batampos.co.id – Pemerintah Kota (Pemko) Batam menyatakan belum menerima tanggapan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Batam terkait usulan penundaan penerapan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pajak Daerah. Dalam aturan ini, termuat kenaikan-kenaikan pajak daerah, termasuk Pajak Penerangan Jalan Umum (PPJU). Sejatinya, kenaikan itu diterapkan Januari lalu namun ditunda.
”Saya cek, belum ada pembahasan usulan kita agar kenaikan ditunda. Artinya, belum ada jawaban dari dewan,” ungkap Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad, Kamis (14/2).
Hingga saat ini, tarif PPJU masih menggunakan tarif lama dan tidak merujuk pada Perda 7 Tahun 2017. Yakni, untuk industri 3 persen, sementara sektor lain, termasuk perumahan 6 persen. Sementara, dalam Perda 7 Tahun 2017 disebutkan untuk industri tetap 3 persen, fasum fasos tetap 6 persen, sementara perumahan naik 1 persen menjadi 7 persen. Sedangkan bisnis dan jasa naik menjadi 8 persen.
”Kenaikan akan terjadi dengan sendirinya jika (penundaan) tidak disetujui atau tanpa restu DPRD,” kata dia.
Ditanya batas waktu persetujuan penundaan kenaikan dari dewan, Amsakar mengaku tak ingat pasti. ”Sampai surat itu dibalas, ada tenggang waktu. Kalau seandainya nanti tidak ada jawaban sampai waktu tertentu, kita harus mengikuti Perda yang disepakati sebelumnya. Saya lupa tenggang waktunya,” tegasnya.
Namun, jika DPRD Batam setuju menunda kenaikan, maka Pemko Batam akan melakukan penundaan. ”Itu yang kita sampaikan ke dewan. Jadi tergantung kawan-kawan dewan lah menyikapinya bagaimana. Kalau tidak sepakat, kita akan melakukan estimasi pendapatan dari PPJU Mei atau Juni,” imbuh Amsakar.
Sebelumnya, Ketua DPRD Batam Nuryanto mengakui sudah menerima permintaan penundaan kenaikan PPJU. Namun, karena kenaikan PPJU diatur dalam Perda, maka perlu dilakukan pembahasan lebih lanjut. Sehingga, DPRD bisa mengeluarkan rekomendasi. Namun secara prinsip, pihaknya setuju karena dampaknya akan mengurangi beban masyarakat.
”Secepatnya rekomendasi dikeluarkan. Asal regulasi memungkinkan dan tidak ada persoalan, tidak ada masalah (menunda). Karena tujuannya mengurangi beban masyarakat,” beber dia.
Dikonfirmasi, Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Batam Raja Azmansyah mengatakan, PPJU dalam pengajuan diminta ditunda hingga April sampai Mei mendatang. ”Ini yang kami tunggu pembahasan DPRD,” imbuhnya. (adiansyah)
Ketua PWI Kepri Candra Ibrahim mendampingi Wakil Gubernur Kepri Isdianto yang memeriksakan kesehatannya di acara donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar PWI Kepri di Mall Botania 2, Kamis (14/2). ( Dokumentasi Humas Pemprov Kepri)
batampos.co.id – Kegiatan donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepri berlangsung sukses di Mall Botania 2 (MB2) Batam Kota, Kamis (14/2). Para peserta tampak antusias mengantre untuk mendonorkan darahnya.
Sejak pendaftaran dibuka pukul 10.00 WIB hingga tengah hari, tercatat 120 orang yang mendaftar sebagai pendonor. Namun, setelah melewati pemeriksaan tim medis dari PMI Kota Batam, hanya 76 kantong darah yang dapat terkumpul.
”Walaupun belum mencapai target (100 kantong), tapi kami sangat mengapresiasi semangat para peserta yang ingin membantu sesama melalui donor darah ini,” kata Ketua PWI Kepri Candra Ibrahim, kemarin.
