Minggu, 31 Mei 2026
Beranda blog Halaman 11869

Kronologi Penangkapan Totok Suranto dan Eliman Syah Hia di Kawasan Gandaria City Mall

0

batampos.co.id – Jajaran Polda Kepri terus mendalami kasus dugaan suap dari PT Garuda Mahakam Pratama (GMP) kepada Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Sambu, Totok Suranto. Polisi juga akan menelusuri kemung-kinan adanya suap serupa dari agen pelayaran lain selain GMP.

Kasubdit III Tindak Pidana Korupsi (Tipidkor) Polda Kepri AKBP Ponco Indriyo mengatakan, uang sebesar 9.200 dolar AS yang diamankan dari tersangka merupakan setoran dari 46 kapal yang mengurus dokumen pelayaran melalui PT GMP selaku agen. Dengan kata lain, setiap kapal menyetor uang pelicin sebesar 200 dolar AS kepada Totok melalui GMP.

“Kami akan terus melakukan pendalaman atas kasus ini,” kata AKBP Ponco Indriyo, Selasa (6/11/2018).

Ditanya apakah ada kemungkinan praktik suap ini juga dilakukan oleh agen pelayaran lainnya, Ponco mengaku masih akan melakukan penyelidikan. Namun untuk saat ini pihaknya akan fokus pada kasus suap PT GMP kepada Totok.

“Kalau yang lain belum. Nanti dulu,” ungkapnya.

Ponco mengatakan, sebelum menjadi Kepala KSOP Sambu, Totok merupakan Kabag TU di Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta. Totok dilantik sebagai Kepala KSOP Sambu sejak Juli 2018 dan efektif bertugas di KSOP Sambu per Agustus 2018.

Menurut Ponco, sejak saat itu pula Totok sudah menerima upeti dari kapal-kapal yang mengurus dokumen pelayaran melalui PT GMP. Setoran tersebut dikumpulkan secara kolektif dan diserahkan setiap akhir bulan.

“Tapi jumlahnya bervariasi. Namun, ini masih kami dalami dulu,” tuturnya.

Kasus suap ini terjadi karena kedua belah pihak sama-sama membuka peluang. Baik Totok maupun Kepala Cabang PT Garuda Mahakam Pratama, Eliman Syah Hia, sama-sama aktif dalam kasus ini.

“Tidak sebelah pihak, dua-duanya aktif,” ucapnya.

Pantauan Batam Pos di Kantor Cabang PT Garuda Mahakam Pratama di Kompleks Baloi Imigrasi Blok B Nomor 10A terlihat sepi, Selasa (6/11). Hanya ada dua motor terparkir di depan kantor. Sementara papan nama PT Garuda Mahakam Pratama ditutup kain.

Warga Baloi Imigrasi, Kiki Berlian, mengaku tidak tahu terkait kasus yang tengah menjerat PT GMP. Namun, menurut dia, sejak seminggu terakhir kantor GMP terlihat sepi.

“Sudah semingguan lebih nggak pernah lagi nampak tulisan perusahaan itu,” katanya.

Anggota Ditkrimsus Polda Kepri mengawal dua tersangka Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang diamankan saat ekspos di Mapolda Kepri, Senin (5/11). Selain mengamnkan dua tersangka polisi juga mengamankan 9.200 dollar dan beberapa unit telepon genggam, komputer dan barang bukti lainnnya. F Cecep Mulyana/Batam Pos
Polisi Satu Pesawat dengan Totok

Kasubdit III Tipidkor Polda Kepri AKBP Ponco Indriyo menjelaskan kronologis penangkapan Totok Suranto dan Eliman Syah Hia di kawasan Gandaria City Mall, Jakarta, Jumat (2/11) lalu.

Ponco mengatakan, saat mendapat informasi dugaan suap di KSOP Sambu, Dittipidkor dan Ditintelkam Polda Kepri langsung membentuk tiga tim. Satu tim terdiri dari tiga orang.

Tim ini mulai bergerak mengawasi gerak-gerik Totok dan Eliman. Hingga pada Jumat (2/11) lalu, polisi mendapat informasi Totok akan terbang dari Batam ke Jakarta.

Polisi bahkan berhasil mendapatkan data lengkap terkait pesawat dan jadwal keberangkatan Totok ke Jakarta. Sehingga polisi memesan tiket rute Batam-Jakarta dengan jam dan pesawat yang sama dengan Totok.

“Tiga tim ini, semuanya ikut berangkat di pesawat yang sama dengan tersangka (Totok),” ungkap Ponco.

Pesawat tersebut berangkat dari Batam pukul 14.20 WIB dan mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng sekitar pukul 17.00. Begitu keluar dari terminal, Totok naik kendaraan menuju ke Gandaria City Mall di Kebayoran lama, Jakarta Selatan. Para penyidik Polda Kepri terus membuntuti Totok.

“Sampai di Gandaria City Mall itu sekitar pukul 18.30. Hingga di Gandaria City Mall itu tersangka Totok ini masih sendirian. Dia lalu menuju tempat makan bernama Eat and Eat,” ucapnya.

Eat and Eat merupakan pusat kuliner dan jajanan (food market) di area Gandaria City Mall. Sehingga suasa­na­nya saat itu cukup ramai. Di sana, Totok memilih satu tem­pat dan memesan makanan.

Sekitar pukul 19.00, Kepala Cabang PT Garuda Mahakam Pratama Eliman Syah Hia terlihat di lokasi dan langsung mendekati Totok yang sedang menyantap makanannya.

“Kami terus memantau, keduanya makan dan bercakap-cakap hingga pukul 19.45. Begitu acara makan selesai, ada penyerahan (uang suap) itu. Pas itulah kami tangkap dan amankan keduanya,” ungkap Ponco.

Kini, Totok dan Eliman ditahan di Rutan Mapolda Kepri untuk menjalani proses penyelidikan.

“Kami masih melakukan pendalaman, dan meminta keterangan dari saksi-saksi,” tutur Ponco. (gie/ska)

ATB jadi Rujukan Studi Banding PT Palyja Jakarta

0

Sebagai pengelola air bersih terbaik di Indonesia, ATB layak jadi rujukan banyak perusahaan. Tidak hanya dari sejumlah PDAM maupun instansi pemerintahan dari dalam negeri, berbagai perusahaan dari luar negeri memilih ATB sebagai tujuan studi banding.

