Kamis, 7 Mei 2026
Beranda blog Halaman 13823

Kepala Dinas Bina Marga Kota Batam Janji Perbaikan Jalan Tuntas pada 2017

0
Beberapa lubang jalan yang membahayakan penguna jalan terutama penguna motor yang melintas di Jalan Raja Haji Fisabilillah, Batam Center. F.Rezza Herdiyanto/Batam Pos

batampos.co.id – Warga Batam dan calon tamu yang akan datang ke Batam, ketahuilah, Kepala Dinas Bina Marga Kota Batam, Yumasnur berjanji akan menuntaskan perbaikan jalan berlubang di tahun 2017 ini.

Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau, serta Kementerian PU.

“Karena ada jalan provinsi, dan nasional, dan kota,” kata Yumasnur, Selasa (14/2).

Perbaikan jalan rusak ini diharapkan bisa selesai pada akhir tahun 2017 ini. Lokasi jalan juga sudah mulai diperbaiki seperti di jalan menuju bundaran Regata, Batam Center.

Dia menambahkan saat ini kondisi jalan sudah mulai dibenahi, tidak hanya perbaikan, pihaknya juga melakukan pelebaran sebagai salah satu program prioritas tahun ini, selain itu ada juga pengaspalan jalan.

“Bertahap akan kami benahi, ada laporan jalan rusak kami langsung turun,” ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Batam, Rudi telah menginstruksikan kepada dinas terkait untuk memperbaiki jalan yang berlubang, karena bisa mengganggu pengendara jalan.

“Apalagi saat hujan turun, lubang pada jalan akan digenangi air, otomatis bisa membahayakan pengendara. Saya tidak mau dengar aduan dari masyarakat, terutama soal pelayanan. Karena itu saya sampaikan kepada Pak Yu untuk segera menuntaskan masalah ini,” ingat Rudi.

Memang, kualitas jalan di kota Batam dikeluhkan masyarakat. Ada jalan yang tidak rata dan membahayakan pengendara.

Wahyu salah seorang pengendara yang biasa melintasi jalan Raja Fisabilillah atau dari arah Batam Center menuju Sekupang menuturkan perbaikan jalan yang dilakukan dinas terkait belum maksimal.

“Masih bergelombang dan tidak rata. Sering terjadi kecelaakan,” kata dia.

Dia berharap perbaikan yang dilakukan dapat disamakan dengan jalan yang sudah ada.

“Mungkin bisa diperhatikan lagi kualitas jalan. Karena jalan yang tidak merata juga membahayakan, ” ujarnya. (cr17)

Timpora Akan Razia TKA di Kawasan Pariwisata dan Industri

0

batampos.co.id – Imigrasi Kelas I A Tanjungpinang berencana menggelar razia penertiban Tenaga Kerja Asing (TKA) ilegal yang bekerja di Kawasan Industri maupun Pariwisata Bagian Tengah dan Timur Kabupaten Bintan. Razia itu akan dilaksanakan oleh seluruh instansi terkait yang tergabung dalam Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora).

“Kami gunakan sistem pertukaran informasi (Siskarinfo) dalam Timpora. Didapati banyak hotel, villa, resort dan industri di Bintan pekerjakan orang asing secara ilegal. Maka semua kawasan itu harus dirazia,” ujar Kepala Imigrasi Kelas I A Tanjungpinang, Indra Kusuma ketika dikonfirmasi, kemarin.

Kawasan Pariwisata yang jadi target untuk dirazai, kata Indra, seluruh hotel dan resort yang berada di enam kecamatan. Diantaranya Kecamatan Gunung Kijang, Toapaya, Teluk Bintan, Bintan Timur, Mantang dan Bintan Pesisir.

Sedangkan target razia untuk Kawasan Industri, lanjuta Indra, yaitu PT BAI, PT Miti, PT Bintan Offshord, PT Panorama dan beberapa perusahaan tambang lainnya yang beraktivitas di desa-desa Kecamatan Mantang dan Bintan Pesisir.

“Kawasan yang akan dirazia sesuai wilayah kerja kami. Untuk di Bintan hanya enam kecamatan. Maka dalam waktu dekat razia akan dilakukan disana,” jelasnya.

Instansi yang dikerahkan untuk razia, sambung Indra, terdiri dari Kesbangpol Bintan, Disnaker Bintan, Polres Bintan, Kajari Tanjungpinang, Lantamal IV Tanjungpinang, Kodim Bintan, Satpolair Polres Bintan, Lanud, Syahbandar dan KPLP Kijang, dan BIN.

Bagi TKA ilegal yang tertangkap, tegas Indra, akan dideportasi dan dicekal untuk masuk ke Indoensia selama setahun. Sedangkan untuk perusahaan yang mempekerjakan TKA ilegal akan dituntut atau disomasi dan diproses secara hukum di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang. Bahkan perusahaan itu dikenakan denda sampai tindakan penutupan usaha selamanya.

