Selasa, 19 Mei 2026
Beranda blog Halaman 13924

Dibanding Tahun 2016, Risiko Inflasi 2017 Berat

0
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putra bersama Walikota Batam dan FKPD memberikan pemaparan saat rapat Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) di Gedung Bank Indonesia pewakilan Kepri di Batam, Rabu (1/2). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Kepala Kantor Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Gusti Raizal Eka Putra mengungkapkan target inflasi 2017 masih sama dengan tahun 2016 yakni 4 plus minus 1 persen. Walau demikian, dalam pencapaian target tersebut tahun 2017 dinilai lebih berisiko.

Risiko yang dimaksud diantaranya, kebijakan kenaikan LPG Rp 1000 per kilogram dengan sistem tertutup dimulai April mendatang, penyesuaian harga BBM dalam kebijakan BBM satu harga yang rencananya pada bulan April, Juli, Oktober juga dipastikan ikut menyumbang dampak. Hal lain yakni, rencana kenaikan cukai rokok dan plastik.

“Sekarang dari segi cuaca, dulukan El Nino , sekarang La Lina atau musim panas yang berkepanjangan ini juga perlu diantisipasi. Dan yang spesifik di Batam, potensi kenaikan tarif listrik pasti akan ada dampaknya,” kata dia saat rapat Tim Pengedali Inflasi Daerah (TPID), Rabu (1/2/2017) kemarin.

Dampak kebijakan tersebut harus dihadapi. Untuk itu, TPID perlu fokus pada inflasi yang disebabkan oleh komponen bergejolak (volatile food), seperti menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, termasuk cabai dan penyumbang inflasi lainnya. Salah satu langkah yang bisa diambil yakni mengembangkan pertanian hidroponik.

“Kalau kita bisa jaga volatile food ini pada angka 4-5 persen, maka inflasi bisa di bawah 4 persen,” kata Gusti.

Tak hanya itu, guna mengontrol harga bahan pokok, dia berharap pasar induk Batam kembali berfungsi. Ketiadaan pasar induk ini membuat Batam tak memiliki patokan harga.

“Kalau ada patokan harga nanti kita bisa lihat disparitasnya . Kalau harga cabai partai besar Rp30 ribu, tak mungkin di (pasar) Botania harganya Rp60 ribu” kata Gusti.

Keberadaan pasar induk cukup penting dalam upaya pengendalian harga, mengingat data penduduk Batam sebanyak 1,2 juta jiwa. Untuk itu, pihaknya mendorong pemerintah agar segera menyelesaikan persoalan aset di pasar induk. Apalagi program pembanguan pasar termasuk dalam nawacita Presiden Joko Widodo.

“Kita perlu diskusi juga untuk mempercepat penyelesaian masalah ini,” ujar dia.

Menurut Gusti, sejatinya pemerintah pusat menyiapkan anggaran untuk pembangunan pasar yang didanai dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Namun syarat lahan yang akan dijadikan tempat pasar induk mesti milik pemerintah daerah setempat.

“Mungkin ini bisa didiskusikan,” kata Gusti.

Sementara itu, Plt Kepala Biro Keuangan BP Batam, Agung mengatakan, untuk soal pengalihan aset pasar induk, saat ini pihaknya juga masih menunggu jawaban dari Kementerian Keuangan.

“Sekarang kami juga masih menunggu dari Kementerian Keuangan. Kami juga ingin masalah aset ini cepat selesai,” ucap Agung. (cr13)

Perjuangkan Hak Pendidikan Sampai Status Pernikahan Suku Laut

0
Anak-anak Suku Laut Selat Kongky belajar di pelantar karena Balai Belajar rubuh 17 Agustus 2016 lalu. Sampai saat ini belum juga diperbaiki. foto: Hasbi/batampos.

batampos.co.id – Suku asli Orang Laut provinsi Kepri belum sepenuhnya mendapat perhatian pemerintah daerah. Keberadannya selalu terabaikan. Baik kebijakan maupun sentuhan lewat program-program daerah maupun provinsi yang kadang tak sejalan. Akibatnya, ratusan warga suku Laut khususnya di Lingga belum juga mendapatkan hak mengecap pendidikan maupun status legalitas pernikahan dan identitas kependudukan.

