batampos.co.id – Rumah zakat Kota Batam melakukan aksi peduli asap dengan membagi-bagikan masker kepada pengendara sepeda motor di Simpang Frengki, Senin (16/9/2019).
Kegiatan tersebut dimulai tepat pukul 16.00 WIB dan dipimpin langsung Kepala Perwakilan Rumah Zakat Kepulauan Riau, Muhammad Isa.
Dari rilis yang diterima batampso.co.id, tim Rumah Zakat Kota Batam membagikan 1000 masker kepada para pengendara roda dua.
“Kita ingin semua tanggap darurat terhadap asap, sehingga membangun kepedulian terhadap sesama,” kata Isa.
Rumah Zakat lanjutnya, sangat peduli dengan bencana yang terjadi saat ini. Indonesia kata dia, harus bangkit untuk melawan bencana asap.
Relawan Rumah zakat Kota Batam memasangkan masker kepada pengendara sepeda motor yang melintas di sekitar Simpang Frengki, Batam Centre. Foto: Dokumentasi Rumah Zakat Batam untuk batampos.co.id
Pada kesempatan itu, Isa juga memberikan arahan dan bimbingan kepada peserta aksi untuk bisa saling bersinergi dalam membangun kepedulian sosial.
Sehingga semua pihak terkait mampu memberikan arti nilai manfaat hadirnya Rumah Zakat di tengah masyarakat Kota Batam khususnya dan Indonesia Umumnya.
Rumah Zakat Perwakilan Kepulauan Riau, juga mengadakan fundraising untuk bisa membantu donasi masker terhadap masyarakat terdampak asap di seluruh Indonesia.
Aksi tersebut berjalan dengan sukses dan semua peserta aksi bersemangat untuk mendukung solusi terhadap masalah bencana asap.
Turut Hadir dalam aksi tersebut Relawan Inspirasi, dan Relawan Nusantara serta perwakilan dari program, seperti IJF, CSF, MDI untuk memberikan dukungan serta kepedulian terhadap bencana asap yang terjadi di Indonesia.(*)
batampos.co.id – Perkembangan teknologi sudah jadi keniscahyaan. Sayangnya, belum semua sekolah bisa menikmatnya.
Guna mempercepat pemerataan digitalisasi sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyiapkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Afirmasi.
Dana BOS Afirmas berbeda dari BOS regular. Dana ini disediakan untuk mendukung operasional rutin dan mengakselerasi pembelajaran.
Termasuk, untuk perkembangan teknologi. Bagi sekolah yang berada di daerah tertinggal dan sangat tertinggal, dana BOS afirmasi dianggarkan sebesar Rp 2,85 triliun.
Selain itu, disiapkan pula dana BOS Kinerja untuk sekolah yang dinilai berkinerja baik dalam menyelenggarakan layanan pendidikan. Besarannya mencapai Rp1,5 triliun per sekolah.
Ilustrasi
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, menuturkan, tahun ini, program Digitalisasi Sekolah akan direalisasikan kepada 30.227 sekolah melalui BOS Afirmasi dan 6.004 sekolah melalui BOS Kinerja.
Melalui program ini, pemerintah akan memberikan tablet sebagai sarana pembelajaran di sekolah.
Targetnya, 1,753 juta siswa kelas 6, kelas 7, dan kelas 10 di seluruh Indonesia, khususnya sekolah yang berada di pinggiran.
Sebagai langkah awal, program ini akan diluncurkan di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau pada 18 September 2019 mendatang.
Muhadjir mengamini, jika salah satu tantangan dunia pendidikan saat ini adalah akses pendidikan di daerah pinggiran, pendidikan karakter, dan perkembangan teknologi yang belum merata.
Karena itu, pihaknya akan fokus untuk mengejar ketertinggalan tersebut mulai dari pinggiran.
“Tahun depan kalau bisa sepuluh kali lipat. Dengan begitu digitalisasi sekolah bisa berjalan secepat mungkin,” tegasnya.
