Petugas mengecek ribuan paspor yang ditemukan di gudang kosong, Kamis (19/4). F. Kodim 0315 Bintan untuk batam pos
batampos.co.id – Kodim 0315 Bintan menemukan sekitar 1.167 paspor, puluhan ijazah, Kartu Tanda Penduduk (KTP), serta Akte Kelahiran di salah satu gudang kosong di Jalan Iqro, Batu 3, Tanjungpinang, Kamis (19/4).
Paspor tersebut diduga milik Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ditahan agen pengiriman TKI. Sebagian besar paspor telah dipenuhi stempel Imigrasi Malaysia dan Imigrasi Tanjungpinang.
Dari data pemilik paspor yang dikeluarkan antara tahun 2001 dan 2003 tersebut sebagian besar pemiliknya berasal dari daerah Jawa, Lombok, dan daerah lainnya.
Dandim 0315 Bintan Letkol Ari Suseno mengatakan, setelah mendapat laporan dari warga yang menemukan ribuan paspor, pihaknya langsung menyelidiki dan mengamankan dokumen negara tersebut. ”Paspor diduga milik TKI” kata Ari.
Selanjutnya Kodim 0315 Bintan menyerahkan ribuan paspor tersebut ke Imigrasi Tanjungpinang. Imigrasi yang berwenang menyelidiki lebih lanjut.
Kasi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Wasdakim) Imigrasi Tanjungpinang, Babay Bainullah membenarkan pelimpahan ribuan paspor tersebut. “Kami masih memeriksa dan menunggu instruksi selanjutnya dari pimpinan Imigrasi,” ujarnya.(odi)
batampos.co.id – Bupati Bintan Apri Sujadi menerima banyak keluhan terkait Aparatur Sipil Negara (ASN) tenaga pengajar (guru) yang jarang masuk kerja di Kecamatan Tambelan, Bintan.Rata-rata tenaga pengajar yang jarang masuk berasal dari luar Pulau Tambelan yaitu dari Kijang, Tanjungpinang, dan Tanjunguban.
Akibatnya, kelas di wilayah tersebut sering kosong dan tidak ada kegiatan belajar mengajar (KBM). Karena persoalan tersebut, Pemkab Bintan meminta bantuan alumni sekolah yang tinggal di Tambelan untuk mengajar di sejumlah sekolah yang ada di Kecamatan Tambelan.
”Itu solusi sementara untuk menutupi kekosongan tenaga pengajar,” kata Apri.
Diakui Apri, selama ini banyak tenaga pengajar yang menolak ditempatkan di Tambelan. Akibatnya, guru tak mau masuk kerja alias tidak mengajar. Dihubungi terpisah Kepala Badan Kepegawaian, Pelatihan dan Pendidikan Daerah (BKPPD) Pemkab Bintan, Irma Annisa mengakui dirinya banyak mendengar keluhan tersebut. Hanya saja, pihaknya belum menerima laporan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
”Belum ada sama sekali laporan baik dari UPT maupun kepala sekolahnya,” ujarnya, Rabu (25/4).
Soal sanksi tenaga pengajar yang jarang masuk diberikan sesuai dengan tingkatan kesalahan, mulai teguran tertulis, lisan, hingga pemecatan. Teguran ini biasanya diberikan berjenjang, mulai kepala sekolah sampai kepala dinas.
Jika tenaga pengajar tersebut masih membandel, selanjutnya akan ditangani pihak BKPPD. Setelah diproses dengan disertai bukti seperti absen yang jarang masuk, berikutnya akan dikeluarkan sanksi ringan hingga berat. ”Sanksi terberatnya dipecat,” tegasnya.
Ia mengimbau kepada kepala OPD untuk melaporkan apabila ada oknum tenaga pengajar atau ASN yang jarang masuk kerja. ”Jika ada yang jarang masuk kantor atau malas kerja, laporkan ke kami agar kami proses,” tegasnya.
Untuk diketahui, pada 2017 terdapat sedikitnya 10 ASN dipecat, kemudian tahun ini sudah 20 orang honorer yang diberhentikan karena berbagai alasan. (met)
Antrian penonton Avengers: Infinity War saat memasuki ruang studio 6 Cinema 21 BCS Mall, Rabu (25/4). F. Febby Anggieta Pratiwi/Batam Pos
batampos.co.id – Pukul 10.15 WIB, pintu bioskop Cinema 21 BCS Mall, Baloi masih terkunci. Kendati demikian, di luar pintu ramai pengunjung yang seolah memaksa agar pintu tersebut segera dibuka. Ya, siapa lagi kalau bukan penggemar film superhero dari Marvel Studio, Avengers: Infinity War yang tayang perdana, Rabu (25/4).
