Minggu, 3 Mei 2026
Beranda blog Halaman 12558

Hari Ini Cabut Nomor Urut Pasangan Pilkada

0
Usai ditetapkan sebagai calon Wali Kota Tanjugpinag, pasangan Syahrul-Rahma serta Lis Darmansyah-Maya Suryanti akan mencabut undi nomor pasangan. F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Hari ini, Selasa (13/2) KPU Tanjungpinang melanjutkan tahapan Pilwako. Bertempat di Hotel CK, KPUD Tanjungpinang melangsungkan proses pencabutan nomor urut masing-masing calon.

“Prosesnya selanjutnya, akan dilakukan pencabutan nomor sebanyak dua kali,” terang Ketua KPUD Tanjungpinang, Robby Patria.

Ia menerangkan pada tahap pertama calon akan mengambil nomor undian pada kotak pertama. Yang menentukan siapa yang akan mengambil nomor urut terlebih dulu, pada kotak kedua. “Setelah itu, pengambilan nomor di kotak dua menjadi penentu nomor urut mereka. Barulah kami tetapkan,” kata Robby.

Mekanisme ini, dikatakan Robby menjadi alternatif pencabutan nomor dengan mengedepankan asas keadilan. Sebagaimana yang diatur dalam PKPU, bahwa pengambilan nomor urut dilakukan dengan cara pencabutan nomor undi. “Dan mekanisme ini, kami yang menetapkan,” ujar Robby lagi. (aya)

Duo Edi Gugur di Tanjungpinang

0
Pasangan Syahrul-Rahma serta Lis Darmansyah-Maya Suryanti usai ditetapkan sebagai pasangan calon (paslon) sebagai peserta Pilkada di Kantor KPU Tanjungpinang, Senin (12/2). Sementara Duo Edi dianggap gugur. F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Tanjungpinang mengumumkan dan menetapkan pasangan Syahrul-Rahma dan Lis-Maya sebagai calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Senin (12/1). Sedangkan pasangan Duo Edi gugur, akibat kurangnya persyaratan hingga batas waktu yang ditetapkan.

Penetapan kedua pasangan ini juga dihadiri oleh pasangan bakal calon, Duo Edi. Meski dalam penetapan kemarin, nama dari pasangan perseorangan ini tidak ikut disebutkan. Edi Syafrani mengaku tetap optimis dapat mengikuti pemilihan Wali Kota dan Wakil. “Kan masih ada upaya yang bisa dilakukan. Dan proses di PTUN pun masih berlangsung. Insya Allah kami bisa tetap maju,” tutur Edi lagi.

Terpisah, kedua pasangan yang telah ditetapkan pada pemilihan kemarin mengaku lega karena telah dipastikan dapat ikut dalam pemilihan kepala daerah tahun ini. Pasangan Lis-Maya dan Syahrul-Rahma keluar dari kantor KPUD Tanjungpinang dengan senyuman sumringah menyambut para pendukungnya yang menanti di halaman kantor KPU.

Para pendukung sontak riuh menyambut para kandidat Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang ini. Syahrul saat ditemui usai penetapan kemarin pun menuturkan, telah siap melanjutkan proses menuju kursi nomor satu di Tanjungpinang ini. “Kalau Allah sudah berkehendak. Insya Allah kita sudah sampai sejauh ini,” ujar pria yang kini akrab disapa Ayah Syahrul ini.

Terpisah, Lis mengaku akan menjaga konsistensi dan komitmen. Tidak menjadikan arena Pilkada sebagai ajang saling fitnah selama proses menuju hari pemilihan berlangsung. “Semua pasangan pasti punya kekurangan. Dan ini yang biasanya bisa diobok-obok. Harus ada komitmen membangun Pilkada damai, penuh rasa kekeluargaan. Ini komitmen kami,” ujar Lis kemudian.