Untuk memastikan penggunaan sarana pembelajaran yang diberikan dapat berfungsi dengan baik, Kemendikbud telah bekerjasama dengan berbagai kementerian/lembaga pemerintah terkait.(mia)
batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam kembali menorehkan prestasi dengan meraih penghargaan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas keberhasilan dalam menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Tahun 2018.
Penghargaan ini adalah yang ketiga kalinya diterima BP Batam di 2019. Penghargaan diserahkan langsung Wakil Menteri Keuangan RI, Mardiasmo dan diterima Kepala Satuan Pemeriksa Internal (SPI) BP Batam, Agung Presetya Adi.
Dari rilis yang diterima batampos.co.id, penyerahan dilaksanakan bersamaan dengan Rakernas Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintahan Tahun 2019 di Gedung Dhanapala, Jakarta, Kamis (12/9) lalu.
Menurut Agung Prasetya Adi, kesuksesan BP Batam dalam meraih penghargaan WTP selama tiga tahun berturut-turut karena komitmen tinggi pimpinan untuk menjaga kualitas laporan keuangan instansi.
Ia juga mengapresiasi usaha pimpinan yang tanggap dalam menindaklanjuti temuan BPK di BP Batam.
“Penghargaan WTP merupakan akuntabilitas laporan keuangan yang tertinggi,” ujarnya.
“Dengan adanya akuntabilitas entitas tersebut, pertanggungjawaban laporan sudah terselenggara sesuai dengan standard akuntansi,” jelasnya lagi.
Kepala Satuan Pemeriksa Internal (SPI) BP Batam, Agung Presetya Adi (kiri) menerima penghargaan WTP yang diebrikan Wakil Menteri Keuangan RI, Mardiasmo. Foto: Humas BP Batam untuk batampos.co.id
Menurutnya, penghargaan itu merupakan buah hasil dari komitmen pimpinan dan kerja sama dari seluruh pihak di BP Batam.
Ia meyakini, dengan dasar komitmen inilah akan timbul efek domino kepada unit-unit terkait.
Baik unit akuntansi maupun unit pelaporan, yang bekerja keras untuk mengadakan pertanggungjawaban berupa pencatatan, pengikhtisaran, penglasifikasian, hingga terwujudnya laporan akuntansi.
“Arahan dari Wakil Menteri Keuangan ke depan para intansi pemerintahan diminta peralihan dari tangible asset menjadi intangible asset,” ujarnya.
Artinya kata dia, ada kreatifitas, ide-ide, serta gebrakan-gebrakan di bidang SDM yang harus dilakukan isntansi pemerintah.
Sehingga lebih maju dan berani untuk meningkatkan performa instansi. Karena lanjutnya, saat ini, laporan keuangan sifatnya masih historis.
“Jadi, kita butuh lebih daripada itu,” kata Agung lagi.
Dalam prosesnya, Agung menambahkan, BPK akan memeriksa catatan laporan keuangan yang menghasilkan opini dan catatan lain.
Adapun yang dimaksud dengan catatan lain tersebut adalah pertama, berupa pemeriksaan terhadap ketaatan, yaitu seberapa jauh entitas itu menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kedua adalah sistem pengendalian internal, yakni apabila sistem pengendalian internalnya juga baik, maka akan selaras dengan kualitas instansi terkait.
“Kita harapkan kerja keras ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan,” kata dia.
“Tidak boleh lengah, semua laporan harus dipertanggungjawabkan sesuai dengan aturan yang berlaku dan setiap ada kelemahan, harus segera dilaporkan. Itu yang terpenting,” tutup Agung.(*/esa)
Menjadi petani tidak pernah terpikirkan sebelumnya di benak Ria Lubis dan suaminya. Itu karena keduanya tidak memiliki pengalaman maupun pendidikan di bidang pertanian. Namun, kemauan dan keberanian serta modal yang cukup, membuat mereka sukses menjadi petani cabai keriting.
Batam, Yulitavia
Ria tengah berbincang dengan pekerja yang sedang sibuk memanen cabai saat Batam Pos menjuampainya, beberapa pekan lalu.
Hari itu merupakan panen cabai yang kesekian kali di lahan seluas kurang lebih tiga hektare miliknya di Sembulang, Galang, Batam.