Didominasi para remaja, keresahan akibat tak sabar menunggu bercampur dengan keriuhan suasana yang membahas masing-masing hero. Keadaan itu nyatanya tidak hanya meresahkan para penggemar, tapi juga pihak bioskop.
“Di sini (Cinema 21 BCS) penayangan awal pukul 12.00 WIB. Seharusnya kami buka setengah jam sebelum penayangan. Tapi melihat antusias penonton, kami buka dari pukul 11.00 WIB,” kata Supervisor Cinema 21 BCS, Imam.
Ia menyebutkan, dalam penayangan perdana ini pihaknya berhasil menjual 3.500 hingga 4.000 tiket. “Kami buka lima studio, dan full. Dua studio untuk tiket online atau booking, dan tiga studio yang dibeli langsung di hari penayangan. Total sehari 20 kali tayang untuk film Avengers,” jelasnya.
Antusias penonton tidak hanya dari kalangan anak-anak dan remaja, tapi juga para orang tua. Momen yang dinilai tepat karena sebagian pelajar yang tidak UN libur sekolah, membuat film ini dipadati pengunjung dari berbagai kalangan.
“Anak yang ngebet nonton. Karena semangatnya, saya sekeluarga juga ikut nonton. Suami sampai libur kerja,” ungkap Carmen, salah satu orang tua yang mendampingi anaknya menonton Avenger di Cinema 21 BCS.
Dengan durasi film 150 menit, respon dari para penonton pun beragam. Tapi, tak satupun memberikan respon negatif. Hanya rasa penasaran itu kembali muncul di adegan akhir (after credit) film.
“Seru. seru banget, spektakuler. Tapi lagi-lagi gantung,” ucap Tia bersama sembilan rekan satu kampusnya.
Sepuluh mahasiswa UIB ini mengaku, keseruan tersebut muncul kala masing-masing hero hadir di sekuel yang sama. Setiap adegan superhero itupun punya peran berarti. “Ada decak kagumnya, ada romantisnya, ada patah hatinya, dan ditutup penasaran karena belum tahu siap satu hero yang berhasil melawan Thanos (musuh) itu,” terang Kiki, satu-satunya pria yang nonton bareng di kelompok Tia tersebut.
Belum lagi, soal perselisihan antara Captain America dan Iron Man di The Avengers (sekuel sebelum Infinity War) yang masih terjadi di film ini. “Kirain Captain America sama Iron Man bakal baikan, tapi nyatanya enggak. Huuffttt,..,” sambung teman Tia lainnya.
Menggantungnya ending cerita Avengers: Infinity War bakal menjadi rasa penasaran yang cukup lama. Pasalnya, lanjutan film tersebut akan kembali dirilis di 2019 nanti.
“Terpaksa nunggu tahun depan lagi. Tapi gak apa-apa, biar superhero Marvel ada filmnya terus. Intinya film yang sekarang menggelitik emosi banget. Haru,” tutup Tia. (nji)
batampos.co.id – Jajaran Satlantas Polresta Barelang mulai hari ini melaksanakan Operasi Patuh Seligi 2018. Operasi ini akan berlangsung selama empat belas hari atau hingga tanggal 9 Mei 2018 mendatang.
“Dalam Operasi Patuh ini kita mengedepankan tindakan tilang. Kita juga melihat kondisi masyarakat apabila bisa diberikan toleransi atau teguran akan kita berikan teguran. Dan jika pelanggarannya sudah fatal, akan kita tilang,” kata Kasat Lantas Polresta Barelang Kompol I Putu Bayu Pati, Kamis (26/4) pagi.
Dijelaskan Kasat Lantas, ada tujuh sasaran dalam Operasi Patuh Seligi 2018 ini, yakni antara lain penindakan terhadap
pengemudi menggunakan ponsel,
pengemudi melawan arus lalu lintas,
sepeda motor berboncengan lebih dari satu penumpang,
pengemudi di bawah umur,
tidak menggunakan helm,
menggunanakan narkoba atau mabuk
mengemudi melebihi kecepatan.
tidak mengenakan sabuk pengaman
“Contohnya seperti pelanggaran melawan arus lalu lintas atau pelanggaran menerobos lampu merah. Itu kan pelanggaran fatal. Karena membahayakan pengendara lain. Tentunya kita akan memberikan sanksi tilang dan bukan teguran lagi,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, pihak kepolisian juga melibatkan beberapa instansi eksternal dan internal. Untuk internal, polisi melibatkan Sat Intelkam, Sat Lantas dan Propam. Sementara intansi eksternal, Dishub Batam, POM TNI, Jasa Raharja, Dispenda dan lainnya. Mereka nantinya akan dibagi menjadi lima satuan tugas (Satgas).