“Seseuai dengan UU Nomor 6 Tahun 2011. Bagi TKA dan perusahaan yang pekerjakan TKA tak mengantongi KITAS dan IMTA akan dikenakan sanksi tegas,” ungkapnya. (ary)

Walikota Batam Tunggu Surat dari BNN terkait Anak Buahnya yang Ditangkap

0

batampos.co.id – Walikota Batam Rudi menyesalkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas di lingkungan Pemerintah Kota (Pemko) Batam yang terlibat Narkoba. Ia meminta PNS yang terlibat narkoba untuk diproses hukum.

Ia mengaku sering mengimbau pegawai Pemko Batam untuk tak terjerumus barang haram tersebut.

“Tiap hari saya imbau, ikuti aturan jangan salahi aturan. Setiap kali apel kami sampaikan, setiap kali pertemuan, saya kira cukup ini,” ucap Rudi, Selasa (14/2) pagi.

Namun sayang, imbauan Rudi tidak sejalan dengan tingkah PNS yang masih saja terbuai narkoba. Menanggapi hal ini, dia menegaskan PNS yang tersandung kasus narkoba akan diserahkan sepenuhnya ke aturan hukum yang berlaku.

Tidak terkecuali PNS Pemko Batam MF yang ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) Kepulauan Riau (Kepri) Sabtu (11/2) lalu sekitar pukul 00.15 WIB. Saat diamankan, petugas mendapati barang bukti seberat 0.06 gram sabu. Diperiksa urine, MF positif mengkonsumsi narkoba.

“Tidak mau (taati aturan) ya diproses. Kalau ada surat dari BNN ditahan kami akan berhentikan sementara, setelah itu kalau ada putus (putusan bersalah) ya  berhenti (dari PNS),” katanya.

Mantan polisi ini menegaskan tak ada kompromi dengan narkoba, apalagi pelakunya adalah pegawai pemerintahan.

“Tak ada kompromi dengan narkoba. Say no to drugs,” ujar Rudi.

Diberitakan sebelumnya, MF diamankan di kawasan Windsor Lubukbaja dan sempat ingin kabur namun petugas berhasil menggagalkan niatnya. Hingga akhirnya, MF dibawa ke kantor BNN Kepri di Nongsa, hingga kini MF sedang dimintai keterangan. (cr13)

Akibat Cuaca Buruk, Lori Timpa Mobil Hingga Ringsek

0

 

batampos.co.id – Cuaca buruk dan gelombang tinggi menjadi penyebab utama terjadinya insiden lori bermuatan penuh BP 9265 TU menimpa sebuah mobil Avanza putih di dalam kapal motor penumpang (KMP) Barau atau kapal Roll on & Roll off (Roro), yang mengakibatkan mobil Avanza tersebut ringsek pada bagian samping kanan dan belakang, Senin (13/2) sore.

“Benar lori terbalik kemarin. Tapi penyebabnya murni karena cuaca buruk. Kondisinya saat itu gelombang laut tinggi, sehingga keseimbangan mobil tak terjaga, dan akhirnya tali pengkait yang terpasang di lori itu terputus dan langsung terbalik ke samping, kemudian menimpa mobil disebelahnya,” terang Supervisi ASDP Tanjunguban, Hariyanto, di Pelabuhan penyebrangan Roro ASDP, Selasa (14/2).

Hariyanto menuturkan insiden tersebut terjadi sekitar pukul 17.00 WIB, saat kapal sedang berada di perjalanan dari Pelabuhan ASDP Telaga Punggur Batam, menuju Pelabuhan ASDP Tanjunguban.

“Begitu kapal bersandar disini (Pelabuhan ASDP Tangjunguban, red), lori serta mobil Avanza itu langsung dievakuasi petugas pelabuhan. Tidak ada penumpang yang terluka, hanya mobil yang rusak akan ditanggung penuh oleh asuransi,” jelasnya.

Meskipun insiden tersebut terjadi disebabkan cuaca buruk yang memang sering terjadi akhir pekan ini, namun Pelabuhan ASDP Tanjunguban masih tetap beroperasi melayani penumpang melakukan aktivitas penyebrangan ke Batam dan sebaliknya.

“Aktivitas penyeberangan masih tetap berjalan normal dan belum ada peringatan dari BMKG, terkait pelarangan untuk beroperasi karena cuaca sedang buruk,” imbuhnya.

Pantauan Batam Pos, terlihat aktivitas penyeberangan di Pelabuhan ASDP Tanjunguban masih normal. Sejumlah penumpang, baik motor dan mobil mengantri menunggu kapal Roro yang akan bersandar. (cr20)

Refleksi Dua Tahun SWRO di Tanjungpinang Tak Berfungsi

0

 

batampos.co.id – Tujuan pembangunan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun lain halnya dengan pembangunan Infrastruktur Sea Water Riverse Osmosis (SWRO) Tanjungpinang dengan kapasitas 50 liter perdetik. Selasa (14/2) kemarin, genap dua tahun keberadaan SWRO di Tanjungpinang. Meskipun kokoh berdiri, tetapi kenyataanya SWRO itu tidak berfungsi.

