Minggu, 17 Mei 2026
Beranda blog Halaman 11053

Kiriman Asap Masih Berlanjut, Segini Kecepatan Angin yang Bawa Asap Ke Kota Batam

0

batampos.co.id – Kiriman asap atau jerebu dari wilayah Sumatera ke Batam masih terus berlanjut hingga Senin (16/9/2019).

Meski begitu, kualitas udara Batam mulai membaik dibanding beberapa hari lalu.

Kepala Seksi Data dan Informasi (Kasi datin) BMKG Hang Nadim Batam, Suratman, mengatakan, asap yang mencemari udara Batam saat ini berasal dari Riau dan Sumatra Selatan.

“Asap dibawa dengan kecepatan angin 5 knot per jam,” kata dia.

Menurutnya, dari pantauan satelit masih terlihat kiriman asap yang berasal dari Sumatera. Sedangkan dari Kalimantan dan Kepri sudah tidak ada.

Suratman, menyatakan, pihaknya tidak dapat memprediksi sampai kapan kiriman asap akan berhenti di langit Kota Batam.

Sejumlah kapal feri melintas di perairan Batam Centre di tengah
kepungan asap tebal, Minggu (15/9). Meski cukup pekat, kabut asap ini dinilai belum mengganggu aktivitas penerbangan dan pelayaran di Batam. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Pasalnya hingga saat ini, angin masih dari arah Selatan dan Tenggara dan menuju Kota Batam.

“Beberapa daerah di Sumatera saat ini sudah hujan, mudah-mudahan bisa mengurangi kebakaran,” imbuhnya.

Sementara di Kota Batam sendiri, BMKG memprakirakan akan mulai turun hujan pada akhir September mendatang.

Itu pun kata Suratman, dengan kondisi hujan yang tidak merata untuk setiap daerah.

“Saat ini suhu udara berkisar 31 derajat celcius,” terang Suratman.

Dilain hal, Suratman meminta masyarakat tidak membakar sampah di sembarang tempat.

Terlebih di lahan kosong. Begitu juga untuk pembukaan lahan agar tidak dilakukan dengan cara dibakar

“Kondisi saat ini rentan terhadap kebakaran, kami imbau masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan,” pintanya.(she)

Penampakan Makam Berumur 200 Tahun di Kampung Tua Belian

0

batampos.co.id – Kampung Tua Belian yang terletak di pusat pemerintahn Kota Batam, menyimpan kisah tersendiri.

Kampung yang dulunya mayoritas didiami para nelayan itu menyimpan cerita tentang sebuah makam keramat yang diperkirakan berumur sekitar 200 tahun.

Makam tersebut diperkirakan memiliki panjang sekitar tiga  meter.

Senin (16/9/2019), batampos.co.id, berkesempatan berbicara dengan salah seorang warga Kampung Tua Belian.

Namanya, Karya. Usianyapun sudah cukup uzur sekitar 74 tahun. Pria asal Bandung, Jawa Barat, itu menceritakan, dirinya pertama kali menginjakkan kaki di Kampung Tua Belian pada 2003 lalu.

Makam yang diperkirakan berusia 200 tahun di Kampung Tua Belian, Batam Kota. Foto: Dhiyanto/batampos.co.id

Saat itu kata dia, di Kampung Tua Belian, mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai nelayan.

Mengenai pemakaman yang ada di area Kampung Tua Belian, Karya, mengatakan sudah ada sejak dirinya datang.

Ia pun sempat memberitahukan ada satu makam yang dianggap keramat oleh warga sekitar.

“Makam itu katanya seorang kiai yang menyebarkan agama islam di sini,” jelasnya.

Area pemakaman umum di Kampung Tua Belian. Foto: Dhiyanto/batampos.co.id

Sayangnya kata Karya, tidak ada nama yang tertulis di makam tersebut. Sehingga saat ini warga hanya mengetahui dengan sebutan makam kiai.

Makam tersebut memang beda dari lainnya. Makam yang diperkirakan memiliki panjang tiga meter itu diberikan atap dan dibuatkan tembok di sekelilingnya.

Kata Karya, makam di Kampung Tua Belian sama dengan pemakaman umum lainnya.

Namun lanjutnya yang dimakamkan di sana mayoritas masyarakat yang menetap di area Kampung Tua Belian.(nto)

Besok MK Sidangkan Uji Materi UU Pilkada

0

batampos.co.id – Upaya perbaikan terhadap UU Pilkada akan dimulai pekan ini. Bila tidak ada perubahan, besok (17/9) Mahkamah Konstitusi akan menyidangkan uji materi UU Pilkada.

Pasal yang diuji berkaitan dengan dasar hukum lembaga pengawas di level kabupaten/kota.

Sidang tersebut mengagendakan pemeriksaan pendahuluan. Dalam hal ini memeriksa materi gugatan yang diajukan oleh para pemohon.