Lima satgas itu memiliki tugas masing-masing.
Satgas I, melakukan deteksi dini,
Satgas 2 bertugas untuk preentif,
Satgas 3 lebih pada preventif,
Satgas 4 melakukan penolongan dan penegakan hukum khusus kecelakaan di jalan raya, serta
Satgas 5 bertugas memberi bantuan operasi dengan menyampaikan informasi dan dokumentasi.
Ditambahkannya, dalam pelaksaan Operasi Keselamatan ini akan dilakukan dengan dua metode, yakni dengan cara berpatroli keliling atau dengan hunting maupun dengan stasioner atau diam di satu tempat.
“Operasi ini dilakukan sebagai upaya polisi dalam menekan angka kecelakaan lalu lintas,” imbuhnya. (gie)
batampos.co.id – Cindy Claresta, salah satu finalis Duta BP Batam sangat mencintai dunia broadcasting. Perawakan boleh mungil, tapi semangatnya sangat besar. Hingga saat ini, Staff Humas BP Batam ini tercatat menekuni karir sebagai presenter di Batam TV dan juga Detak Kepri.
“Mengapa saya menekuninya, karena dulu saya ingin menjadi artis atau kerja di dunia broadcasting. Pengen juga tampil di depan layar,” kata Cindy di Media Centre (MC) BP Batam, Rabu (25/4).
Ia juga tertarik untuk mengetahui hingar bingar dibalik layar produksi. Makanya saat ini ia menekuni kuliahnya di Jurusan Multimedia Jaringan di Politeknik Batam. Sekarang Cindy duduk di semester empat.
Dalam kesehariannya menjalani tugas, ia bertugas menjadi reporter yang tampil di Channel Youtube BP Batam. “Ya ini sesuai dengan moto saya yang selalu ingin tampil di depan layar,” kata wanita Sunda kelahiran Batam, 31 Oktober 1998 ini.
Diluar kesehariannya, Cindy ini sangat hobi menari dan dansa. Hobinya tersebut yang mampu membawanya menjadi 10 besar Duta BP Batam, Februari lalu.”Tariannya tradisional dan dansanya kontemporer,” ungkapnya.
Selain itu putri bungsu dari pasangan Irzal Caniputra dan Venny Ieswandhani ini memiliki hobi makeup dan berswafoto.(leo)
batampos.co.id – Menjelang masuknya bulan Suci Ramadhan, jajaran Satres Narkoba Polresta Barelang merazia beberapa toko yang menjual minuman beralkohol (mikol) tanpa izin, Selasa (24/4) malam.
Kasat Narkoba Polresta Barelang AKP Abdul Rahman mengatakan, razia ini berdasarkan perintah langsung dari Wakapolri Komjen Syafruddin sehubungan dengan banyaknya korban yang meninggal dunia akibat mikol oplosan dan masuknya bulan Suci Ramadhan.
“Kemudian dari perintah itu, kami tindak lanjuti dengan mendatangi beberapa toko di Sagulung. Dari satu toko, kami menyita ratusan botol miras,” kata Abdul Rahman, Rabu (25/4) siang.
Dijelaskannya, satu toko itu tidak bisa menunjukkan surat izin penjualan mikol kepada petugas. Sehingga, polisi melakukan penyitaan terhadap 228 botol mikol. Selain itu, pihaknya juga memanggil pemilik toko itu untuk dimintai keterangannya.
“Saat dimintai keterangan, alasan dia gak ada izin itu alasan klasik. Karena tidak sempat ngurus izin atau pengurusannya ribet,” ujarnya.
Dilanjutkannya, beberapa miras yang disita oleh pihaknya merek Red Label, Jack Daniel, Martel, Chivas Regal, Topi Miring, Double Black. Kini barang bukti mikol dari 20 merek itu diamankan di Satres Narkoba Polresta Barelang.
“Selanjutnya kami akan lihat aturan atau perda nya dulu. Kalau mengandung tindak pidana ringan, kita akan koordinasikan dengan Sat Sabhara Polresta Barelang,” tuturnya.