Selain donor darah, gelaran pemeriksaan kesehatan gratis yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Batam melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Botania, turut mendapat respons positif. Tak sedikit peserta yang mengaku beruntung karena dapat mengetahui tensi darah, kadar gula darah, hingga konsultasi kesehatan. Menariknya, dalam pemeriksaan itu juga dilakukan deteksi dini (skrining) terhadap faktor risiko penyakit tidak menular.
”Dalam dua kegiatan yang berjalan sekaligus ini, diikuti sejumlah peserta dari personel TNI, Polri, Satpol PP, masyarakat umum, serta para pengurus dan anggota PWI, Mapilu dan IKWI Kepri,” sebut Candra.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) 2019 yang diperingati di Surabaya 9 Februari lalu, aksi donor darah dan peme-riksaan kesehatan gratis bertajuk PWI Kepri Peduli itu secara resmi dibuka Wakil Gubernur Kepri Isdianto.
”Diharapkan kegiatan serupa kian sering digelar khususnya di lingkungan masyarakat Kepri, karena peduli terhadap sesama adalah tugas kita bersama sebagai makhluk sosial,” tuturnya.
Isdianto juga mengimbau masyarakat mengambil informasi yang akurat dari media-media yang terpercaya.
”Bahwa media pemberitaan yang tergabung di PWI Kepri ini adalah media yang bisa diandalkan dalam memberikan informasi bagi masyarakat. Mari sama-sama kita dukung pergerakannya,” ungkap pria 57 tahun itu.
Tidak lupa, PWI Kepri me-ngucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dalam menyukseskan kegiatan PWI Kepri Peduli. Di antaranya, kepada Pemprov Kepri, Pemko Batam, BP Batam, PMI Batam, MB2, anggota Komisi II DPRD Batam Hendra Asman, dan tokoh pemuda Batam Putra Respati. (febby anggieta)
Kabid Humas Polda Kepri Kombes Erlangga (kiri) bersama Dirnarkoba Polda Kepri Kombes Yani Sudarto menginterogasi Herdi saat ekspose kasus di Mapolda Kepri, Kamis (14/2). (Cecep Mulyana/Batam Pos )
batampos.co.id – Direktorat Reserse Narkoba Polda Kepri mengamankan Herdi, pe-ngendali kurir narkoba antar provinsi di pinggir jalan Tiban, Batam, 12 Februari lalu. Dari tangan Herdi, polisi menga-mankan 2.021 gram sabu yang didapat dari seorang warga Malaysia di perairan internasional atau out of port limit (OPL).
Dari pengakuan Herdi, ia sudah empat kali mengambil sabu di perairan OPL. Sabu yang didapat Herdi, diberikan ke beberapa kurir untuk diki-rim ke daerah-daerah lainnya di Indonesia seperti Riau, Palembang, Lampung, Jakarta, Surabaya, dan Lombok. Modus penyelundupan sabu bermacam-macam, mulai dari memasukkan dalam sepatu hingga anus.
”Kurir-kurir itu ada yang mengirimkan melalui jalur udara, namun ada juga melalui jalur laut,” kata Kabid Humas Polda Kepri Kombes Erlangga, Kamis (14/2).
Saat ini, kata Erlangga, jajaran Subdit II Ditresnarkoba Polda Kepri masih mengembangkan kasus ini. Dari hasil penyelidikan sementara, ada seseorang yang berdomisili di Sumbawa, NTB yang berperan menentukan lokasi pengiriman sabu. ”Kami sudah memasukkan nama orang ini ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO),” tuturnya.
Kronologis penangkapan Herdi bermula dari pengembangan kasus yang dilakukan Subdit 2 pada 23 Januari lalu di Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Polisi menga-mankan Pz selaku kurir narkoba, yang hendak mengirim sabu menuju ke Lombok. Sabu itu didapatnya dari Herdi. ”Dari pengembangan itu kami dapat beberapa nama, salah satunya Herdi,” beber Erlangga.
Keberadaan Herdi sudah lama diintai kepolisian. ”Pada 12 Februari, Hd (Herdi) ini tiba di salah satu pelabuhan di Batam. Anggota terus membuntuti tersangka. Setelah dipastikan, Hd ini membawa sabu,” ungkap Erlangga.
