepada penyidik Polda Kepri. Siswanto tidak merasa keberatan jika kuasa hukum tersangka mengajukan pra peradilan. “Silahkan saja ajukan pra peradilan terhadap penyidik Polda Kepri. Kalau kita dari segi alat buktinya, makanya kita P21 (lengkap, red) berkas ini,” bebernya.

Sementara itu, kuasa hukum Hery Suryadi, Wakil Rektor Bidang Umum, Perencanaan, Sistem Informasi dan Keuangan Umrah Tanjungpinang, Cholderia Sitinjak merasa keberatan atas penetapan tersangka dan penangkapan kliennya tersebut. “Karena penangkapan tidak ada surat,” kata Cholderia Sitinjak saat ditemui kemarin.

Menurut dia, dalam kasus tersebut terdapat kejanggalan, karena kliennya hanya sebagai korban. Saat proyek itu dilaksanakan, dilakukan lelang terlebih dahulu pada tanggal 29 Juli 2015. Setelah itu, Rektor baru mengangkat Heri sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada 31 Agustus 2015.

“Kita lihat nanti di persidangan siapa yang menetapkan harga. Nanti aja kita lihat. Intinya kita sudah siap semuanya dan akan kita bedah di persidangan nanti. Baru nanti akan terbukti siapa yang salah dan siapa yang benar,” bebernya.

Menurut Cholderia, seharusnya ada tersangka lain dalam kasus dugaan korupsi ini. Sebab, menurut dia yang namanya ada kerugian negara tentu harus ada pertanggungjawaban Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan Pengguna Anggaran (PA). Bukan menjadi tanggungjawab PPK.

“Karena tugas pokok PPA pokok hanya tiga, menetapkan harga HVS itu tadi, mengatur spesifikasi dan kontrak. Ada tanda tangan kontrak, jadi nanti kita akan uji di persidangan, siapa yang paling berperan,” imbuhnya. (cr21)

Tersangka Pembunuh Deli Cinta Terancam 15 Tahun Penjara

0

batampos.co.id – Tersangka pembunuh Deli Cinta Sihombing, Dedi Purbianto, terancam hukuman 15 tahun penjara. Ia dijerat dengan pasal 338 KUH Pidana tentang Pembunuhan, juncto pasal 363 tentang Pencurian dengan Kekerasan.

Kasat Reskrim Polresta Barelang Kompol Arwin mengatakan, sejauh ini penyidik sudah mengantongi sejumlah barang bukti yang memperkuat sangkaan polisi.

“Kami juga menemukan dompet dan kartu ATM atas nama korban di kamar kos tersangka,” kata Arwin saat ekspos kasus pembunuhan tersebut di Mapolres Barelang, Rabu (27/12).

Arwin mengatakan, saat ditangkap pada Sabtu (23/12) lalu, tersangka sempat mengelak. Namun setelah polisi menggeledah kamar kosnya di Batamcenter dan menemukan sejumlah bukti, pemuda asal Palembang itu tak bisa mengelak lagi.

“Tersangka boleh beralibi. Tapi dengan bukti yang kami temukan, ia tak bisa berkilah lagi,” kata dia.

Sementara Dedi tetap bersikukuh bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki niat merampok dan membunuh korban. Adapun barang-barang milik korban yang ia bawa, seperti televisi LED dan hape, dianggap sebagai pengganti uang Rp 1,3 juta yang dijanjikan korban. Sebab saat itu korban menolak membayar uang tersebut.

Begitu juga dengan mobil Toyota Rush yang ia bawa kabur ke rumah kosnya. Dedi mengaku hanya meminjam mobil tersebut untuk transportasi pulang ke kos.

“Saya datang ke sana kan naik taksi. Saya juga tak ada uang lagi kalau pulang naik taksi. Makanya begitu tahu ada kunci mobil korban, langsung saja saya bawa dan mobilnya saya bawa juga pulang ke kos,” ujar Dedi kepada Batam Pos, kemarin.

Meskipun, Dedi sempat mengganti pelat nomor mobil warna hitam itu, dari BP 1661 GI menjadi BP 2 GI. Terkait hal ini, Dedi berdalih sengaja mengganti pelat nomor mobil supaya tidak ketahuan polisi.