“Mereka karyawan saya,” ujar Ria sembari mengenalkan para pekerjanya.
Sudah menjadi rutinitas bagi perempuan asal Medan ini mendatangi pekerjanya di lahan pertanian yang ia kelola di Sembulang dan beberapa tempat lainnya.
Ia menceritakan bahwa saat ini ada delapan hektare lahan yang sudah ditanami dan dikembangkan khusus tanaman cabai.
Sebelumnya ia bersama suami sudah berhasil mengembangkan tanaman jambu madu dan lumayan sukses dipasarkan di Batam.
“Dulu sudah pernah tanam cabai tapi tak banyak. Waktu itu masih fokus ke jambu sama semangka,” kata ibu empat anak ini.
Ia memilih mengembangkan tanaman cabai keriting karena melihat pasar yang sangat terbuka lebar di Batam.
Permintaan pasar sangat tinggi sehingga sangat menjanjikan dan ia tak perlu repot mencari pasar di luar Batam.
“Iya, di sini semuanya didatangkan dari luar Batam. Jadi saya berfikir lebih baik bertanam cabai dan pasarnya cukup menjanjikan karena bisa dikatakan cabai sudah jadi kebutuhan pokok. Tak peduli mahal pasti dibeli juga,” beber perempuan kelahiran 23 Agustus 1976 ini.
Perempuan berhijab ini mengaku baru lima tahun menggeluti dunia pertanian. Khusus untuk cabai baru dua tahun belakangan ini.
Pertama kali ia bersama suami mencoba bertanam cabai dan mengandalkan petani serta mandor lokal untuk membantu budidaya cabai.
“Rugi dan tidak nutup modal. Dari situ mulai belajar sendiri,” ucapnya.
Tantangan pasti mengolah lahan karena harus dibersihkan, digemburkan hingga layak ditanami, lalu diberi mulsa plastik untuk mencegah tumbuhnya gulma pengganggu.
Awalnya, ia menggunakan bibit dari Medan. Hal ini karena kebanyakan cabai dari Batam berasal dari sana.
“Kami riset dan belajar juga ke Medan karena kami tidak ada background sebagai petani cabai. Bolak-balik Medan belajar sampai akhirnya bisa mandiri,” sebutnya.
Ia mengakui tidak mudah menjadi petani pemula. Namun, sekarang sudah bisa menghasilkan hingga satu ton per hari jika sudah masuk musim panen.
“Gagal panen belum pernah. Cuma kalau hasilnya tidak sesuai dengan harapan pasti pernah. Maka dari itu kami mencoba belajar hingga saat ini,” imbuhnya.
Ria menyebutkan, saat ini ia masih menghasilkan cabai hijau. Hal ini dikarenakan tidak membutuhkan waktu lama untuk masa panen.
“Karena kami butuh modal juga untuk mengembangkan tanaman ini. Jadi, biar uangnya cepat berputar kami panen cabai hijau dulu,” jelasnya.
“Kalau cabai merah butuh waktu yang lebih lama dari cabai hijau ini,” ungkap Ria.
Ria Lubis (kanan) saat meninjau kebun cabainya di Galang, Batam, beberapa waktu lalu. Foto: Yulitavia/Batam Pos
Ia menuturkan, untuk menghasilkan cabai yang bagus, ia membutuhkan waktu 25 hari untuk pembibitan.
Selanjutnya bibit cabai dipindahkan ke lahan yang sudah dipersiapkan. Untuk satu hektare lahan bisa menampung seribu hingga seribu lima ratus batang cabai.
Agar bisa dipanen, cabai harus tumbuh dalam perawatan hingga usia 30-40 hari.
“Jadi, umur satu bulan kami sudah panen pertama untuk cabai hijau. Sedangkan untuk yang merah itu membutuhkan waktu hingga 70 hari,” jelasnya.
Ia menuturkan kondisi kemarau saat ini justru sangat baik untuk berbagai jenis tanaman, khususnya tanaman cabainya.
Sebab di sekitar lahannya saat ini terdapat sumber air yang cukup untuk kebutuhan irigasi kebun cabainya.