Sejak dua tahun terakhir menjadi aktivis berantas buta aksara suku laut di Selat Kongky, Densy Diaz temukan berbagai persoalan mendasar. Hal tersebut menjadi catatan buruknya peran pemerintah. Negara tidak hadir bagi suku Laut.

Identitas mulai dari akta lahir, KTP tidak dimiliki warga. Mulai dari anak-anak yang tidak miliki identitas hingga orang dewasa. Sejak 6 tahun terakhir warga yang semula menganut kepercayaan animisme telah memeluk agama Islam. Namun belum menikah secara hukum. Dampaknya, anak-anak merekapun tidak bisa memperoleh akta lahir.

“Inilah persoalan lain dilapangan. Aktfitas belajar mulai dari anak-anak sampai orang dewasa tetap berjalan. Mereka mulai mengenal huruf dan angka. Tapi persoalan kehidupan, legalitas belum mereka miliki. 21 anak tak punya akta lahir karena orang tua mereka menikah secara adat. KTP juga tidak mereka miliki. Ini yang sedang kami perjuangkan,” kata Diaz didampingi aktivis lainnya di Daik saat temui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) pemkab Lingga, Rabu (1/2) siang.

Para aktivis mencoba menembus kukuhnya tembok pemerintahan. Meminta peran dan tanggung jawab daerah. Menyisihkan waktu untuk membincangkan nasib warga suku asli yang tak punya legalitas hukum. Selat Kongky kata Diaz hanyalah salah satu contoh kecil dari kelompok adat terpencil (KAT) di kabupaten Lingga. Hal serupa kata Diaz juga terjadi di kelompok kecil yang tersebar di pulau Lingga.

Soal legalitas kata Diaz sebenarnya kewenangan pemerintah. Banyak lembaga yang boleh mengurusi persoalan tersebut. Mulai dari Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD), Disdukcapil sampai Bupati Lingga Alias Wello ia temui. Untuk status pernikahan Diaz juga temui Bagian Kesra dan berpaham dengan Kemenag Lingga agar bisa melaksanakan pernikahan masal bagi warga suku laut.

“Banyak warga suku Laut yang telah memiliki anak tapi tidak menikah secara Islam, agama yang mereka peluk saat ini. Mereka menikah secara adat dan tradisi mereka karena ketidak tahuan. Selama memeluk islam, tidak pernah ada pembinaan. Tidak ada surat nikah dan legalitas. Akibatnya akta lahir anak juga sulit diurus. Padahal ada beberapa anak yang ingin sekolah. Akta lahir jadi satu syarat,” ungkapnya.

Ditempat yang sama aktivis lain, Darlisa juga mengharapkan ada tindak lanjut pemerintah terkait persoalan yang diadukan. Sebagai aktivis dan warga, hal tersebut kata dia tak boleh didiamkan. Apalagi sebagai pemeluk agama islam, tanpa pernikahan yang legal sama saja warga mendiamkan perzinahan yang tidak pernah direncanakan.

“Kami berharap ada tindak lanjut pemerintah. Hal ini sudah kami sampaikan sebagai atensi pemerintah. Bupati juga sudah kami temui dan kami tunggu janji pemerintah tersebut,” sambungnya.

Dari data aktivis dilapangan didesa Penaah, lebih kurang 80 anak usia 0 sampai 18 tahun tidak miliki indentitas. Kelompok KAT tersebar dipulau Kojong, pulau Buluh, Mensemut dan pulau Hantu.