Di hadapan Kapolresta Barelang, Dedi kembali mengaku jika ia dan korban pernah berkenalan dan berkencan melalui aplikasi kencan (dating), Badoo. Kata dia, korban pernah berjanji akan membayar Rp 1,5 juta jika mau berkencan dengannya.

Tetapi, waktu keduanya kencan di sebuah hotel di Nagoya beberapa pekan lalu, korban hanya membayar Rp 200 ribu saja. Dan korban berjanji akan melunasi sisanya pada Rabu (20/12). Saat itulah keduanya kembali bertemu dan berkencan di rumah korban.

Dedi Pebrianto, 28, saat di Mapolsek Batuaji usai diperiksa, Rabu (27/12). Dedi Pebrianto adalah pelaku tunggal pembunuh Deli Cinta. Saat ini polisi memburu hp Dedi Pebrianto yang dijual ke temannya di Legenda dengan RP 650. Dari HP tersebut nantinya polisi bisa mendapatkan alat bukti baru saat mereka berkomunikasi. F. Dalil Harahap/Batam Pos

Namun menurut Dedi, saat itu korban lagi-lagi mengingkari janjinya. Bukannya membayar sisa tarif kencan, korban malah memaki dan mengusir Dedi dari rumah korban. Saat itulah Dedi marah dan mencekik serta mengikat korban di kamarnya. Hingga akhirnya korban ditemukan tewas pada Kamis (21/12) silam di Perumahan Central Raya, Tanjunguncang, Batam.

Kepada polisi Dedi mengaku gagap teknologi. Ia mengaku kenal dengan aplikasi Badoo dari temannya. Bahkan temannya pula yang mengunduh aplikasi tersebut di ponselnya.

“Itu awalnya saya tak tahu apa itu Badoo. Kawan saya bilang kalau punya aplikasi itu, dijamin akan banyak teman, apalagi dalam Badoo, kata teman saya, banyak cewek-ceweknya juga yang mudah diajak berkenalan,” terang Dedi.

Setelah menggunakan aplikasi Badoo itu, Dedi mengaku mengetahui banyak hal baru. Termasuk soal banyaknya pria pengguna Badoo yang memanfaatkan aplikasi kencan tersebut untuk menjajakan diri, alias menjadi pria pemuas syahwat.

“Ada yang terang-terangan di Badoo itu orang menjajakan dirinya dengan memasang tarifnya sekalian sekali check in. Ada juga yang tak memasang tarifnya tapi mereka vulgar dengan mengaku bisa melayani jasa pemuas seks untuk perempuan yang kesepian atau tak puas dengan suaminya,” ujar Dedi.

Seperti diberitakan sebelumnya, pihak keluarga korban menyangsikan keterangan Dedi tersebut. Mereka menuding Dedi sengaja merampok dan membunuh Deli Cinta Sihombing untuk menguasai hartanya.

Sebab keterangan Dedi yang mengaku menginap pada Rabu (20/12) malam dan membunuh Deli padak Kamis (21/12) bertentangan dengan keterangan sejumlah saksi. Salah satunya Agustinus.

Pekerja bangunan itu mengaku melihat seorang pria masuk ke rumah Deli pada Rabu (20/12) sekitar pukul 10.00 WIB. Tak lama kemudian, pria yang diduga Dedi itu keluar dan langsung pergi dengan mengendarai mobil Toyota Rush milik Deli.

“Sebentar saja dia di dalam rumah terus keluar langsung bawa mobil ibu itu kencang-kencang. Sampai tabrak kran air di depan rumah ibu itu,” tutur Agustinus, Kamis (21/12) lalu.

Karenanya, pihak keluarga korban meminta polisi mengusut tuntas kasus pembunuhan itu. “Kami tidak percaya sepenuhnya cerita pelaku,” kata Budi, saudara kandung Deli Cinta, Selasa (26/12) lalu. (gas)

Sabu Malaysia Mengalir ke Batam

0

batampos.co.id – Petugas satuan pengamanan (Avsec) Bandara International Hang Nadim Batam kembali menangkap satu orang kurir sabu, Rabu (27/12). Suprianto,34 ditangkap saat akan mencoba menyelundupkan sabu seberat 531 gram, yang disembunyikan dalam sepatunya. Percobaan penyelundupan sabu di Hang Nadim ini, terhitung sudah belasan kali dari November hingga Desember.

