batampos.co.id – Lapak para pedagang di halte Tembesi, Kota Batam akan segera ditertibkan oleh Dinas Perhubungan.
Hal itu dikarenakan sangat menganggu aktivitas naik dan turunnya penumpang di halte tersebut. Kepala Dinas Perhubungan Kota Batam, Rustam Efendi, mengatakan, dirinya sudah banyak mendapatkan laporan keluhan pengguna jasa Bus Trans Batam di Halte Tembesi tersebut.
Menurut aturan halte bus Trans Batam tidak bisa dijadikan tempat jualan apalagi dialih fungsikan.
“Jelas berdagang di halte itu dilarang, sebab menyangkut kenyamanan,” ujarnya saat dikonfimasi Batam Pos, Senin (12/8/2019).
“Hari ini anggota sudah turun meninjau lokasi tersebut,” kata Rustam lagi.
Lapak pedagang yang berada di halte Tembesi Kota Batam ini sangat menganggu aktivitas naik tutunnya penumpang dari bus Trans Batam. Foto: Azis Maulana/batampos.co.id
Kata dia, untuk pengawasan dan penertiban kedepan langkah yang dilalukan adalah berkoordinasi dengan camat Sagulung dan Lurah Tembesi terkait penertiban.
“Kita akan ajukan surat peringatan ke pedagang, untuk lebih lanjut kita koordinasi dengan kecamatan untuk pendekatan secara persuasif,”jelasnya.
Halte bus trans Batam, yang juga berada di Tembesi, merupakan jalur menuju pariwisata.
“Dari aspek sarana transportasi terus kita perbaiki. Dan terus didukung dengan fasilitas halte yang ada ,” kata Rustam.
Dia juga menjelaskan, wisatawan manca negara yang datang ke Batam dan hendak ke jembatan Barelang wajib melintas dari Tembesi.
“Jadi kalau ada halte yang kumuh dan terkesan tidak layak, bagamana nanti kesannya bagi para wisatawan,” pungkasnya.
Kasi Trantib Sagulung, Jamil, mengatakan sejauh ini untuk tebusan surat peringatan belum ada, namun pihaknya segera berkoordinasi dengan lurah dan juga pedagang sekitar.
“Iya laporan belum saya terima, tapi kami coba koordinasi lagi dengan pendekatan secara persuasif, sebab disitu lapak dipergunakan memang sudah melanggar aturan”singkatnya.(cr1)
batampos.co.id – Tumpukan limbah yang jumlahnya ratusan karung dan dibuang di bibir pantai Taman Yasmin Kebun mendapat sorotan dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam, Herman Rozie.
Ia mengaku kaget dan baru mendengar adanya tumpukan limbah yang dikemas dalam ratusan karung goni dan membuat kawasan pantai tak ubahnya seperti tempat pembuangan akhir di Punggur.
“Kami sesegera mungkin akan turun langsung sidak limbah tersebut,” ujarnya, Selasa (13/8/2019).
Kalaupun hal tersebut benar ada, lanjutnya, hal itu merupakan temuan yang kesekian kalinya setelah sebelumnya ditemukan juga di kawasan Batuaji.
Tumpukan limbah yang berada di Taman Yasmin Kebun Batam Kota. Foto: Galih/batampos.co.id
“Kami dari DLH Batam tak akan mentolerir keberadaan limbah plastik yang ditimbun di tempat terbuka,” ujarnya.
Apalagi kata dia, tumpukan limbah itu berada dekat pemukiman warga seperti di Taman Yasmin Kebun.
“Kami minta pemiliknya untuk memusnahkannya, apapun jenisnya yang namanya limbah plastik itu tetap tak boleh dibuang di sembarang tempat,” terang Herman Rozie.
Salah satu pengiat lingkungan Kota Batam yang enggan namanya disebutkan, kepada Batam Pos mengatakan, keberadaan ratusan karung limbah di kawasan Pantai Taman Yasmin Kebun sangat meresahkan masyarakat sekitar.
Dia mengatakan, armada pengangkutan sampah Kecamatan Batam Kota tidak melayani wilayah pemakaman, melainkan hanya di permukiman warga.
Ilustrasi. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id
”Nanti saya akan koordinasi juga dengan dinas terkait,” katanya.
Sementara sampah-sampah tersebut memang terlihat menumpuk di Pemakaman Sungai Panas.
