batampos.co.id – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam meminta pemerintah untuk meninjau ulang harga gas bumi untuk industri. Karena kenaikan harga ini menyebabkan kenaikan biaya operasional bagi pengelola kawasan industri.
“Banyak kalangan pengusaha mengeluhkan naiknya harga gas tersebut, terutama pengelola kawasan industri di Batam,” kata Plt Apindo Batam, Rafki Rasyid, Kamis (6/12).
Kenaikan harga gas industri menyebabkan naiknya biaya operasional pengelola kawasan industri yang menyediakan listrik untuk tenant yang menyewa lahannya.
“Akibatnya adalah tekanan kepada pengelola kawasan industri untuk menaikkan sewa kepada para tenant,” ungkapnya.
Jika harga sewa dinaikkan, maka daya saing kawasan industri tersebut bisa menurun. Dan bukan tidak mungkin, tenant-tenant akan memilih pindah ke negara yang lebih murah harga sewanya. “Ini jadi dilema bagi pengelola kawasan industri,” paparnya.
Selain itu, kenaikan harga gas industri tersebut dikhawatirkan juga akan membuat PLN Batam ikut menaikkan harga listrik di Batam. “Sehingga akan menjadi beban tambahan bagi para pengusaha selain harus menanggung beban kenaikan harga gas industri,” katanya.
Banyak pengusaha berharap kebijakan kenaikan harga gas industri ini agar ditinjau kembali. “Karena kenaikannya sangat memberatkan di tengah kondisi ekonomi Batam yang masih berjuang untuk pulih. Batam hanya membutuhkan stimulus agar bisa bangkit,” tegasnya.
Kenaikan harga gas industri ini terjadi karena harga gas di hulu, yakni di Grissik, Sumatera Selatan naik. “ConocoPhilips sudah mengajukan penyesuaian harga sejak 2017. Ini akan menurunkan daya saing Batam. Dikhawatirkan, para investor akan relokasi ke negara lainnya,” kata Kabid Ketenagalistrikan Dinas Pertambangan dan Energi Pemprov Kepri Marzuki belum lama ini.
Industri di Batam sangat bergantung kepada pasokan gas. Untuk saat ini harga gas bumi untuk industri di Batam mencapai 5,8 dolar Amerika per MMBTU. Pemakaian rata-rata perhari dari tiga perusahaan kawasan industri tersebut sebesar 16.800 MMBTU per hari.
Contohnya Batamindo. Di sana ada 68 perusahaan dengan karyawan sebanyak 45 ribu. Dalam sehari, kebutuhan gas di kawasan industri itu mencapai 11.800 MMBTU per hari atau 354 ribu MMBTU per bulan.
Pasokan gas tersebut digunakan untuk menyokong pembangkit listrik berdaya 125 Megawatt dengan beban puncak 60 Megawatt.
Sedangkan Panbil memiliki 26 perusahaan dengan karyawan sebanyak 12.500 orang. Kebutuhan gas di sana mencapai 3.500 MMBTU per hari dan atau 110 ribu MMBTU per bulan. Gas tersebut digunakan untuk menyokong pembangkit listrik berdaya 32 Megawatt dengan beban puncak 18 Megawatt. (leo)
batampos.co.id – Mencari bapak asuh di dunia olahraga tidak semudah membalik telapak tangan. Tidak hanya mencari, tetapi prioritas pengelolaan dana juga menuntut perhatian tersendiri.
Hal ini dialami oleh klub bola voli Batam Tectona (Batec) yang memiliki jalan panjang dalam mendapatkan bapak asuh Bright PKN Batam. Juga pemaksimalan dana pembinaan yang diberikan oleh Bright PLN Batam.
Berdiri di tahun 2012, Batec awalnyta menggunakan lapangan outdoor di daerah Mukakuning.
“Tepatnya berdiri 25 Maret 2012, menggunakan lapangan outdoor yang dibangun di daerah Muka kuning,” cerita pelatih Batec Riyanto, Kamis (6/12).
“Kami menggunakan lapangan outdoor selama satu tahun. Karena merasa tidak bisa maksimal dalam berlatih, kami memutuskan untuk mencari solusi tempat berlatih yang lain. Waktu itu, kondisi lapangan jika sudah masuk jam empat atau lima sore, kondisi lapangan sudah gelap,” terangnya.
Batec kemudian melirik GOR Sekolah Harapan Utama yang terletak di Batamcenter. Hanya saja permasalahan berikutnya kembali mengemuka. Biaya yang harus dikeluarkan untuk berlatih di HU tidaklah sedikit.
“Biaya perbulan yang harus dikeluarkan untuk menggunakan lapangan di Sekolah HU mencapai Rp 2,5 juta perbulan. Dan ini tidak bisa dibayar perbulan, harus langsung dibayar selama satu tahun,” tutur pria yang akrab disapa dengan Ameng ini.
Melihat besaran angka yang harus dibayar, para pengurus bersama dengan Ketua Umum Batec Saiful Hidayat kembali memutar otak untuk mencari sumber pembiayaan untuk menutup cost sewa lapangan.
“Apalagi saat itu tidak ada iuran, jadi Batec murni mencari dana untuk bisa sewa lapangan. Belum ada sponsor, jadi kami pengurus dan pelatih iuran untuk melunasi sewa lapangan. Seringnya di talangi oleh Ketua Umum,” kenang Ameng.
Beban sewa lapangan yang ditanggung oleh Batec membuat pengurus kembali harus mencari sumber dana pembinaan lain yang bisa digunakan untuk menutup kebutuhan. Melihat besarnya perhatian yang dilakukan oleh PLN Pusat pada pembinaan bola voli dengan Jakarta Electric, batec mencoba untuk menghubungi Bright PLN Batam.
“Saat itu Pak Hidayat berusaha untuk menghubungi Dirut Bright PLN Batam Dadan untuk mencari bantuan untuk kendala yang dihadapi oleh Batec,” tuturnya.