Sabu seberat 2 kilogram itu disembunyikan Herdi di dalam tasnya. ”Sabu dikemas dalam plastik kuning hijau merek teh Cina,” tutur Erlangga.
Direktur Reserse Narkoba Polda Kepri Kombes Yani Su-darto mengatakan, dari pe-ngakuan Herdi, dia hanya diupah oleh seseorang untuk mengambil dan mengantarkan sabu ke kurir lainnya.
”Upahnya itu bervariasi, dulu pernah diupah Rp 25 juta, Rp 35 Juta. Pengiriman terakhir, Hd mengaku diupah Rp 40 juta,” ucap Yani.
Hingga kini, kata Yani, jajarannya masih mengejar beberapa orang lainnya yang termasuk dalam jaringan Herdi.(ska)
batampos.co.id – Juru parkir yang telah menjamur di berbagai pusat keramaian di Batuaji dan Sagulung kembali dikeluhkan.
Pemberlakuan parkir berbayar yang dibatasi sampai pukul 22.00 WIB misalkan tak berlaku di sana. Petugas parkir tanpa karcis umumnya ngetem atau memungut biaya parkir hingga larut malam. Ini dikeluhkan masyarakat sebab ini sering dijumpai di lokasi mesin ATM yang selalu ramai didatangi warga sepanjang waktu. Warga merasa tak ada sisa waktu lagi untuk mendapatkan layanan parkir gratis sekalipun sudah larut malam.
“Padahal parkir di ATM itu hanya sebentar saja, tapi bayar parkir juga,” ujar Fadillah, warga Buana Raya, Sagulung.
Ini sangat bertentangan dengan sistem drop off yang diterapkan di kawasan parkir berlangganan seperti Mall. Parkir dibawa 15 menit gratis dan kendaraan pengunjung aman, sementara parkir di lokasi ATM tetap harus bayar baik cepat ataupun lama. Keamanan kendaraan juga tidak dijamin.
Sayangnya sistem drop off ini baru satu lokasi yang diterapkan disana yakni komplek pasar Aviari. Kawasan pertokoan, taman dan perbankan umumnya dijaga petugas parkir yang berulah tadi. Petugas parkir ini umumnya tidak mengantongi karcis parkir sehingga merepotkan pengendara. Dalam satu kawasan bisa lebih dari empat jukir sehingga pengendara harus bayar double jika berpindah tempat parkir sekalipun masih dalam komplek yang sama.
Ini yang terjadi di komplek pertokoan Tunas Regency, Ruko Samping Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam, ruko Limanda dan ruko deretan bank BTN Sagulung. Pengunjung resah sebab kawasan itu pusat keramaian yang ramai didatangi warga.
“Tunas (taman Tunas Regency) itu sampai tengah malam apalagi akhir pekan. Sudah gitu tak pakai karcis pula. Cuman Rp 1.000 sih tapi kesal jadinya karena dijagain terus,” ujar Dicky, warga Kavelinf Saguba.
Warga berharap agar instansi pemerintah terkait serius mengawasi keberadaan jukir-jukir tersebut. Bagaimanapun jukir bertindak semaunya karena kurangnya pengawasan dari pihak yang memberi izin jukir-jukir tersebut. (eja)
batampos.co.id – Industri di Kepri memiliki potensi untuk menjadi motor ekspor Indonesia di masa depan. Syaratnya adalah pemerintah mau memberikan bantuan untuk memperbaiki kualitasnya dan mau mendorong industri kecil agar menjadi komplementer dari industri besar.
“Produk industri perlu didorong untuk yang tumbuh masuk ke pasar ekspor. Baik dari perbaikan kualitas, desain, packaging, ataupun diikusertakan di pameran,” kata guru besar Fakultas Ekonomi dan Binis Universitas Padjadjaran (Unpad), Ina Primiana, Rabu (13/2/2019).
Ina yang juga Sekretaris I PP Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) ini mengatakan perlu dilakukan survey untuk memasuki pasar yang sudah menjadi tujuan ekspor atau pasar lainnya.
Saat ini, produk industri yang ada di Kepri berbeda dengan lainnya karena bersifat untuk keperluan domestik dan terus mengalami ekspansi.