Sementara itu, Kordiv Pengawasan dan Hubungan Antarlembaga Panwaslu Tanjungpinang, Muhammad Zaini, memastikan proses pengumuman dan penetapan kemarin telah mengikuti aturan yang berlaku. “Semua proses tadi berjalan sesuai sebagaimana mestinya. Dan setelah penetapan ini, tentu kami akan mempererat pengawasan. Termasuk pula kemungkinan terjadinya politik uang,” papar Zaini usai penetapan kemarin. (aya)

 

Perintah Tiba-tiba: Masuk ICU Dulu

0

Robert Lai menjemput saya di bandara Changi. Meski duduk paling depan saya menjadi penumpang terakhir yang keluar dari bandara. Ini karena saya tidak bisa berjalan cepat.

Bahkan saat keluar dari pintu pesawat, di dalam lorong garba rata, saya harus berhenti tiga kali. Posisi garba ratanya agak naik. Maklum pesawat yang saya naiki jenis 737 yang lebih rendah dari posisi terminal.

Baru sekali ini saya merasakan beratnya nafas. Jalan beberapa langkah harus berhenti. Istri saya memang melarang saya pergi sendirian dalam kondisi sakit.

Tapi saya ngotot tidak perlu ada yang menemani. Toh begitu keluar bandara sudah ada Robert Lai. Yang mampu mengurus semua keperluan. Pendamping saya nanti hanya akan menambah beban. Terutama beban untuk Robert.

Sepanjang jalan di terminal menuju imigrasi saya terus disalib penumpang lain. Untungnya banyak yang minta foto bersama. Lumayan. Saya bisa berhenti lagi dan berhenti lagi dengan alasan lagi berpose. Padahal sebenarnya saya memang ingin berhenti.

Saya paksakan tersenyum di depan kamera. Mereka tidak tahu tersiksanya dada ini.

Robert sudah menunggu di luar. Saat menuju tempat parkir mobilnya, saya tertinggal jauh di belakangnya. “Dengan jalan seperti ini kamu terlihat begitu tuanya,” katanya berseloroh.

Dia tidak tahu saya benar-benar menderita. “Benar-benar sakit ya?” tanyanya. Lalu merebut tas saya untuk dia bawa. Biasanya saya memang berjalan lebih cepat dari Robert.

Kami langsung menuju rumah sakit Katolik Mount Alvernia. Dokter Wong dan anaknya, dokter Mark Wong, sudah menunggu.

Keduanya ahli pencernaan. Dokter langsung melakukan pemeriksaan. Dan memberitahukan bahwa besok pagi saya harus siap menjalani indoskopi. Saya ceritakan hasil pemeriksaan di Madinah: jantung saya prima. Sudah lima hari tidak bisa kentut dan pup.

Pemeriksaan pun fokus ke pencernaan.

Saat pemeriksaan itulah dia curiga. Perut saya tidak segawat penderitaan saya.

Tekanan darah saya tinggi: 165/95.

“Lakukan CT scan saja dulu. Kok ini mencurigakan,” katanya.

Dokter Wong minta seorang ahli jantung datang ke RS. Namanya James Wong, untuk ikut melihat hasil CT scan.

“Langsung masuk ICU!,” ujar James Wong setelah membaca hasil CT Scan.

“Kenapa?” tanya saya.

“Nanti saja saya jelaskan. Masuk ICU dulu,” perintahnya pada perawat.

Setelah semua peralatan ICU ditempelkan di badan saya barulah James Wong memberi penjelasan.

“Anda ini menderita aorta dissection,” katanya.

Saya belum pernah mendengar istilah itu. Kok kelihatan begitu gawat. Langsung perintahkan masuk ICU.

Sambil mengamati layar monitor, James Wong menggambar jantung. Disaksikan oleh Robert Lai juga. Lalu menggambar saluran darah utama yang keluar dari jantung. Bercabang menuju otak kanan dan lengan kanan.