Dan Bright PLN Batam menyambut baik permintaan yang diajukan oleh Batec dan bersedia untuk menjadi bapak asuh. “Sejak saat itulah brand Bright PLN Batam muncul di jersey kita,” ulas Ameng.
“dalam setiap ada event, kejuaran, dan kegiatan apapun brand Bright PLN Batam terus kami gunakan. Termasuk beberapa sponsor pendamping lainnya seperti Golden View dan Golden Prawn ini,” paparnya.
Setelah menginjak tahun kedua, Bright PLN Batam menganjurkan untuk menggunakan GOR PLN yang baru selesai dibangun. “Saat itu Dirut Bright PLN batam yang memberikan kesempatan Batec untuk menggunakan GOR tersebut,” tuturnya.
“Akhirnya di tahun 2016 Batec mulai berlatih menggunakan fasilitas dari Bright PLN Batam. Dan dengan beragam bantuan serta fasilitas yang diberikan oleh Bright PLN Batam ini maka kami terus menempelkan brand tersebut di setiap jersey yang kami gunakan,” tutur Ameng.
Hingga saat ini Batec menjadi anak asuh dari Bright PLN Batam. beragam fasilitas didapatkan oleh Batec untuk peningkatan pembinaan bola voli di Batam.
“Lapangan kita dipinjamin, diberi fasilitas mushola, dan uang pembinaan sebesar Rp 25 juta pertahun,” urainya.
Ameng menjelaskan jika dana Rp 25 juta yang diberikan oleh Bright PLN Batam digunakan untuk perlengkapan berlatih seperti bola.
Riyanto foto: batampos.co.id / ryan
“Bola adalah salah satu penunjang berlatih yang harus disiapkan. Tiap tahunnya kami membeli sampai 30 buah,” jelas Ameng.
Saat ini, program yang dilakukan oleh Batec adalah melengkapi sarana berlatih dengan alat fitness. Ini digunakan untuk membantu latihan fisik yang digunakan untuk pembentukan otot.
“Nah, bantuan yang diberikan oleh Bright PLN Batam ini kita gunakan untuk mencicil alat fitness. Pertama untuk membeli besinya dulu, atau dan spare part lainnya. Hingga kini kita sudah memiliki empat set alat kebugaran. Selain itu juga digunakan untuk membeli seragam bertanding, seragam tim,” jelasnya.
lalu apakah dengan ini operasional dari Batec sudah tertutupi? Ameng mengaku jika bantuan yang diberikan belum menutup operasional. “Seperti gaji pelatih yang masih belum tercover, juga dengan kebutuhan untuk mendaftar pertandingan,” ujarnya.
“Dalam empat periode anak asuh Bright PLN Batam, bantuan kami gunakan pada perlengkapan latihan, perlengkapan pertandingan, dan perlengkapan lainnya yang dibutuhkan oleh tim. Tinggal sound System yang belum dimiliki,” jelas Ameng.
tetapi Bright PLN batam menyanggupi untuk membantu kebutuhan pertandingan di tahun-tahun mendatang. “Pak Samsul dari Bright PLN Batam menyarankan untuk membuat proposal keikutsertaan dalam kejuaraan dan nanti akan coba dibantu oleh PLN di tahun 2019,” papar Ameng.
“Kami berterima kasih pada Bright PLN Batam, dan Pak Dadan selaku Dirut Bright PLN Batam melihat kesempatan anak-anak muda bisa menanjak ke level nasional. Dan beberapa pemain voli nasional berasal dari Batam Tectona seperti Hernanda Zulfi dan David Pratama,” kata Ameng.
Ameng mengakui saat ini dengan banyaknya klub baru bermunculan maka persaingan voli di Batam semakin ketat. “Jika dulu susah mencari pemain, maka saat ini pelatih susah untuk menentukan pemain mana yang bisa masuk skuat tim seperti Popda dan Porprov lalu,” ujar Ameng. (yan)
batampos.co.id – PT Waskita Karya Tbk bakal menjual 18 ruas tol pada tahun depan. Dana tersebut akan digunakan untuk menutup utang dan ekspansi pembangunan infrastruktur. Direktur Utama Waskita Karya I Gusti Ngurah Putra menyatakan, ruas tol yang akan dijual perseroan pada tahun depan adalah Pejagan–Pemalang dan Pemalang–Batang.
’’Kita mau divestasi semua, cuma bertahap yang mana. Mungkin kombinasi,’’ katanya kemarin (6/12). Pihaknya berencana melakukan tender guna menawarkan 18 ruas tol tersebut. Meski, saat ini perseroan telah menawarkan ruas tol itu ke beberapa pihak.
’’Kita tidak cenderung ke siapa-siapa. Pokoknya siapa yang masuk harganya, karena sebelum penjualan itu kita minta izin ke kementerian. Tanya legal juga opini dari stakeholder lain seperti BPK,’’ imbuhnya. Menurut dia, beberapa investor sudah berminat membeli ruas tol itu, tetapi masih menunggu selesainya proyek tersebut akhir tahun ini. ’’Waskita Karya itu membangun jalan tol, bukan menjadi operator,’’ urainya.
Waskita Karya memegang konsesi sejumlah jalan tol di Indonesia. Yakni, tol Cimanggis–Cibitung, Pejagan–Pemalang, Ciawi–Sukabumi, Ngawi–Kertosono, MKTT seksi 6 (Teluk Mengkudu–Sei Rampah), Pasuruan–Probolinggo, Batang–Semarang, Solo–Ngawi, dan Bekasi–Cawang–Kampung Melayu.