“Suprianto, kami tangkap saat memasuki terminal keberangkatan,” kata General Manager Operasional Bandara International Hang Nadim Batam, Suwarso, Rabu (27/12).

Petugas satuan pengamanan Hang Nadim, sedari awal sudah curiga melihat gerak gerik Suprianto saat berada di luar terminal keberangkatan. Saat turun dari kendaraan yang membawanya, Suprianto tidak langsung masuk ke dalam terminal keberangkatan. Ia terlihat sedikit panik, dan beberapa kali berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.

“Telepon pertama, kedua, ketiga hingga beberapa kali. Dia (Suprianto,red) tidak kunjung masuk ke dalam bandara,” ucap Suwarso.

Karena sudah menaruh rasa curiga terhadap Suprianto. Petugas sudah melakukan pengamatan.

“Kami ingin tahu, apa ada temannya, atau tidak,” ungkap Suwarso.

Setelah melakukan pembicaraan panjang dengan seseorang melalui ponselnya. Akhirnya Suprianto berjalan pelan menuju ke pintu masuk terminal keberangkatan. Terlihat pria beralamat di Bengkong Sadai, agak sedikit tertatih-tatih.

“Makin curiga petugas kami. Dan mencoba mengajaknya berbicara,” tutur Suwarso.

Obrolan petugas ini, bukan bertanya tentang apa yang dibawa oleh Suprianto. Tapi hanya menanyakan hendak kemana. Ditanya seperti itu, langsung membuat Suprianto gugup. Dengan sedikit gagap, ia mengatakan akan berangkat menuju Jakarta.

“Kami tetap biarkan dia memasuki pintu Walkthourght. Begitu memasuki pintu itu, alat pendeteksi kami berbunyi,” ungkap Suwarso.

Petugas langsung melakukan pengeledahan. Karena sudah terbiasa menghadapi orang-orang seperti Suprianto. Petugas melakukan pengecekan di sepatu. Karena melihat ada yang janggal di sepatu tersebut. Tidak ingin pemeriksaan ini jadi tontonan.

“Kami bawa masuk ke dalam ruangan Bea Cukai. Lakukan pengeledahan. Ternyata ada sabu seberat 531 gram yang disembunyikannya di dalam sepatunya,” ujar Suwarso.

Dari hasil pemeriksaan sementara, Suprianto mengakui hanya disuruh mengantarkan barang haram itu. Terkait siapa yang menyuruhnya, Suprianto memberikan jawaban yang bertele-tele.

“Kadang ia jawab tahu, lalu bilang lagi tidak. Karena ngawur gitu, kami serahkan pelaku ke pihak kepolisian,” ungkap Suwarso.

Kepala Bidang Pemberantasan (brantas) Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepri, Bubung Pramiadi menuturkan kebanyakan sabu yang diselundupkan melalui Hang Nadim itu berasal dari Malaysia.

98 persen dari Malaysia semua sabu,” ucap Bubung.

Barang bukti

Ia mengatakan Batam hanyalah pintu masuk barang haram itu. Dari Malaysia Sabu masuk ke Batam, lalu baru didistribusikan ke beberapa wilayah di Indonesia. Bubung mengatakan hampir sebagian besar kurir sabu ditangkap di Bandara Hang Nadim, mengakui baru sekali menyelundupkan narkoba.

“Tapi beberapa waktu lalu, hasil tangkapan Bea Cukai di Hang Nadim. Kurir yang akan membawa sabu ke Surabaya, mengakui sudah enam kali melakukan pekerjaan itu,” ucapnya.

Selama enam kali, petugas Bandara Hang Nadim tidak pernah menaruh kecurigaan terhadapnya. “Lolos. Saat percobaan ketujuh dia tertangkap,” ujarnya.

Kepada penyidik BNNP Kepri, kurir ini mengakui mengirimkan sabu ke Surabaya, Sulawesi, Medan dan Jakarta. “Sabu dibawanya asal Malaysia,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi penyelundupan ini. Bubung mengatakan pihaknya telah menjalin koordinasi yang intensif dengan Petugas Satuan Pengamanan Bandara dan Bea Cukai.