Setiap bulannya ATB selalu mendapat kunjungan dari berbagai perusahaan, termasuk PT PAM Lyonnaise Jaya atau lebih dikenal dengan Palyja sebagai penyedia air bersih di wilayah Barat DKI Jakarta berkunjung ke ATB.

Customer Care Department Head PT Palyja Jakarta, Rani Santi mengatakan, ATB jadi tempat studi banding yang sudah dipilih pimpinan. Pihaknyapun ingin mendapatkan wawasan, bertukar pengalaman seputar pelayanan, pembacaan meter pelanggan hingga contac center dan sistem aplikasi yang digunakan di ATB.

“ATB sudah luar biasa, disini ATB juga mengedepankan aspek pelayanan dan itu semua didukung dengan teknologi yang mumpuni melalui SCADA terintegrasi dan AIRS, ATB layak jadi percontohan,” tutur Rani mewakili lima orang tim dari Palyja saat mendapat penjelasan seputar pelayanan ATB di IPA Mukakuning akhir pekan lalu.

Rombongan PT Palyja dari berbagai departemen, mendapatkan informasi seputar pelayanan meter air maupun pelayanan melalui contac center di ATB. Sembari berdiskusi, antusias tanya jawabpun terlihat

“Proses pelayanan di ATB sudah sangat bagus dan sudah terlaksana dengan baik, seperti monitoring pemakaian pelanggan bisa dapat diketahui secara realtime, termasuk untuk data pelanggan lainnya, kami ingin belajar lebih banyak ke ATB,” jelas Rani.

Sementara itu, Manager NRW ATB Sadma Lastyanta didampingi jajaran di ATB yakni Manager IT & System Jamaluddin, Manager Finance Raja Roy bersama tim mengatakan, pembacaan meter pelanggan ATB dibagi dalam dua kelompok yakni pelanggan domestik dan pelanggan utama (key account).


Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus saat mendampingi rombongan PT. Palyja Jakarta saat kunjungan studi banding seputar pelayanan air bersih ke ATB Batam akhir pekan lalu.

Kegiatan pembacaan meteran pelanggan ATB setiap bulan dilakukan dari tanggal 1-25, dengan 1192 rute pembacaan seluruh pelanggan ATB. Dalam satu hari pembacaan dilakukan sekitar 12 ribu pelanggan dengan jumlah sebanyak 65 orang petugas pembaca meter.

“Setelah terpenuhi jadwal pembacaan meteran sampai tanggal 25, tim akan melakukan survei ulang ke lapangan untuk data-data pelanggan yang perlu dicermati, seperti pelanggan yang sudah diputus,” jelas Sadma.

Secara terstruktur tim meter reader ATB melakukan pembacaan meter dapat dimonitor dan dikontrol dengan baik. ATB juga menggunakan teknologi pendukung untuk lebih meningkatkan efisiensi, produktifitas dan efektifitas dalam pengelolaan air bersih.

“Kita menggunakan Mobile Meter Reading (MMR) dan Automatic Meter Reading (AMR) paduan hardware dan software yang dirancang sedemikian rupa untuk menghasilkan pembacaan meter lebih akurat. Begitu juga pengiriman data bacaan secara realtime disertai bukti foto dan koordinat akan membuat data bacaan meter lebih mudah untuk dianalisa. Termasuk Pemakaian air terlalu tinggi/rendah atau kebocorn jaringan pipa secara cepat diketahui,” tutur Sadma.

Selain berkunjung ke IPA Mukakuning, rombongan Palyja juga menyambangi area pelayanan dan Call Center ATB di Sukajadi. Hal ini guna mendapat gambaran lebih jauh bagaimana ATB melayani pelanggan secara maksimal.

“Call Center kita beroperasi setiap hari mulai pukul 07.00-24.00 WIB, di Call Center juga dapat memonitor kondisi tekanan air di tempat pelanggan melalui tampilan dashboard SCADA ATB. Petugas Call center dapat mengetahui secara cepat kondisi realtime di lapangan,” ujar Maria Jacobus head Of Corporate Secretary sembari memperkenalkan SCADA terintegrasi ATB.

Kunjungan Palyja ke ATB dapat dimanfaatkan dengan baik, ATB tentunya turut senang dan bangga bisa berbagi seputar informasi pengelolaan air bersih ke perusahaan air lainnya.

“Tentunya kami berharap dimasa mendatang ATB bisa terus semangat dan terus maju dalam berbagai inovasi dalam pelayanan, jangan berhenti dan saling berbagi pengalaman dengan PDAM lainnya,” tutur Rani

Mengedepankan inovasi teknologi yang dibangun secara in-house development, mengantarkan ATB saat ini sebagai benchmark bagi banyak perusahaan air di Indonesia, bahkan dunia internasional. Setiap bulannya ATB dikunjungi hingga delapan kali dari berbagai perusahaan, intansi pemerintah maupun dari Universitas/akademi. (*)

Isak Tangis Iringi Tabur Bunga

0

batampos.co.id – Dua Kapal Perang KRI Banda Aceh 593 dan KRI Banjarmasin 592 melaju pelan mengitari 250 meter area operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Selasa (6/11). Di atas dek helikopter keduanya, 726 pasang mata menatap pilu ke permukaan laut.

Kedua komandan kapal memperlambat mesin dan memberi kesempatan pada keluarga korban untuk melihat titik jatuhnya Pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610 tersebut.

Di bawah kerumunan perahu, kapal tim SAR dan TNI AL dengan KM Teluk Bajau Victory sebagai pusatnya, mungkin tergeletak anggota keluarga dan sahabat tercinta. Menunggu untuk ditemukan dan diangkat ke permukaan.

Edi Hadrian, salah seorang keluarga korban asal palembang, awalnya tampak tenang sejak berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta pagi tadi, namun demi melihat tempat keponakannya, Amelia Rizky dijemput sang Kuasa, bapak berusia 50 tahunan ini tak kuasa menahan tangisnya.

Ia lantas didudukkan di atas kursi di dekat Buritan KRI Banda Aceh. Didampingi sang menantu keponakan, Murtadlo. Dokter Kapal KRI Banda Aceh Letkol Harjo Utomo berusaha menenangkannya.

“Saya melihat lokasi langsung down, tolonglah ya pak, diangkat ponakan saya,” katanya sambil mengusap matanya yang sembab.