“Kalau musim hujan tanaman sulit tumbuh. Kalau saat ini bisa bagus hasilnya. Intinya air cukup, jadi tanaman tidak mati karena layu,” kata dia.
Menurutnya, lahan di Batam cukup baik dan cocok untuk dijadikan lahan pertanian. Hal ini terbukti dari hasil yang sudah ada.
Memang membutuhkan usaha, tenaga, dan modal yang cukup ketika awal memulai. Namun, hasilnya bisa dinikmati hingga cabai berusia sepuluh bulan.
“Cukup mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan,” ujarnya.
Untuk proses penyiraman, ia memasang pipa yang ujungnya disambungkan ke keran. Lalu pipa tersebut dibentang-kan ke setiap titik tanaman cabai. Cara ini cukup efektif untuk mengurangi tenaga manusia.
“Kami siramnya pagi dan sore. Jadi, dari kran induk tanaman bisa mendapatkan air karena ada pipa di setiap polibag yang menjadi tempat cabai ditanam. Hemat tenaga, jadi bisa menekan pengeluaran juga,” lanjut Ria.
Tidak saja keuntungan untuk sendiri, pertanian cabai ini sudah menjadi sumber mata pencaharian bagi warga setempat.
Ria mengaku memperkerjakan sejumlah petani lokal untuk membantu ekonomi mereka.
“Lumayan juga untuk ibu-ibu di sini. Mereka bisa bekerja membantu kami memanen cabai,” katanya.
Ia mengungkapkan untuk satu kilogram cabai yang berhasil dipanen, mereka diupah Rp 3 ribu. Satu hari masing-masing bisa dapat 200 kilogram cabai.
“Alhamdulillah. Mereka cukup ulet. Karena semakin banyak yang bisa dipanen upahnya semakin besar. Jadi bisa membantu ekonomi keluarganya.”
Meskipun hasil petani cabai ini belum bisa memenuhi kebutuhan warga Batam, ia berharap ke depan banyak petani cabai lainnya yang bisa mengambil peluang ini.
“Sekarang baru kami yang fokus ke cabai. Meskipun sudah ada juga yang lain tapi tetap saja belum mampu mengakomodir kebutuhan,” kata dia.
Melihat permintaan pasar dan harga yang cukup stabil, ia berencana akan merambah ke tanaman cabai merah.
Lahan seluas kurang lebih dua hektare telah dipersiapkan untuk merealisasikan rencananya itu.
“Kalau harganya aman kami akan mulai hasilkan cabai merah. Karena permintaan cukup banyak. Meskipun tidak banyak kami harap bisa mengurangi kelangkaan cabai di Batam,” tambahnya.
Kabag Perekonomian Pemko Batam, Zurniati, menambahkan, setiap tahun cabai selalu menjadi salah satu penyebab inflasi di Kota Batam.
Sebagai daerah yang bukan penghasil dan berharap dari daerah lain, menambah faktor harga cabai menjadi mahal di Batam.
Karena itu, ia berharap hadirnya petani cabai di Batam bisa menjadi suatu dorongan bagi pemerintah untuk mendukung petani cabai di Batam.
“Buktinya cabai bisa hidup dan berkembang di sini. Jadi, memang bisa karena lahan tidak ada masalah,” ujarnya.
Menurutnya jika hasil cabai ini bisa membantu memenuhi kebutuhan tentu harganya menjadi terjangkau dan inflasi bisa ditekan.
Jika hasil petani sudah ada, pemerintah sudah menyiapkan pasar TPID untuk memasarkan hasil petani ini.
Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DKPP) Batam Mardanis mengatakan, rencana untuk membangun pertanian di Batam sudah ada dari beberapa tahun lalu.
Dua pulau disiapkan untuk dijadikan lahan pertanian. Menurutnya tidak ada masalah dengan tanah.
Semua bisa diproses dan dengan pupuk organik dan lainnya agar lahan subur dan bisa ditanami.
“Cabai mahal kita mengeluh, tapi mau gimana lagi karena kita bergantung dari daerah lain,” imbuhnya.