“Bila ada yang ditangkap, cepat koordinasi. Dan bisa kami kembangkan,” pungkasnya. (ska)

Puluhan Sopir Jono Mogok Beroperasi

0
Sejumlah anggota Samapta Polresta Barelang saat mengawal supir angkot metrotrans Jodoh-Nongsa yang sempat mogok karena memprotes trans Batam yang akan memasuki jalur jalan Tengku Sulung Batamcenter, Rabu (27/12). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Puluhan sopir angkutan Jodoh-Nongsa (Jono) mogok beroperasi dan berkumpul di depan Bundaran SMA Negeri 3, Botania, Rabu (27/12). Aksi mogok sebagai bentuk protes penolakan rute baru trans Batam yang rencananya juga melintas di kawasan Botania.

“Kami keberatan dengan informasi rute baru Trans Batam, yang pastinya akan menganggu periuk nasi kami,” kata Ketua Koordinator Jono Batam disela aksi mogok.

Dikatakannya, selama rute Trans Batam, Jodoh-Nongsa hanya melewati jalur luar atau jalan besar. Namun tiba-tiba pihaknya mendapat informasi adanya perubahaan rute Jodoh-Nongsa yang akan memasuki wilayah Botania dalam. Padahal sopir Jono berharap dapat penumpang dari Botania ke Simpang KDA Batam Center.

“Setelah jalur itu kami berebut penumpang dengan angkutan lain. Jadi bagaimana kami mau dapat makan kalau trans Batam juga masuk ke wilayah Botania,” imbuh Eli.

Menurutnya, Dinas Perhubungan jangan terlalu memaksakan diri untuk mengoperasikan Trans Batam dijalur tersebut, sehingga menganggu ladang makan sopir Jono. Apalagi belum ada audensi dari sopir Jono terkait rencana tersebut. Karena itu ia berharap, Pemko Batam bisa bijak mengambil keputusan terkait nasib mereka.

“Kami mohonlah, kami siap bekerjasama karena sudah hampir 20 tahun melayani masyarakat dan tidak pernah ada masalah. Kami disini juga mencoba cari makan, bukan untuk diri sendiri tapi juga anak istri. Saat ini, jumlah sopir Jono ada sekitar 200an,” sebut Eli.

Sementara, Kepala Dinas Perhubungan Kota Batam, Yusfa Hendri membenarkan adanya rencana penambahan rute ke bagian dalam Botania. Hal itu sesuai dengan permintaan dari masyarakat , pihak sekolah dan tokoh masyarakat yang menginginkan Trans Batam masuk ke dalam jalan Botania.

“Banyak permintaan masyarakat dan pihak sekolah yang menginginkan Trans Batam lewat Botania. Masyarakat ingin mendapat pelayanan yang lebih efesien, nyaman dengan Trans Batam,” ujar Yusfa kepada Batampos, kemarin sore.

Atas permintaan itu pihaknya pun melakukan beberapa pertimbangan diantaranya, jalan yang ada di Botania masih satu jalur sehingga dikhawatirkan akan menyebabkan macet jika trans Batam melewati daerah tersebut. Apalagi mengingat ukuran bus trans Batam yang besar.

“Ada beberapa pertimbangan kami belum melewati jalur tersebut, karena jalan tersebut kecil dan hanya satu jalur, jadi kami takut menyebabkan macet,” imbuh Yusfa.

Meski begitu, Yusfa mengaku rute tambahan Jodoh-Nongsa masih ada, hanya saja tidak melewati Botania. Rute Trans Batam akan melewati jalur dalam masuk dari arah Simpang Dotamana arah Cikitsu kemudian belok ke kiri ke arah Uniba.

“Jadi kami hanya melewati jalur yang sudah memiliki dua lajur. Kalau dari Dotamana ke Cikitsu memang masih satu jalur, tapi kan pendek, selebihnya ada dua lajur,” jelas Yusfa.

Disisi lain, ia menghimbau agar sopir angkut dan badan usaha angkut bisa berbenah dan memberi pelayanan kepada masyarakat lebih baik. Sehingga masyarakat bisa merasa aman dan nyaman saat naik angkot.