“Ini yang membuat kami miris. Bagaimanapun caranya, warga Suku Laut harus miliki identitas. Ini butuh campur tangan pemerintah. Jika pemerintah mau, persoalan ini pasti segera selesai. Tapi jika tidak, selamanya akan tetap seperti ini. Kami bersama kawan-kawan aktivis lain juga berencana mengadakan pernikahan masal bagi warga suku laut. Paling tidak secara agama sudah sah, walaupun tidak terdaftar di dokumen negara. Karena ini juga tanggung jawab pemerintah kami coba jejaki dulu. Semoga ada jalan terbaik,” sambung istri Kades Penaah tersebut.

Sementara itu, Kasubag Kesra H Muhammad Syukri yang ditemui para aktivis menyambut baik ihwal dilapangan untuk segera ditindak lanjuti. Ia berjanji dalam waktu dekat akan melakukan rapat koordinasi bersama dinas terkait seperti Kemenag, Disdukcapil, Dinsos, KPPAD, Dinas Pendidikan, untuk mencari solusi.

“Kami akui persoalan ini akibat kelalaian semua. Dalam waktu dekat akan segera gelar rapat koordinasi dengan semua dinas terkait agar ada jalan keluar. Untuk pendidikan dan pembinaan agama, saya pastikan menempatkan 1 orang guru TPA di Selat Kongky. Kami sangat berterimakasih atas kepedulian kawan-kawan. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” pungkas Sukri. (mhb)

Hendak Bawa Moge ke Bintan Tanpa Surat, Ups… Tunggu Dulu….

0
ilustrasi

batampos.co.id – Petugas Bea Cukai Batam mencekal sebuah mobil pick up yang mengangkut sepeda motor Harley Davidson milik salah seorang oknum aparat di Pelabuhan Punggur, Rabu (1/2) pagi.

Kabid Penindakan Penyidikan Bea Cukai Batam, Akhiyat Mujayin mengatakan, sepeda motor mewah itu rencananya akan dibawa menuju Pulau Bintan dengan mobil pick up BP 8548 EY.

“Saat kami lakukan pemeriksaan, mereka tidak memiliki dokumen FTZ 01 untuk keluar dari Batam,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Mujayin menjelaskan, untuk mendapatkan dokumen FTZ 01 tersebut, pemilik kendaraan yang hendak membawa kendaraannya keluar dari Batam harus melalui perusahaan yang telah memiliki lisensi.

“Pengurusannya itu tidak bisa dilakukan perorangan. Melainkan harus melalui perusahaan yang telah bekerja sama dengan pemerintah,” jelasnya.

Masih kata Mujayin, untuk mengelabui petugas, sepeda motor yang berada di atas mobil pick up hitam itu ditutupi dengan terpal berwarna silver.

“Akhirnya mobil itu kami minta balik lagi. Karena kami tidak perbolehkan untuk berangkat sebelum ada dokumen FTZ 01 nya,” imbuhnya. (cr1)

Kampung Aceh di Batam Tak Ada Matinya, Tujuh Kali Digerebek, Peredaran Narkoba Tetap Menggila

0
Anggota Polisi menggiring tersangka yang positif mengkonsumsi narkoba saat razia di Kampung Aceh, Mukakuning, Seibeduk, Rabu (1/1). F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Kampung Aceh di Seibeduk, Batam yang oleh Polda Kepri disebut sebagai kampung narkoba seolah tak ada matinya. Kendati berkali-kali digerebek, para bandar, pengedar, dan pemakai yang wara-wiri di kawasan itu tak pernah jera.

Rabu (1/2) kemarin, tim gabungan dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepri dan Polda Kepri, kembali mengobrak-abrik Kampung Aceh.
Dalam penggerebekan yang ketujuh kalinya dalam dua tahun terakhir, petugas mengamankan puluhan warga yang dinyatakan positif mengonsumsi narkotika.

Di bawah komando Kabid Berantas dan Penindakan BNNP Kepri AKBP Bubung Pramiyadi, tim gabungan menggeledah satu per satu rumah-rumah warga di Kampung Gotong Royong, Kampung Aceh tersebut. Polisi melakukan tes urine secara acak. Hasilnya, 28 orang positif narkoba.