Setelah itu ada cabang lagi menuju otak belakang. Berikutnya ada cabang lagi menuju otak kiri dan tangan kiri. Setelah itu saluran utama darah tersebut berbelok ke bawah. Untuk mengalirkan darah ke perut, liver, ginjal, pankreas dll melalui cabang masing-masing. Di bawah perut saluran darah utama itu bercabang dua: menuju kaki kiri dan kaki kanan.

“Dari hasil CT scan ini terlihat saluran utama darah Anda pecah,” katanya.

“Untung Anda tidak meninggal waktu itu terjadi di Madinah,” tambahnya. Lalu, sambil terus mengamati layar monitor yang merekam jantung, tekanan darah dan detak jantung, James Wong menguraikan rencana tindakan untuk mengatasinya.

Ada dua skenario. Yang mana yang dipilih tergantung hasil CT scan sekali lagi. Yang lebih rinci. Akan dilakukan CT Scan khusus untuk otak, leher, dada, perut dan jantung. Jadwalnya keesokan harinya.

Dokter Mark Wong membatalkan rencana memasukkan alat ke perut saya. Meski rencananya sudah matang tapi kurang relevan lagi. Ternyata saya tidak punya persoalan pencernaan.

Skenario pertama adalah dilakukan bedah leher. Akan dibuatkan bypass saluran darah baru. Dari cabang yang menuju otak kiri ke saluran darah yang menuju otak kanan.

Dengan demikian pasok darah untuk otak kanan dan lengan kanan didapat dari saluran baru itu. Agar saat aorta dissection diatasi tidak terjadi stroke.

Saya ngeri-ngeri sedap mendengar operasi bypass di leher itu. Membayangkan apa saja yang akan terjadi. Tapi kalau memang sudah takdir saya menerimanya. Saya harus menjalani operasi besar lagi. Setelah 10 tahun lalu menjalani operasi ganti hati.

Skenario kedua, tidak perlu bypass. Asal aorta dissectionnya terjadi di saluran darah agak jauh dari cabang-cabang menuju otak tadi. Kalau ini yang terjadi, sakit saya ini disebut aorta dissection type B.

Semuanya belum bisa dikatakan sekarang. Baru jelas setelah CT scan yang lebih khusus dilakukan.

Sambil menjelaskan skenario-skenario itu, James Wong sesekali menatap layar monitor. Kian lama wajahnya kian tegang. Posisi saya tidak memungkinkan ikut melihat layar monitor. Saya hanya bisa membacanya lewat ekspresi wajah James Wong.

“Kok tekanan darah naik terus ya…,” katanya. Dia panggil perawat. Untuk memasukkan obat penurun tekanan darah. Lewat selang infus yang sudah terpasang. Tapi tekanan darah masih naik lagi.

James minta obatnya ditambah. Masih naik lagi. Minta ditambah lagi. Angka menunjukkan 200. James tampak gelisah sekali. Mondar-mandir. Tegang.

“Berapa?” tanyanya pada perawat. “210,” jawab perawat.

James tidak bisa berkata-kata lagi. Tangannya yang bicara. Memberi isyarat kepada perawat. Untuk terus menaikkan obat penurun tekanan darah. Sampai maksimal.

James menangkap kegelisahan saya.

“Jangan khawatir. Saya tidak akan pulang sebelum tekanan darah Anda teratasi,” kata James Wong. Saya tetap khawatir. Dia pun mengatakan akan membatalkan seluruh janji.

Beberapa saat kemudian, tekanan darah saya menurun. Terus menurun. James lega. Apalagi saya. Setelah tekanan stabil dia pun pamit. Dengan janji akan terus memonitor keadaan saya lewat telepon.

Saya pasrah. Terus memikirkan tindakan yang akan dilakukan untuk atasi aorta dissection itu. Skenario yang mana pun saya sudah siap.