Waskita termasuk dalam 10 BUMN yang memiliki utang terbesar. Pada kuartal ketiga 2018, utang Waskita mencapai Rp 102 triliun. Angka tersebut naik dibandingkan utang perseroan pada akhir 2017 senilai Rp 75 triliun. Di sisi lain, aset Waskita juga meningkat dari Rp 98 triliun pada akhir 2017 menjadi Rp 129 triliun pada triwulan 2018.
Sementara itu, laba Waskita stagnan di angka Rp 4 triliun baik pada akhir 2017 maupun kuartal ketiga 2018. Pendapatan Waskita pada kuartal 2018 terkerek 26,98 persen dari Rp 28,53 triliun menjadi Rp 36,23 triliun. Hingga akhir tahun, perseroan mengharapkan dapat menerima pembayaran dari proyek turnkey yang rampung senilai Rp 15 triliun hingga Rp 20 triliun. Pihaknya kini fokus menyelesaikan proyek infrastruktur senilai Rp 101,76 triliun.
’’Banyak sekali pinjaman dari BUMN konstruksi karena mereka melakukan pre-financing. Kontraktor keluarkan dulu (dananya), setelah jadi 5 sampai 10 tahun barang jadi diserahkan baru duitnya turun,’’ terang Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius K. Ro.
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, langkah Waskita melakukan divestasi ruas tol akan berdampak positif terhadap keuangan perseroan. ’’Waskita butuh pendanaan besar untuk mengerjakan proyek infrastruktur dan pembayaran utang. Meski demikian, saat ini perusahaan yang memiliki kemampuan membeli tol-tol Waskita memang limited karena nilai proyeknya cukup besar,’’ imbuhnya.
Dia mencontohkan, yang mampu membeli adalah sesama BUMN seperti PT Jasa Marga Tbk. ’’Kalau swasta saat ini yang sedang gencar melebarkan sayap ke bisnis tol adalah Astra. Tiongkok juga suka agresif masuk ke proyek infrastruktur,’’ ujarnya. (vir/c17/oki/jpg)
batampos.co.id – Pencarian korban meninggal maupun selamat di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, berlanjut kemarin (6/12). Pasukan TNI-Polri yang sudah berada di sana terus menyisir lokasi kejadian. Hasilnya, mereka kembali menemukan satu jenazah korban kebrutalan kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB). Dengan demikian, hingga kemarin total yang mereka temukan 16 jenazah.
Sesuai rencana, evakuasi jenazah mulai berlangsung kemarin. Dengan menggunakan helikopter milik TNI-AD, 9 di antara 16 jenazah korban meninggal yang diduga pekerja PT Istaka Karya itu sudah dibawa ke Timika. Seluruh jenazah langsung ditangani tim dari Puslabfor Bareskrim Polri. ”Sekarang (kemarin, Red) menjalani otopsi,” terang Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Infanteri Muhammad Aidi.
Perwira menengah TNI-AD yang biasa dipanggil Aidi itu menyampaikan, instansinya belum bisa memaparkan identitas setiap jenazah yang ditemukan di Distrik Yigi.
Di antara sembilan jenazah yang sudah dibawa ke Timika, tadi malam baru tujuh jenazah yang sudah teridentifikasi. Mereka adalah Agustinus T., Jepry Simaremare, Carly Zatrino, Alpianus, Muh. Agus, Fais Syahputra, dan Yousafat. Seluruhnya pekerja dari PT Istaka Karya.
Berdasar pengamatan fisik, sambung Aidi, ada beragam luka tembak pada tubuh sembilan jenazah itu. Mulai luka tembak di bagian kepala hingga dada. ”Tertembak di organ-organ yang mematikan semua,” imbuhnya. Adakah tanda-tanda bekas serangan benda tajam? Dia kembali menyebut informasi secara detail akan dilaporkan setelah otopsi. ”Nanti, itu tim Puslabfor (Bareskrim) Polri,” tambahnya.
Mengenai tujuh jenazah lain, sampai kemarin sore, menurut Aidi, mereka belum bisa dievakuasi. Dia tidak menjelaskan secara pasti kapan jenazah-jenazah itu bakal dibawa. Yang pasti, TNI-Polri berusaha secepatnya. ”Yang jelas, kalau malam ini (tadi malam) cuaca sudah tidak memungkinkan. Berarti menunggu besok (hari ini),” terang Aidi. Selain cuaca, faktor keselamatan dan keamanan jadi perhatian. Sebab, KKSB terus menyerang para personel TNI-Polri yang bergerak di Distrik Yigi. Kontak senjata dilaporkan kembali terjadi kemarin siang. ”Saya dapat laporan jam 12.30 WIT kurang lebih, tim evakuasi mendapat serangan dari KKSB,” ucap dia. Beruntung, tidak ada satu pun aparat yang menjadi korban.
Berdasar laporan sebelumnya, memang sudah diidentifikasi bahwa KKSB akan memilih Bukit Kabo sebagai lokasi penyerangan. Harapannya, aksi itu akan mengganggu TNI-Polri yang datang untuk melaksanakan evakuasi. Namun, gangguan tersebut tidak membuat prajurit TNI dan Polri mundur. Aidi memastikan, mereka bakal terus melaksanakan tugas. Baik pencarian maupun evakuasi.
Aidi mengakui, sejumlah keluarga korban dari PT Istaka Karya sudah berdatangan ke Papua. Ada yang menunggu di Timika dan Wamena. ”Ada dari Makassar, ada orang Jawa,” ungkapnya. Khusus Serda Handoko yang gugur setelah kena timah panas dari senjata KKSB, TNI sudah menaikkan pangkatnya menjadi sertu. Jenazah Sertu Anumerta Handoko juga sudah diterbangkan dari Timika ke Sorong.