Tanpa terasa, kini dua tahun sudah infrastruktur tersebut selesai dibangun. Yakni terhitung dari 14 Februari 2014 sampai 14 Februari 2017. Gedung megah yang dicat warna putih dan biru tersebut seperti tidak terurus. Cat-cat yang nempel dinding sudah mulai usang, bahkan ada bagian-bagian yang sudah terkelupas warnanya.

Meskipun ada petugas yang dipercaya untuk menjaga, bangunan yang berada di belakang Lantamal IV Tanjungpinang tersebut semakin memprihatinkan. Pipa-pipa utama juga sudah mulai berkarat. Begitu juga infrastruktur pendukung yang ada di dalam bangunan tersebut.

Tumbuhan-tumbuhan liar juga sudah memenuhi sekeliling area Gedung SWRO. Boleh dikatakan Gedung SWRO yang dibentengi dengan pagar-pagar beton tersebut seperti menjadi sarangnya nyamuk untuk berkembang biak. Apabila semakin dibiarkan, kondisinya semakin memprihatinkan.

Dari catatan Batam Pos, lahirnya gagasan pembangunan proyek strategis tersebut, karena Pemerintah Pusat melihat Kepri merupakan daerah strategis. Sehingga menjadi tempat yang ideal untuk dilakukan pembangunan proyek percontohan nasional berbasis teknologi. Yakni infrastruktur pengelolaan air laut menjadi layak konsumsi.

Kenapa, Tanjungpinang menjadi daerah yang dipilih? Karena selain sebagai Ibu Kota Provinsi Kepri, persoalan air bersih sering merepotkan masyarakat. Atas dasar itu, Pemerintah Provinsi Kepri bersedia menerima pembangunan percontohan tersebut. Hadirnya, SWRO memang diharapkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat Ibu Kota Provinsi Kepri, Tanjungpinang. Khususnya bagi masyarakat yang tinggal dikawasan Kota Lama dan kawasan pelantar. Karena terbatasnya kemampuan produksi PDAM Tirta Kepri.

Anggota Komisi II DPRD Kepri, Rudy Chua dari Dapil Tanjungpinang, mengaku mengikuti perjalanan pembangunan proyek percontohan tersebut. Diceritakannya, pembangunan SWRO adalah tantangan dari Direktur Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kemenpu pada waktu itu, Dani Sutjiono mengatakan, Kepri daerah yang berbatasan dengan negara-negara maju, harus berkembang dalam pengelolaan teknologi.

“Wacana itu munculnya tahun 2011 akhir. Seperti gayung bersambut, akhirnya Pemprov Kepri bersedia untuk menerima infrastruktur tersebut,” tutur Rudy Chua menjawab pertanyaan Batam Pos, kemarin.

Persoalan lokasi menjadi masalah yang dihadapi Pemerintah Daerah saat itu. Di tahun 2012 ada beberapa tempat yang disurvei, yakni Pinang Marina, Kampung Bugis, dan Kantor Walikota Lama di jalan Agus Salim, dengan melakukan penelitian dan berbagai pertimbangan, lokasi terakhir menjadi lokus (tempat,red) pembangunan SWRO.

Seiring berjalannya waktu, tahun 2013 terjadi pergantian kemimpinan di lingkungan Pemko Tanjungpinang, dari Suryatati A Manan ke Lis Darmansyah. Pada waktu itu, Lis tidak bersedia Kantor Walikota Lama dijadikan tempat pembangunan SWRO. Ada dua lokasi yang diteliti, yakni area Kedai Kopi Pantai sebelah Mako Lantamal IV dan di lokasi SWRO saat ini yakni jalan Yos Sudarso Batu Hitam.

“Setujunya pihak Lantamal untuk pinjam pakai lahan, tentunya tidak lepas dari lobi-lobi yang dilakukan almarhum HM Sani,” beber Rudy.

Politisi Partai Hanura tersebut, karena sudah adanya kata sepakat, maka dibuatlah MoU dan Perjanjian Kerjasama (PKS). Adapun tugas Pemko Tanjungpinang adalah sebagai penyedia lahan, pemasangan listrik, kemudian penyediaan lahan pengganti. Lewat APBN 2013, Pemerintah Pusat menyiapkan anggaran sebesar Rp49 miliar.

Dari hasil lelang, proyek tersebut dimenangkan oleh PT Artha Envirotama. Pekerjaan tersebut juga disejalankan dengan pemasangan pipa sampai di depan Gedung Daerah Tanjupinang. Karena rencana awalnya adalah disambungkan dengan pipa eksisting milik PDAM.

“Pembangunan dimulai pada Juli 2013 dan ditargetkan rampung Desember tahun yang sama. Kenyataan, baru bisa diselesaikan 14 Februari 2014,” jelas Rudy.

Sambil mengingat-ingat, Rudy menyebutkan, khusus untuk pekerjaan pipa, tidak memungkinkan untuk menggunaan SWRO. Karena adanya selesih harga yang cukup jauh dengan tarif PDAM. Akhirnya diputuskan, bahwa SWRO menggunakan pipa tersendiri.