Abdul Rahman menambahkan, Razia minuman beralkohol ini rencananya akan terus dilaksanakan menjelang masuknya bulan Suci Ramadhan. Mengingat seringkali mikol menjadi satu penyebab tindakan kriminal dan keributan. Diharapkan dengan demikian situasi akan lebih kondusif.
“Operasi ini akan terus kami laksanakan menjelang bulan Ramadhan beberapa minggu lagi. Kita akan tindak tegas bagi yang menjual tanpa izin,” tegasnya. (gie)
batampos.co.id – Berawal dari pesatnya penggunaan ponsel dua siswa SMA Negeri 1 Dabo Singkep, Kepri berhasil menemukan pacu daya / power bank rakitan berbahan alami.
Adalah Alfi Sefia Wijaya dan Yola Amanda yang menemukannya. Mereka memamerkan temuan mereka pada ajang perlombaan Teknologi Tepat Guna (TTG) di Gedung Nasional Dabo Singkep, Rabu (25/4/2018) siang.
Powerbank rakitan penemuan kedua siswa ini bukan seperti biasanya, sumber tenaga untuk mengisi baterai gadget hanya berbahan belimbing asam, karbon arang dan air garam. Seluruh bahan yang mudah didapat ini, diramu dalam takaran tertentu dan seterusnya dimasukkan dalam baterai kering bekas yang telah dikeluarkan isinya.
Setelah baterai bekas tersebut penuh dengan adonan belimbing asam, arang dan air garam, lalu dijadikan satu dalam kota kayu sederhana dan dirangkai dengan jaringan kabel mini untu dapat memberikan input kepada gadget.
Menurut Alfi, selain masyarakat sangat membutuhkan daya untuk gadget mereka, power bank hasil karya mereka dijamin ramah lingkungan serta tidak me makan energi berlebihan. Sebab, power bank ada saat ini juga membutuhkan daya listrik untuk menyimpan daya tidak dengan powerbank alami milik mereka.
Karena powerbank mereka dari bahan Karbon arang, garam dan belimbing maka kedua siswa ini memberikan nama pada temuan mereka dengan nama powerbank karambel.
“Sesuai dengan bahan yang digunakan kami menamakan powerbank ini karambel,” kata Alfi di Gedung Nasional, Dabo Singkep.
Karena tidak membutuhkan asupan daya dari listrik, powerbank karambel penemuan siswa SMA Negeri 1 ini nyaman dan aman untuk digunakan di luar ruang. Terlebih saat berada di tengah-tengah alam terbuka seperti di dalam hutan dan saat mencari ikan di laut. (wsa)
batampos.co.id – Kasus penipuan jemaah umrah di Indonesia masih saja terus terjadi. Penyebabnya, Meski ada 900 lebih penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU), masih banyak masyarakat mendaftar di travel umrah tidak resmi. Jumlahnya diperkirakan mencapai 50 ribu lebih.
Terbitnya regulasi umrah baru membuat 50 ribu calon jemaah umrah itu terancam batal berangkat ke Tanah Suci. Mereka bisa dicekal di bandara saat hendak berangkat menjalankan ibadah umrah.
Kebijakan ini membuat travel umrah yang belum terdaftar di Kementerian Agama (Kemenag) cemas. Rabu (25/4) kemarin, sejumlah pengusaha travel umrah yang menggunakan bendera Aliansi Muslim Indonesia (ATMI) itu mengadu ke DPR.
“Kami bukan travel umrah ilegal. Tetapi agen travel pra PPIU,” kata pembina ATMI Ezon di Senayan, Rabu (25/4).
Ezon mengatakan estimasi kasar saat ini ada 50 ribu calon jemaah umrah yang mendaftar melalui travel pra PPIU itu. Dia mengatakan dengan adanya regulasi Peraturan Menteri Agama (PMA) 8/2018 tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah, mereka terancam tidak bisa memberangkatkan jemaah umrah. Sebab jika memaksa memberangkatkan, bisa terkena delik pidana. Kemudian jemaahnya dicekal di bandara saat akan bertolak ke Saudi.
’’Jangan sampai ada jemaah yang sudah komplit dokumennya, tetapi terkena pencekalan ketika sudah di bandara,’’ jelasnya.
Ezon mengatakan meskipun mendaftar melalui pra PPIU, banyak calon jemaah yang sudah mengatongi visa umrah, tiket pesawat, dan booking hotel di Saudi. Mereka berharap tetap diberi kesempatan untuk mengurus izin untuk menjadi PPIU atau travel umrah resmi.