Ia berharap, jumlah petani sayur dan cabai di Batam semakin bertambah. Sehingga kebutuhan sayur dan cabai di Batam sebagian besar bisa dipasok dari Batam sendiri. Hasilnya, harga komoditas tersebut bisa terus ditekan.(*)
batampos.co.id – Rumah Tahanan (Rutan) kelas II Batam memiliki sepasang mesin Self Service dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan untuk keterbukaan informasi warga binaan di dalam Rutan.
Mesin-mesin ini akan menyuguhkan informasi masa pidana, hak remisi dan hak pengampunan lainnya, baik kepada warga binaan sendiri ataupun keluarga yang datang membesuk.
Caranya sangat mudah, untuk warga binaan cukup mencolokan jari yang telah direkam sebelumnya ke lokasi mesin. Setelah itu mesin akan menyuguhkan informasi status, informasi pidana ataupun hak remisi dan pengampunan lainnya.
Sementara pembesuk dari lingkup keluarga terdekat akan didata dan rekam sehingga mampu mengakses mesin tersebut dengan cara yang sama.
“Untuk warga binaan semuanya sudah ada data base yang selalu diperbaharui setiap ada perubahan status atau masa pidananya,” ujar Karutan Batam, Robinson Perangin-angin, saat memperkenalkan mesin sel service tersebut kepada warga binaan di Rutan Batam, Senin (16/9/2019).
Warga binaan menggunakan mesin Self Service di Rutan Batam. Mesin tersebut memberikan informasi mengenai masa tahanan dan hak-hak yang dapat diperoleh warga binaan. Foto: Eja/batampos.co.id
“Jadi tinggal finger saja sudah keluar semua datanya,” kata dia lagi.
Sementara untuk pembesuk dari keluarga terdekat warga binaan harus didata terlebih dahulu kemudian disinkronkan dengan database finger dari keluarganya yang berada di dalam Rutan.
“Sehingga saat dia finger maka data warga binaan yang ditujuh akan keluar di layar mesin ini,” ujarnya.
Kata dia, mesin self service ini ada dua unit. Satu untuk pembesuk dan satu untuk warga binaan.
Mesin-mesin ini dihadirkan untuk menunjang kinerja kerja pihak Rutan dalam hal transparansi data warga binaan.
Selama ini warga binaan ataupun pembesuk yang ingin tahu status atau masa pidana warga binaan harus melalui prosedur pengecekan manual.
Namun dengan hadirnya mesin ini, mereka tak perlu repot lagi sebab hanya memasukan jari yang sudah direkam untuk mengetaui semua data warga binaan.
Mesin ini telah siap beroperasi dan warga binaan telah dibekali dengan petunjuk teknis pengoperasian.(eja)
batampos.co.id – Keputusan pemerintah untuk menaikkan tarif cukai rokok 23 persen mulai tahun depan mendapat respons negatif.
Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) menilai, kenaikan tarif yang berdampak terkereknya harga jual eceran rokok hingga 35 persen itu memiliki risiko yang tidak sederhana.
Ketua Bidang Media AMTI, Hananto Wibisono, mengatakan, kenaikan cukai tersebut terlalu jauh dari angka inflasi dan asumsi pertumbuhan ekonomi.
Dalam RAPBN 2020, asumsi inflasi ditargetkan 3,1 persen dan pertumbuhan ekonomi 5,3 persen.
Nah, jika kenaikan cukai mencapai 23 persen, dia menilai hal itu bisa berdampak serius pada pelaku industri hasil tembakau (IHT).
”Kami meminta pemerintah untuk mempertimbangkan kepentingan IHT,” kata dia kepada Jawa Pos, Minggu (15/9/2019).
Dia mengingatkan, saat ini IHT merupakan industri legal yang masih menjadi tumpuan hidup lebih dari 6 juta orang.
Sejumlah buruh sedang melakukan kegiatan produksi rokok di salah satu brak pabrik rokok di Kudus, beberapa waktu lalu. Foto: Donny Setyawan/radar kudus/jpg
Guncangan terhadap IHT akan berdampak kepada petani dan kelompok pekerja. Selain itu, setiap tahun pemerintah mengandalkan produk hasil tembakau untuk memenuhi target penerimaan pajak.