Setelah pembangunan infrastruktur selesai dilakukan, masalah barupun muncul. Yakni menyangkut penyediaan listrik. Pada tahun 2014 Pemko yang mendapat tugas sebagai penyedia listrik tidak menyiapkan anggaran. Sementara PLN menginginkan tarif yang digunakan adalah tarif premium.

“Setelah listrik terpasang, SWRO juga belum bisa difungsikan. Karena kemampuan listrik Tanjugpinang tidak mendukung. Soalnya untuk operasional SWRO membutuhan 1,2 MW,” ungkap Rudy.

Ditahun 2015 pembangunan SWRO dilanjutkan dengan pemasangan pipa primer dan skunder serta meteran secara simultan. Karena mengejar target untuk 4.000 sambungan. Pada perjalannya hanya bisa mampu terpasang 2.845 meteran. Selanjutnya 2016, Pemprov Kepri juga menganggarkan sekitar Rp1 miliar untuk pemasangan 750 meteran lagi.

“Rencana tersebut gagal, karena pada perjalannya keuangan daerah mengalami defisit anggaran. Secara keseluruhan memang sudah menghabiskan anggaran sekitar Rp97 miliar,” sebut Rudy.

Tokoh etnis Tionghoa itu juga mengatakan, dilantiknya Gubernur Sani pada Februari 2016 lalu, langsung melakukan evaluasi terkait kondisi listrik dan air. SWRO menjadi salah satu perhatian yang harus diselesaikan. Akhirnya Gubernur membuat surat meminta dukungan operasional SWRO selama enam bulan.

“Saat itu, tidak ada jawaban secara resmi. Pusat hanya bisa membantu untuk satu bulan operasional saja. Tetapi akhir Januari lalu, pusat menyatakan bersedia menanggung biaya operasional selama enam bulan. Semoga ini kabar baik,” tutup Rudy.

Wakil Ketua DPRD Kota Tanjungpinang, Ade Angga mendesak Gubernur Kepri, Nurdin Basirun segera bertindak. Sehingga infrastruktur yang sudah ada, bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Ia melihat SWRO ini merupakan pembangunan strategis bagi masyarakat Tanjungpinang. Karena fungsinya adalah untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih, khususnya bagi di kawasan pelantar.

Menurut Politisi Partai Golkar tersebut, memang sampai saat ini proses serahterima pengelolaan masih belum dilakukan. Meskipun Pemko Tanjungpinang sudah menyatakan kesiapan untuk mengelola SWRO ini. Karena harus melalui perantara Pemprov Kepri. Masih kata Angga, lokusnya adalah Tanjungpinang, dan manfaatnya juga untuk masyarakat Tanjungpinang. Atas dasar itu, pihaknya sebagai wakil rakyat punya tanggungjawab untuk mendorong pemanfaatan SWRO dengan segera.

“Infrastruktur ini sudah selesai dibangun dua tahun yang lalu, tetapi manfaatnya belum bisa dinikmati. Padahal sudah Rp97 miliar dana APBN dan APBD yang terpakai untuk pembangunan strategis ini. Tentu anggaran tersebut berasal dari jerih payah rakyat,” papar Angga.

Pria yang duduk sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Tanjungpinang tersebut juga mengatakan, dana rakyat yang sudah dikeluarkan tersebut sangat fantastis. Dipaparkan Angga, persoalan tarif masih bisa dikesampingkan dulu. Karena ini menyangkut dengan kebutuhan masyarakat banyak, apalagi bagi masyarakat Tanjungpinang yang bermukim di kawasan pelantar.

“Jika kita hitung-hitungan tarif SWRO yang nilanya Rp19,500 perliter kubik. Maka untuk satu kubik bisa mendapatkan lima (5) drum air bersih. Sedangkan membeli air dengan mobil tangki untuk ukuran 1.000 liter atau ukuran yang sama, minimal harus mengeluarkan Rp70 ribu sampai Rp80 ribu,” jelas Angga.

Lebih lanjut, lulusan Universitas Negeri Riau (UNRI) tersebut menjelaskan, memang tarif SWRO yang dipersoalkan kedengarannya mahal, tapi coba kalkulasikan berapa kesulitan warga di sepanjang pesisir selama ini dalam memperoleh air bersih. Bahkan warga rela membeli air bersih dengan menggunakan bot dan mobil tangki. Selain harganya mahal, kualitasnya juga masih diragukan.

“Jika fasilitas publik terus dibiarkan mangkrak seperti ini, maka sebenarnya kita sedang membiarkan kekejaman berlangsung. Tujuan utama pembangunan adalah untuk kesejahteraan rakyat. Jangan Sampai menjadi temuan,” tegas Angga.

Dikatakannya juga, kapasitas produksi SWRO adalah 50 liter perdetik dan mampu memenuhi kebutuhan air bersih bagi 4.000 pelanggan. Hadirnya SWRO memberikan alternatif bagi masyarakat sudah tersambung pipa PDAM Tirta Kepri. Sehingga kapasitasnya bisa bertambah menjadi 8.000 pelanggan. Bahkan sampai saat ini, sudah ada 2.845 meteran yang sudah terpasang dirumah-rumah warga.