Tapi belakangan ini, gairah industri seperti Sat Nusapersada yang mulai ekspor ke Amerika dianggap sebagai langkah awal yang baik.
Pemerintah perlu mendorong agar industri kecil mampu menjadi pemasok bagi industri besar. “Hal ini berpeluang meningkatkan daya saing produk karena biaya bahan baku berasal dari lokal yang tentunya akan lebih murah daripada impor sehingga harga kompetitif,” paparnya.
“Selain itu, hilangkan berbagai hambatan yang terjadi pada rantai pasok untuk menekan biaya ekonomi tinggi. Mudahkan proses perizinan dan prosedur untuk ekspor dan mengembangkan sarana logistik terpadu untuk menekan biaya,” ucapnya.
Sedangkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, produksi industri manufaktur besar dan sedang (IBS) di Kepri pada triwulan terakhir 2018 tumbuh positif sebesar 3,79 persen dibanding triwulan sebelumnya.
Begitu juga dengan industri manufaktur mikro dan kecil (IMK) yang tumbuh 7,77 persen pada triwulan keempat 2018. (leo)
batampos.co.id – Ketua DPRD Batam Nuryanto mengakui, aspirasi keprihatinan organisasi kepariwistaan terkait kenaikan tiket pesawat dan bagasi berbayar telah disampaikan ke Gubernur Kepri, Nurdin Basirun. Sebagai kepanjangan tangan pusat di daerah, gubernur yang akan menyampaikan aspirasi forum pelaku pariwisata Kepri tersebut.
“Sudah kami serahkan (ke gebernur) per 11 Februari kemarin. Harapan kita ini segera ditindaklanjuti karena merupakan aspirasi masyarakat dan pelaku usaha yang ada di Kota Batam,” kata Nuryanto, Rabu (13/2/2019).
Dalam surat yang diserahkan ke Gubernur tersebut dijelaskan, kebijakan kenaikan tiket pesawat dan bagasi berbayar membawa dampak besar bagi sektor kepariwisataan. Diantaranya menurunkan jumlah kunjungan wisata, terpuruknya bisnis UKM dan pelaku pariwisata. Sulitnya keberlangsungan operasional perusahaan ekspdisi dan lainnya.
Disisi lain pemerintah daerah sedang menggalakan wonderfull Indonesia untuk menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
Nuryanto
“Sebagai wakil rakyat tugas kami menyampaikan aspirasi ini. Kemenhub diminta meninjau dan mengevaluasi kembali kebijakan ini,” tegasnya.
Sebelumnya, Forum Pelaku Pariwisata Kepri mengadu ke DPRD Batam. Mereka mengeluhkan kebijakan bagasi berbayar dan tingginya harga tiket oleh sejumlah maskapai penerbangan saat ini. Diakuinya, selain merugikan penumpang, kebijakan ini juga menimbulkan efek domino bagi sektor lain, seperti pariwisata, perhotelan, hingga sektor UMKM.
“Tingginya harga tiket dan adanya bagasi berbayar ini menurunkan jumlah penumpang pesawat dan menyebabkan pembatalan perjalanan wisatawan domestik ke Batam,” ujar Irwandi Azhar yang tergabung dalam Forum Pelaku Pariwisata Kepri di DPRD Batam, Senin (11/2).
Diakuinya, hingga periode kuartal pertama ini terhitung penurunan wisatwan domestik mencapai 50 persen. Begitu juga dengan dampaknya terhadap pelaku UKM, dimana pelaku usaha tersebut mengeluhkan penurunan omset hingga 65 persen. Dampak lainnya ialah tingkat hunian hotel di Batam menurun hingga mencapai 40 persen.
“Prediksi ini bisa kami dapatkan untuk periode kuartal April sampai Mei 2019,” ungkap Irwandi.
Ketua Asita Kepri Andika Lim mengaku prihatin dengan tingginya harga tiket pesawat dan bagasi berbayar saat ini. Kondisi ini, kata dia, sangat memberatkan pelaku usaha kecil menengah dan terkesan tidak mendukung pariwisata. Dimana Presiden Joko Widodo sendiri menargetkan 20 juta wisman dan 272 juta wisatawan nusantara tahun 2019.