Ketua Komisi VIII DPR Ali Taher Parasong mengakomodasi permohonan dari travel yang belum berizin dari Kemenag itu. Dengan catatan dia juga meminta kepada travel-travel itu untuk berkomitmen mengurus perizinan ke Kemenag. Selain itu juga tidak menipu dan mengecewakan jamaahnya. Meskipun ada kebijakan moratorium travel umrah baru, Ali mengatakan sebaiknya tetap mengajukan izin saja.
’’Sebab mereka ini sudah punya jamaah. Supaya tidak menimbulkan masalah,’’ jelas politikus PAN itu.
Ali mengatakan, Kemenag sebaiknya merevisi PMA 8/2018. Di antara pertimbangan yang dia sampaikan adalah regulasi yang niatnya baik itu tidak bisa serta merta bersifat memotong atau cut off begitu saja. ’’Harus ada masa transisi,’’ katanya.
Perlu dipikirkan juga nasib masyarakat yang sudah terlanjur mendaftar melalui travel umrah yang belum berizin itu.
Pemerintah tidak bisa juga serta merta menyalahkan masyarakat karena mendaftar melalui travel umrah yang belum berizin. Selama proses pemberangkatan atau pelayanan umrahnya berjalan lancar, sebaiknya tetap diberi kesempatan. Dengan catatan travel-travel yang belum berizin itu supaya mengurus legalitasnya di Kemenag.
Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kemenag Arfi Hatim mengatakan usulan dari DPR itu tentu akan dibahas di jajaran pimpinan Kemenag. ’’Nanti akan dikaji. Tentu atas arahan pimpinan di Kemenag,’’ tuturnya.
Lebih lanjut Arfi mengatakan selama ini berdasarkan undang-undang, yang berhak memberangkatkan umrah adalah PPIU atau travel umrah dengan izin Kemenag. ***
batampos.co.id – Zat Radioaktif tentulah zat yang sangat berbahaya. Untuk itu perlu penangannan khusus. Untuk itu pula perlu pelatihan agar bisa menangani secara baik dan benar.
Bakamla melaksanakan pelathihan tersebut dalam rangka meningkatkan kemampuan sumber daya yang dimiliki oleh Bakamla khususnya pengawak kapal patrol Bakamla dalam penanganan zat radioaktif, Kamis, (26/4/2018).
Latar Belakang Penyelenggaraan Latihan mencermati meningkatnya perhatian dunia akan potensi ancaman nuklir (nuclear threat) dan radiologi (radiological threat), perlu dilakukan pemantauan real-time atas tidak kejahatan penyelundupan material nuklir dan zat radioaktif. Potensi penyelundupan banyak dilakukan melalui laut.
Untuk mengoptimalkan pengawasan, pencegahan dan penindakan serta melakukan pendekatan transnasional antar lembaga pemerintah terhadap kegiatan yang menggunakan bahan radioaktif maka Bakamla bekerja sama dengan Bapeten berupaya meningkatkan kemampuan personel Bakamla, khususnya pengawak kapal patroli dalam melakukan pengamanan terhadap pengangkutan maupun penanganan kecelakaan bahan radioaktif melalui laut.
Atas dasar tersebut, dalam rangka meningkatkan kemampuan pengawak kapal patroli Bakamla yang memiliki kompetensi tersebut, akan diselenggarakan Bimtek Penanganan Zat Radioaktif bekerja sama dengan Bapeten. Tujuan Penyelenggaraan Latihan ini untuk mempererat kerjasama antara Bakamla dan Bapeten dalam upaya meningkatkan kemampuan peserta, khususnya pengawak kapal patroli Bakamla dalam bidang pencegahan penyelundupan bahan nuklir dan radioaktif lewat laut.
Tempat Latihan di Perairan Setokok, Batam, Kepulauan Riau, Kamis 26 April 2018, diikuti 50 peserta gabungan dari Bakamla RI pusat unsur-unsur latihan di daerah ABK KN Bintang Laut 4801, Personel Zona Maritim Barat, Personel Pangkalan Armada Kamla Batam, Personel SPPKL Batam, serta narasumber dari BAPETEN.
Pelatihan dilakukan dalam bentuk simulasi kejadian sesungguhnya.