Bahkan, tumpukan sampah itu juga dibakar oleh warga. Padahal, sesuai Perda Kota Batam Nomor 11 Tahun 2013 tentang Persampahan, setiap orang dilarang membakar sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah.
Selain itu setiap orang dilarang membakar sampah selain yang dihasilkan oleh rumah tangga yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah.
”Memang enggak boleh (dibakar),” ucapnya.
Hal yang sama juga dikatakan Kepala Bidang Persampahan DLH Batam, Faisal. Ia menyebutkan jika masyarakat dilarang untuk membakar sampah.
”Seharusnya warga tidak boleh membakar sampah. Itu sudah ada perdanya,” kata Faisal belum lama ini.(une)
batampos.co.id – Upaya Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat untuk memperjuangkan “Bebas Pajak bagi Pengetahuan” (No Tax for Knowledge) kembali kandas di tangan Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati.
Dari rilis yang diterima batampos.co.id, melalui surat tertanggal 7 Agustus 2019, Sri Mulyani merespons negatif permohonan Pengurus SPS Pusat untuk mendiskusikan ikhwal No Tax for Knowledge di atas.
“Kami dengan menyesal belum bisa memenuhi permohonan pengurus SPS Pusat untuk bertemu Menteri Keuangan,” bunyi kutipan surat yang ditandatangani Nufransa Wira Sakti, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, tanpa ada penjelasan memadai.
Untuk diketahui, Pengurus SPS Pusat pada tanggal 9 Juli 2019 berkorespondensi dengan Menkeu, guna mencari momentum mendiskusikan isu No Tax for Knowledge.
Upaya ini adalah tindak lanjut dari saran Wakil Presiden Jusuf Kalla saat pengurus SPS Pusat beraudiensi dengannya di Kantor Wapres Jalan Merdeka Utara, Jakarta, pada 18 Maret 2019 lalu.
Jauh sebelumnya Pengurus SPS Pusat pernah bertemu dengan Sri Mulyani tahun 2008, ketika menjabat Menkeu di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saat itu, Menkeu menolak usulan No Tax for Knowledge SPS.
“No Tax for Knowledge” pada hakikatnya merupakan sebuah perjuangan para penerbit media cetak guna mendapatkan keringanan terhadap pajak pembelian kertas dan penjualan produknya.
Hal yang sama telah dikenyam oleh penerbit buku di Tanah Air, yang memperoleh insentif atas pajak penjualan buku. Perjuangan ini tentu punya dasar yang kuat.
Sebagai satu-satunya asosiasi penerbit pers cetak di Indonesia yang beranggotakan 450 penerbit, SPS meyakini, pemberian insentif atas pembelian kertas koran dan penjualan media cetak, tidak akan membuat pundi-pundi keuangan Negara tergerus.
“Justru melalui insentif tersebut, akan mengundang minat baca masyarakat semakin tinggi terhadap media cetak,” ungkap Sekretaris Jenderal SPS Pusat Asmono Wikan.
Pada gilirannya kata dia, budaya membaca yang kuat akan berkontribusi terhadap pencerdasan bangsa.
“Ada sisi “intangible advantage” yang luput dari perhitungan Menkeu jika menolak kampanye No Tax for Knowledge penerbit media cetak,”
Sebagai bagian dari media arus utama, kontribusi penerbit pers cetak terhadap informasi yang utuh juga sangat kuat.
Dalam berbagai kesempatan, pemerintah pun mengakui peran penting pers cetak dalam mendukung kampanye besar anti hoax.
“Patut disayangkan jika Menkeu terlalu dini menutup pintu dialog dengan SPS Pusat ikhwal No Tax for Knowledge,” jelasnya.
“Padahal ikhtiar pers cetak dalam ikut meliterasi dan mengkonsolidasi keutuhan bangsa selama ini tak terhitung lagi banyaknya,” imbuh Asmono.
Sekadar mengingatkan, di berbagai negara maju yang tingkat literasinya tinggi, seperti Norwegia, Jerman, Denmark, Swedia, dan bahkan India, insentif atas kertas koran juga diberlakukan.
Tak heran jika peran pers cetak di negara-negara tersebut masih sangat kuat dalam ikut mendidik masyarakat.