“Dari 28 orang itu terdiri dari 17 pria dan 11 wanita. Mereka semua positif menggunakan narkoba,” ujar Bubung di lokasi penggerebekan, kemarin.

Penggerebekan ini sempat mendapat perlawanan dari dua warga. Mereka berusaha kabur dan menolak ditangkap. Kuat dugaan, keduanya sedang dalam keadaan teler.

“Apa yang kamu buang itu. Cepat ambil. Itu sabu ya? Habis makai ya kalian?” ujar seorang polisi. Ia melihat dia pria itu membuang sesuatu dari saku celananya.

Aksi perlawanan juga dilakukan oleh tiga wanita paruh baya yang turut diamankan petugas. Mereka menolak dibawa petugas meskipun hasil tes urine positif mengonsumsi narkoba.

“Apa-apaan ini. Mau dibawa ke mana kami. Kami tak mau,” teriak Eva Kristina, satu dari tiga wanita yang berontak saat diamankan petugas itu.

Meskipun sempat diwarnai aksi perlawanan, namun operasi pemberantasan peredaran narkoba itu berjalan lancar hingga selesai. Mereka yang positif dan sakau karena pengaruh narkoba itu digelandang ke kantor BNPP Kepri untuk ditindaklanjuti. Untuk pengguna narkoba akan direhabilitasi dan jika ada yang terindikasi pengedar atau bandar akan dipidanakan.

“Tapi sementara belum ada yang mengaku sebagai pengedar. Pemakai semua mereka,” ujar Bubung.

Dari 28 warga yang diamankan itu, sambung Bubung, dua orang di antaranya merupakan orang yang pernah diamankan BNNP Kepri dan polisi pada penggerebekan sebelumnya.

“Dalam operasi sebelumnya mereka sudah ditahan dan direhab, tapi saat ini tertangkap lagi. Itu yang akan jadi fokus penyelidikan kami nanti,” ujarnya.

Mereka yang diamankan itu juga belum dipastikan apakah warga yang tinggal di Kampung Aceh atau bukan. Sebab saat diiamankan banyak yang tidak membawa KTP. Namun beberapa orang mengaku hanya sebagai tamu. “Nanti akan kami data lebih lanjut lagi. Guna memudahkan pengawasan lokasi ini nantinya,” ujar Bubung.

Ketua Ketua RT 05/ RW 14 Kampung Aceh, Anton, membenarkan jika warga yang ditangkap dalam razia kemarin umumnya bukan warga setempat. Kebanyakan merupakan anak kos dan tamu yang belum melaporkan diri.

“Makanya saat diamankan begini bingung kami pengurus RT/RW di sini,” ujar Anton.

Anton mengatakan, selama ini pihaknya sudah berupaya membatasi pendatang baru di kawasan yang sudah ditetapkan sebagai zona merah peredaran narkoba itu. Namun perangkat RT/RW tak berdaya, karena mereka kerap melawan jika didata dan dilarang masuk ke kawasan itu.

“Itulah, kami hanya RT/RW saja, apalah kekuatan kami. Harusnya disiagakan polisi di sini 24 jam biar imej buruk ini tak berlanjut lagi ke depannya,” ujar Anton.

Seorang wanita yang diamankan petugas, Apriliani, mengakui mengonsumsi narkoba jenis sabu pada Senin (30/1) lalu. Dia mengaku bukan warga Kampung Aceh. Namun dia sering menginap di rumah seorang warga setempat yang ia sebut sebagai orangtua angkatnya.