“Kami mohon kerjasamanya juga dalam memberi kenyamanan dan keselamatan kepada masyarakat. Kalau bisa lakukan peremajaan,” pungkas Yusfa. (she)

Setahun BNNP Kepri Menangkap 92 Orang Terlibat Narkotika

0
ilustrasi Narkoba

batampos.co.id – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepri menangkap 92 orang yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dalam sepanjang tahun 2017. Dari 92 orang ini terdapat 12 orang asing dan satu remaja.

Barang bukti yang diamankan yakni 37.746,38 gram sabu, 14.412,16 gram ganja dan 398 butir ektasi.

“WN Asing itu satu dari Amerika, 11 dari Malaysia. Dan selebihnya orang Indonesia. Satu orang remaja itu, hanya sebagai kurir, ” kata mantan Kepala BNNP Kepri, Nixon Manurung, Rabu (27/12).

Nixon mengatakan tidak semua yang ditangkap pihaknya adalah kurir. Sebanyak 92 orang itu memiliki berbagai peranan yang berbeda-beda, ada sebagai bandar besar, kecil, pemilik modal, distributor, hingga kurir. “Ada yang kami amankan dari Pemodal, pemilik sabu hingga kurir kami tangkap. Namun ada juga yang hanya sampai bandar besarnya, tapi pemilik atau pemodalnya tidak dapat,” ujarnya.

Dari 92 orang ini, kata Nixon terdiri dari 21 jaringan. Secara rinci disebutkan oleh Nixon, jaringan termasuk dalam kategori besar ada 8. “Menengah ada 7 jaringan dan kecil 6 jaringan,” ungkap Nixon.

Sindikat narkoba ini, kata Nixon narkobanya kebanyakan dipasok dari Malaysia.

Selain menangkap para penyalahguna narkotika itu. Pihak BNNP Kepri juga melakukan penelusuran aset jaringan narkoba tersebut. “TPPUnya kami berlakukan. Untuk pemberantasan kasus kami itu ditargetkan 20 kasus saja. Tapi kami berhasil menyelesaikan 55 kasus,” ujar Nixon.

Tidak hanya meningkatkan pemberantasan saja, Nixon menuturkan pihaknya juga mengiatkan pencegahan. “Kami melakukan sosialisasi diberbagai tempat. Mulai dari instansi swasta hingga pemerintahan. Dari orang dewasa hingga anak-anak,” tuturnya.

BNNP Kepri juga berusaha menyembuhkan para pecandu narkoba. Sepanjang tahun ini sebanyak 912 orang yang direhabilitasi. “Target kami itu 935 orang,” ujarnya.

Nixon beralasan tidak sesuai targetnya rehabilitasi pencandu ini, karena rendahnya tingkat partisipasi dan kesadaran masyarakat di Kepri. “Harusnya kalau merasa pecandu, mari datang ke BNNP. Kami sembuhkan, begitu juga kalau ada keluarganya yang jadi pecandu, antar saja ke sini,” ungkapnya.

Walau rendahnya tingkat partisipasi masyarakat Kepri. Nixon mengatakan hal itu tidak membuat jajarannya putus asa.

“Kami terus upayakan sosialisasi. Kalau mereka tidak mendatangi kami, kami yang mendatangi mereka,” tuturnya.

Kepala BNNP Kepri Ricard Nainggolan menyampaikan akan melanjutkan kinerja yang sudah dibangun oleh Nixon.

“Kami akan tingkatkan lagi,’ ujarnya.

Ia menyadari letak geografis Kepri yang rentan akan penyelundupan narkoba.

“Oleh sebab itu kami intenskan koordinasi dengan berbagai pihak,” ucapnya.

Selain itu, Ricard mengatakan akan mencoba menambah jumlah personel dan peralatan. Saat ini personel BNNP Kepri hanya beberapa orang saja.

“Senjata juga, kami hanya punya dua pucuk saja. Ini akan dibenahi, BNN pusat dalam waktu dekat akan mendistribusikan senjata. Untuk mendukung kinerja BNNP Kepri,” pungkas Ricard. (ska)