“Kami berharap pihak Airline mau mempertimbangkan kembali kedua hal tersebut, sehingga pariwisata Indonesia menjadi berkembang dan masyarakat di tempat daya tarik atau objek wisata bisa mendapatkan hasil UKM khususnya oleh-oleh,” kata Andika. (rng)
batampos.co.id – Realisasi pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batam pada Januari 2019 tumbuh signifikan dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Meningkatkan realisasi PAD ini didorong oleh meningkatnya pendapatan daerah dari beberapa sektor pajak unggulan.
“Alhamdulilah start kita bagus. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu cukup signifikan peningkatannya,” kata Kepala Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Batam Raja Azmansyah, Rabu (13/2).
Diakuinya, salah satu paling signifikan kenaikannya ialah sektor pajak restoran. Kenaikannya mencapai 60,6 persen.
Bila Januari 2018 lalu realiasi pajak restoran hanya Rp 6,2 miliar. Pada periode yang sama Januari 2019, realisasi dari sektor pajak ini diangka Rp 9,98 miliar.
“Peningkatannya cukup signifikan, khususnya dari rumah makan dan kedai kopi,” terang Raja.
Sektor unggulan lainnya ialah Pajak Hotel dan Pajak Bea Perolehan Hak Tanah Bangunan (BPHTB). Pajak hotel misalnya, Januari 2019 ini sudah tercapai Rp 12,5 miliar. Bandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni sebesar Rp 10 miliar. Begitu juga dengan BPHTB, naik 31,79 persen dari Rp 12,3 miliar, naik menjadi Rp 16,9 miliar di tahun 2019.
Kondisi yang sama juga terlihat pada Pajak Bumi Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2). Realisasi di Januari 2019 dari sektor pajak ini naik 28,61 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Secara keseluruhan Raja mengakui kenaikan pajak daerah mencapai 24,9 persen.
Raja mengakui naiknya realisasi PAD Batam ini tidak lepas dari peran alat pemantau transaksi atau lebih dikenal dengan tapping box. Sebab, hampir di setiap sektor pajak unggulan yang mengalami kenaikan pajak telah dilngkapi dengan alat tersebut.
“Harapan kita dengan start yang bagus ini, selanjutnya bisa lebih maksimal lagi,” tambah Raja.
Dari sekian sektor pajak tersebut, hanya pajak parkir dan pajak mineral bukan logam yang masih rendah realisasinya. Untuk parkir, Raja mengakui disebabkan adanya perubahan regulasi seperti pemberlakuan drop out 15 menit sehingga menyebabkan realisasi parkir berkurang.
“Namun demikian tetap akan kita pantau lewat tapping box, karena tiap transaksi pajak parkir akan langsung terhubung ke kami,” jelasnya. (rng)
batampos.co.id – Berlatih taekwondo, bagi Kenji Benedict Kohlee, Siswa Avava School bukan hanya sekadar olahraga. Namun, agar tetap bugar juga untuk menjaga diri. Karena itu, dia gigih berlatih.
“Sejak kelas 1 SD saya sudah ikut latihan taekwondo,” ungkapnya ketika ditemui di Dojang Kharisma Bangsa Batam di Kepri Mall tempat dia berlatih, Kamis (14/2/2019).
Kegemaran pemegang sabuk biru strip (geup 4) ini terhadap olahraga bela diri taekwondo, juga mendapat dukungan kedua orangtuanya. Itu pula yang memicunya untuk memberikan yang terbaik terhadap olahraga yang digemarinya.
Alhasil, putra kelahiran Batam 19 Januari 2009 ini berhasil meraih juara fighting di Kejuaraan 6th Daedo Taekwondo Open Championships 2018 di Singapura dan berhasil menggondol medali emas pada perhelatan akbar itu.
Kenji mengaku sebelum bertanding di kejuaraan itu, dirinya terlebih dahulu harus melewati seleksi yang dilakukan di dojang tempat ia berlatih. Hasil kerja kerasnya berlatih membawanya menjadi juara dengan nilai poin yang lebih unggul.