Seminggu lalu Edi ingin sekali bertemu keponakannya yang menjadi pegawai BPK dan berkantor di Pangkal Pinang. Kebetulan saat itu Amelia sedang pulang ke Palembang.

“Dia pulang karena ingin berobat ke dokter gigi,” tutur Murtadlo sang suami.

Murtadlo dan Amelia tidak sampai 4 bulan menikah. Edi menyesal saat itu tidak bisa hadir di pernikahan mereka. Bagi Edi, sejak ayah Amelia meninggal, Amelia sudah ia anggap anaknya sendiri.

“Saya titip sama mamanya, saya tidak bisa menemani, ada pekerjaan yang harus saya selesaikan, nanti begitu selesai saya akan ke Palembang,” katanya.

Namun sayang, saat Edi tiba di Palembang, ia mendapati Amelia sudah berangkat ke Jakarta untuk kemudian bertolak ke Pangkalpinang.

“Padahal cuma selisih 2 jam,” isaknya.

Edi berkali-kali mengucapkan terima kasih pada TNI AL, Basarnas, dan Penyelam yang telah bekerja keras mencari keluarga korban. Ia lantas dituntun kembali ke dalam tenda acara sebelum sempat ditanyai oleh para wartawan.

Elis Kristanti, asal kota Bogor juga tampak terpaku menatap permukaan air tempat sang adik, Darwin Haryanto, penumpang JT-610. Ia bahkan menolak saat beberapa orang menawarkan kelopak bunga untuk ditaburkan.

“Biasanya kalau orang meninggal kan dikuburkan, maka selesai. Kalau seperti ini kan serba tidak pasti. Istrinya (almarhum, red) di rumah menanti-nanti,” tutur suami Elis, Yuswandi.

Prosesi tabur bunga berlangsung khidmat. Rohaniawan memimpin doa dalam 5 agama. Selain keluarga korban, hadir pula sejumlah Pilot, Pramugari, dan Staff Lion Air. Dirut Lion Air Edward Sirait juga tampak hadir.

Di KRI Banda Aceh, hadir Panglima Komando Armada I (Pangkoarmada I) Laksamana Muda TNI Yudo Margono, Panglima Komando Lintas Laut Militer (Pangkolinlamil) Laksda TNI R.

Achmad Rivai, dan ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi KNKT Soerjanto Tjahjono, serta Plt. Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Pramintohadi Sukarno.

Sedangkan Kabasarnas, Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi, dan Pejabat Polri naik di KRI Banjarmasin. (JPG)

Desa Berdaya, Cara Pertamina Meningkatkan Kualitas Hidup Warga Nongsa

0

Bersinergi dengan sejumlah pihak, PT Pertamina mengembangkan Desa Berdaya di Kecamatan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau. Program ini merupakan upaya nyata Pertamina untuk mewujudkan kemandirian dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Nongsa.

Sanggar Mentari di Kelurahan Batubesar, Kecamatan Nongsa, Batam, mendadak riuh, Minggu (28/10) lalu. Sejumlah remaja putra dan putri terlihat saling bersenda-gurau di sela kegiatan yang mereka ikuti, pagi itu.

Seperti biasanya, pagi itu para remaja dari Remaja Masjid Nurul Hidayah Batubesar tersebut mengikuti pelatihan membuat kerajinan dari kulit kerang. Kegiatan yang sudah berlangsung sejak tiga bulan terakhir ini merupakan hasil kolaborasi antara Pertamina Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Hang Nadim dengan Politeknik Negeri (Poltek) Batam.

Didampingi pelatih dari pengurus Sanggar Mentari dan dari Poltek Batam, pagi itu mereka berlatih cara memotong kulit kerang dengan mesin pemotong. Secara bergantian mereka mengikuti sesi ini. Sesi ini terus diulang sampai para peserta pelatihan benar-benar mahir cara memotong kulit kerang dalam berbagai motif.

“Daripada nganggur saat hari libur, mending ikut pelatihan ini,” kata Via Resta, salah satu peserta, Minggu (28/10) lalu.

Siswi kelas VIII SMK Negeri 7 Batam ini mengaku tertarik mengikuti pelatihan membuat kerajinan kulit kerang ini karena melihat prospeknya ke depan. Kata dia, kerajinan dari kulit kerang ini memiliki nilai jual yang tinggi.

“Kalau sudah bisa, nanti buat karya sendiri dan bisa dijual. Uangnya bisa untuk jajan dan biaya sekolah. Jadi tak selalu bergantung sama orangtua,” kata Via penuh semangat.

Bendahara Sanggar Mentari Sirtufir Lailie mengatakan, kegiatan membuat kerajinan dari kulit kerang di sanggar ini sudah berjalan sejak lama. Tetapi dulunya sanggar ini hanya melibatkan anggota dan pengurus saja.

Selain itu, aktivitas produksi kerajinan kulit kerang di sanggar tersebut sempat terhenti karena terkendala masalah pemasaran. Sebab selama ini mereka hanya memasarkan hasil karya kerajinan kepada warga sekitar saja.

“Tapi sejak ada program Desa Berdaya dari Pertamina ini, kami jalan lagi. Warga yang terlibat juga makin banyak,” kata Sirtufir Lailie, Minggu (28/10) lalu.

Wanita yang akrab disapa Laily ini mengatakan, selain mengadakan program pelatihan bagi remaja, kini Sanggar Mentari juga melakukan kegiatan serupa bagi para ibu rumah tangga. Harapannya, kelak mereka bisa membantu menambah pendapatan keluarga dari hasil penjualan kerajinan kulit kerang.

Menurut Laily, pemasaran produk memang kerap menjadi kendala utama. Sebab tanpa ada pemesanan atau pembeli, maka aktivitas produksi di sanggar otomatis tidak akan jalan.

Terkait persoalan ini, kata Laily, Pertamina sudah memberikan solusi. Di antaranya dengan membantu pemasaran melalui berbagai pameran. Juga bekerja sama dengan sejumlah vendor sebagai tempat penjualan produk kerajinan kerang.

“Dan katanya mau dibuatkan koperasi. Supaya secara bisnis program ini juga berjalan,” kata Laily.

Peserta pelatihan menunjukkan kerajinan kulit kerang di Sanggar Mentari, Batubesar, Nongsa, Minggu (28/10). f. Suparman/Batam Pos.