“Sudah dua hari saya di sini. Rumah saya di Bengkong,” tutur wanita yang masih berusia 17 tahun ini. (eja/cr1/cr19)

Ketika Kemaluan Terjepit di Botol Minuman

0
ilustrasi

batampos.co.id – Petugas pemadam kebakaran di Selangor, Malaysia punya tugas yang tak biasa, pekan terakhir Januari lalu. Pasukan bomba -istilah di Malaysia menyebut pemadam kebakaran- bukan berjuang memadamkan kobaran api, tapi mengeluarkan sebuah benda yang terjepit di botol air mineral.

Pekerjaan ini menjadi berat, karena harus dikerjakan dengan sangat hati-hati. Pasalnya, seperti dilaporkan surat kabar Metro, yang terjepit di ujung botol tersebut adalah kemaluan seorang pria.

Kepada reporter di Malaysia, pria tersebut bercerita, di hari naas itu dia harus buang air kecil di tengah malam. Namun, karena sudah kebelet dan tidak yakin bisa mencapai kamar mandi pada waktunya, dia memutuskan untuk menggunakan botol air mineral yang ada di sana.

Malang, saat dia berusaha menarik penisnya, benda itu tersangkut di mulut botol yang sempit. Karena panik, pria berusia 21 tahun itu mencoba untuk memotong botol itu sendiri sehingga menyebabkan alat vitalnya luka dan mengeluarkan darah.

“Dia menggunakan gergaji metal, tetapi akhirnya melukai penisnya, menyebabkan benda itu berdarah,” kata Asisten Direktur Departemen Pemadam Kebakaran Selangor, Mohd Sani Harul seperti dilansir Metro, Minggu (22/1/).

Petugas pemadam kebakaran dari stasiun Port Klang dan Andalas dikerahkan ke lokasi kejadian. Mereka akhirnya berhasil membebaskan alat vital pria itu. Korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Tengku Ampuan Rahimah untuk mendapatkan perawatan dan dilaporkan telah berada dalam kondisi stabil. (Metro/jpgrup)

Jalan Lintas Timur Milik Provinsi Rusak Parah

0
Pengendara sepeda motor lewati jalan milik provinsi Kepri Lintas Timur kabupaten Lingga yang rusak parah. Sejak masih tergabubg dengan-Riau belum pernah mendapat perbaikan. f : Hasbi/batampos.

batampos.co.id – Akses jalan lintas timur makin hari makin parah. Puluhan kilometer jalan yang dibangun sejak masih tergabung dengan provinsi Riau tersebut belum mendapat pembenahan berarti dari pemprov Kepri.

Pantauan dilapangan, badan jalan yang semula di aspal menuju kecamatan Lingga Timur dan sebagin desa kecamatan Lingga Utara tersebut menggelupas. Jalan yang tersisa hanya krikil dan tanah kuning sepanjang 12 Kilometer. Saat musim hujan, jalan berlumpur dan menyulitkan pengendara. Bukit-bukit yang curam berlubang akibat gerusan air hujan. Tidak tersedia saluran drinase. Sementara bibir jalan dipenuhi semak belukar.

“Setiap hari jalan ini cukup ramai. Baik nelayan yang mengantar hasil laut. Petani antarkan hasil kebun. Lain lagi guru-guru yang mengajar terpaksa harus melintas jalan dengan kondisi seperti kubangan babi,” kata Rudy salah seorang pengendara warga dusun Centeng kepada Batam Pos, Rabu (1/2).

Banyaknya aktifitas warga kata Rudy sudah seharusnya mendapat perhatian serius pemerintah. Akses jalan menjadi penghubung dan lintas perekonomian warga.

“Sampai saat ini dari saya kecil sampai sekarang belum pernah ada pembenahan. Kami hanya bisa berharap pemerintah segera memperbaiki jalan ini. Anak-anak sekolah juga melintas jalan ini,” tuturnya.

Seperti berita sebelumnya, jalan lintas timur tersebut masuk sebagai jalan milik Provinsi Kepri. Sehingga tanggung jawab perbaikan menjadi ranah pemerintah Kepri.