Meraih medali emas di Kejuaraan 6th Daedo Taekwondo Open Championships 2018 itu diakuinya tidak mudah. Sebab, dia harus berhadapan dengan atlet-atlet dari luar yang juga tangguh.
“Mereka semua mempunyai teknik bertarung yang sangat bagus,” ujar anak dari pasangan Ali Henri dan Liesan itu.
Dikatakan sang ibu, medali yang berhasil diraih anaknya tidak terlepas dari dukungan pelatihnya Sabeum Soewito Trikusuman, tempat putranya belajar bela diri taekwondo.
“Sebagai orangtua kita selalu mendukung mereka, semangati terus tapi tidak memaksa. Apa lagi kita semakin senang karena anak kita ini dalam taekwondo merupakan keinginan mereka. Setelah ini tentu kita harapkan anak-anak mampu meraih prestasi lebih baik lagi,” ujar Liesan.
“Kebanggaan luar biasa sebagai orang tua, karena Kenji mampu mengembangkan kemampuan yang dimilikinya dan juga disukainya. Apalagi dalam hal akademik Kenji pun unggul. Berkat dukungan dari keluarga, sekolah, dan tempat dia berlatih taekwondo,” ungkapnya.
Disinggung terkait dojang tempat putranya menimba ilmu beladiri taekwondo, Liesan melihat bahwa dojang Kharisma Bangsa Batam sebuah wadah yang disiplin yang menanamkan nilai-nilai tanggungjawab dan kejujuran. Menumbuhkan jiwa kebersamaan serta kesetiakawanan. Atlet-atlet yang berlatih di dojang tersebut pun dinilainya bisa menjadi generasi yang tanggguh.
Sementara itu Sabeum Soewito Trikusuman mengatakan, bahwa Dojang Kharisma Bangsa Batam tempatnya melatih selalu menanamkan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan dan tanggungjawab kepada anak didiknya agar kelak anak didiknya selain tangguh di arena juga sopan dan santun di dalam pergaulan sehari-hari agar dapat menjadi contoh di mana pun mereka berada.
“Dari atlet yang kami bina di sini kami tidak berharap muluk-muluk. Yang penting bagi kami bahwa mereka yang kami latih di sini bisa menjadi pribadi yang baik, rajin, disiplin, bertanggungjawab dan tangguh. Adapun kalau mereka meraih juara pada pertandingan-pertandingan yang mereka ikuti itu merupakan bonus dari ketekunan dan kedisiplinan mereka dalam berlatih,” ujar pemegang sabuk hitam Dan IV Internasional Kukkiwon itu. (iwa)
batampos.co.id – Pengawasan dan penertiban angkot di Batam belum berjalan maksimal. Masih banyak angkot yang tak laik operasi bebas berkeliaran di Batuaji dan Sagulung. Masyarakat semakin resah sebab angkot yang tak terawasi ini kerap berulah dan mengancam keselamatan penumpang atau pengguna jalan lainnya.
Pantauan di lapangan, angkot yang beroperasi di Batuaji dan Sagulung banyak yang bermasalah. Aksesoris pendukung kendaraan banyak yang bercopotan atau tidak berfungsi, seperti lampu rem atau lampu sign yang tak berfungsi, mengularkan asap yang berlebihan hingga bolongnya sebagian bodi angkot.
Selain itu, kaca angkot juga umumnya terlampau gelap sehingga tidak tembus pandang dari luar. Ini menyalahi aturan sebab angkot harus berkaca bening yang bisa dilihat dari luar untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terhadap penumpang.
Meskipun banyak menyalahi aturan dan tak laik pakai, namun angkot-angkot ini merajai jalanan. Aksi kebut-kebutan hingga ngetem di tengah jalan menjadi hal yang biasa bagi para sopirnya. Ini yang paling dikeluhkan masyarakat sebab kerap menyebabkan kecelakaan lalulintas dan kemacetan.
“Banyak tak tak beres angkot di sini. Bemper bercopotan, lampu rem tak ada sampai pintu mobil yang diikat pakai karetpun ada. Sudah kayak gerobak jadinya tapi enteng saja sopirnya. Nambang terus walau tak pernah uji KIR,” ujar Nikson, pengguna angkot di Batuaji, Kamis (14/2/2019).