Selain itu, lanjut Laily, sejauh ini Pertamina juga sudah membantu beberapa fasilitas dan alat produksinya. Antara lain berupa dua kompresor, satu mesin potong, dan dua gerinda.

Kerajinan yang dihasilkan di sanggar ini cukup beragam bentuknya. Mulai dari bunga hias, hiasan lampu, tempat tisu, asbak, dan banyak lagi. Selain dijual di pasar lokal, kerajinan kulit kerang Sanggar Mentari juga sudah tembus ke pasar internasional.

“Ada juga pembeli dari Malaysia dan Singapura,” kata Laily.

Junior Supervisor Receipt Storage Distribution (RSD) Pertamina DPPU Hang Nadim, Muhammad Dimas Azhari, mengatakan program Desa Berdaya ini sebenarnya sudah berjalan sejak 2016 lalu. Ini merupakan program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) Pertamina DPPU Hang Nadim yang berkelanjutan bagi masyarakat Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa.

Namun pada awalnya, kata Dimas, Pertamina DPPU Hang Nadim berkolaborasi dengan Rumah Zakat Batam. Tetapi sejak tahun ini Pertamina DPPU Hang Nadim menyatukan energi dengan Poltek Batam untuk menjalankan program tersebut.

“Ini persembahan Pertamina untuk warga Batubesar, Nongsa,” kata Dimas, Selasa (6/11).

Secara garis besar, kata Dimas, pihaknya ingin mendorong warga di Batubesar terus memperbaiki kualitas hidup mereka. Khususnya kualitas hidup dari sisi ekonomi dan kesehatan.

Itulah sebabnya, melalui program Desa Berdaya ini Pertamina DPPU Hang Nadim bersama Poltek Batam menjalankan empat kegiatan di sana. Yakni pelatihan membuat kerajinan kulit kerang, program usaha dan pelatihan merajut, program pelatihan pengelasan, dan program Posyandu Pertamina Sehati.

Untuk program pelatihan kerajinan kulit kerang dan merajut, Pertamina melibatkan para ibu rumah tangga serta remaja putra dan putri di daerah setempat. Dengan harapan, kelak mereka mampu membekali diri dengan keterampilan yang bisa memberikan nilai tambah secara ekonomi.

Sementara program pelatihan pengelasan menyasar kalangan pemuda di Batubesar, Nongsa. Harapannya, kelak para pemuda di sana bisa memiliki keahlian di bidang pengelasan sebagai bekal untuk masuk ke dunia kerja. Atau bahkan modal untuk memulai usaha sendiri.

“Sedangkan program Posyandu Pertamina Sehati menyasar pada balita dan lansia. Supaya mereka semakin peduli terhadap masalah kesehatan,” kata Dimas.

Dimas mengatakan, program Desa Berdaya ini merupakan bentuk kesadaran Pertamina bahwa program CSR kini menjadi isu sentral demi pertumbuhan dan keberlanjutan sinergitas positif antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat sekitar.

“Program ini diharapkan mampu mengatasi permasalahan-permasalahan sosial dan lingkungan yang selama ini muncul dipermukaan dimulai dari kawasan terdekat area operasi DPPU Hang Nadim,” kata Dimas.

Dihubungi terpisah, Pembantu Direktur (Pudir) III bidang Kemahasiswaan Poltek Batam, Muslim Ansori, mengatakan kerja sama Poltek Batam-Pertamina DPPU Hang Nadim ini merupakan bentuk pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat. Ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, dan Pengabdian kepada Masyarakat.

“Ini kolaborasi energi untuk saling menguatkan. Pertamina punya anggaran, kami punya SDM,” kata Muslim, Selasa (6/11).

Gubernur Kepri Nurdin Basirun (kiri) bersama perwakilan Pertamina MOR I dan warga melakukan panen perdana di KEM Madong, Tanjungpinang, Jumat (27/7) lalu. F Cipi Ckandina/Batam Pos

Dalam program Desa Berdaya ini, peran Poltek Batam memang sebagai pelaksana. Poltek Batam menyiapkan pelatih dan pendamping dalam setiap program yang dijalankan di Desa Berdaya ini.

Misalnya dalam program pelatihan pengelasan. Poltek Batam menyediakan pelatih dan teknisi yang mumpuni. Selain dari praktisi, pelatih juga didatangkan dari kalangan dosen di jurusan Teknik Mesin di Poltek Batam.

Begitu juga dengan program pelatihan membuat kerajinan kulit kerang dan merajut. Poltek Batam mengirimkan para pelatih yang memang ahli di bidangnya.

Meski hanya sebagai pelaksana, Muslim menyebut komitmen Poltek Batam dalam program Desa Berdaya ini sama besarnya dengan Pertamina. Sebab secara prinsip Poltek Batam juga ingin memberikan manfaat yang nyata bagi kemandirian dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

“Kami berprinsip, para akademisi di perguruan tinggi itu tak boleh hidup nyaman di menara gading. Kami harus turun dan ikut mengembangkan masyarakat menjadi manusia yang mandiri dan berkualitas,” kata Muslim.

Menebar Manfaat di Kepri

Program Desa Berdaya di Nongsa, Batam, hanyalah satu dari sekian banyak program CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I. Khusus di Kepri yang menjadi salah satu provinsi wilayah kerja Pertamina MOR I, Pertamina sudah banyak menjalankan program CSR untuk sejumlah sektor.

Di sektor perikanan, Pertamina MOR I melakukan pembinaan terhadap 12 Kelompok Ekonomi Masyarakat (KEM) di Kepri. 12 KEM tersebut tersebar di Natuna, Tanjungpinang, dan Kabupaten Karimun. KEM ini merupakan kelompok nelayan yang mengembangkan budidaya ikan dan udang tambak.

Pembinaan KEM ini rata-rata sudah berhasil. Seperti KEM Madong di Tanjungpinang melakukan panen raya perdana ikan kerapu pada Juli lalu. Tak tanggung-tanggung, KEM Madong menghasilkan satu ton ikan kerapu dalam panen perdana tersebut.

“Semoga hal ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh warga yang tergabung di dalamnya dan menjadi contoh bagi KEM lainnya untuk makin giat mengelola usahanya,” kata Unit Manager Communication dan CSR PT Pertamina (Persero) MOR I Rudi Ariffianto dalam rilisnya kepada batampos.co.id, beberapa waktu lalu.