“Jumlah ini tentunya adalah pasarnya SWRO. Artinya tingginya harapan masyarakat yang ingin mendapatkan pelayanan dari SWRO ini. Kita sangat yakin, SWRO akan memberikan manfaatkan apabila sudah difungsikan,” tegasnya lagi.

Ditambahkan Angga, sidak yang dilakukan pihaknya belum lama ini juga untuk melihat kondisi sebenar SWRO. Pada penilainnya secara fisik memang terawat, satu pekan sekali dilakukan running. Diakuinya, kedatangan mereka sedikit kurang beruntung, karena pejaga SWRO sedang tidak dilokasi. Sehingga tidak bisa mendengar SWRO dalam keadaan produksi.

“Kita juga tidak ingin SWRO diserahkan ke Pemko Tanjungpinang nanti dalam keadaan bermasalah. Seperti kerusakan pada mesin dan sebagainya. Ini yang ingin kita pastikan,” tutup Angga.

Pemerintah Provinsi Kepri akan mendukung langkah Pemko Tanjungpinang yang ingin mengelola infrastruktur Sea Water Riverse Osmosis (SWRO) Tanjungpinang. Penegasan tersebut disampaikan langsung Gubernur Kepri, Nurdin Basirun, Selasa (7/2) di Kantor Gubernur Kepri, Dompak, Tanjungpinang.

“Kita sudah menugaskan Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperkim) Provinsi Kepri untuk mengurus proses serahterima kelola SWRO dari Pemerintah Pusat ke Pemprov Kepri,” ujar Gubernur Nurdin.

Dikatakannya, apa yang menjadi keberatan awal bagi pihaknya adalah menyangkut persoalan tarif air SWRO. Namun demikian, apabila Pemko Tanjungpinang sudah bisa menyimpulkan harga tersebut masih dalam batas kewajaran, tentu Pemprov Kepri akan sangat mendukung langkah Pemko Tanjungpinang untuk mengelola SWRO tersebut.

“Apalagi Pemko juga sudah membuat formulasi-formulasi pengelolaan air SWRO. Seperti menggunakan sistem subsidi silang,” papar Mantan Bupati Kabupaten Karimun itu.

Ditanya sejauh mana progres untuk proses serahterima ini, Nurdin mengaku belum mendapatkan laporan dari Disperkim Provinsi Kepri. Nurdin juga menegaskan, Pemprov Kepri juga tidak tinggal diam, apabila dalam perjalanan nanti, Pemko Tanjungpinang mengalami kendala-kendala dalam mengelola SWRO. Diakuinya, air merupakan bagian dari kesejahteraan masyarakat.

“Syukur Alhamdulillah kalau memang benar Pemerintah Pusat akan menanggung biaya operasional SWRO untuk enam bulan pertama. Dari kesempatan yang ada ini, daerah bisa belajar mengelola tentang kebutuhan produksi dan biaya operasionalnya,” tutup Nurdin.

Pemko Ngotot Ingin Kelola SWRO

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang ngotot untuk mengelola proyek percontohan nasional, Sea Water Riverse Osmosis (SWRO) Tanjungpinang. Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah mengatakan masyarakat sangat berharap infrastruktur yang sudah ada segera memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Kita tentunya sangat tidak menginginkan, infrastruktur yang suadah terbiarkan. Padahal sangat berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah.

Menurut Lis, lokus pembangunan SWRO adalah Tanjungpinang. Tentu manfaatnya juga akan dibagikan kepada masyarakat yang ada di Tanjungpinang. Meskipun dengan kapasitas terbatas, tetap bisa membantu Pemerintah dalam memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat di Tanjungpinang. Khususnya bagi mereka yang tinggal didaerah pesesir. Seperti di kawasan pelantar I, II dan III.

Dikatakan Lis, terkait permasalahan SWRO ini, Pemko Tanjungpinang justru sangat menginginkan SWRO segera di gunakan. Berangkat dari keinginan tersebut,Pemko berinisiatif meminta kepada Kementerian Pekerjaan Umum (Kemenpu) Direktur Sumber Daya Air, supaya pengelolaanya diberikan kepada Pemko Tanjungpinang. Apakah melalui Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) atau melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Masih kata Lis, terkait masalah penyerahan aset tidak serta merta bisa langsung di serahkan. Karena harus melalui tahapan dan proses yang tentu memakan waktu. Bagi Lis, yang terpenting adalah penyerahan operasional SWRO kepada Pemko Tanjungpinang. Ditegaskannya, bukti kesiapan Pemko untuk menerima dengan di tandatanganinya kesiapan Pemko menerima pengelolaan operasional.

“Saya yakin dan percaya SWRO ini dapat kita kelola dengan baik. Meskipun nantinya SWRO ini tentu lebih tinggi tarifnya, dari air PDAM. Tetapi sesuai dengan kualitas yang disuguhkan,” tutup Lis.