Saya tidak menceritakan itu kepada keluarga di Surabaya. Biarlah semua jelas dulu. Saya tahu istri saya lagi susah. Ibunya malam itu masuk rumah sakit di Tenggarong, Kutai Kartanegara. Saya tidak mau menambah beban batinnya. Saya juga tahu dia percaya penuh pada Robert Lai yang akan merawat saya sepenuhnya.

Malam itu saya lewatkan di ICU sendirian. Ditemani dzikir tiada henti. ***

 

Oleh: Dahlan Iskan

Kenali Karakter Pemimpinmu

0

Meski tidak seheboh 17 provinsi lainnya, namun Kepulauan Riau (Kepri) tetap “kecipratan” menggelar pemilihan kepala daerah (pilkada). Dari tujuh kabupaten/kota, hanya satu saja yang menggelar pesta demokrasi. Yakni Kota Tanjungpinang.

Ada tiga calon wali kota dan wakil wali kota yang bertarung. Mereka adalah Syahrul-Rahma, Lis Darmansyah-Maya Suryanti, dan Edi Safrani-Edi Susanto. Meskipun saya bukan warga setempat, tapi saya yakin ketiga pasangan punya kelebihan dan kekurangan. Punya karakteristik masing-masing. Juga program-program untuk memikat hati rakyat selaku pemilih.

Menggunakan hak pilih merupakan sesuatu yang mulia. Karena pilihan rakyat akan menentukan arah masa depan daerah. Jangan sampai cuek. Apalagi kalau memutuskan untuk menjadi golongan putih (golput) alias tidak menggunakan hak pilihnya. Pasti rugi. Sebab satu suara juga menentukan nasib daerahnya, lho.

Tapi sebelum memilih “jagoan” Anda di Pilkada Tanjungpinang, kenali dulu karakteristik kepemimpinan mereka. Bukan bermaksud mengarahkan untuk memilih calon A, B, atau C. Toh, saya sendiri tidak punya hak suara. Kebetulan sesuai Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el), saya mempunyai hak pilih di Kalimantan Timur (Kaltim). Hehehehe.

Kebetulan, beberapa waktu lalu ada bacaan menarik. Saya mendapatkannya di dunia maya. Cuma, agak lupa sumbernya. Tapi yang pasti ada. Ini terkait kriteria pemimpin.
Ada tiga karakter pemimpin. Demokratis, egaliter, dan otoriter.

Yang pertama adalah demokratis. Pemimpin model ini punya kemampuan memengaruhi orang lain. Biasanya, tipe tersebut bisa mengajak timnya untuk bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Karena dalam setiap pengambilan keputusan, pasti dimusyawarahkan atau didiskusikan dengan bawahan.

Pemimpin seperti ini berperan sebagai koordinator dan integrator dari berbagai unsur. Tidak sedikit yang mencintai pemimpin seperti ini karena dianggap mampu menerima semua aspirasi. Baik dari bawah hingga atas.

Kedua, egaliter. Berbeda dengan kebanyakan pemimpin pada umumnya, tipe seperti ini biasanya “membumi”. Dia tidak menempatkan diri sebagai seseorang yang elitis. Baginya, jabatan adalah amanah. Sehingga, mampu memposisikan dirinya sebagai bagian dari bawahannya.

Karena sekat antara pimpinan dengan yang dipimpin nyaris tidak ada, maka pemimpin egaliter mudah bergaul dan membaur. Terkadang terlihat bercengkerama bersama karyawan, bergurau, atau bergerak bersama. Tidak sedikit pula yang mencintai pemimpin seperti ini karena dianggap sebagai teman, rekan, atau sahabat.

Tipe terakhir adalah otoriter. Inilah karakteristik kepemimpinan yang paling uzur. Tepatnya pada zaman kerajaan. Di mana, gaya kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan satu atau sekelompok orang. Biasanya, pemimpin bertindak sebagai penguasa tunggal. Semua keputusan yang diambil harus dijalankan. Benar atau salah, harus dilaksanakan.
Biasanya, tipe ini bisa disebut sebagai one man show. Di mana bawahan dianggap sebagai pelaksana keputusan, perintah, dan bahkan kehendak.