“Pada akhirnya, ini soal keberpihakan, barangkali Menkeu tidak melihat pentingnya memberi keberpihakan pada industri yang tiap tahun menyumbang pajak ke Negara puluhan bahkan mungkin ratusan milyar. Itulah industri pers cetak di tanah air,” pungkas Asmono.(*)
batampos.co.id – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam sudah mendaftarkan Museum Batam ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Sejumlah benda bersejarah sudah siap dipajang di museum ini, termasuk ratusan keramik yang diperkirakan berasal dari Dinasti Ming yang didapat dari perairan Batam.
Kepala Disbudpar Batam, Ardiwinata, mengatakan, pendaftaran museum ini harus dilakukan untuk mempermudah mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat guna merevitalisasi museum.
Ardi mengatakan, Kemendikbud memiliki anggaran untuk revitalisasi museum. Namun untuk mendapatkannya, museum sudah harus terdaftar di kementerian terkait.
“Kita berharap setelah didaftarkan ini, anggaran dari kementerian bisa turun untuk revitalisasi,” terangnya, Senin (12/8/2019).
“Nanti langsung kementerian yang melaksanakan karena bukan berbentuk DAK (dana alokasi khusus),” ujarnya lagi.
Ardiwinata (tengah) memeriksa keramik yang ditemukan di Pelabuhan Sembulang yang diperkirakan merupakan peninggalan Dinasti Ming, belum lama ini. Foto: Disbudpar untuk Batam Pos
Pendaftaran itu lanjutnya, dibuktikan dengan pengiriman berkas-berkas kelengkapan, termasuk nama museum, visi misi, lokasi, dan daftar koleksi. Pendaftaran museum dilakukan 2 Agustus 2019 lalu.
Museum Batam berlokasi di gedung Astaka bekas tempat diselenggarakannya MTQ Nasional 2014 lalu yang berlokasi di Alun-alun Engku Putri dekat kantor Wali Kota Batam.
Ia berharap, museum itu kelak akan menjadi pilihan destinasi wisata bagi wisatawan mancanegara (wisman).
Mengingat, letaknya strategis dan berdekatan dengan Pelabuhan Internasional Batam Center.
“Berdasarkan survei Bank Indonesia beberapa waktu lalu, wisman yang datang ke Batam banyak juga yang ingin melihat museum,” jelasnya.
“Karena itulah kita mengejar penyelesaian museum ini,” ujar mantan Kepala Bagian Humas Setdako Batam tersebut.
Ia membeberkan, bahwa di museum ini nantinya akan ditampilkan perjalanan Kota Batam sejak masa Kesultanan Riau Lingga, sampai menjadi kota modern seperti sekarang.
Selain itu juga akan dipamerkan produk kebudayaan masyarakat melayu setempat.
”Jadi masyarakat akan tahu mengenai sejarah Batam dengan berkunjung ke sana. Ini akan menarik,” katanya.(ian)
batampos.co.id – Bambang Setya Nugraha, 17, remaja yang sempat hilang sejak Minggu (11/8/2019) di aliran sungai dekat jembatan di depan Pelabuhan Nongsa Pura, akhirnya ditemukan Badan SAR Nasional (Basarnas), Senin (12/8/2019).
Penemuan mayat Bambang ini berawal dari pantauan masyarakat yang ikut menyaksikan proses pencarian oleh Tim SAR.
Kepala Pos SAR Batam Firmansyah mengatakan, mayat tersebut mengambang di titik awal dilakukan penyelaman Tim SAR.
”Mengambang sekitar pukul 14.00, begitu terlihat, kami langsung melakukan evakuasi. Pas di depan pondok di bawah jembatan itu,” katanya.
Firmansyah mengatakan, jenazah korban sudah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepri. Proses pencarian Tim SAR juga resmi dihentikan.
”Korban tenggelam cuma satu,” ungkapnya.
Tim SAR mengevakuasi jenazah korban tenggelam di sungai dekat Jembatan Nongsa Pura, Senin (12/8/2019). Foto: Fiska Juanda/batam pos.co.id
Firmansyah mengaku tidak ada kendala selama proses pencarian. Jarak pandang di dalam air juga cukup baik dan arus tidak deras.
”Bisa dibilang arusnya stabil,” ucapnya.
Kondisi perairan di area Jembatan Nongsa Pura juga cukup tenang. Namun, kondisi itu dapat berubah seketika ketika air pasang.
”Mungkin itulah yang menyeret korban ke tengah,” tuturnya.