Selain pembinaan KEM, Pertamina MOR I menjalankan program kemitraan dengan sasaran Usaha Kecil Menengah (UKM) di Natuna, Kepri. Dalam program CSR ini, Pertaminamemberikan pinjaman modal usaha tanpa bunga bagi para pelaku UKM di Natuna.

Selebihnya, program CSR Pertamina MOR I tersebar di beberapa kabupaten/kota di wilayah Kepri. Mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, dan lainnya.

Selain program CSR, baru-baru ini Pertamina MOR I menyalurkan 1.000 lebih konverter kit bagi para nelayan tradisional di Kepri. Termasuk nelayan di Batam yang menadapatkan 429 paket konverter kit.

Rudi menjelaskan, ini merupakan program penugasan pemerintah yang berjalan sejak 2017 lalu. Melalui program ini Pertamina mendorong nelayan melakukan konversi BBM ke gas LPG 3 kilogram.

Dengan berbagai keberhasilan dalam program CSR itu, maka tak heran jika Pertamina MOR I meraih dua penghargaan Nusantara CSR Awards 2018 di Kategori Zamrud CSR. Hal ini sebagai bentuk pengakuan publik terhadap kesuksesan pelaksanaan program CSR Pertamina, khususnya di wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), termasuk Kepri. (suparman)

Instrumen Pesawat Lion JT 610 Diduga Sudah Rusak Sebelumnya

0

batampos.co.id – Pesawat Lion Air nomor registrasi PK-LQP diperkirakan sudah mengalami gangguan instrumen pada 4 penerbangan sebelumnya. Hal ini merupakan temuan awal dari penyelidikan KNKT. Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan bahwa pihaknya sudah berhasil mengunduh data Flight Data Recorder (FDR).

Ia mengatakan kondisi data bagus. Ada 69 jam data penerbangan yang direkam. ”69 jam itu terangkum dalam 19 flight yang penerbangan, dari data yg kuta unduh itu, kita mengacu pada 1790 parameter,” jelasnya.

Dari 1790 parameter tersebut, data ditemukan cocok dengan data yang ditunjukkan radar. Artinya, data yang direkam dalam kondisi bagus. Selain data dari FDR, Soerjanto mengatakan pihaknya juga butuh mengambil data dari non volatile memory (NVM) yang tersimpan di komponen-komponen dalam pesawat. NVM-NVM ini nantinya bisa membantu menguak misteri penyebab jatuhnya PK-LQP.

Soerjanto mengatakan, tidak semua data terekam di FDR, beberapa tertinggal di komponennya. Beberapa informasi tertinggal dalam komponen tersebut.

“Tapi tentu saja NVM ini tidak didesain untuk tahan saat terendam di laut,” jelasnya.
Karena keterbatasan waktu dan kekuatan personil, maka dalam waktu dekat KNKT akan membuat list komponen mana saja yang harus diprioritaskan untuk dicari dan diangkat.

”KNKT akan bikin list, tim dari Amerika bikin list, mungkin nanti kita minta Saran dari tim dari Australia, Singapura, ataupun dari Arab Saudi mungkin mereka punya pengalaman,” jelasnya.

Sayangnya yang bisa menganalisa NVM hanyalah produsen komponen itu sendiri. Sehingga kata Soerjanto, mau tidak mau komponen harus dibawa ke pabrik produsen asalnya.

Temuan awal menunjukkan memang terdapat masalah pada Airspeed Indicator pada instrumen di kokpit.

Airspeed nya unreliable. Jadi terjadi perbedaan antara kiri dan kanan (sisi kapten dan sisi first officer, red),” katanya.(tau/jun/JPG)

Ayo, Tata Jembatan Barelang

0
Jembatan Barelang.
foto: batampos.co.id / putut ariyotejo

batampos.co.id – Forum Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TSP) Kota Batam mengajak semua pengusaha di Batam untuk bisa berkontribusi menata destinasi wisata di Batam. Terutama ikon Batam saat ini, jembatan satu Barelang. Di mana hampir semua wisatawan yang berkunjung ke Batam akan mengunjungi tempat tersebut.

“Kita minta perusahaan-perusahaan besar untuk bisa ikut bergabung membangun pariwisata di Batam ini. Jembatan satu itu misalnya, masih harus terus ditata seindah mungkin,” kata ketua TSP Kota Batam Johanes Kennedy, Selasa (6/11).

Menurut Jhon, membangkitkan ekonomi di Batam tidak harus melalui industri manufaktur tetapi dari berbagai sektor, termasuk pariwisata. “Disinilah kita para pengusaha berupaya untuk menciptakan destinasi wisata yang aman dan nyaman untuk pengunjung,” tambahnya.

Khusus untuk jembatan satu Barelang, menurut Jhon masih belum tertata dengan rapi. Kios-kios yang berada di pinggir jalan sekitar jembatan belum tertata rapi. Padahal seharusnya, kios-kios tersebut bisa ditata rapi dan ditempatkan di bawah jembatan.

“Justru di bawah jembatan ini yang paling bagus tempatnya. Ini bisa ditata sebaik mungkin dan akan semakin banyak turis yang berkunjung ke sana,” katanya.

Di bawah jembatan bisa ditata pusat kuliner yang nyaman dan aman. Didukung dengan tempat bersantai bagi para wisatawan untuk menikmati indahnya pemandangan dari bawah jembatan.

“Jadi tak usah lagi ada yang jualan di atas jembatan. Parkir di sana juga tidak boleh lagi. Di atas jembatan itu harusnya hanya bisa jalan kaki untuk berfoto saja,” katanya.

Untuk membuat jembatan ini semakin indah, ia berharap rencana BP Batam untuk membuat lampu warna warni di jembatan akan segera terwujud.

“Intinya bagaimana membuat turis semakin betah di Batam. Harus kita upayakan mereka long stay di Batam,” katanya.

Sebelumnya, Forum Tanggungjawab Sosial Perusahaan (TSP) akan membangun dua tempat peristrahatan atau rest area sepanjang jembatan satu sampai jembatan enam. Ini ditujukan untuk memanjakan para turis ke daerah galang yang sering kewalahan untuk mencari kamar mandi atau tempat bersantai sebelum sampai ke tempat tujuan.