Gaya seperti ini memang agak jarang disukai. Selain terkesan arogan, bawahan tidak akan punya kreativitas. Atau berinovasi. Semuanya harus satu komando, satu pikiran, satu keputusan.

Sekali lagi, dari ketiga karakteristik kepemimpinan tersebut, ada kelebihan dan kekurangan. Tidak ada satu acuan baku, tipe seperti apa yang harus kita pilih. Karena semua karakteristik kepemimpinan itu juga disesuaikan dengan kondisi yang ada. Kalau perlu, seorang pemimpin harus menguasai ketiga karakteristik itu. Kalau pepatah menyebut bermuka dua, maka kali ini kita sebut “bermuka” tiga. Hahahaha.

Kenapa harus menguasai ketiganya?
Ada saatnya pemimpin bersikap demokratis. Hal itu berlaku dalam kondisi tidak dalam tekanan. Artinya, memang sudah direncanakan secara matang. Tapi, ada saatnya juga harus memberlakukan sikap egaliter. Karena memposisikan diri sebagai teman, ada kalanya juga kita memberikan kepercayaan kepada tim kita selama keputusan itu baik.

Bagaimana dengan pemimpin otoriter? Meskipun sudah bukan zaman now, karakteristik seperti ini juga sangat dibutuhkan. Namun, karakteristik seperti ini sangat dibutuhkan dalam kondisi tertentu. Misalnya, insidentil alias gawat darurat. Atau membutuhkan respon cepat untuk pengambilan kebijakan. Dengan kondisi seperti itu, sikap otoriter sangat diperlukan.

Untuk kesekian kali, silakan kenali calon pemimpinmu.

Untuk masyarakat, selama menentukan hak pilih.

Untuk para calon, berkompetisilah yang sportif.

Selamat merayakan pesta demokrasi bagi masyarakat Kota Tanjungpinang. ***

 

Guntur Marchista Sunan
General Manager Batam Pos

Pemko Batam akan Lebarkan jalan Ahmad Yani Jadi Sepuluh Lajur

0
Peta A Yani

batampos.co.id – Ruas jalan Ahmad Yani dari Simpang Masjid Raya ke Simpang Kabil (Kepri Mall) dilebarkan tahun 2018 ini. Tak tanggung-tanggung, setiap jalur akan dilebarkan hingga lima lajur. Untuk diketahui kini setiap jalur hanya dua lajur.

Ruas jalan A Yani sendiri dari bundara BP batam hingga Simpang Dam / Panbil Mall.

“Rencana awalnya seperti itu, lima lajur setiap jalurnya,” kata Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBM SDA) Yumasnur, Minggu (11/2).

Ia menyampaikan, realisasi rencsna tersebut tergantung kondisi di lapangan. Kini pihaknya sedang mengecek Right Of Way (ROW). Pengecekan ini akan jadi salah satu dasar pelebaran jalan ke depan. Menurut Yumasnur, semakin lebar ROW akan semakin besar juga jalan tersebut.

“Kalau hanya cukup empat mungkin empat tapi yang pasti kami akan habiskan (gunakan) semua ROW yang ada,” papar dia

Yumasnur mengatakan, hal awal yang kini ia lakukan adalah fokus membuka ROW sepanjang jalan tersebut. Untuk diketahui pembebasan ini juga dibantu Satpol PP Batam terkait penertiban bangunan di atas ROW, hal ini disampaikan Kepala Bidang Keamanan dan Ketertiban Umum, Imam Tohari.

“Fokus kami buka dulu baru masuk tahap lelang, kami rencanakan masuk lelang bulan Maret,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, pelebaran jalan ini dibebankan pada Anggarran dan Pendapatan Daerah (APBD) Kota Batam. Namun ia mengaku tak hafal berapa anggaran yang terserap dari proyek fisik ini.