Terkait peristiwa ini, Kapolsek Nongsa, Kompol Albert Sihite, mengatakan, kejadian ini bermula saat korban bersama temannya berenang di Pantai Bucin, Sambau, Nongsa.
Karena merasa belum puas, korban mengajak keempat temannya untuk kembali berenang di bawah jembatan depan Pelabuhan Nongsa Pura.
”Mereka melompat dari jembatan ke laut,” ujarnya.
Korban sempat melompat beberapa kali dari atas jembatan. Saat melompat keempat kalinya, Bambang berteriak minta tolong akibat terseret arus hingga ke tengah sungai.
Beberapa kawannya mencoba menolang, namun nahas korban terbawa arus hingga 100 meter jaraknya dari jembatan.
”Kami telah meminta kete-rangan dari para saksi. Dan syukurlah korban sudah ditemukan,” pungkasnya.(ska)
batampos.co.id – Jumlah jemaah haji Embarkasi Batam yang meninggal dunia di Tanah Suci terus bertambah. Berdasadarkan data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji (Siskohat) Kementerian Agama, hingga Senin (12/8) tercatat ada 11 tamu Allah dari Embarkasi Batam yang meninggal.
“Sampai hari ini sudah 11 orang jemaah Embarkasi Batam yang wafat di Tanah Suci,” kata Humas Pelaksana Ibadah Haji Batam Syahbudi, Senin (12/8).
Syahbudi merinci, ke-11 jemaah yang wafat tersebut antara lain Satar bin Muhammad Mahmud, 60. Almarhum adalah jemaah asal Sambas, Kalimantan Barat, yang tergabung di dalam kloter I Embarkasi Batam. Ia wafat di Rumah Sakit Arab Saudi pada Minggu (11/8) pukul 11.30 Waktu Arab Saudi (WAS).
Di hari yang sama, Tandur Brahim Boamin, 82, jemaah asal Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Almarhum tergabung dalam kloter 27 Batam dan meninggal di Rumah Sakit Arab Saudi pada pukul 03.00 WAS. Selain itu ada Sidi Ali Ramli Yusuf, 67, asal Kota Pekanbaru.
“Almarhum tergabung di kloter 2 Batam. Meninggal di Rumah Sakit Arab Saudi pada Sabtu 10 Agustus pukul 04.10 WAS,” kata Syahbudi.
Jemaah lainnya yang meninggal di Tanah Suci adalah
Jaslinar Abdul Latip Bin Abdul Samad yang tergabung dalam Kloter BTH 27. Almarhum merupakan jemaah asal Jambi.
Selanjutnya, Khairil Abbas bin Salim, 62, asal Pekanbaru yang tergabung dalam Kloter 02 dan Subli bin Muhammad, 64, asal Indragiri Hilir Provinsi dari Kloter 03.
Muslimin Musthofa Sholha bin Musthofa, 72, jemaah Kloter 21 Embarkasi Batam asal Talang Bakung, Jambi.
“Selanjutnya ada Poniman Bin Mat Rahim Abdullah, 61, Satari Saroji Sangid bin Saroji, 82, dan Sugianti Binti Saliman Karyo, 55,” jelasnya.
Sementara itu, pelayanan fasilitas tenda haji di Mina kurang memuaskan jemaah. Banyak jemaah haji Indonesia yang harus tidur di tenda Mina dengan berdesak-desakan. Tidur dengan kaki ketemu kepala jamak ditemukan di tenda-tenda. Sejumlah jemaah memilih menggelar tikar dan tidur di luar tenda. Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin terus mendesak supaya pemerintah kerajaan Arab Saudi memperbanyak tenda atau menambah kapasitas Mina.
Di antara jemaah yang memilih tidur di luar tenda adalah Abdul Kadir Suhaimi. Jemaah 50 tahun itu tergabung dalam kloter BDJ-09 dari embarkasi Banjarmasin. Tendanya tidak jauh dari tenda misi haji Indonesia. Untuk di ketahui komplek tenda misi haji yang juga klinik kesehatan Mina, tidak jauh dari ujung terowongan Muaisyim.
Kadir menggelar tikar plastik di pinggir pagar tenda. ’’Saya di maktab 50. Semua tendanya penuh. Di tenda saya ada 105 jemaah,’’ katanya Minggu (11/8) malam.