Hadir dalam latihan ini Deputi Operasi dan Latihan Bakamla RI Laksamana Muda TNI Semi Djoni Putra serta tamu kehormatan Director Nuclear Security Division, International Atomic Energy Agency (IAEA) Mr. Raja Abdul Aziz Raja Adnan. (ali)
Chantika, murid kelas VI SDLB Negeri Batam penyandang tunagrahita, mengikuti ujian akhir sekolah (UAS) yang digelar bersamaan dengan UN SMP sederajat, Senin (23/4). | Febby Anggieta Pratiwi/Batam Pos
Walau sang anak hidup di tengah kekurangan fisik, orangtua di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Batam tetap semangat. Mereka tidak ingin kekurangan sang anak menghambat hak untuk mendapat pendidikan.
Di luar kelas, dari balik teralis jendela, Neli Rusana memandang putrinya Cantika. Wanita 50 tahun itu sesekali mengambil gambar anaknya menggunakan ponsel miliknya. Cantika pun melempar senyum ke ibundanya. Sesekali ia melambaikan tangan. Namun dalam sekejap tatapannya kosong dan dalam sekejap juga tiba-tiba memandang sang ibu.
Bagi Neli, ekspreasi wajah putri bungsunya itu sudah tak asing lagi. Juga bukan sebuah keanehan. Dari ekspresi wajah yang kadang berubah dalam sekejap itu, baginya bukan suatu masalah. Justru dari situ, rasa cinta dan sayangnya pada Cantika makin membuncah.
Cantika adalah salah satu murid Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Batam. Dia penyandang tunagrahita. Usianya sudah 13 tahun. Bersama enam sahabatnya di ruangan yang sama di SLBN itu, ia mengikuti Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN), Senin (23/4) lalu. Hari itu hari pertama USBN. Ia mengerjakan soal-soal mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN). Dimulai pukul 08.00 WIB.
“Saya ingin dia tetap sekolah, saya bangga padanya, semangatnya tinggi,” ucap Neli. Tatapannya masih melekat pada sang anak yang tengah berjuang menjawab soal-soal USBN.
Pagi itu, Cantika dan Neli merupakan anak dan wali murid yang pertama tiba di sekolah. Sebelum ujian, Neli berkesempatan menemani sarapan terlebih dahulu anaknya yang tidak mau makan selain nasi kuning tersebut.
Tak ada kata menyerah dalam kamus kehidupan Neli untuk berhenti membimbing Cantika tetap sekolah, apalagi harus menyerah dengan keadaan dan tidak lagi bersemangat mepersembahkan pendidikan layak untuk Cantika. Bagi penjual gorden ini, walau berkebutuhan khusus, Cantika harus tetap sekolah, pendidikan adalah hal yang penting. “Keinginanku, dia sama seperti anak lain. Bisa baca dan bisa nulis,” harapnya.
Ia meyakini, seiring bertambahnya usia Cantika akan ada perkembangan pada kepribadian putrinya tersebut. Untuk itu, setiap hari ia bersedia menempuh jarak 20 kilometer dari tempat dia tinggal di bilangan Kecamatan Batuaji ke sekolah Cantika yang berada di Batamcenter. Tak jarang, ia bersama anaknya itu kerap terjebak macet di kota industri ini. Tentang kemudahan transportasi, ia punya harapan khusus yakni pemerintah menyiapkan bus sekolah khusus pelajar berkebutuhan khusus.
“Orangtua tak semua bisa bawa motor,” ungkapnya.
Sepulang dari mengantar Cantika, ia menjalani rutinitasnya berjualan gorden. Lokasi jualannya di Perumahan MKGR, Batuaji yang berseberangan dengan SP Plaza. “Semoga dia sembuh, mudah-mudahan ada keajaiban dari Allah. Alhamdulillah sejak dia sekolah ada banyak kemajuan, tak seperti dulu (sebelum sekolah) emosinya kadang tak terkontrol,” ujarnya.
Neli ingin kelak Cantika mampu mandiri menentukan kehidupannya termasuk bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, dan tak semata-mata bergantung pada dua abangnya M Zikiruliansyah dan Alfayat yang kini menempuh studi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ketika dia sebagai orangtua sudah tua. Neli berpendapat jalannya yakni dengan memberikan pendidikan bagi anaknya, disamping ia akui kerap memanjatkan doa pada tuhan untuk kebaikan Cantika.
“Setelah sekolah mau dibelikan alat jahit, saya sangat menyayangi dia (Cantika) melebihi abangnya. Abang-abangnya juga sayang adiknya ini,” ucap Neli. Matanya terlihat sembab, menutupi harunya ia menyeka airmatanya.