“Angkanya ini yang saya tak hafal,” imbuhnya.

Sementara itu, ruas jalan yang sama dari Simpang Kabil ke Simpang Panbil direncanakan akan dilebarkan 2019 mendatang. Jumlah ruas yang akan direncanakan sama dengan pengerjaan dari Simpang Masjid Raya ke Simpang Kabil. Pelbaran jalan ini diharapkan dapat membuat arus lalulintas lancar atau tidak macet.

“Di simpang-simpang juga kami akan perlebar jalan belok kiri nya (lengan jalan), supaya yang mereka (yang ke kiri) bisa langsung jalan. Sekarang di Simpang Kabil itu terhalang sama yang mau jalan lurus, makanya macet,”kata dia. (adi)

Walikota Batam Ingin Pimpinan Baru OPD masih Muda tetapi Berpikir Dewasa

0

batampos.co.id – Wali Kota Batam Muhammad Rudi menginginkan pribadi yang mumpuni yang menakhodai beberapa pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemko Batam. Untuk diketahui, Pemko Batam telah mendapat rekomendasi dari Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) tentang lelang dan rotasi sejumlah jabatan pratama (eselon dua).

Keinginan Rudi tersebut terungkap ketika ditanya, apakah ia masih memprioritaskan pemimpin muda seperti yang telah ia terapkan di sejumlah OPD dan Camat.

Muda tapi otaknya harus tua (dewasa, red). Muda kan emosinya tinggi, maka imbanginya berpikiran tua dan berwawasan luas, ini enak,” ucap Rudi di Kantor Wali Kota Batam, Jumat (9/2) sore.

Mantan polisi ini tak menampik keinginan tersebut susah ia tentukan. Untuk mendapatakan keinginannya ini perlu pertimbangan yang matang. “Ini yang pening saya cari, belum dapat kandidatnya,” tambahnya.

Satu sisi, sepulang umrah ia mengaku belum membaca surat KASN terkait lelang dan rotasi jabatan. Untuk itu, ia tak ingin banyak berkomentar terkait hal ini. “Suratnya belum saya baca, belum ke meja saya macam mana say mau komentar. Hari Senin (19/2) baru diantar ke saya.

Sementara itu, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) M Sahir menyebutkan lelang yang akan diurus oleh pihaknya hanya untuk tiga jabatan yakni Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang kosong semenjak Dendi Purnomo tersandung kasus hukum. Dua posisi lain Assisten Ekonomi Pembangunan, juga Kepala Dinas Pendidikan (disdik) yang akan kosong karean pimpinannya akan pensiun.

“Lelang kalau data di saya tiga saja, Disdik, Ekbang dan DLH,” ucapnya.

Jabatan lainnya yakni Dinas Perhubungan serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata akan dimutasi atau rotasi. Keduanya akan akan dicari pemimpinnya berdasarkan mekanisme job fit (evaluasi). Sejatinya ada enam jabatan yang akan dilelang maupun mutasi, satu lainnya adalah Dinas Permukiman, Perumahan Rakyat, dan Pertamanan (Disperkimtan).

“Prinsipnya job fit ini prinsipnya ditunjuk. Hampir sama dengan lelang ada pendafataran, makalah dan lain-lain, cuma yang nggak ada psikotes” imbuhnya. (adi)

1.128 Taksi di Batam Tak Laik Operasi

0
foto: cecep mulyana / batampos

batampos.co.id – Jumlah taksi yang beroperasi resmi sekarang di Batam mencapai 2.547 unit. Dari total itu, hanya 1.149 unit taksi yang layak beroperasi. Sementara sisanya 1.128 tak laik operasi, sebagian besar karena sudah tua.

“Yang tak laik ini sebagian besar karena sudah tua. Tetapi memang masih tetap beroperasi,” kata Kabid angkutan Dishub Batam, Safrul, Jumat (9/1).