Dia berharap ke depan fasilitas tenda di Mina bisa diting-katkan. Sehingga jemaah tidak tidur berimpitan. Menurutnya tenda di Arafah lebih leluasa ketimbang di Mina.
Menurut Kadir fasilitas tenda yang baik justru diperlukan di Mina. Sebab jemaah mengeluarkan banyak tenaga dari tenda menuju Jamarat atau lokasi melempar jumrah.
Jarak tenda jemaah haji reguler Indonesia ke Jamarat sekitar 3 km. Sementara tenda yang terjauh, yakni di kawasan Mina Jadid bisa mencapai 7 km.
’’Karena jalan kakinya panjang, perlu istirahat yang maksimal,’’ tuturnya.
Masjidilharam. Foto: PPIH Arab Saudi/Jawa Pos
Dia mengatakan, rombongannya pertama kali melontar untuk jumrah aqabah Senin (11/8) sekitar pukul 10.00 pagi. Kemudian kembali ke tenda lagi sekitar pukul 13.00 siang. Dia bersyukur meskipun jauh, seluruh jemaah di rombongannya kembali ke tenda secara utuh. Tidak ada yang terpisah.
Dia menjelaskan sampai di tenda Mina dari Mudzalifah Minggu dini hari sekitar pukul 03.00 waktu setempat. Pada saat itu Kadir menjelaskan tidur di tenda Mina masih agar teratur. Sebab seluruh tas tenteng masih diposisikan mengelilingi di pinggir tenda bagian dalam.
Namun setelah itu posisi tas tenteng sudah di samping jemaah masing-masing. Sehingga membuat tenda semakin penuh sesak. Bahkan ada jemaah yang memasang tali jemuran di dalam tenda. Jemaah menggunakan tali itu untuk menjemur baju yang baru digunakan.
Saat Jawa Pos (grup Batam Pos) sampai di tenda Mina pada malam hari, mayoritas jemaah sudah tidur. Sehingga di komplek toilet terdekat tidak terlihat antrean yang panjang. Toiletnya terdiri dari tiga bagian. Pertama berupa keran air untuk wudhu atau cuci muka. Kemudian bagian lainnya adalah urinoir atau tempat untuk kencing di toilet laki-laki. Dan yang ketiga adalah bilik-bilik toilet yang dilengkapi WC.
Namun, di samping tembok toilet laki-laki banyak jemaah yang tidur sambil menggelar tikar. Di antara mereka sama alasannya seperti Pak Kadir tadi. Yakni kondisi di tenda sangat penuh. Kalaupun bisa tidur, tidak bisa leluasa bergerak. Sehingga lebih nyaman tidur di luar tenda dengan beralaskan tikar.
Kadir menuturkan secara umum pelayanan haji yang didapatkan jemaah sudah baik. Dia mencontohkan untuk makanan yang diberikan saat berada di hotel Makkah sudah lumayan enak. Kemudian untuk hotel atau pemondokan, kamarnya juga dia nilai bagus. Hanya urusan tenda di Mina saja yang menurut Kadir perlu ditingkatkan kapasitasnya.
Sementara itu pada hari pertama lontar jumrah pada hari Minggu (11/8) jemaah Indonesia melontar hingga malam hari. Sejumlah jemaah banyak yang tumbang ketika dalam perjalanan pulang ke tenda. Di antara jemaah yang jatuh pingsan saat pulang ke tenda adalah Relawati Mardiana. Jemaah asal Kota Lampung itu pingsan saat jalan kaki bersama rombongannya. Padahal titik dia pingsan masih belum terlalu jauh dari jamarat.
Relawati langsung mendapatkan pertolongan dari personel Tim Gerak Cepat (TGC) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di Pos 2 Mina. Dia diduga mengalami dehidrasi dan kelelahan. Saat dilakukan pemeriksaan, detak jantungnya cukup tinggi.
Akhirnya petugas melakukan pemasangan infus dan injeksi. Untuk mempercepat pemulihan, tabung cairan infus ditekan menggunakan alat pengukur tekanan darah. Butuh waktu beberapa lama sampai akhirnya Relawati bangun dari pingsannya.
Banyak jemaah lansia yang berangkat dari tenda menuju jamarat kuat berjalan kaki. Tetapi saat pulang dari Jamarat menuju tenda, sudah kehabisan tenaga. Di antaranya ingin dicarikan ojek kursi roda. Tetapi untuk rute dari Jamarat menuju tenda Indonesia, tidak banyak ojek kursi roda yang lewat.