Bebas beroperasinya angkot yang tak laik operasi ini menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat umum lainnya. Masyarakat menilai kinerja kerja dari Dinas Perhubungan Kota Batam dan Satlantas Polresta Barelang belum maksimal. Bahkan sebagian masyarakat menilai ada unsur pemeliharaan sehingga angkot-angkot bermasalah itu tetap beroperasi.
“Kalau pemotor yang tak pakai helm atau spion cepat ditilang tapi kalau bimbar yang asapnya kayak mesin asap nyamuk itu tak pernah disentuh. Sudah banyak korban loh. Tunggu sampai kapan lagi baru ditertibkan,” ujar Daus, warga lain. (eja)
Para pencari kerja di Batamindo, Batam. foto: batampos.co.id / sapna
batampos.co.id – Tuntutan industri di era global meminta Batam untuk segera beralih ke industri 4.0. Tipikal industri seperti ini akan mampu menarik lokomotif industri pendukung lainnya lebih optimal. Tapi, di sisi lain, karena sistemnya sudah otomatis, maka perusahaan industri akan mengandalkan robot dan hanya sedikit merekrut tenaga kerja. Itupun hanya tenaga kerja yang terampil di bidang teknologi industri 4.0.
“Kalau industri manufaktur kita mau naik kelas, suka tidak suka harus beralih ke industri 4.0. Saat ini, mayoritas masih gunakan teknologi revolusi industri 1.0 hingga 3.0. Tapi teknologi industri 4.0 akan meningkatkan produktivitas, tenaga kerja dan memperluas pasar,” kata Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing, Rabu (13/2/2019).
Memang bagi sejumlah pihak, mereka memandang revolusi industri 4.0 menjadi ancaman pengurangan lapangan pekerjaan. Namun, Tjaw menilai bahwa revolusi industri 4.0 dapat dipandang sebagai kesempatan melahirkan peluang pekerjaan baru yang berpotensi unutk menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
“Perlunya menyiapkan tenaga kerja yang terampil dengan perubahan yang fundamental terhadap pendidikan dan pelatihan vokasi. Dari tenaga kerja tak berskill menjadi fullskill,” jelasnya.
Industri 4.0 berbasis kepada pengoperasian sebuah mesin dari jarak jauh menggunakan fasilitas Internet of Things (IoT).”Kalau sudah fullskill, bisa saja pengoperasian sebuah mesin hanya dilakukan dari jarak jauh ke sejumlah pabrik dengan menggunakan IoT, artificial intelligence (AI) dan sampai tahapan komputasi,” paparnya.
Memang dalam beberapa tahun terakhir ini, jumlah perekrutan sudah mulai menurun. Sebagai contoh, perekrutan tenaga kerja buruh di Batamindo pada tahun 2017 mencapai 12.367 orang. Tapi pada tahun 2018, menurun menjadi 4.891 orang. Faktor utama memang karena penurunan ekonomi Batam yang disebabkan lambannnya perekonomian global. Tapi faktor revolusi industri 4.0 juga ikut berkontribusi.
Pada umumnya, perusahaan akan merekrut ribuan tenaga kerja ketika ada peningkatan order atau ada ekspansi. Tapi perusahaan yang berekspansi pun tidak terlalu banyak merekrut tenaga kerja. Rubicon di Batamindo yang melakukan ekspansi hanya merekrut 250 tenaga kerja, Sat Nusapersada yang mendapatkan limpahan investasi dari Pegatron juga hanya merekrut 200 tenaga kerja. Kemudian perusahaan asal Jepang, Maruho yang akan segera masuk hanya merekrut 70 orang dan Simatelex dari Hongkong yang hanya merekrut 120 orang.
Lalu bagaimana keunggulan dari teknologi revolusi industri 4.0 ini yang sekarang banyak diterapkan oleh perusahaan industri di Batam. Direktur Human Resource Development PT Schneider Electric Manufacturing Batam, Susi mengatakan bahwa ada beberapa poin yang menjadi dasar perusahaan saat ini bergerak ke arah industri berbasis IoT ini.