Ia mengatakan sesuai dengan Perwako tahun 2003 disebutkan bahwa umur taksi yang layak huni adalah 15 tahun. Artinya bahwa angkutan atau taksi sudah tidak layak jalan kalau taksi tersebut keluaran tahun 2003.

“Makanya kita harapkan pada semua pengusaha taksi untuk melakukan peremajaan taksi. Kita harus sama-sama memperbaiki kualitas angkutan di Batam ini,” katanya.

Menurutnya, semua taksi resmi yang beroperasi di Batam ini tergabung dalam 19 badan usaha. Di mana kuota taksi setiap badan usaha berbeda-beda.

“Kan memang syarat untuk taksi itu adalah harus berbadan usaha,” katanya.

Kepala Dinas Perhubungan Yusfa Hendri beberapa waktu lalu mengatakan taksi tidak layak jalan ini dalam waktu dekat akan dilakukan penindakan. Ini untuk mendukung transportasi aman dan nyaman di Batam. Apalagi Batam adalah daerah pariwisata yang dikunjungi banyak wisatawan.

“Kalau kepada wisatawan, kita harus menyakikan angkutan yang nyaman. Dan biasanya selain menggunakan bus tour and travel, rata-rata wisman menggunakan taksi untuk bepergian,” katanya.

Anggota komisi III DPRD Kota Batam Werton Panggabean mengatakan, permasalahan taksi di Batam ini seakan tidak ada habisnya. Padahal masalah transportasi menjadi masalah yang sangat serius di daerah pariwisata.

“Harus aman dan nyaman. Kalau sudah tidak nyaman, kita akan malu sama wisatawan. Dan saya berharap, taksi yang tua bisa melakukan diremajakan,” katanya. (ian)

Impor Karton ke Batam pun Sulit

0
ilustrasi

batampos.co.id – Dorongan untuk segera melimpahkan kewenangan mengurus izin impor barang larangan terbatas (lartas) terus mengemuka. Ada sejumlah industri yang membutuhkan lartas sebagai bahan baku produksi dan terhambat oleh lambatnya perizinan lartas yang dikeluarkan oleh pusat.

“Mengurus rekomendasinya sudah lama. Pengalaman kami sebulan pun belum selesai,” jelas Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing belum lama ini.

Pengurusan izin lartas memang sudah menjadi momok dunia industri di Batam sejak lama. Untuk mengantongi persetujuan impor barang modal dan bahan baku yang termasuk dalam daftar lartas.

Pengusaha kawasan industri harus melewati sejumlah proses yang panjang untuk mendapatkan persetujuannya. “Rekomendasi tersebut diurus ke Kementerian terkait,” paparnya.

Contohnya, ketika akan mengimpor produk kehutanan seperti karton atau kertas, maka pengusaha kawasan industri harus mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

“Butuh sebulan untuk keluar. Sedangkan untuk persetujuan impor juga belum tentu cepat, padahal harus selesai dalam lima hari sesuai prosedur,” jelasnya lagi.

Hal yang sama juga terjadi untuk garam industri. Ayung mengatakan regulasi lartas kurang tepat diterapkan di Batam yang memiliki status sebagai kawasan Free Trade Zone (FTZ). Sehingga lebih baik persetujuan impornya didelegasikan ke BP Batam saja.

Serupa dengan Tjaw Hoeing, Ketua Apindo Batam, Yanuar Dahlan mengatakan sebagian besar pengusaha yang tergabung dalam Apindo Batam memang mengeluh tentang sulitnya mengimpor bahan baku yang masuk dalam daftar lartas.

“Butuh waktu panjang sehingga kami berharap pemerintah pusat mau menggodok regulasi khusus terkait impor lartas di FTZ,” katanya.

Ia yakin intensitas produksi akan semakin baik jika persetujuan impor lartas diberikan ke BP Batam.