Selain kamar mandi, nanti rest area ini akan dilengkapi dengan musolah, tempat makan, tempat bermain anak, dan parkir. Ini semua perlu dilakukan untuk membuat turis aman dan nyaman selama di Batam. (ian)

Polda Kepri Amankan 2,9 Kg Sabu dan 2.331 Butir Ekstasi

0
Dirnarkoba Polda Kepri Kombes Yani (kiri) bersama Kabid Humas Polda Kepri S. Erlangga menunjunkan barang bukti narkoba hasil tangkapan beserta sejumlah tersangka saat ekpos di Mapolda Kepri, Selasa (6/11). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Polda Kepri mengamankan sebanyak 2,9 kg sabu dan 2331 butir ekstasi dari tangan 6 orang tersangka selama Oktober dan November. Seluruh barang bukti itu hasil dari pengungkapan empat kasus dilakukan polisi dan Avsec Hang Nadim.

“Pengungkapan dilakukan hasil sinergi dan koordinasi semua pihak,” kata Direktur Reserse Narkoba Polda Kepri, Kombes Yani Sudarto, Selasa (6/11).

Ia mengatakan kasus pertama tersebut bermula ditangkapnya Hz, selaku kurir sabu, 26 Oktober lalu. Dari tangan Hz diamankan sebanyak 1,7 kg sabu dan 2331 butir ekstasi. Dari pengakuan Hz, selama pengiriman barang haram ini dia dikoordinir oleh R, warga Batam.

“Kami lakukan pendalaman, akhirnya sehari kemudian kami bekuk R,” tuturnya.

R, kata Yani merupakan pemain lama yang telah malang melintang dalam pengiriman sabu. Dari R, diketahui pemilik sabu tersebut WN Malaysia.

“Mr x selaku pemilik ini, sedang di kejar dengan kerjasama dengan Polisi Diraja Malaysia,” ucapnya.

Selain mengungkap jaringan sabu internasional. Yani menuturkan jajaranya juga berhasil membekuk pengedar sabu di kawasan Kampung Aceh,Mukakuning.

“Di sana itu amankan dua pengedar, beda jaringan. Pengedar pertama dengan inisial A dengan barang bukto 84 gram sabu,” ucapnya.

Lalu, bandar kedua, Mk ditangkap dua hari kemudian di lokasi yang sama. Dari tangan Mk diamankan sebanyak 400gram sabu. Sabu tersebut rencananya akan diedarkan untuk pembeli yang mendatangi kawasan tersebut.

“Kasus kedua bandar yang kami amankan dikawasan Kampung Aceh ini sedang kami dalami,” ucapnya.

Yani mengatakan sebanyak 709 gram sabu didapat hasil dari pelimpahan dari Satuan Pengamanan Bandara Internasional Hang Nadim (AVSEC), 4 November lalu. Sabu itu diamankan dari dua orang kurir sabu yang berencana membawa sabu menuju Jakarta dan Jambi.

“Walaupun ditangkap saat bersamaan, tapi keduanya beda jaringan,” ungkap Yani.

Namun, keduanya memiliki modus yang sama dalam menyelundupkan sabu yakni memasukan ke dalam sepatu.

“Untungnya petugas Avsec sigap dan berhasil mengamankan mereka. Kasus ini juga dalam pengembangan kami,” tuturnya. (ska)

Tumor Ganas Bersarang Dipinggul Bocah 3 Tahun

0

batampos.co.id – Aditya Saputra, 3, harus merasakan sakit akibat tumor ganas yang bersarang dipinggulnya selama dua tahun. Tumor yang bermula dari benjolan kecil ini, tak kunjung hilang walaupun sudah diobati. Abdullah selaku orangtua, pernah membawa Aditya ke Jakarta atas bantuan Dinas Kesehatan Provinsi Kepri. Namun, karena keterbatasan biaya Abdullah terpaksa membawa pulang kembali anaknya.

“Pengobatan memang tidak bayar. Tapi biaya hidup kami di Jakarta tak ada lagi, makanya saya kembali pulang,” katanya, Selasa (6/11).

Sejak balik dari Jakarta, beberapa waktu lalu Aditya tak lagi mendapatkan pengobatan. Akibatnya, tumor ganas itu semakin membesar. Sehingga menyulitkan Aditya untuk bergerak.

“Saya cuman nelayan pak, gak punya uang dan pengetahuan untuk obatin anak,” tuturnya.

Namun, kini Abdullah merasa lega setelag Polda Kepri memboyong anaknya ke Rumah Sakit Bhayangkara. Tidak hanya itu saja, Kapolda Kepri Irjen Andap Budhi Revianto meminta jajarannya membantu secara penuh proses pengobatan Aditya.

“Saya senang, pak polisi bisa membantu kami,” tuturnya.

Abdullah berharap dipengobatan kali ini, penyakit anaknya bisa terobati. “Saya harap tumor itu lagi ada dipantat anak kami,” ucapnya.

Kapolda Kepri Irjen Andap Budhi Revianto mengatakan siap membantu kesembuhan Aditya. “Kami akan koordinasikan dengan jajaran yang ada untuk penyembuhan anak ini,” ujarnya.

Andap mengatensikan ke jajaranya untuk membantu semaksimal mungkin penyembuhan Aditya. Tidak hanya itu, Andap juga meminta jajaranya untuk melakulan koordinasi dengan instansi lain.

“Pengobatan tidak bisa dilakukan disini (RS Bhayangkara). Kami usahakan ke Rumah Sakit yang berwenang melakukan tindakan. Tapi hingga ada rumah sakit terkait yang bisa menampung, Aditya dan keluarganya boleh tinggal selama mungkin disini. Gratis,” ungkapnya.

Terkait penyakit Aditya, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Hartono mengatakan bahwa Rapdomiosarkoma sejenis tumor ganas yang ada diotot. Penindakan terhadap tumor ini dilakukan secara bertahap.

“Operasi, lalu kemoterapi. Proses penyembuhan tergantung pasien, bisa memakan waktu mulai 6 bulan hingga 1 tahun,” tuturnya. (ska)

Jembatan Barelang, Destinasi Wisata Batam Paling Hits di Instagram

0

Berdiri sejak tahun 1998, Jembatan Barelang merupakan jembatan cable stayed pertama di Indonesia. Kini, landmark Pulau Batam ini menjadi destinasi wisata favorit bagi pelancong lokal maupun mancanegara.