Kabid Bina Marga dinas Pekerjaan Umum (PU) kabupaten Lingga, Indra Asmara Putra kepada Batam Pos membenarkan hal tersebut. Perbaikan jalan dikatakannya bukan menjadi kewenangan pemkab Lingga, melainkan pihak Provinsi. Untuk tahun 2017 ini, pemkab Lingga melalui DAK hanya dapat memperbaiki jalan sepanjang 2 Kilometer dengan pagu anggaran mencapai Rp 7 Miliar. “Tahun ini ada perbaikan sekitar 2 Kilometer. Belum bisa dilaksanakan semuanya, pungkasnya. (mhb)

Jaksa Kembali Periksa 6 Saksi Kasus Dana Dinsos Rp 1,5 M yang Tak Kembali

0

batampos.co.id – Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam memastikan ada pelanggaran hukum terkait tak kembalinya Rp 1,5 miliar Dana Dinsos ke kas daerah tahun anggaran 2015.  Dana tersebut diduga dikorupsi.

Kepastian itu diperoleh setelah penyidik kembali memeriksa enam saksi di Kejari Batam, Rabu (1/2).

“Ini pemeriksaan kedua mereka. Kami pastikan ada pelanggaran hukum,” ujar Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Batam, Chadafi, kemarin.

Keenam saksi yang kembali diperiksa itu semuanya berasal dari Dinas Sosial dan Pemakaman Kota Batam. Keenamnya pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK) Dinsos yang mengetahui persis penggunaan dana di dinas tersebut.

Mereka adalah;

  • Pejabat Pelaksana Tehnis Kegiatan ( PPTK ) kegiatan bimbingan keterampilan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) (RA),
  • PPTK untuk kegiatan pemakaman tunggawa (MYA),
  • PPTK kegiatan bantuan rehab rumah tak layak huni (RTLH) (AZ),
  • Pejabat pembuat komitmen (PPK) kegiatan kesiagaan dan tanggap darurat korban bencana bantuan pemulangan orang telantar (MA),
  • PPK kegiatan pemakaman tunggawa (IR),
  • PPK kegiatan pelayanan kesejateraan sosial dan lanjut usia dan bimbingan keterampilan PMKS (UW).

Pantauan Batam Pos, jaksa yang melakukan pemeriksaan antara lain Jaksa Kadek dan Jaksa Rian Anugerah yang merupakan jajaran tim pidsus Kejari Batam.

Pemeriksaan ini bertujuan mengetahui darimana sumber aliran dana yang diduga telah dikorupsi senilai Rp 1,5 miliar berdasarkan temuan BPK.

“Kami sudah pegang data-data penggunaan anggaran di Dinsos tersebut,” jelasnya.

Tercatat sudah lebih dari 20 saksi diperiksa terkait kasus ini. Semua yang dipanggil hadir. “Kalau indikasi korupsi sudah masuk pokok perkara, sementara kami masih dalam proses pemeriksaan,” katanya.

Ia menjelaskan, saksi dari PPTK ini dimintai keterangan terkait laporan kegiatan Dinsos yang menggunakan APBD. Dari beberapa kegiatan itu yang ditengarai adanya penyalahgunaan anggaran, sehingga ditemukan selisih sebesar Rp 1,5 miliar yang tak kembali.

Disinggung mengenai dugaan dana itu diambil juga dari anggaran pemakaman, Chadafi enggan menjelaskan. Namun, menurutnya, tim penyidik tengah mengumpulkan darimana saja dana  sebesar Rp 1,5 miliar itu bisa dikorupsikan.

“Saya tak bisa pastikan, ada banyak kegiatan. Tungu selesai penyidikan dulu, baru bisa kita jelaskan aliran itu dari kegiatan mana saja,” beber mantan Kasi Intel Lubuklingau, Sumatra Selatan ini.

Ditengah penyidikan, tim jaksa juga merinci berapa kerugiaan pasti negara akibat dugaan korupsi tersebut. Apakah nilainya sampai dengan temuan BPK beberapa waktu lalu.