“Karena beberapa barang lartas cepat rusak. Makanya harus jadi perhatian pemerintah,” pungkasnya. (leo)

Januari 2018, Capaian Pajak Lebihi Target

0
ilustrasi

batampos.co.id – Realisasi penerimaan pajak pada bulan pertama tahun ini meningkat dibanding periode sama tahun lalu. Bahkan realisasi melebih target yang ditetapkan Badan Pengelolah Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kota Batam, yakni sebesar Rp 46 miliar.

“Secara keseluruhan realisasi bulan Pertama sudah diatas target bulanan. Jika di bandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. Selama bulan Januari saja realisasi pajak yang masuk sebesar Rp 50 miliar,” ujar Kepala BP2RD Kota Batam Raja Azmansyah, Jumat (9/2).

Adapun realisasi pajak ini bersumber dari pajak hotel yang mencapai 12,72 persen, dari target Rp 117 miliar realisasi 14,9 miliar. Begitu juga pajak restoran dari target Rp 29,1 miliar, realisasi Rp 3,9 miliar atau 13,43 persen. Sementara itu pajak hiburan realisasi 13,5 persen dari target 68,6 miliar. Hal yang sama juga terlihat di pajak parkir yakni 10,5 persen dari target Rp 12 miliar.

Begitu juga untuk BPTHB dari taget Rp 380 miliar saat ini sudah terealisasi sebesar 5,3 persen atau sebesar Rp 20,1 miliar. “Kondisi positif ini kita harapkan bisa berlanjut di bulan berikutnya. Sehingga target pajak daerah sebesar Rp 970 miliar tercapai,” harap dia.

Guna memaksimalkan penarikan pajak, Raja mengaku sejak awal Januari sudah melakukan penagihan aktif kepada para wajib pajak. Dan untuk meningkatkan pelayanan ke publik pihaknya telah menjalin kerjasama dengan BNI yang menjadi mitra Pemerintah Kota (Pemko) Batam.

Selain itu Raja menambahkan, guna mempermudah pembayaran pajak, pihaknya menambah 100 pajak online atau tapping box di tahun 2018 ini.

“Untuk realisasi tapping box kita rencanakan Maret nanti,” tutup Raja. (rng)

Di Jembatan Ada Pengemis, Pak Wali

0
Pengemis di jembatan penyeberangan.
foto: yulianti / batampos

batampos.co.id – Jembatan Penyebrrangan Orang (JPO)
di SP Plaza, Sagulung selama ini digunakan pedagang kaki lima (PKL) untuk berjualan. Sejumlah pengguna JPO mengaku cukup terganggu, apalagi di lokasi itu, kerap terlihat tunawisma yang meminta-minta.

“Kondisi ini sudah lama. Bagusnya pemerintah terkait razia atau menyuruh mereka tak berjualan,” ujar Risma pengguna JPO, Minggu (11/2).

Dia mengatakan kehadiran pedagang dan tunawisma itu membuat JPO terkesan kumuh dan kotor. Tak sedikit juga terlihat sampah plastik berserakan di pojok-pojok jembatan.

“Cari rezeki gak harus di fasilitas umum,” katanya.

Di JPO itu, PKL menjajakan dagangannya kepada pejalan kaki yang melintas. Barang yang dijual biasanya pakaian dalam dan asesoris . Seorang pedagang yang tak ingin dikorankan namanya mengaku terpaksa harus berjualan diatas JPO karena tak memiliki modal untuk menyewa ruko atau lapak.

“Sewa ruko dan lapak bisa sampai Rp 5 hingga Rp 7 juta perbulan,” katanya kepada Batam Pos.

Selain itu, berjualan di atas jembatan juga cukup strategis lantaran banyak warga yang berlalu lalang atau melintas. “Warga yang melintas bisa singgah untuk membeli,” katanya.

Meski demikian, ia mengaku tak setiap hari menjual di JPO. “Kadang saya berjualan di pasar kaget,” akunya. (une)