RIFKI SETIAWAN LUBIS, BATAM

Cuaca cerah menghiasi langit Kota Batam, Jumat (2/11) siang. Dari Kawasan Wisata Dendang Melayu, Jembatan Raja Haji Fisabilillah atau biasa dikenal sebagai Jembatan Barelang tampak terlihat gagah membentang dari Pulau Batam menuju Pulau Tonton.

Saat itu, Dendang Melayu dipadati ratusan wisatawan lokal dan mancanegara. Ikon bertuliskan Barelang Bridge di Dendang Melayu memang menjadi lokasi swafoto favorit karena berlatar belakang Jembatan Barelang.

Jembatan ini memang menjadi destinasi digital favorit karena memiliki panorama yang bagus. Baik siang maupun senja, dengan sedikit sentuhan fotografi, maka akan diperoleh foto yang menarik. Tiap tahun ada 1,5 juta wisatawan lokal dan mancanegara yang mengunjungi landmark Kota Batam ini dan mengabadikan momen disana.

Kemegahan jembatan yang juga dikenal sebagai Jembatan Satu dan Jembatan Habibie ini juga menyiratkan kekaguman bagi Eddy Sutrisno. Penulis ini tak henti-hentinya memandang takjub jembatan yang mulai dibangun pada tahun 1993 ini.

“Jembatan ini merupakan jembatan cable stayed pertama di Indonesia. Dan yang membangun merupakan insinyur-insinyur terbaik Indonesia saat itu,” ungkapnya Eddy yang juga merupakan Ketua Batam Heritage Society.

Eddy kelihatannya sudah tak sabar lagi untuk menceritakan sejarah pembangunan jembatan yang memiliki panjang 644 meter ini. Dari mimik wajahnya, ia kelihatan tidak akan menundanya barang sedetik pun.

“Jembatan ini dibangun bersama lima jembatan lainnnya untuk menghubungkan Pulau Batam hingga Pulau Rempang dan Galang,” tutur Eddy.

Kisah pembangunan dimulai pada tahun 1992. Saat itu wilayah kerja pengelola Pulau Batam yakni Otorita Batam diperluas lewat turunnya Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 28 Tahun 1992. Dari yang semula hanya Pulau Batam, ditambah lagi dengan Pulau Rempang dan Pulau Galang dengan terbitnya Keppres tersebut.

Jembatan Barelang kala senja.
foto: Andi Mubestan – Humas BP Batam untuk batampos

Namun saat itu antara Pulau Batam dengan Pulau Rempang dan Galang belum ada koneksi sama sekali.

Ketua Otorita Batam saat itu yakni BJ Habibie kemudian menggagas ide pembangunan enam jembatan trans yang menghubungkan Pulau Batam hingga Pulau Galang di ujung.

“Kemudian pada tahun 1993 mulai mendesain master plan jembatan trans dengan melibatkan Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung dan Universitas Gajah Mada. Mereka membangun detail enggineering design (DED)-nya. Proyek ini disebut Proyek Trans Batam Rempang Galang (Barelang),” papar Eddy.

Bukan hanya jembatan saja yang dibangun, jalan raya juga dibangun. Total panjang jalan dan jembatan dari proyek Trans Barelang mencapai 54 kilometer, terdiri dari 52 kilometer jalan dan dua kilometer untuk enam jembatan. Total dana negara yang dikeluarkan untuk membangun proyek ini mencapai Rp 370 miliar saat itu.

“Selain itu, dasar dari pembangunan proyek ini yakni karena cetusan Teori Balon Habibie,” imbuhnya.

Teori Balon Habibie mengibaratkan perekonomian Singapura, Batam dan kawasan sekitarnya seperti sebuah sistem balon yang dihubungkan satu sama lain dengan katup.

Ketika salah satu balon terus menerus memuai, maka suatu saat tekanannya akan melebihi titik kritis sehingga bisa pecah. Untuk mencegah agar balon pertama tidak pecah, maka balon kedua dapat mengambil kelebihan tekanan melalui katup dan dapat membesar tanpa menyebabkan balon pertama kempes. Prosesnya akan terus berlanjut hingga balon ketiga, keempat dan seterusnya.

Balon pertama yakni Singapura akan terus membesar karena perekonomiannya memang maju pesat sehingga kemungkinan akan dialirkan ke Batam. Dan setelah Batam ikut membesar, kemudian diberi katup agar bisa dialirkan ke Rempang dan setelah membesar diberi katup lagi untuk dapat dialirkan ke Galang dan seterusnya.

“Menurut Habibie, balon-balon itu merupakan perekonomian suatu kawasan, akan mampu berkembang hingga tekanan kritisnya tanpa pecah atau dikempeskan balon lain,” ujarnya.

Proyek Trans Barelang akhirnya selesai pada tahun 1998. Dari enam jembatan hanya jembatan pertama yang menggunakan teknologi baru yakni jembatan cable stayed. “Untuk saat itu, jembatan ini merupakan sebuah prestasi luar biasa dari anak bangsa dan merupakan simbol keberhasilan Batam dari sisi teknologi,” ucap Eddy bangga.

Setelah selesai, maka jembatan pertama ini diberi nama Jembatan Raja Haji Fisabilillah. Nama ini merupakan figur legendaris Pahlawan Kerajaan Melayu yang menjabat sebagai Yang Dipertuan Muda Riau Keenam (1777-1784). Kalau dalam tata kelola pemerintahan, maka jabatan tersebut setara dengan perdana menteri.

Raja Haji Fisabilillah ini dikenal sebagai pribadi yang tegas, keras, berani dan cakap mengatur pemerintahan dan ekonomi. Ia juga ahli dalam siasat perang laut. Nama yang sangat cocok untuk menggambarkan kemegahan dari jembatan yang merangkai pulau-pulau ini.

Sekian dengan sejarahnya, Eddy kemudian mengungkapkan bahwa jembatan ini juga merupakan pintu gerbang menuju kawasan wisata lainnya di seputar Pulau Rempang dan Galang.

“Potensinya wisata di Rempang dan Galang itu besar, apalagi untuk mengembangkan wisata bahari berbasis ekologi. Contohnya snorkeling, fishing island, hopping, scuba diving dan potensi terbaru seperti yachting,” ungkapnya.