Selain mengevakuasi sembilan jenazah, kemarin TNI-Polri mengevakuasi delapan masyarakat sipil dari Distrik Yigi. Di antara delapan orang itu ada pekerja PT Istaka Karya. Wakapendam XVII/Cenderawasih Letkol Infanteri Dax Sianturi menjelaskan, delapan orang itu ditemukan dua hari lalu (5/12). Mereka ditemukan bersama pekerja PT Istaka Karya bernama Jhony Arung. ”Namun, baru bisa dilaporkan pagi ini (kemarin) karena keterbatasan kemampuan alat komunikasi,” ujarnya. Selain pegawai PT Istaka Karya, delapan orang sipil itu terdiri atas dokter yang bertugas di Distrik Yigi dan para pekerja di rumah dokter tersebut.
Kemarin Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa, Wakapolri Komjen Ari Dono Sukmanto, dan pejabat teras TNI-Polri lainnya turut memimpin upaya evakuasi korban dari Distrik Yigi. Dalam kesempatan itu, Hadi menegaskan kembali bahwa seluruh anggota KKSB bakal dikejar sampai tertangkap.
Hadi juga menjelaskan rencana TNI dan Polri membentuk tim keamanan di Papua. Tim tersebut bertugas memastikan pembangunan infrastruktur di Nduga berjalan lancar. Kedua pihak sudah membicarakan hal itu. Selanjutnya, mereka tinggal berkoordinasi dengan pemerintah. ”Nanti segera dikoordinasikan dengan Kementerian PUPR,” ungkap orang nomor satu di institusi militer tanah air tersebut.
Sementara itu, Kadivhumas Polri Brigjen M. Iqbal menjelaskan, operasi pengejaran KKSB pimpinan Egianus Kogoya terus dilakukan. Yang disayangkan, sebenarnya Distrik Yigi awalnya merupakan daerah aman. ”Lalu KKSB Egianus Kogoya masuk ke Yigi saat melarikan diri dari pengejaran TNI dan Polri,” ungkapnya. Masuknya KKSB itu berdampak besar terhadap keamanan Yigi. Distrik Yigi yang semula masuk kategori aman akhirnya menjadi zona merah atau daerah rawan. ”Namun, kami akan berupaya menegakkan hukum terhadap mereka,” papar mantan Wakapolda Jawa Timur (Jatim) tersebut.
Versi TPNPB-OPM
Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Sebby Sambom tidak mengakui sebutan KKSB dari pemerintah. Yang ada merupakan TPNPB-OPM yang bertujuan mendapatkan kemerdekaan. ”Kami ini dalam posisi dijajah,” ucapnya.
Sebby menceritakan sejarah terbentuknya TPNPB-OPM. Menurut dia, kelompoknya terbentuk karena berbagai kejahatan luar biasa yang pernah dilakukan pemerintah Indonesia melalui TNI dan Polri. ”Berbagai pelanggaran HAM terjadi dan tidak diadili, korbannya warga asli Papua,” ujarnya.
Pelanggaran HAM yang paling diingatnya diduga terjadi pada 1977. Dia mengklaim, 500 ribu warga Papua terbunuh saat itu. ”Saya masih kecil, tidak mengetahui jelas apa yang terjadi. Tapi, kami memiliki dokumen soal pelanggaran HAM itu,” paparnya.
Jumlah dokumen terkait pelanggaran HAM di Papua tersebut, menurut Sebby, sudah menggunung. Dia menjelaskan, banyak sekali pelanggaran HAM yang terjadi. ”Kalau mau, saya berikan dokumen itu, sangat banyak,” paparnya kepada Jawa Pos kemarin. Dia menyebut TNI-Polri memperlakukan rakyat Papua seperti binatang. ”Entah mengapa, kalau polisi di Jawa ramah, tapi begitu di Papua menjadi kejam,” tuturnya. (idr/syn/c10/oni/jpg)
batampos.co.id – Kasus penjualan 10 blangko e-KTP secara online diakui Kementerian Dalam Negeri sebagai bentuk keteledoran. Khususnya, keteledoran Dispendukcapil Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Namun, Kemendagri memastikan pengamanan blangko e-KTP memiliki prosedur yang ketat. Dengan begitu, ketika ada temuan seperti penjualan secara ilegal, bisa langsung dilakukan pelacakan.
Mendagri Tjahjo Kumolo menegaskan, peristiwa penjualan blangko tersebut murni tindak pidana pencurian. ’’Anak oknum kepala dinas dukcapil mencuri blangko yang dibawa pulang oleh ayahnya,’’ terangnya saat ditemui di kompleks parlemen kemarin (6/12). Pencurian itu, tutur Tjahjo, terjadi Maret lalu. Beberapa bulan kemudian, kepala dispendukcapil tersebut pensiun.
Tjahjo memastikan blangko curian itu tidak akan berguna bagi pembelinya. ”Tidak bisa mengakses data, hanya sekadar punya (blangko) e-KTP saja. Blangko kosong,’’ lanjutnya. Meski, dia mengakui blangko tersebut asli dan bersumber dari Kemendagri.
Sementara itu, Dirjen Dukcapil Zudan Arif Fakrulloh menjelaskan, saat ini kasus tersebut sepenuhnya menjadi ranah kepolisian. Dalam hal ini, pihaknya telah melapor ke Polda Metro Jaya. Namun, secara internal, Ditjen Dukcapil masih menelusuri bagaimana bisa blangko tersebut dibawa pulang oleh ayah pelaku.
Zudan menjelaskan, pada prinsipnya, blangko e-KTP tidak boleh disimpan di rumah, kecuali dengan alasan khusus. Misalnya, untuk keperluan jemput bola perekaman data e-KTP. Dalam kasus tersebut, ayah pelaku dianggap teledor. ”Saya sudah investigasi, dia tidak sedang tugas buat jemput bola (perekaman data),’’ lanjutnya.
Sejak muncul laporan penjualan blangko e-KTP, pihaknya langsung menelusuri asal blangko tersebut. Zudan mengungkapkan, setiap keping blangko memiliki chip penanda. Dari chip tersebut, Ditjen Dukcapil langsung bisa mengetahui bahwa blangko itu berasal dari Kabupaten Tulang Bawang.