Warga Berharap Cepat Dioperasikan

Sasaran pembangunan SWRO adalah masyarakat-masyarakat yang tinggal di kawasan Pelantar, khususnya didaerah kota lama. Ketua RW 3 di kawasan Pelantar III, Ayu mengatakan kesulitan mendapatkan air bersih terparah yang pernah dirasakannya dua tahun silam. Di tahun itulah Tanjungpinang mengalami kemarau terpanjang sejak 1988

Rumahnya yang berada jauh dari jalan besar membuatnya kesulitan untuk membeli air dari lori penjual air. Sementara untuk membeli air dari pompong air pun bukanlah hal yang mudah. Utamanya jika laut tengah surut jauh, yang mana seringkali terjadi sepanjang musim kemarau.

“Sebenarnya untuk keseharian kami mengandalkan air PDAM. Tapi kalau sempat kemarau, aduuuh… ini tak bisa lagi diandalkan,” keluh Ayu.

Sulitnya akses dan mahalnya harga air tangki, membuat warga pelantar tak lagi menjadikannya sebagai solusi. Maka, ketika dibuka pendaftaran pemasangan meteran instalasi air bersih hasil penyulingan dari air laut atau yang akrab disebut Sea Water Reserve Osmosis (SWRO) akhir tahun lalu, terjadi pembludakan pendaftaran. Ayu berkisah, ia dan warganya merasa inilah solusi permanen atas kekhawatiran mereka akan ketersediaan air bersih ketika musim kemarau tiba.

“Untuk di wilayah Pelantar III sudah seratus persen yang mendaftar. Lebih dari 100 meteran di sini sudah terpasang. Kami tertarik karena SWRO bisa jadi kemudahan kami untuk dapat air pada musim kemarau,” terang Ayu.(Jailani)

Tim WFQR Amankan Kapal Penyelundup Bawang Merah

0
Komandan Lantamal IV Tanjungpinang Laksma TNI S Irawan, melihat bawang merah dan buahan yang hendak di selundupkan di kapal KM Rizky Indah. F Batam Pos

batampos.co.id – Tim WFQR Lantamal IV Tanjungpinang kembali menggagalkan upaya penyelundupan. Kali ini upaya penyelundupan bawang merah dan buah-buahan ilegal, yang dibawa kapal KM Rizky Indah dari Malaysia, di perairan Selat Dempo, Pulau Galang, Senin (13/2) lalu.

Penangkapan yang dilakukan tim WFQR bukanlah suatu kebetulan. Sebab, kapal tersebut telah menjadi target operasi karena disinyalir telah berulang kali melakukan tindakan illegal berupa penyelundupan barang dari luar negeri.

Komandan Lantamal IV Laksamana Pertama (Laksma) TNI S Irawan mengatakan kapal berbendera Indonesia tersebut dinakhodai oleh AR bersama dua orang ABK dengan tujuan Dabo Singkep, Kabupaten Lingga.

“Dari hasil pemeriksaan sementara, kapal tersebut bermuatan 600 karung kurang lebih beratnya 15 ribu kilogram dan 50 karung buah-buahan yang tidak dilengkapi dokumen manifest muatan kapal. Selain itu, Surat Pemberitahuan Berlayar yang ditunjukkan oleh kapten kapal tidak sesuai,ujar Irawan, Selasa (14/2).

Dikatakan Irawan, modus yang digunakan oleh pelaku penyelundupan Bawang dan buah-buahan ini. Sama dengan yang dilakukan pelaku lainnya. Yakni membawa barang dari luar negeri masuk ke Batam terlebih dulu baru didistribusikan ke daerah lainnya.

“Selanjutnya dengan memanfaatkan cuaca buruk yang akhir-akhir ini terjadi di perairan Kepri. Mereka mencoba mencari kelengahan petugas untuk membawa barang selundupan ke berbagai daerah dengan menggunakan kapal dengan tonase yang lebih kecil,”ucap jenderal Bintang Satu itu.

Akibat yang ditimbulkan dari ulah para penyelundup ini, terang Irawan, apabila diakumulasikan jelas-jelas Negara mengalami kerugian yang signifikan. Mereka sengaja berusaha menghindari pajak hanya demi keuntungan segelintir orang dan mengorbankan kepentingan umum.

“Apabila hal ini tidak diberantas. Kegiatan ini akan merusak sendi-sendi perekonomian masyarakat lokal yang tentunya akan berimbas terhadap perekonomian nasional. Untuk itu, TNI AL pada umumnya dan Lantamal IV melalui tim WFQR akan terus memburu para pelaku penyelundup barang illegal dari luar negeri sampai ke akar-akarnya,” tegas mantan Komandan Satuan Komando Pasukan Katak.

Saat ini, sambung Irawan, kapal beserta muatannya akan ditempatkan di dermaga Yos Sudarso, guna proses hukum lebih lanjut.