Kalaupun ada tarifnya cukup mahal. Untuk rute tenda terdekat bisa dikenai tarif 100 riyal atau sekitar Rp 400 ribu. Sementara itu tarifnya bisa lebih mahal lagi hingga 500 riyal atau sekitar Rp 2 juta.
Di setiap pos petugas haji sejatinya ada kursi roda. Tetapi biasanya hanya tersedia satu kursi. Sehingga kursi roda tersebut hanya diperuntukkan bagi kondisi jemaah yang benar-benar kritis. Misalnya jemaah yang pingsan dipasangi infus, dan harus secepatnya dibawa ke ambulan. Tetapi untuk jemaah yang kelelahan, biasanya dianjurkan istirahat dahulu.
Baru setelah itu melanjutkan berjalan meskipun pelan-pelan. Di sepanjang jalan petugas Arab Saudi menyemprotkan air. Sehingga bisa mengurangi panas yang dirasakan jemaah.
Menag Lukman Hakim Saifuddin Minggu malam bertemu dengan Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Mohammad Bin Salih Banten. Pada pertemuan itu Lukman menyampaikan begitu mendesaknya kebutuhan untuk memperbanyak daya tampung atau kapasitas tenda Mina. Selain itu dia juga berharap ada penambahan toilet di Mina. Menurut perhitungan Kemenag, space di Mina hanya sekitar 0,8 meter persegi per jemaah.
’’Tahun depan kita terus meminta kepada pemerintah Arab Saudi agar ke depan tenda di mina sebaiknya ditingkat,’’ jelasnya.
Sehingga daya tampungnya bisa semakin banyak. Kemudian toilet juga bisa ditingkat seperti di Mudzalifah dan Arafah. Di Arafah sudah ada sejumlah toilet yang dibuat bertingkat.
Lukman mengakui memang antrean toilet di Mina masih cukup panjang. Misalnya pada pagi hari atau sore. Menurut dia pembangunan vertikal atau bertingkat merupakan solusi yang paling memungkinkan. Sementara untuk memperluas area Mina, terkait dengan ketentuan syari.
’’Karena orang tinggal di luar Mina itu menjadi tidak sah dalam kaitan beribadah haji ini,’’ jelasnya.
Ketika Lukman berjalan dari Jamarat menuju tenda misi haji, ada jemaah yang kecapekan. Dia mengapresiasi kepada petugas yang tanggap terhadap jemaah yang mengalami kesulitan itu.
Kepada jemaah Lukman berpesan supaya bisa mempertimbangkan jarak antara tenda ke Jamarat. Bagi jemaah yang ingin melontar jumrah langsung, diimbau untuk selalu memperhatikan rombongannya. Supaya tidak terpisah. Sementara bagi lansia atau jemaah yang berhalangan, batu melontar jumrahnya sebaiknya dititipkan ke jemaah lainnya.
Kepala Pusat Kesehatan Haji (Kapuskeshaj) Kemenkes Eka Jusuf Singka memantau dua pos klinik kesehatan haji selama masa Mina. Yakni pos di dekat terowongan Muasyim dan pos satunya lagi di area Mina Jadid. Untuk pos klinik kesehatan di dekat terowongan Muasyim, menuturnya tidak sebanyak tahun lalu.
’’Tahun lalu di tenda ini full,’’ katanya.
Tetapi saat dia meninjau klinik di dekat terowongan Muasyim, ada sembilan jemaah yang menjalani perawatan. Pasien yang tidak bisa ditangani di tenda klinik di Mina, akan langsung dirujuk ke RS Mina Al Wadidi. (wan)
batampos.co.id – Satreskrim Polres Tanjungpinang meringkus pelaku asusila berinisial PDB, 25, di kediamannya di Kawasan Hutan Lindung Tanjungpinang, Jumat (9/8) lalu.
Pelaku yang berprofesi sebagai guru di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Tanjungpinang ini, dilaporkan telah melakukan pelecehan seksual terhadap anak didiknya.
Awalnya, pada November 2018, korban berinisial A, 18, mendapatkan suatu masalah. Lalu ia mengadu dan menceritakan masalah yang dihadapinya kepada sang guru.