Kemudian, pihaknya juga mengontak pengelola platform e-commerce yang menjadi sarana penjualan blangko. Begitu didapat nama penjualnya, tutur Zudan, pihaknya langsung membuka database kependudukan untuk melacak sehingga langsung ketemu alamatnya. Ternyata si pelaku adalah anak mantan Kadispendukcapil. Saat ditanya, pelaku hanya beralasan iseng.
Zudan memastikan akun pelaku sudah diturunkan atau take down oleh pemilik platform. ’’Kami hubungi tanggal 4, ternyata mereka sudah melakukan take down pada 29 November,” jelas pakar hukum administrasi negara itu. Hingga saat ini, tidak ada temuan lain yang serupa di platform-platform jual beli online.
Senada dengan Tjahjo, Zudan menegaskan bahwa blangko tersebut tidak berarti apa-apa bila tidak digunakan dispendukcapil. Bila dicetak menjadi KTP, bisa dipastikan KTP tersebut palsu. Cara mengeceknya dengan menggunakan pemindai kartu di instansi-instansi yang telah bekerja sama dengan Kemendagri.
Karena itu, pihaknya terus mendorong agar instansi-instansi yang berhubungan dengan publik bekerja sama dengan Kemendagri dalam menggunakan data kependudukan. Kerja sama itu akan mempersempit peluang penipuan menggunakan identitas palsu. Sebab, bila dilihat sekilas, sulit membedakan dengan KTP asli.
Zudan juga mewanti-wanti agar pihak lain tidak coba-coba meniru perbuatan pelaku. Sebab, ancamannya berat. Yakni, penjara 10 tahun dan denda Rp 1 miliar. ’’Keuntungan tidak seberapa tapi sudah pasti dipenjara dan didenda,’’ ucap Zudan. (byu/bay/c17/fat/jpg)
Dari kiri: Adhika, Puteri, Erwin, dan Iman di Koptul Duren Tiga, Jakarta Selatan (4/12). (Tri Mujoko Bayuaji/Jawa Pos)
Kopi Tuli berdiri setelah Adhika, Puteri, dan Erwin mengalami penolakan demi penolakan saat melamar kerja. Dirancang sebagai tempat belajar dan berkarya kalangan tunarungu.
TRI MUJOKO BAYUAJI, Jakarta
BAHASA isyarat berupa huruf A itu langsung dipahami M. Adhika Prakoso. Kosu Koso.
”Itu kopi signature saya,” katanya kepada Jawa Pos yang memesan racikan sejenis kopi susu dengan kandungan kopi yang lebih kuat tersebut.
Selasa tengah hari lalu itu (4/12) Koptul di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, tersebut mulai ramai. Berada di kawasan perkantoran, banyak pekerja yang menghabiskan istirahat makan siang mereka di sana.
Koptul kependekan dari Kopi Tuli. Adhika bersama dua sahabat penggagasnya, Puteri Sampaghita Trisnawiny Santoso dan Tri Erwinsyah Putra, memang tunarungu.
Namun, siang itu, seperti juga hari-hari sebelumnya, sama sekali tak ada kendala komunikasi. Semua tamu terlayani dengan baik dan cepat. Sebanyak 12 menu yang terpampang, masing-masing disertai bahasa isyarat, sangat membantu memudahkan percakapan.
Untuk memesan kopi, pembeli cukup menunjuk gambar atau membuat simbol bahasa isyarat yang sudah terpampang di menu. Kosu Koso, misalnya, diberi simbol bahasa isyarat huruf A, Kosu Wings dengan huruf B, dan Kosu Siput dengan C.
Total, ada 12 menu minuman di Koptul dengan 12 huruf simbol yang berurutan. Dengan harga bervariasi, mulai Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu.
”Koptul di Duren Tiga ini adalah cabang kedua kami. Yang pertama berada di Krukut, Depok,” kata Adhika kepada Jawa Pos.
Kami berbicara tanpa bahasa isyarat. Adhika, sebagaimana Puteri dan Erwin, membaca gerak mulut saya. Jika ada yang sulit dipahami, baru digunakan bahasa tulis.
Dua cabang Koptul itu adalah bukti kegigihan Adhika, Puteri, dan Erwin. Mereka menolak menyerah kepada keadaan yang kerap memarginalkan atau malah diskriminatif.
Adhika bercerita, begitu lulus dari Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Bina Nusantara (Binus) pada 2016, dirinya tidak kunjung mendapat pekerjaan. ”Saya sudah melamar, ada 200 perusahaan, tidak ada yang mau menerima,” kata Adhika.
Hal yang sama dialami Puteri. Perempuan 27 tahun yang juga lulusan DKV Binus itu bahkan sudah mengajukan setidaknya 500 lamaran. Namun, dia baru satu kali lolos tes hingga interview. Saat wawancara itu, tiba-tiba HRD (human resources department) perusahaan swasta tersebut menolak.
”Dibilang posisinya sudah terisi,” kata Puteri tentang pengalaman yang juga pernah dialami Erwin.
Koptul di Duren Tiga itu dihiasi foto sejumlah tokoh. Semua kalangan tuli dengan raihan mengagumkan.
Ada Helen Keller, penulis sekaligus aktivis perempuan tunarungu. Juga, Millicent Simmonds, aktris remaja tunarungu yang dikenal di film Quiet Place. Ada pula Nyle Dimarco, model pria tunarungu yang melambung namanya lewat America’s Next Top Model edisi ke-22.
Untuk cabang kedua, trio pendiri bekerja sama dengan Iman, teman Erwin yang juga tunarungu. Iman meminta kepada orang tuanya agar ruko tiga lantainya boleh digunakan untuk Koptul. Permintaan itu disampaikan setelah dia tertarik dengan keramaian Koptul di Depok.