Apabila dihitung secara keseluruhan mulai cukai, pajak pertambahan nilai (PPN) hasil tembakau, plus pajak rokok, rata-rata kontribusinya terhadap penerimaan pajak setiap tahun mencapai 13,1 persen.
Kenaikan cukai juga belum tentu meminimalkan konsumsi rokok. Sebaliknya, justru menjadi stimulan pertumbuhan rokok ilegal.
Jika rokok ilegal merajalela, semua pihak dirugikan. Mulai pabrikan rokok legal, para pekerjanya, hingga para petani tembakau dan cengkih.
”Pemerintah juga akan dirugikan karena rokok ilegal tidak membayar cukai,” imbuhnya.
Padahal, target penerimaan dari cukai hasil tembakau Rp 171,9 triliun pada 2020. Sebaiknya pemerintah melibatkan petani, pekerja, serta pelaku IHT dalam perumusan kebijakan dan perundang-undangan.
Ketua Umum Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri), Henry Najoan, mengeluhkan, keputusan kenaikan cukai itu tidak pernah dikomunikasikan dengan kalangan industri.
”Selama ini informasi yang kami terima, rencana kenaikan cukai di kisaran 10 persen. Angka yang moderat bagi kami, meski berat,” kata Henry. Rata-rata setiap tahun cukai rokok memang naik 10–11 persen.(far/rin/c11/oki/jpg)
batampos.co.id – Komunitas Motor Full Fairing Batam kembali melaksanakan bakti sosial. Kali ini kegiatan tersebut dilakukan di panti asuhan Ya Bunayya dan panti asuhan Anak Sholeh di kawasan Jembatan 4 Barelang, Minggu (15/9/2019).
Ketua Umum Full Fairing Batam, Devan, menyampaikan, bakti sosial itu merupakan salah satu bentuk kepedulian mereka kepada anak-anak panti asuhan.
“Ini (bakti sosial) merupakan agenda tahunan kita dan kegiatan ini juga untuk menjaga kekompakan dan kesolidan para anggota Full Fairing Batam,” katanya.
Ia berharap, dengan adanya kegiatan sosial itu dapat membantu pengurus panti asuhan. Penasehat Full Fairing Batam, Willy, mengutarakan, bakti sosial kali ini dilakukan di dua panti asuhan.
“Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi contoh baik bagi para bikers yang ada di Batam,” jelasnya.
Para anggota Full Fairing Batam berfoto bermsa dengan anak-anak panti asuhan Anak Sholeh. Foto: Dokumentasi Full Fairing Batam untuk batampos.co.id
Ia menyampaikan saat ini Full Fairing Batam memiliki 37 anggota dan sudah memasuki usia ke tiga tahun.
Full Faring Batam lanjutnya, memiliki moto ‘Together We Are Strong’.
Kepala panti asuhan Ya Bunayya, ustad Bro, menyambut baik apa yang dilakukan para Bikers Full Fairing Batam.
“Semoga berbagai kegiatan positif seperti ini bisa menjadikan klub dan komunitas motor memiliki image yang baik di masyarakat,” ujarnya.
Para riders Full Fairing Batam mengajak para bikers yang mempunyai kelebihan rezeki ydan ingin akan menyumbangkan ke panti asuhan Ya Bunayya di Nomor Rekening (BNI) 6667779595 dan di panti asuhan Anak Sholeh di Nomor Rekening (Mandiri) 109.00135.1193 a/n Yayasan Zayadatul Ilmin Naafi.(gga)
batampos.co.id – Pemerintahan Desa Batu Gajah, Kecamatan Bunguran Timur Kabupaten Natuna, melalui Kelompok Tani Sukur Jadi, melakukan pelestarian mangrove atau bakau di aliran Sungai Senibung, Jumat (13/9/2019) lalu.
Penanaman bakau tersebut mendapat dukungan Dinas Lingkungan Hidup dan jajaran Batalyon Komposit I Gardapati.
Ketua Kelompok Tani Sukur Jadi, Ilyas, mengatakan, kebun bibit rakyat (KBR) merupakan program pemerintah di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui DPDASHL SJD di Tanjungpinang, program ini diberikan kepada kelompok masyarakat untuk dikelola secara swakelola.