“Ini foto-foto mereka,” ucap dia sembari memperlihatkan foto Cantika dan Zikiruliansyah sedang bergurau pada ponselnya. Walau berkebutuhan khusus, Cantika ia akui merupakan anak yang memilki semangat yang tinggi untuk bersekolah. “Pernah hari Minggu dia ambil bajunya dan ajak sekolah,” katanya sembari tersenyum.
Sikap semangat ini juga dilakoni orang tua lain. Adalah Sudarmiati, 66, warga rumah liar (ruli) tower satu Duriangkang, Seibeduk. Penjual kue keliling di perumahan-perumahan ini setiap pagi harus menemani anaknya, Dina Ryanti ke sekolah luar biasa.
Sudarmiati tak bisa mengendarai sepeda motor. Maka setiap hari sekolah, dari Seibeduk ke Simpang Kara Batamcenter mereka menumpang bus Trans Batam, Rp 4 ribu tarif sewa Sudarmiati dan Rp 2 ribu untuk sang buah hati. Dalam sehari untuk moda transportasi ini ia harus merogoh kocek Rp 12 ribu perhari, pulang pergi.
Turun dari Trans Batam, tak berarti dia bersama anaknya sampai ke sekolah. Mereka masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan jasa ojek dari Simpang Kara ke sekolah. Bersama anaknya dia harus membayar Rp 14 ribu, pulang pergi yakni Rp 28 ribu. Total yang ia keluarkan untuk transportasi saja Rp 40 ribu per hari.
“Kadang ada ojek yang baik juga, dia minta bayar hanya untuk satu orang. Sisa uangnya bisa buat jajan Dina,” ujarnya.
Transportasi adalah kendala yang cukup dirasakan selama menuntun Dina sekolah. Awalnya, bersama enam anak berkebutuhan khusus dari Seibeduk yang bersekolah di SLBN Batam, mereka menyewa mobil dengan tarif sewa Rp 500 sebulan. Namun belakangan menyewa mobil tidak lagi dilakukan karena pemilik mobil sudah fokus bekerja.
“Hasil jualan kue, khusus untuk dia Rp 350 sebulan kusiapkan. Ini untuk transport dan jajannya,” terangnya.
Berlatar belakang tidak mampu dan suaminya seorang pekerja bangunan, ia akui cukup berat. Namun hal ini tak menyurutkan semangatnya menyekolahkan anaknya tersebut.
“Harus sabar kita ini, dengan bersekolah ini saya kepingin anak saya bisa bedakan mana yang bagus dan tidak. Sekolah itu supaya tak dibodohi orang,” paparnya.
Pukul 09.30 WIB, ujian pelajaran pertama usai digelar. Dina yang semula di dalam ruangan bergegas keluar dan menghampiri ibunya. Ia memilih untuk duduk dalam pangkuan Sudarmiati. Sembari bermanja tentunya. Tak jauh dari Dina dan Sudarmiati, ada Neli yang juga bersama anaknya Cantika. Dua keluarga itu sesekali asik bercengekerama tetang bagaimana perkembangan anakanya hingga soal cek rutin perkembangan anak-anaknya masing-masing.
“Dina ini ngajinya rajin, hafalan doanya banyak. Hafalan doa tidur, keluar rumah, sebelum belajar dihafal semua. Pengen sekali dia dibelikan Al-quran yang besar,” papar Sudarmiati, bangga.
Tak hanya suka ngaji dan hafalan doa, ia cukup bersemangat menceritakan anaknya sangat suka musik. Bahkan, kata dia, enggak ada musik sehari saja hidup Dina akan terasa hampa. Bahkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dihafal penuh oleh Dina. “Ngerti dia kalau soal lagu,” katanya lagi, sembari tersenyum kecil.
Di balik kebahagiaannya tersebut, ia mengaku kerap memikirkan keadaan anak keduanya dari dua bersaudara tersebut. Ia membayangkan kehidupan anaknya yang berbeda dengan anak pada umumnya. Ia mengaku kerap menangis memikirkan keadaan Dina. Maka dari itu pilihan untuk menyekolahkan anaknya adalah keharusan, dibanding hanya tinggal di rumah.
“Cita-citanya tinggi. Mau sembuhin orang, jadi dokter,” ucap wanita asal Pacitan, Jawa Timur.