“Kami juga akan berkoordinasi dengan pihak yang memiliki kewenangan untuk penanganan perkara itu,”pungkas Irawan.(ias)

KKJTJ Desak Pemprov Tuntaskan Jembatan Dompak

0
Sejumlah pengendara melintas di Jembatan I Dompak, Selasa (14/2). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Komisi Keselamatan Jalan Terowongan dan Jembatan (KKJTJ) mendesak Pemprov Kepri segera menuntaskan pembangunan Jembatan I Dompak, Tanjungpinang. Sebagai persyaratan infrastruktur tersebut mendapatkan sertifikasi kelaikan dari KKJTJ.

“Meskipun Jembatan I Dompak sudah selesai dibangun, tetapi banyak infrastruktur pendukung yang harus segera dikerjakan lewat APBD 2017 ini,” ujar Kepala Bidang Bina, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Kepri, Hendrija di Tanjungpinang, Selasa (14/2).

Hendrija menyebutkan, KKJTJ sudah memberikan beberapa rekomendasi yang harus segera dilakukan. Yakni, pengaspalan jalan, marka jalan, penerangan jalan, dan pengamanan jogging track di area bawah Jembatan. Menurut Hendrija, sebelum selesainya pekerjaan tersebut, KKJTJ belum bisa melakukan uji kelaikan atau tes beban, terhadap kekuatan konstruksi Jembatan I Dompak.

“Secara internal kami sudah melakukan uji beban, sebelum Jembatan Dompak dibuka. Artinya kualitas yang ada sudah teruji. Tetapi masih perlu dilakukan pengujian secara resmi,” paparnya.

Mantan Kabid Sumber Daya Air (SDA) tersebut menyebutkan, untuk menuntaskan Pembangunan Jembatan I Dompak, Pemprov Kepri melalui PU Kepri sudah mengalokasikan anggaran sekitar Rp 11,5 miliar. Secara keseluruhan membutuhkan anggaran hampir Rp 26 miliar.

“Apa yang kami kejar sekarang ini adalah mendapatkan sertifikasi kelaikan dari KKJTJ. Apalagi dalam pekerjaan mengalami banyak rintangan dan kendala. Tentu perlu penegasan tentang kelaikan Jembatan tersebut,” tegas Hendrija.

Lebih lanjut katanya, PU juga sudah berencana untuk membangun posko-posko pengamanan dikedua sisi Jembatan. Baik itu untuk wilayah Dompak maupun Tanjungpinang. Selain penyelesaian lanjutan, Dinas PU Kepri juga sudah merancang untuk membangunan pintu gerbang menuju Jembatan I Dompak.

“Jembatan I Dompak ini merupakan jalur utama menuju Pusat Pemerintahan Provinsi Kepri. Tentu harus dirancang elegan,” tutup Hendrija.

Seperti diketahui, Jembatan I Dompak yang sudah menelan anggaran daerah sebesar Rp 312 miliar tersebut, digunakan secara resmi pada 29 November 2016 lalu. Jembatan tersebut juga diusulkan untuk disematkan nama HM. Sani, sebagai dedikasi atas pengabdiannya dalam membangunan Provinsi Kepri.(jpg)

Supir Bus Tangkap Copet dengan Pintu Otomatis Bus

0
Ilustrasi (David Prasetyo/Jawa Pos)

Ini kejadian unik di Bogota, Kolombia,.

Seorang supir bus berhasil meringkus pencopet yang ”mampir” di kendaraannya.

Caranya agak kurang umum. Dia menjepit pencopet di pintu otomatis bus dan menggiring si pelaku ke kantor polisi. Peristiwa itu terjadi awal pekan ini.

Petugas Kepolisian Bogota Diego Vasquez mengungkapkan, aksi sopir yang enggan disebutkan namanya tersebut berawal saat seorang penumpang perempuan berteriak. Penyebabnya, smartphone-nya disikat pelaku. Karena panik, pelaku langsung kabur. Untung, sang sopir lebih sigap.

”Ketika pelaku berjalan turun, sopir langsung menutup pintu otomatis. Dia membawa bus putar balik dan menghubungi pos polisi terdekat,” kata Vasquez.

Posisi si pencopet saat tertangkap kurang enak.

”Pintu menjepit pas di daerah betis sehingga kakinya terayun di luar bus,” ujar Vasquez. ”Drama” pun terjadi di sepanjang jalan. Para pengguna jalan lain berusaha menarik si pelaku. Mereka mengira pelaku adalah penumpang apes. Sementara itu, penumpang di dalam bus berteriak-teriak agar pelaku tidak ditolong. Beberapa pengguna jalan pun merekam adegan tersebut.

”Diarak” setengah badan jadi hukuman pendahuluan bagi si pencopet. Dia sejatinya terancam hukuman tambahan jika kasus tersebut dibawa ke meja hijau. ”Korban tidak menuntut, hanya minta ponselnya dikembalikan. Jadi, ya kami bebaskan,” papar Vasquez.

Ya, di mana-mana, paling aman memang mencuri hati. Apalagi suasana Valentine begini…. #eh. (Metro/fam/c10/ca)

Harga Ikan Tongkol Melambung Jadi Rp100 Ribu

0

batampos.co.id – Cuaca esktrim di perairan Natuna, menyebabkan harga ikan segar jenis tongkol meroket.