Pemerintah Kota (Pemko) Batam saat ini masih mengembangkan gugusan Pulau Abang yang berada di sekitar Pulau Galang sebagai kawasan konservasi laut. Sehingga jalur jalan raya Trans Barelang akan menjadi jalur favorit bagi para pelancong untuk berwisata di Batam.

Apalagi jika membahas mengenai potensi wisata di Pulau Rempang dan Galang. Hingga saat ini, kawasan tersebut memiliki sejumlah pantai-pantai indah yang siap untuk dieksplorasi wisatawan, seperti Pantai Setokok, Pantai Melayu, Pantai Melur, Pantai Vio-Vio dan lainnya. Selain itu, masih ada destinasi wisata berbasis sejarah seperti Kampung Vietnam di ujung jembatan enam Pulau Galang.

Ia juga memberikan saran kepada Pemko Batam agar mengembangkan Dendang Melayu sebagai pusat informasi wisata. “Nanti di dalamnya juga bisa dimuat mengenai sejarah Jembatan Barelang dan kalau perlu ada videonya. Jadi semacam visitor centre berpadu dengan tourism information centre,” sarannya.

Eddy yakin jika destinasi wisata unggulan seperti Jembatan Barelang dan sekitarnya digarap secara profesional, maka pariwisata di Kepri, khususnya Batam akan meningkat. Sehingga target tahun 2019 untuk mendatangkan wisawatan sebanyak empat juta orang per tahun bukanlah mimpi lagi.

“Idealnya dengan segala infrastruktur yang dimiliki Batam itu bisa mengakomodir wisawatan sebanyak tujuh juta orang detik ini juga. Jadi ini soal pengembangan destinasi wisata,” ucap Eddy dengan penuh harap.

Lighting Akan Hiasi Jembatan Barelang

Jembatan Barelang merupakan salah satu destinasi wisata yang instagrammable. Panorama dari atas jembatan setinggi 38 meter ini sangat luar biasa, karena dapat melihat lautan luas dan pulau-pulau yang terhampar di sekitarnya.

Salah seorang wisatawan mancanegara asal Inggris, Arlene Rashford mengakui hal tersebut. Ia datang jauh-jauh dari belahan bumi barat untuk menikmati alam di Asia Tenggara. Lalu, wanita bule ini datang ke Batam karena merupakan pintu gerbang masuk menuju Indonesia.

Ia mencoba menghabiskan waktu selama seminggu di Batam. Baru setelah itu menuju Bali dan negara Asia Tenggara lainnya. Arlene sangat tertarik dengan Jembatan Barelang ini karena memiliki pemandangan yang indah.

“Laut di sekelilingnya. Ini pemandangan yang keren. Luar biasa,” ungkapnya dengan nada yang bersemangat.

Sebenarnya, target utama dia adalah mengunjungi Kampung Vietnam. Arlen menyukai destinasi wisata sejarah. Namun saat melewati jembatan ini, ia berhenti sebentar untuk menikmati pemandangan laut di depan mata.

“Jembatan bisa juga dikatakan sebagai destinasi wisata sejarah karena juga merupakan saksi tumbuhnya dari sebuah peradaban,” ungkapnya.

Setelah itu, ia mengambil beberapa foto dirinya berlatar belakang Jembatan Barelang sebagai kenang-kenangan. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Kampung Vietnam.

Pemandangan yang bagus memang menjadi alasan mengapa banyak pelancong yang suka berswafoto di Jembatan Barelang. Jembatan Barelang memang menjadi destinasi wisata di Batam yang paling banyak diposting di Instagram.

Di Instagram, ada sekitar 24.500 foto dengan tagar Barelang Bridge. 9284 foto dengan tagar Jembatan Barelang dan 1659 foto dengan tagar Jembatan Barelang Batam.

Ini membuktikan bahwa jembatan kebanggaan masyarakat Batam ini memang instagrammable dan menjadi favorit wisatawan. Otorita Batam yang sekarang telah berganti nama menjadi Badan Pengusahaan (BP) Batam selaku pemilik aset Jembatan Barelang menyadari hal tersebut.

Pemandangan dan nilai historisnya memang menjadi sumber daya pikat yang mampu menarik minat wisatawan. Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo mengatakan akan menyulap Jembatan Barelang menjadi lebih cantik lagi. Caranya adalah dengan memberikan pencahayaan kepada jembatan kebanggaan masyarakat Batam ini.

“Kami berencana dan mudah-mudahan terlaksana siapkan satu desain untuk Jembatan Barelang. Jembatan tersebut akan diberi pencahayaan (lighting),” kata Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo belum lama ini.

Pencahayaan yang diberikan ke Jembatan yang memiliki nama lain yakni Jembatan Raja Haji Fisabilillah ini akan menciptakan ikon baru selain dari jembatan itu sendiri.

“Jembatan Barelang akan punya cahaya gemerlap dan akan jadi tambahan ikon. Dan kami usahakan desainnya segera selesai dan prosesnya bisa diselesaikan di akhir tahun 2018,” harapnya.

Tentunya dengan ditambahkan pencahayaan tersebut menjadikan Jembatan Barelang lebih terang dan penuh warna warni, sehingga mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun internasional saat mengunjunginya.(*)

Faktor Ekonomi Menjadi Penyebab Pencurian, Analisa Polisi

0
ilustrasi

batampos.co.id – Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kepri Kombes Hernowo menyebut kasus pencurian kendaraan bermotor yang terjadi di Batam akhir-akhir ini diakibatkan faktor ekonomi. Ia mengatakan pelaku pencurian melakukan tindakan kriminal, lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Tak dipungkiri, faktor ekonomi membuat pelaku melakukan perbuatan melanggar hukum,” katanya, Selasa (6/11).

Namun untuk memastikan hal itu, kata Hernowo membutuhkan pengakjian.

“Hingga kini, kami belum mengkaji lebih dalam terkait faktor ekonomi menimbulkan riak kriminal di Batam,” ungkapnya.

Ia mengatakan dalam bulan-bulan ini, jajaran polisi di Batam sering mengamankan pelaku pencurian sepeda motor.

“Data pastinya saya tidak pegang, karena banyaknya pengungkapan ini dilakukan jajaran di Batam,” tuturnya.

Hernowo berharap masyarakat selalu berhati-hati. Dan selalu menggunakan kunci ganda, ketika memarkir kendaraanya. “Segera laporkan bila kehilangan, agar bisa ditindak lanjuti,” pungkasnya. (ska).