Koptul di Depok berdiri setelah Adhika, Puteri, dan Erwin bertemu dan memutuskan ingin melakukan sesuatu. Puteri menganjurkan langkah itu dimulai dari hal-hal sederhana yang disuka.
Adhika lantas mengusulkan untuk berwirausaha dengan membuka kedai kopi. Puteri dan Erwin setuju dengan ide itu.
”Karena saya suka kopi dan memang suka membuat kopi,” kata pria 28 tahun itu.
Saat itu sudah ada pikiran bahwa kedai kopi tersebut nanti harus bisa diberdayakan untuk kawan-kawan yang senasib dengan mereka. Namun, itu nanti. Tantangan pertama adalah menemukan tempat dulu.
Adhika akhirnya menyampaikan kepada salah seorang pamannya agar diizinkan untuk menggunakan salah satu sudut ruangan. Gayung bersambut, izin didapatkan.
Jadilah Koptul di Depok resmi berdiri pada 12 Mei 2018. ”Tiga bulan pertama kami pakai pinjam. Bulan keempat sampai sekarang kami sudah mulai bayar,” ujar Puteri, yang dibantu Adhika dalam perbincangan dengan Jawa Pos.
Saat itu belum ada mesin kopi profesional yang mereka miliki untuk usaha. Adhika, Puteri, dan Erwin masih bermodal mesin rok espresso untuk uji coba membuat kopi. ”Menggunakan rok ternyata tidak konsisten karena bergantung kekuatan tangan,” kata Adhika.
Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk berinvestasi lebih besar. Ketiganya patungan untuk membeli mesin kopi Toffin yang digunakan hingga kini di Depok. ”Total modal awal kami Rp 150–200 juta,” ujarnya.
Kali pertama berjualan, Adhika mengaku belum memiliki konsep yang pasti. Padahal, yang dilayani bukan hanya teman tuli, tapi juga teman dengar. Jadilah ketiganya sempat bingung saat awal-awal melayani pelanggan teman dengar.
”Kami putuskan sodorkan kertas untuk menulis menunya,” kata Adhika.
Namun, itu tidak efektif. Dari situlah muncul konsep agar teman dengar bisa sedikit mengenal bahasa isyarat. Yakni, memasang simbol bahasa isyarat di menu.
Strategi itu ternyata memudahkan para pelanggan untuk memilih menu yang disukai. ”Menunya sengaja kami bikin besar biar bisa langsung ditunjuk,” jelas Adhika.
Koptul ternyata menarik minat pelanggan. Puteri mencatat, 60 persen pelanggan yang datang adalah teman tuli. Sisanya, 40 persen, adalah teman dengar. Dalam sehari, Koptul bisa menjual rata-rata 100 cup kopi.
Khusus untuk jenis kopi, Koptul menjatuhkan pilihan kepada kopi Ciwidey arabica dan kopi Papua Wamena arabica. ”Kalau kopi Ciwidey itu dari keluarga, kalau Papua Wamena itu seimbang, tidak terlalu strong atau lembut,” jelas Puteri.
Terhitung sejak November, berdirilah Koptul kedua atas kerja sama dengan Iman. Iman mengaku tertarik dengan Koptul saat datang dalam perayaan reuni.
”Waktu datang kali kedua, akhirnya kerja sama di sini,” kata Iman, yang mengaku menyukai Kosu Siput buatan Puteri.
Berdirinya Koptul ternyata menggema ke banyak teman tuli dari berbagai daerah. Beberapa teman tuli dari Bandung, Palembang, Makassar, hingga Jayapura pernah berkunjung ke Koptul.
Adhika, Puteri, dan Erwin merancang Koptul di Depok dan Duren Tiga dengan konsep yang berbeda. Kalau yang pertama cenderung sebagai tempat nongkrong, yang kedua –yang lebih luas– sekaligus dijadikan rumah belajar.
Lantai 1 ruko digunakan untuk Koptul, sementara lantai 2 dan 3 dijadikan tempat pertemuan, diskusi, dan belajar. ”Nanti ada rumah belajar bahasa isyarat. Saat ini sedang dikonsep bersama Pusbisindo (Pusat Bahasa Isyarat Indonesia, Red),” kata Adhika.
Untuk urusan bahasa isyarat, Erwin saat ini memiliki sertifikat untuk mengajar. Beberapa waktu terakhir dia juga bekerja sebagai pengajar kelas bahasa isyarat di almamaternya, Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
”Untuk belajar bahasa isyarat, ada level masing-masing. Satu level tiga bulan, dua belas kali pertemuan,” kata Erwin.
Menurut Erwin, peminat kelas bahasa isyarat terbilang banyak. Sebagai kelas ekstrakurikuler di UNJ, ada sekitar 20 mahasiswa yang ingin belajar bahasa isyarat.
”Kalau sudah masuk di level 5, sudah termasuk profesional atau guru bahasa,” kata Erwin.
Di samping itu, upaya untuk memberdayakan teman tuli juga mulai berjalan. Selain mereka bertiga bersama Iman, sudah ada Rama, Alwin, Ziyan, Kania, dan Yani yang membantu di dapur Koptul.
Tidak hanya membantu di kasir atau mengantar menu, mereka sedikit banyak mulai diajari cara meracik kopi, baik dari Adhika, Puteri, maupun Erwin. Kebetulan, ketiganya sudah punya signature masing-masing. Kalau Adhika dengan Kosu Koso dan Puteri dengan Kosu Siput, Erwin memiliki ciri khas dengan Kosu Wings.
”Nantinya mereka yang akan mengawasi Koptul-Koptul lainnya,” ujarnya.
Rencananya, dalam waktu dekat dibuka Koptul ketiga di Bintaro, Tangerang Selatan, tak jauh dari rumah Adhika. Diharapkan, kelak di seantero Indonesia ada 100 Koptul.