Harga ikan tongkol di pasar tradisional Ranai Natuna saat ini meroket tajam. Dan membuat warga jantungan. Pasalnya harga biasa sebelumnya hanya kisaran Rp 20 ribu per ekor, kini melambung tinggi menjadi Rp 100 ribu per ekor dijual pedagang.

Tingginya harga ikan tongkol yang menjadi menu hidangan warga Natuna ini diduga disebabkan cuaca ekstrim sejak dua hari terakhir di perairan Natuna.

Mery, 35, warga Ranai mengaku, harga ikan tongkol di pasar tradisional sudah kelewat batas. Sebelumnya masih Rp 50 ribu per ekor, tetapi selang satu hari sudah naik lagi jadi Rp 100 per ekor.

“Aduh, tadi pagi saya hampir saja jantungan di pasar, harga ikan tongkol sampai Rp 100 ribu seekor, mahal betul, mudah-mudahan kondisi tidak lama,” ungkapnya, Selasa (14/2).

Mahalnya harga ikan tongkol di pasar tradisional Ranai ini diakui pedagang, disebabkan ketersediaan ikan seger terbatas dari nelayan. Namun hal ini diduga permainan pedagang. Menurut seorang nelayan di Ranai, ditingkat nelayan paling mahal dijual sekitar Rp 50 per ekor untuk ikan ukuran besar.

Sementara pada hari biasa dengan cuaca mendukung tidak ekstrim, ditingkat nelayan dijual dengan harga kisaran Rp 15 ribu per ekor. Namun ditingkat pedagang, harga ikan dijual kisaran Rp 25 ribu per ekor.

“Kalau sekarang Rp 100 ribu per ekor, sudah jelas permainan ditingkat pedagang atau penampung. Karena ditingkat nelayan, paling tinggi harganya Rp 50 ribu per ekor,” ujar nelayan di Ranai.(arn)

Nelayan Vietnam Mendominasi Curi Ikan di Natuna

0

batampos.co.id – Komandan Lanal Ranai Letkol Laut (P) Tony Herdijanto mengungkap, pelanggaran hukum di laut Natuna masih sering terjadi, meski saat ini intensitasnya menurun dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Baru-baru ini katanya, Lanal Ranai kembali memproses hukum lima kapal ikan nelayan asing yang melakukan ilegal fishing di ZEEI perairan Natuna. Ke lima kapal ikan nelayan asing berbendara Vietnam ditangkap KRI Oswald Siahaan 354 yang sedang melaksanakan patroli satgas Operasi Prasama Udhayani 2017 gugus tempur Koarmabar pada Rabu (8/2) kemarin.

Lima kapal ikan asing ini tertangkap basah sedang melakukan penangkapan ikan secara ilegal dan menggunakan jaring trawl diwilayah pengolahan perikanan RI. Saat ini lima kapal ikan asing diamankan di Posal Sabang Mawang beserta 34 ABK warga Vietnam dan nakhoda diamankan di Lanal Ranai.

“Memang untuk intensitas pelanggaran hukum dilaut khususnya ilegal fishing menurun, tetapi itu masih ada. Sejak tahun 2016 lalu, kapal ikan nelayan Vietnam mendominasi tangkapan KRI yang diproses di Lanal Ranai,” kata Danlanal saat coffe morning bersama awak media di Mako Lanal Ranai, Selasa (14/2).

Dikatakan Tony, terdapat faktor nelayan Vietnam masih ramai melakukan ilegal fishing di laut Natuna. Diantaranya kondisi laut mereka sudah tercemar. Selain itu, jarak laut Vietnam dan Natuna cukup dekat, sekitar 200 hingga 300 mil. Bahkan saat ini masih terdapat sengketa yang belum selesai.

Dikatakan Danlanal, selain lima kapal ikan asing yang ditangkap saat ini, terdapat 24 kapal ikan asing berbendera Vietnam yang diamankan sebelumnya. Terdapat 13 kapal sudah mendapat putusan pemusnahan oleh Pengadilan Negeri Natuna. Serta terdapat 60 ABK non justisial yang akan dideportasi ke negara asal.

“Untuk penenggelaman 13 kapal ikan asing ini masih tentatif, rencananya awal Maret mendatang,” kata Tony.

Dikatakan Tony, intensitas pelanggaran hukum oleh kapal ikan nelayan asing di perairan Natuna sejak tahun 2016 lalu cenderung menurun. Efek dari frekuensi operasi yang cukup tinggi disepanjang tahun di perairan Natuna.

Bahkan saat ini sambung Tony, saat ini tidak lagi terdeteksi kapal ikan nelayan Cina dibantu Coast Guad yang masuk wilayah perairan Natuna oleh KRI. Hal ini setelah Cina kalah dalam putusan sengketa perebutan batas wilayah dengan Pilipina.

“Dua tiga bulan ini nelayan Cina dan coast guad tidak terdeteksi masuk perairan Natuna. Sepertinya mereka membatasi diri. KRI dari Koarmabar sepanjang tahun meningkatkan frekusnsi operasi yang bervariasi,” sebut Tony.(arn)