Kemudian pelaku yang diduga penyuka sesama jenis (gay) tersebut, memanfaatkan situasi untuk memuaskan birahinya. Oknum guru bahasa Inggris ini membujuk korban untuk datang ke rumahnya. Saat berada di rumah pelaku, korban lalu dipaksa untuk memuaskan nafsu bejatnya. Pelaku mengancam akan memberikan nilai rendah pada korban jika tak menuruti keinginannya.
Merasa ketakutan, korban menuruti keinginan pelaku. Saat melampiaskan nafsunya, pelaku juga merekam adegan tak senonoh tersebut dengan ponselnya. Korban kembali diancam pelaku agar tak melaporkan perbuatan bejat tersebut. Jika korban melapor, pelaku akan menyebarkan rekaman asusila tersebut.
Oknum guru laki-laki PDB, 25, diamankan di Mapolres Tanjungpinang, Senin (12/8). foto: batampos.co.id / Yusnadi Nazar
Kasat Reskrim Polres Tanjungpinang AKP Efendri Ali menjelaskan, setelah lebih kurang tujuh bulan, kata Ali, korban akhirnya memberanikan diri untuk melaporkan kejadian yang menimpanya ke pihak berwajib.
Atas laporan tersebut, polisi melakukan penyelidikan dan menangkap pelaku beserta barang bukti ponsel yang digunakan merekam perbuatan asusila berdurasi 23 detik, laptop, serta alas kasur milik pelaku.
”Perbuatan menyimpang ini, dilakukan pelaku sepanjang November 2018 hingga Mei 2019,” ungkap Ali di Mapolres Tanjungpinang, Senin (12/8).
Dari hasil pemeriksaan, kata Ali, korban mengaku telah 18 kali dipaksa untuk memenuhi dan memuaskan nafsu bejat pelaku. Dari hasil penyelidikan sementara, penyidik belum menemukan adanya korban lain.
”Kami masih menyelidiki, apakah rekaman sudah disebar oleh pelaku,” jelas Kasat.
Atas perbuatannya, pelaku dijerat pasal 289 KUHP tentang perbuatan cabul. Pelaku diancam pidana sembilan tahun penjara. ”Pelaku ditahan untuk proses hukum lebih lanjut,” ujar Ali. (odi)
batampos.co.id – Potensi pendapatan parkir yang tak tergarap maksimal dan masih banyaknya titik parkir yang dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab untuk keuntungan pribadi menjadi sorotan Wali Kota Batam, Muhammad Rudi terhadap kinerja Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam.
Terkait pengawasan titik dan peningkatan potensi parkir tepi jalan, Rudi mengaku telah menyentil Kepala Dishub Batam Rustam Efendi saat rapat upaya peningkatan pendapatan daerah, Kamis (8/8/2019) lalu.
”Saya sampaikan ke Rustam, tupoksi (tugas, pokok dan fungsi) jalankan lah, masak wali kota juga yang mengawasi itu, lucu juga,” ujarnya.
Ia mengatakan, dirinya kerap meminta Dishub Batam untuk kreatif dan terus berupaya menggenjot pendapatan.
Salah satunya, meningkatkan pengawasan sehingga potensi pendapatan semakin banyak.
Juru parkir meminta uang retribusi parkir dari pengendara mobil di Batam Center, Senin (12/8/2019). Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id
”Saya asyik mengomel saja, bosan juga ya. Maka saya marahi juga,” kata Rudi.
Ia menilai, pengangkatan pejabat tertentu diharapkan dapat membantu tugas wali kota dalam membangun Batam.
Termasuk, pengangkatan Sekretaris Daerah, Asisten di Setdako Batam hingga kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Sementara pembiayaan pembangunan Batam, salah satunya berasal dari pendapatan daerah.
”Termasuk angkat Kadishub untuk bantu saya, dan wewenang saya berikan,” paparnya.
“Itulah pelimpahan wewenang. Makanya tugas harus dia laksanakan, termasuk (mengurusi) parkir,” kata dia lagi.
Rudi berkomitmen akan terus memperbaiki atau membangun komunikasi agar segala sektor pendapatan meningkat.
”Inilah yang saya bangun terus, mudah-mudahan betul-betul 100 persen berjalan. Sehingga tujuan tercapai,” imbuh mantan anggota DPRD Batam ini.
Ia mengatakan, hal yang bisa dilakukan oleh Pemko Batam adalah menekan potensi kehilangan pendapatan.
Berbagai cara kini dilakukan, namun terkait parkir elektronik (e-Parking) yang hingga kini belum berjalan.