Lalu kapan penetapan tersangka? Chadafi belum bisa memastikan. Tapi ia menjamin pasti ada yang akan ditetapkan tersangka dalam waktu dekat.

“Nanti kami kabari, biar kami kerja dulu,” ujar Chadafi lagi.

Pejabat Dinsos Batam yang telah diperiksa sebelumnya; Mantan Kadinsos Raja Kamarulzaman, bendahara Raja M Rizal, dan  beberapa pejabat Dinsos yang dianggap mengetahui aliran dana tersebut.

Beberapa waktu lalu, mantan kepala dinas sosial dan pemakaman Raja Kamarulzaman mengakui sudah pernah diperiksa kejaksaan. Tetapi ia enggan berkomentar mengenai pokok pemeriksaan.

“Ya, sudah pernah dipanggil kejaksaan. Tetapi untuk kasus ini langsung ke kejaksaan saja,” katanya.

Sebelumnya, Wali Kota Batam Muhammad Rudi juga membenarkan sejumlah pegawainya di Dinsos diperiksa atas dugaan korupsi tak kembalinya dana Dinsos Rp 1,5 miliar pada tahun anggaran 2015.

“Kami mendukung proses pemeriksaan yang dilakukan pihak Kejari Batam,” kata Rudi belum lama ini.

Rudi juga mengakui kalau salah satu yang paling bertanggungjawab dalam kasus ini adalah Raja M Rizal. Sebab, dana Rp 1,5 miliar itu raib saat ia menjabat sebagai Bendahara Dinsos dan Pemakaman Kota Batam.

Dana tersebut diduga digunakan Raja. Namun, diduga tak hanya Raja yang memakan uang tersebut, namun diduga mengalir ke beberapa pihak. (nji/she)

eM Auto Perkenalkan Mercy GLE 400 Coupe

0

batampos.co.id – eM Auto Jalan Bunga Raya Nomor 29 Baloi Indah, Lubuk Baja, memperkenalkan sebuah mobil mewah, yakni Mercedes Benz GLE 400 Coupe, memiliki karakteristik yang tangguh.

Mobil ini didesain sporty memancarkan superioritas dari kendaraan jenis coupe dipadukan dengan proporsi SUV yang menghasilkan lengkungan dan garis berkarakter. “Mobil ini memancarkan tampilan menarik khas lini AMG pada bagian depan dan belakang,” ujar ujar Sales eM Auto, Robert, Selasa (1/2).

Mercy GLE 400 Coupe memiliki mesin dengan kapasitas 3000 cc, kapasitas tanki 93/12.0 dengan ukuran ban 275/50R20, dan bobot kendaraan 21850/2850. “Banyak lagi keunggulan lainnya yang ada pada mobil Mercy GLE 400 Coupe ini,” ungkap Robert.

Dia mengatakan, GLE 400 Coupe menawarkan lebih dari sekadar sebuah SUV, Ia memiliki performa layaknya sebuah mobil sport.

“Desain dan kualitas interior terbaik khas Mercy. Kemewahan yang disajikan cukup terasa istimewa dengan panoramic roof dan jok kulit,” kata Robert.

Mobil ini, juga dilengkapi dengan sistem keselamatan terbaik, selain airbag, ada juga intelligent lights sistem, distronic plus dan active parking assist.

“Memiliki sistem collision prevention assist plus yang mampu memberikan peringatan visual hingga bantuan pengaplikasian rem secara otomatis ketika jarak kendaraan di depan terlalu dekat,” ucapnya. (cr14)

Merawat Mayat Bayi Laiknya masih Hidup

0
Charlotte, Evelyn, dan Attila Szakacs. (Mercury Press, Media Ltd via Daily Mail)

batampos.co.id – Charlotte Szakacs, 21, melahirkan anak pertamanya pada Desember 2016. Namun, Perempuan dari York, Inggris, itu kehilangan bayinya.