”Penanaman ini merupakan komitmen bersama untuk menyelamatkan mangrove dari kerusakan dan mengganti mangrove yang sudah mati akibat faktor alam maupun manusia,” ujar Ilyas.
Kelompok tani mangrove di Desa Batu Gajah bersama TNI dan Dinas Lingkungan Hidup melakukan penanaman bakau, Minggu (15/9/2019). Foto: Aulia Rahman/Batam Pos
Ilyas yang merupakan perpanjangan tangan dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Sei Jang Duriangkan (BPDASHL SJD) Kepulauan Riau itu, mengatakan, terdapat dua jenis tanaman bakau yang dilestarikan oleh kelompok Tani Sukur Jadi.
Yakni jenis rizhopora mucronata untuk direalisasikan sebanyak 5.175 batang. Kedua jenis rizhopora apiculata direalisasikan sebanyak 16.225 batang.
”Targetnya sekitar 22 ribu batang, baru berhasil ditanam 21.400 batang, tujuannya mengganti mangrove yang sudah rusak,” jelasnya.
Kepala Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) unit V Natuna, Tri Susilo Hadi, mengatakan, tanaman bakau diketahui memiliki banyak manfaat. Di antaranya sebagai penyerap polutan, pencegah intrusi air laut, penelitian dan pendidikan.
Kemudian penyimpan karbon, wisata alam, tempat pemijahan aneka biota laut, pelindung garis pantai dari abrasi dan tsunami, serta tempat berlindung dan berkembangbiaknya berbagai jenis fauna ekosistem payau.
”Pemerintah berharap kelompok tani terus berkembang dan ke depannya memiliki izin usaha dari kementerian langsung,” ujarnya.
“Sehingga kelompok Sukur Jadi ini memiliki akses yang lebih besar dan mampu menghasilkan bibit mangrove yang memiliki kualitas tinggi,” harapnya.(Aulia)
batampos.co.id – Kabut asap kiriman akibat kebakaran lahan dan hutan (karhutla) di sejumlah daerah di Kalimantan dan Sumatera terus menyelimuti Batam, Minggu (15/9/2019).
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mengimbau warga mengnakan masker, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
“Kabut asap ini bisa menyebabkan kita sulit bernapas, batuk, merusak paru-paru dan buruk di mata akibat asap,” kata Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, Minggu (15/9/2019).
Dinkes Batam sendiri telah membagikan 6.000 masker gratis bagi warga Batam. Pembagian masker ini akan terus dilanjutkan jika kualitas udara di Batam terus memburuk.
Selain mengenakan masker, Didi mengimbau warga Batam mengurangi aktivitas di luar ruangan. Hal ini agar terhindar dari paparan asap yang bisa mengganggu kesehatan.
“Ini sebagai upaya dini melindungi diri,” katanya.
Sejumlah kapal feri melintas di perairan Batam Centre di tengah kepungan asap tebal, Minggu (15/9/2019). Meski cukup pekat, kabut asap ini dinilai belum mengganggu aktivitas penerbangan dan pelayaran di Batam. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id
Didi menjelaskan, dampak kabut asap bagi kesehatan sangat beragam. Mulai dari iritasi lokal pada mata, selaput lendir di hidung, hingga mulut dan tenggorokan.
Selain itu bisa menyebabkan reaksi alergi, peradangan, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dan yang paling berat menjadi pneumonia atau radang paru.
Lebih lanjut Didi menjelaskan, cara pemakaian masker yang benar adalah sisi warna putih berada di dalam, sementara bagian warna biru di luar.
“Apapun kondisinya, tetap yang berwana putih di bagian dalam,” tegas Didi.
Menurut dia, masker yang ada di pasarkan sudah memiliki ketentuan standar tersendiri. Bagian bewarna putih di dalam karena memiliki bahan yang lembut sehingga saat digunakan tak menyebabkan kulit pengguna lecet.
Sedangkan bagian luar dibuat lebih kasar untuk menyaring partikel debu. Sementara itu, kabut asap yang menyelimuti Batam mulai berdampak pada sektor pariwisata.(she)