Dengan jumlah sebanyak itu, lanjut Adhika, dia dan kawan-kawan bisa membantu teman-teman tuli untuk mendapatkan pekerjaan. ”Kalau satu Koptul diisi 4 orang, tinggal dikalikan kalau ada 100 Koptul,” ujarnya, bersemangat. (*/c11/ttg)
batampos.co.id – Penjualan ponsel bekas dari Singapura masih marak di Batam. Sejumlah konter ponsel maupun penjualan ponsel secara online terang-terangan mengatakan bahwa ponsel yang dijualnya merupakan ponsel bekas dari Singapura.
Kepala Seksi Penindakan Bea dan Cukai Batam, Fabian mengatakan bahwa pihaknya sudah beberapa kali mengamankan ponsel bekas dari Singapura yang masuk bersamaan dengan penumpang. Ia menduga, beberapa penumpang itu memang sengaja berangkat dari Batam ke Singapura dan kembali ke Indonesia dengan membawa ponsel bekas.
“Penumpang ini masuk melalui pelabuhan Batuampar, Sekupang dan Harbourbay. Jadi beberapa kasus sudah ada yang kita tangani dan barang bukti sudah diamankan dan disita untuk kepentingan negara,” katanya.
Ia menjelaskan, banyaknya ponsel bekas Singapura yang masuk ke Batam ini dengan menggunakan beberapa modis. Uang pertama adalah dengan cara dibawa langsung oleh penumpang atau wisatawan dari Singapura dan kemudian modus yang kedua adalah dengan menggunakan kapal speed boat cepat dan masuk melalui beberapa pelabuhan tikus.
“Biasanya dikemas dengan kemasan kedap air dan mereka menggunakan kapal cepat dengan kecepatan 50 sampai 60 knot. Kami baik dari Bea Cukai, Kepolisian dan Angkatan Laut sudah berusaha melakukan pengejaran untuk menangkap, tapi karena sarana kami itu hanya kecepatan maksimal 25 knot maka belum bisa melakukan secara maksimal,” tuturnya.
Ia mengatakan, untuk membawa ponsel atau alat komunikasi sudah jelas aturannya yakni Peraturan Mentri Komunikasi dan Informatika nomor 18 tahun 2014 dan ketentuan ekspor dan impor dalam peraturan Mentri Keuangan nomor 203 tahun 2017. Dalam aturan itu, setiap orang hanya diperbolehkan membawa dua unit ponsel dari negara lain.
“Jadi ketika datang dari Singapura dalam kondisi nyala walaupun kondisi bekas, kita tidak akan melakukan penegahan, kalau lebih dari dua tetap kita teliti lebih mendalam lagi. Apakah barang dagangan atau keperluan pribadi,” bebenrya.
Untuk meminimalisir masuknya ponsel bekas dari Singapura, pihak Bea Cukai Batam sudah melakukan sosialisasi di beberapa pintu masuk pelabuhan dengan menjelaskan bahwa penumpang hanya boleh membawa barang senilai 500 dollar US. Sementara untuk garmen tidak lebih dari 10 potong.
“Kita akan kembali lagi sosialisasikan. Terkait adanya keterlibatan oknum atau mafia penumpang dengan membayar penumpang lain dan itu sudah kita data juga. itu mereka mendapatkan komisi juga sebesar 50 dollar, pintunya kita jaga lagi dengan x ray dan bisa diminimalisir,” imbuhnya. (gie)
Petugas Pemadam Kebakaran Pemko Batam melakukan latihan penanggulangan kebakaran di Dataran Engku Putri Batamcenter, Minggu (11/2/2018), lalu. F Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos.co.id – Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) kota Batam Azman mengakui, tahun ini tidak ada penambahan armada mobil pemadam kebakaran. Begitu juga di tahun 2019 nanti, tidak ada penambahan anggaran untuk penambahan armada.
“2019 anggaran yang kita ajukan hanya perawatan saja. Kita tak tambah anggaran,” kata Azman disela acara publikasi kebakaran hutan dan lahan yang digelar Balai Pengendalian perubahan iklim dan kebakaran hutan wilayah Sumatera, Rabu (5/12).
Menurutnya, saat ini Damkar Pemko Batam memiliki 25 unit mobil fire dan tangki serta 1 unit mobil resque. Diakuinya jumlah ini memang belum ideal. Namun di dalam melaksanakan tugas saat terjadi kebakaran pihaknya dibantu Damkar BP Batam.
“Teman-teman di BP Batam juga punya mobil tangga,” tutur Azman.
Ia menambahkan, Damkar Pemko Batam bisa dikatakan dinas baru yang awalnya hanya berbentuk kantor. Untuk personilnya saat ini berjumlah 90 orang yang tersebar di 40 pos.
“Memang juga belum cukup sebab idealnya minimal 700 personil,” tambahnya.
Azman mengakui, saat ini menjadi tantangan kedepan di Kota Batam mengantisipasi kebakaran di gedung-gedung yang bertingkat tinggi. Sementara di Kota Batam sendiri belum memiliki perlangkapan atau alat khusus menangani gedung bertingkat.
“Kita di Batam punya Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG) yang dulunya di bawah tata kota sekarang dibawah cipta karya. Jadi setiap badan usaha yang ingin membuat gedung tinggi diatas 4 lantai, wajib mempresentasekan itu di tim TABG,” ujarnya.
Kemudian di tim TABG tersebut, Dinas Cipta Karya melibatkan ahli yang bukan pegawai, seperti insinyur dan staf ahli. Ia juga akan mempresentasikan struktur bangunan, listrik, dan ia juga akan mempresentasekan fasilitas pemadam kebakarannya.
“Seperti disebuah gedung ada sprinkle itu tugas Damkar,” terang dia.