“Belum (dijalankan), butuh waktu, tak semudah itu. Kalau macet (listrik black out) akan jadi masalah,” argumen Rudi.
Sementara upaya lain untuk meningkatkan pendapatan adalah memasang alat pencatat transaksi (tapping box) yang bekerja sama dengan Bank Riau Kepri (BRK).
Ketika ditanya masih banyak usaha yang belum terpasang tapping box, Rudi mengaku akan berkomunikasi dengan BRK.
”Kerja sama dengan dengan BRK, maunya kami ditambah (tapping box),” pungkas Rudi. (iza)
batampos.co.id – Pemko Batam melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam mengkoordinir seluruh distributor bahan pokok (Bapok) untuk berjualan dalam satu pasar.
Nantinya, pasar tersebut diberi nama Pasar Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang menempati bangunan Pasar Grand Niaga Mas di Batam Kota.
”Terkait pasar ini, kami bersepakat dengan seluruh distributor, tujuannya menekan inflasi,” kata Kepala Disperindag Kota Batam, Gustian Riau di pasar tersebut, Senin (12/8/2019).
“Ini terealisasi karena arahan Wali Kota Batam,” kata dia lagi.
Sebelum gagasan membentuk Pasar TPID itu bergulir, TPID kerap menggelar pasar keliling yang dibingkai dalam konsep pasar murah bersama distributor dan dilakukan pada hari-hari besar.
Seperti, menjelang Lebaran dan Natal. Namun, hal ini dinilai kurang memberikan dampak terhadap pengendalian inflasi di Batam.
”Pasar TPID di Batam adalah yang kedua di Indonesia, yang sudah ada di Yogyakarta,” ujarnya.
“Tapi kita ini yang terlengkap dari distributor yang bergabung,” kata dia lagi.
Tidak hanya distributor bahan pangan umum, nantinya koordinator suplai bahan pokok dari Galang dan Rempang juga akan bergabung di pasar tersebut tanpa melewati rantai distribusi yang membuat harga jadi lebih mahal.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam Gustian Riau (kiri) saat meninjau Pasar Grand Niaga, Batam Center yang akan dijadikan Pasar TPID di Batam, Senin (12/8/2019). Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id
”Pengelola pasar dari Barelang juga bergabung. Dengan ini, harga di pasar ini harganya standar distributor, lebih murah (dibanding pasar umumnya),” kata Gustian.
Kata dia, di Pasar TPID nantinya akan dijual semua bahan pokok. Mulai dari beras, gula, minyak, telur, tepung, cabai, bawang, sayuran, ayam, daging, ikan dan aneka kebutuhan pangan lainnya.
Karena dijalankan oleh distributor langsung, harga di pasar tersebut akan menjadi rujukan harga dari pasar lain di Kota Batam.
Dengan kata lain, akan menekan disparitas harga yang selama ini menyumbang inflasi khusus pangan.
”Pasar TPID mulai beroperasi mulai tanggal 2 September 2019 dan pasar seperti ini dinantikan tiap daerah,” jelasnya.
“Karena semangatnya menekan inflasi dan membantu masyarakat dapat harga pangan yang murah,” imbuhnya.
Seiring inovasi pasar, Disperindag Batam juga menghimpun semua distributor dalam satu wadah yakni Asosiasi Distributor Bapok Batam.
Sementara sebelumnya, distributor menghimpun diri sesuai jenis bapok yang dijual, semisal asosiasi distributor beras.
Ketua Asosiasi Distributor Bapok Batam, Aryanto, mengatakan, ada 60 distributor yang akan bergabung di pasar yang dilengkapi 63 lapak dan 15 kios ini.
Angka itu kata dia, akan terus bertambah. Ia menambahkan, asosiasi ini akan jadi wadah untuk membahas segala isu yang berkaitan dengan kebutuhan bapok masyarakat Batam.
”Program pemerintah ini kami sangat dukung, guna menekan inflasi. Dihimpun seperti ini kami senang sekali,” ujar Aryanto.
Pihak pasar Grand Niaga Batam, Welly, mengatakan pasar tersebut sudah terstandardisasi. Dengan mempertimbangkan kebersihan dan kenyamanan.
”Standarnya sudah bagus. Seperti contoh pipa buangan ini, tersistem dari aliran sekunder baru ke pembuangan utama,” pungkasnya.(iza)