“Pertama, kita tidak bisa lari dari perkembangan zaman yang mengharuskan kita untuk ikut ambil bagian dan perubahan revolusi industri 4.0,” kata Susi, Rabu (13/2).
Susi mengungkapkan bahwa mengadopsi teknologi IoT akan membuat perusahan industri memiliki daya saing baik dari segi tingkat produktivitas dan efisiensi yang bisa dihasilkan serta daya saing dalam merangkul generasi milenial untuk ikut bergabung.
“Kita bisa analogikan para lulusan universitas dengan kompetensi dan pengetahuan teknologi terdepan akan lebih memilih perusahaan yang sudah modern dan adopsi teknologi terbaru agar tidak tertinggal,” paparnya.
Selain itu, konsep teknologi industri 4.0 mampu memberikan transparansi sehingga keputusan strategis bisa diambil dengan cepat dan akurat. “Targetnya bukan untuk menggantikan tenaga kerja tapi memberikan tools dan kemudahan dalam operasional perusahaan sehingga lebih produktif dan efisien,” katanya lagi.
Susi kemudian mengupas soal efisiensi penggunaan teknologi industri 4.0. Sekarang banyak perusahaan industri di Batam yang mengandalkan robot yang dikendalikan dari jauh untuk proses yang membutuhkan perlakuan khusus.
“Misalnya di area kritikal seperti di area unsafe atau risk for human. Kemudian juga untuk proses yang related dengan ergonomic, dimana robot digunakan untuk mengangkat barang yang cukup berat dan berulang-ulang,” jelasnya.
Salah satu keunggulan lainnya yakni robot bisa digunakan untuk melakukan suatu pekerjaan yang sama berulang kali tanpa istirahat. “Dan juga proses yang berhubungan dengan CTQ atau critical to quality yang menghasilkan kualitas sesuai dengan yang diinginkan,” tambahnya.
Dengan kata lain, penggunaan robot sangat penting untuk tahapan produksi dari tingkat yang berbahaya hingga yang ekonomis dan efisien seperti mengangkat barang berulang kali. Mereka juga tidak digaji. “Pakai robot lebih terjamin safety-nya,” tambahnya lagi.
Lebih jauh lagi, Susi mengatakan saat ini perusahaan industri sudah berkenalan dengan collaborative robot atau robot yang mampu bekerja sama. “Collaborative robot ini dapat bekerja berdampingan dengan tenaga kerja. Robot-robot ini sudah mendapatkan sertifikat keamanan untuk bekerja di area terbuka bersama tenaga kerja di shop floor,” paparnya.
Penggunaan robot memang tengah dicoba oleh kalangan industriawan di Batam. Mengingat lebih efisien karena tidak membutuhkan gaji. Polemik kenaikan upah minimal kerja (UMK) tiap tahun dianggap menggangu kelancaran usaha.
Pengusaha terkenal Batam sekaligus Presiden Direktur (Presdir) Sat Nusapersada, Abidin Hasibuan pernah mengatakan Kenaikan upah minimum kerja (UMK) tiap tahunnya dapat membuat pengusaha di Batam mengambil opsi untuk mulai melakukan robotisasi dalam bidang produksi.
“Tiap tahun ada kenaikan. Pengusaha jadi hati-hati karena belum ada solusinya. Sekarang upah Batam lebih tinggi dari Johor Bahru,” ungkapnya.
Abidin mengatakan kenaikan UMK akan membuat pengusaha menguragi tenaga kerja. Untuk meminimalisir pengurangan tenaga kerja, maka pengusaha akan beralih ke proses robotisasi atau auto motion.
“Itu satu-satunya jalan setelah terpaksa mengurangi karyawan adalah tambah mesin. Kalau tidak, perusahaan akan merugi,” ujarnya.
Lagipula, Abidin mengatakan proses produksi industri saat ini sudah bergerak ke arah robotisasi.”Di China sudah luar biasa. Salah satunya perusahaan smartphone Foxcon mampu membuat smartphone hanya dengan empat orang. Semuanya sudah pakai auto motion,” jelasnya. (leo)