Ia menambahkan jika didalam gedung tersebut listrik dan air mati, badan usaha juga menyiapkan 2 genset, 1 untuk listrik yang mati dan 1 lagi untuk pompa kebakaran dan keduanya akan otomatis. Tanpa harus disetel-setel.
“Kalau airnya habis itulah yang kita pompa dengan mobil pemadam kebakaran,” jelas Azman. (rng)
batampos.co.id – DPRD Kota Batam memprediksi kembali terjadi tunda bayar tahun 2018. Hal ini melihat realisasi pendapatan daerah di akhir tahun yang belum sesuai proyeksi yang direncanakan.
“Pada saat pembahasan APBD Perubahan 2018 kemarin, saya sudah berulang kali menyampaikan. Tetapi teman-teman Tim Anggaran Pemerintah Daerah masih mengatakan semuanya pendapatan akan tercapai sesuai prediksi awal,” ujar anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Batam, Aman, Rabu (5/12).
Menurutnya, akan tetapi pada saat pembahasan APBD Murni 2019 awal November lalu, TAPD menyatakan banyak pendapatan yang belum tercapai. Mulai dari realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), dana bagi hasil dari provinsi dan termasuk juga dana alokasi khusus yang belum semua bisa disalurkan.
“Artinya ketika ini tidak sesuai asumsi awal. Maka akan tenjadi defisit sehingga beberapa kegiatan di akhir tahun tidak bisa dibayar dan otomatis menjadi tunda bayar 2018,” terang Aman.
Ditambahnya, pada saat pembahasan APBD murni 2019 lalu, TAPD Pemko dan Banggar DPRD Batam juga telah membuat klausul APBD. Dimana ketika nantinya terjadi defisit karena pendapatan tidak sesuai target, maka kegiatan yang belum dibayarkan di tahun 2018 wajib dibayarkan di tahun 2019 nanti.
“Kita belum tahu berapa angka defisitnya. Tapi klausul ini sudah disepakati,” terang Aman.
Anggaran tunda bayar ini nantinya akan menggunakan APBD 2019 dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) tahun 2018. “Nanti kalau ada Silpa bisa dipakai untuk membayar tunda bayar,” tambah dia.
Terkait membengkaknya biaya tak terduga di tahun 2019, Aman menegaskan hal itu bisa digunakan untuk membayar tunda bayar tahun 2018. Karena menurutnya, anggaran APBD yang menjadi nomenklatur biaya tak terduga itu adalah untuk hal-hal yang sifatnya mendesak atau tak terencana sebelumnya.
“Contoh ada bencana kebakaran, lonsor, tsunami dan sebagainya memerlukan bantuan yang karena ini tidak direncanakan dari awal maka itu yang harus disupor dari anggaran tak terduga itu,” tuturnya.
ilustrasi
Kemudian ada kebijakan baru pemerintah pusat mengeluarkan gaji ke-13 kemudian ada pembayaran Tunjangan Hai Raya (THr), seperti tahun 2018 lalu. Sehingga ketika itu tidak dianggarkan di APBD, bisa diambil dari dana tidak terduga. Itulah persiapan sifatnya mendesak dan harus direalisasikan.
“Makanya ini tak bisa dipakai untuk tunda bayar,” jelasnya.
Sementara itu, Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kota Batam menyebutkan, hingga Desember 2018 ini PAD yang sudah terealisasi berada di angka 77,6 persen. Dari yang ditargetkan sebesar Rp 1,23 triliun tercapai Rp 958 miliar. Diakuinya angka ini terus naik hingga akhir tahun.
BP2RD mengklaim untuk beberapa sektor pajak seperti hotel, restoran, hiburan, reklame dan parkir sudah mendekati angka 100 persen. Sisanya di angak 73 persen sampai 88 persen.
“Lima sektor ini kami pasang tapping box, dan terbukti cukup signifikan terhadap pendapatan daerah,” jelasnya.(rng)
batampos.co.id – Bandara Internasional Hang Nadim membangun dua posko untuk pengamanan dan pelayanan selama arus mudik Natal dan Tahun Baru. Posko ini nantinya akan ditempati oleh petugas Hang Nadim, Polisi, TNI, Karantina dan berbagai instansi lainnya.
“Poskonya, satu didirikan di luar terminal, satu lagi didalam terminal,” kata Direktur Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Suwarso, Rabu (5/12).
Posko pengamaman dan pengawasan natal serta tahun baru ini mulai aktif dari 18 Desember 2018 hingga 6 Januari 2019. Suwarso mengatakan perkiraan puncak mudik natal 22 dan 23 Desember, dengan jumlah penumpang diatas 10 ribu orang. Sedangkan arus balik mulai dari 2 hingga 6 Januari.
“Puncak arus balik kami perkirakan 6 Januari. Untuk persiapan kami sudah clear,” ucapnya.
Suwarso telah mewanti-wanti jajaranya untuk menyelesaikan segela pembangunan atau perbaikan sebelum H-7 Natal.
“Saya meminta ke jajaran setelah H-7 tidak boleh ada lagi permasalahan,” ujarnya.
Kepada maskapai penerbangan, kata Suwarso sudah diimbau untuk mempersiapkan armada serta krunya.
“Kemenhub meminta kami mengawasi kegiatan operasional di bandara. Dan juga mengawasi kesiapan operator,” tuturnya.
Apakah sudah ada maskapai yang sudah meminta penambahan penerbangan. Suwarso mengatakan hingga kini masih Maskapai Sriwijaya yang mengajukan penambahan penerbangan.
“Extraflight-nya itu ke Jakarta. Kalau maskapai lain belum,” ucapnya.
Suwarso membeberkan alasan berhati-hatinya maskapai mengajukan extraflight. Karena sesuai aturan yang berlaku setiap permintaan penambahan penerbangan harus dijalani, walaupun sepi penumpang.
“Karena ada risiko sanksi apabila maskapai mengajukan extraflight, namun tak menjalaninya,” ungkapnya. (ska)