Evelyn Szakacs yang dilahirkannya meninggal dunia setelah empat pekan dilahirkan. Evelyn menderita kelainan kromosom dan membuatnya tidak mampu bertahan hidup.

Namun, Charlotte masih bisa merasakan menjadi ibu walau sebentar. Sebuah rumah perawatan menyediakan selimut dingin yang bisa mengawetkan mayat seseorang. Dan, Charlotte pun membawa pulang tubuh Evelyn yang sudah membeku tak bernyawa. Selama 16 hari, Charlotte dan suaminya, Attila, merawat bayi mereka yang sudah tiada bak masih bernyawa.

Perempuan 21 tahun itu menghabiskan 12 hari di rumah sakit untuk merawat mayat Charlotte untuk membawanya pulang. Kemudian, selama empat hari mayat Charlotte berada di rumah sampai dimakamkan.

”Banyak orang yang heran dengan kami. Ibu-ibu yang lain mengatakan kalau apa yang kami lakukan ini bisa membantu menguatkan kami,” katanya.

Ditambahkan Charlotte, keputusannya memang bukan pilihan yang baik untuk orang lain.

Namun bagi mereka, sangat penting untuk bersama keluarga dan dekat dengan bayi kami.

”Saya pikir, menghabiskan waktu dengannya menimbulkan perbedaan yang signifikan. Bisa melakukan banyak hal dengan bayi Anda disaat mereka sudah tiada sangat membantu secara emosional,” ulasnya.

Charlotte mengakui, dia sangat gugup saat membawa Evelyn pulang. Tetapi, rasa itu berubah menjadi kebahagiaan.

”Ini semua bukan sekadar demi kami. Tetapi, ini untuk Evelyn juga,” papar Charlotte. (DAILY MAIL/tia)

Makan Malam Romantis di Sahid Batam Center Hotel

0
Suasana makan malam romantis di Sky 8 bar, rooftop Sahid Batam center Hotel & Convention di lantai 9. foto ; Batampos.

batampos.co.id – Sahid Batam Center Hotel & Convention di Batamcentre, menawarkan paket makan malam the Sky Romance Valentine untuk moment 14 Februari nanti. Paket ini ditawarkan dengan harga Rp 800 ribu net per couple.

Paket makan malam romantis ini akan digelar di Sky 8 bar, rooftop Sahid Batam center Hotel & Convention di lantai 9. Dimana pengunjung akan di bawa dalam suasana makan malam romantis yang nyaman, hangat dan diiringi musik jazz.

Marketing Communication Sahid Batam Center Hotel & Convention, Rozalina mengatakan untuk makan malam romantis ini pengunjung tak hanya dapat menikmati makan malam yang romantis saja, tetapi didukung pemandangan yang dapat dilihat dari roof top Sahid Batam Center Hotel & Convention. “Pemandangan di roof top kota Batam secara 360 derajat,” ujar Roza yang didampingi Executive Chef Sahid Batam Center Hotel & Convention, Arief friyatna.

Arief menambahkan untuk menu makanannya, ada empat menu yang ditawarkan. Mulai dari pembuka hingga penutup. Diantaranya, menu pembuka smoked salmon salad. Ada juga pilihan untuk menu utama daging ataupun ikan salmon steak. “Menu penutup kami hadirkan juga lemon sorbet,” tambah Arief.

Tak hanya menawarkan menu makanan yang spesial, para pengunjung juga akan mendapat layanan lainnya. Seperti coklat valentine, setangkai bunga mawar, foto romantis di Photobooth dan kado kecil dari Sahid Batam Center Hotel & Conevntion yang bisa di berikan untuk pasangan. “Buruan saat ini ketersedian tempat ditawarkan terbatas,” ucapnya.

Untuk memeriahkan momen ini, kunjungi Sahid Batam Center Hotel & Convention, terletak di Jalan Raja H. Fisabillilah Komplek Raffles City Blok E Nomor 6-9 di Batamcentre. ***