Sembari bercerita, Sudarmiati mengeluarkan bekal untuk Dina dalam tas selempang motif tutul miliknya. Makanan untuk Dina cukup sederhana, mi goreng dan telur sambal bulat. Persis seperti cerita Sudarmiati, Dina tak lupa membaca doa sebelum menyantap makanan yang dipersiapkan.
Tak jauh dari lokasi Dina dan Sudarmiati duduk. Pelajar penyandang tunanetra, Sulthan An Nuha serius mendengar lantunan Al-Quran dari ponsel yang ia simpan dalam saku bajunya. Sesaat Kemudian temannya, Azizah Nurusyfa menghampirinya.
Aan bercengkrama dengan Azizah yang membahas surah Al Mulk di sela jam istirahat USBN SD SLBN Batam, Senin (23/4). Keduanya merupakan penyandang tunanetra yang juga sama-sama hafidz berprestasi dari SLBN Batam, yang sedang melaksanakan ujian kelulusan SD. | Febby Anggieta Pratiwi/Batam Pos
“Bang Aan (sapaan Sulton) surat apa? tanya Azizah. Aan lantas menjawab. “Surah Al Hulk ya. Salah salah, Surah Al Mulk nih Azizah,” jawab Aan dengan logat yang khas. Ibu dari Azizah Yeni terlihat memperhatikan tingkah anaknya bersama temannya ini. Dia tersenyum.
Usut punya usut, kedua merupakan hafiz dan hafizah (penghafal Al Quran) kebanggaan SLBN Batam. Seingat Yeni, Azizah bahkan sudah menghafal juz ke enamnya. Azizah, kata Yeni, dalam menghafal dituntun tidak menggunakan alat bantu braille. Kemampuan Azizah mengantarkan Azizah turut serta ikut dalam lomba, tak hanya untuk anak berkebutuhan khusus namun juga yang pesertanya umum.
“Dia hafalnya dari belakang dari Juz 30, 29, 28, 27, 26,” ungkap Yeni sembari menghitung jari.
Batam Pos berkesempatan mendengar hafalan Azizah. Yeni meminta Azizah untuk membaca surat yang sama dibicarakan dengan Sulthan yakni surat Al Mulk. “Hafal nak, Juz 29 Tabaroq (Tabaroq penggalan ayat pertama Surah Al Mulk, red). Om Batam Pos nak dengar,” kata Yeni.
Sejurus kemudian, Azizah membacakan surat tersebut tepat di dekat tangga lantai II sekolah tersebut. Beberapa temannya dan wali murid terlihat memperhatikan aksi Azizah, tak lupa Yeni mengingatkan anaknya mengawali bacaan dengan basmallah.
“Anak titipan Allah ya. Saya mau dia jadi hafizah, jadi ustazah. Kami orangtuanya tetap dukung,” katanya.
Surah Al Mulk pada ayat-ayat awal ternyata berkaitan dengan perintah agar manusia mengunakan inderanya untuk melihat ciptaan Allah. Ayat 3, yang artinya “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”
Lalu ayat 4 yang artinya “Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”
Selain itu, prestasi pelajar SLBN Batam juga cukup banyak. Terbaru, juara 1 sinopsis pada lomba literasi tingkat Provinsi Kepri yang diraih Kelas VII SLBN Batam Meina Joista. Capaian ini mengantarkan Meina yang menyandang tunagrahita ikut lomba tingkat nasional November mendatang di Makassar, Sulawesi Selatan.
Lalu juara 1 daur ulang limbah pada ajang LKSN tingkat Provinsi Kepri yang diraih oleh Muhammad Najwa. Kemudian juara 1 lomba jahit pada ajang yang sama diraih oleh siswi kelas XI Aulia Khusnul Khotimah. Keduanya merupakan penyandang tunarungu dan akan melanjutkan lomba tingkat nasional Oktober mendatang di Yogyakarta.
Sementara itu salah satu guru, Sri NurZalenawati Elly mengatakan mendidik anak berkebutuhan khusus harus didasari dengan kesabaran. Hal ini wajib dimiliki karena setiap anak memiliki tingkat perkembangan yag berbeda.
“Kita harus perlakukan mereka sebaik mungkin, sehingga haknya (pendidikan) mereka dapatkan. Kami guru harus sabar,” kata dia.
Pengajar yang juga ketua panitia USBN SDLB Batamcenter ini mengungkpakan, USBN SD di sekolah tersebut kali ini 15 pelajar. Di antaranya 13 tunagrahita dan dua orang tunanetra. (ADIANSYAH, Batam)