Yakni, Ketua Bawaslu Provinsi Sumatera Barat Surya Efitrimen, Ketua Bawaslu Kota Makassar Nursari, dan Ketua Bawaslu Kabupaten Ponorogo Sulung Muna Rimbawan.

Ilustrasi surat suara. Foto; Dokumentasi batampos.co.id

Kuasa hukum pemohon Veri Junaidi menjelaskan, secara umum pihaknya tidak banyak melakukan persiapan menghadapi sidang pertama. Sebab, agendanya memang membacakan permohonan.

’’Yang pertama, konsen kami adalah meminta supaya ini prosesnya cepat,’’ terangnya saat dikonfirmasi, kemarin.

Pihaknya akan menyiapkan materi yang sebelumnya sudah diserahkan kepada MK lewat panitera.

Mulai pokok permohonan beserta alasannya, para pemohonnya, beserta kerugian konstitusional yang dialami.

Para pemohon juga akan dihadirkan. Hanya saja, diperkirakan tidak semua pemohon bisa hadir.

Poin utama yang diuji materi adalah lembaga Panwas Kabupaten/Kota. Pembentukan Panwas Kabupaten/Kota dinilai sudah tidak relevan karena saat ini sudah ada Bawaslu Kabupaten/Kota.

Panwas bersifat ad hoc atau sementara, sedangkan Bawaslu adalah badan yang permanen. Lembaganya sudah terbentuk sejak pemilu 2019.

Kemudian soal keanggotaan, di mana jumlahnya flat tiga orang. Padahal Bawaslu Kabupaten/Kota banyak yang anggotanya lima orang.

Pun demikian dengan Bawaslu Provinsi sehingga Ketua Bawaslu Provinsi Sumatera Barat merasa perlu untuk menggugat. Mengingat, angota Bawaslu Provinsi di Pemilu 2019 adalah 5-7 orang.(byu/jpg)

Bupati Lingga Kenalkan Potensi Lingga di Festival Kelapa Internasional

0

batampos.co.id – Bupati Lingga Alias Wello terus berupaya memperkenalkan potensi yang dimiliki Kabupaten Lingga dalam kegiatan akbar Festival Kelapa Internasional ke-3, di Kabupaten Karang Asem Provinsi Bali.

Kegiatan ini dimulai tanggal 14 hingga 17 September 2019 mendatang, dimanfaatkan Alias Wello untuk terus mempromosikan keunggulan di Kabupaten Lingga.

“Terutama pada empat bidang yang menjadi prioritas yakni bidang pertanian, perikanan, peternakan, dan pariwisata sebagai andalan Bunda Tanah Melayu,” kata Alias Wello.

Wakil ketua, sekaligus Sekjen Koalisi Kabupaten Penghasil Kelapa(KOPEK) itu, memboyong 20 orang yang berasal dari Dinas Pariwisata, Pertanian, Disperin-UKM, PTSP, Kominfo dan Humas, Dekranasda dan PKK untuk memperkenalkan Kabupaten Lingga beserta potensinya.

Saat ini lanjutnya KOPEK beranggotakan 248 kabupaten/kota se-Indonesia. Sebelumnya, Kabupaten Lingga juga berhasil menjadi tuan rumah Festival Kelapa Internasional ke-2 pada 2018 lalu.

Bupati Lingga Alias Wello (kemeja biru) foto bersama seluruh anggota Koalisi Kabupaten Penghasil Kelapa (KOPEK). Foto: Humas Pemkab Lingga untuk Batam Pos

Saat itu sempat meraih rekor MURI dalam pembuatan lukisan potret Presiden Jokowi dari sabut kelapa dengan ukuran 3,6 meter x 4,8 meter.

Rekor MURI pembuatan sofa terpanjang dari sabut kelapa, serta menghasilkan MoU pilot project kerja sama regional kabinet Coconut Golden Triangle (CGT).

Kesempatan kali ini, Pemkab Lingga menampilkan produk unggulan dari sentra IKM kelapa.

Adapun produk-produk tersebut adalah tempurung, sabut kelapa, sampai kepada Batik Lingga yang memiliki motif dan corak khas kearifan lokalnya.

“Ke depan kami berharap Kabupaten Lingga menjadi daerah yang mampu bersaing dengan daerah lainnya terutama dalam bidang industri kelapa,” kata Bupati yang akrab disapa Awe ini.

Pada kesempatan itu para bupati yang hadir turut melakukan penanaman bibit kelapa sebanyak 18 jenis varietas yang tanaman ini nantinya akan dijadikan sebagai cikal bakal Taman Mini Kelapa Indonesia.(Wijaya)

Ruslan Ambil Formulir Balon Wakil Wali Kota di PDI Perjuangan

0

batampos.co.id – Ketua DPD Partai Golkar Batam Ruslan M Ali Wasyim menjadi satu-satunya pimpinan partai politik yang hendak mendaftarkan dirinya untuk ikut proses penjaringan bakal calon walikota dan wakil walikota di PDI Perjuangan.

Ini terbukti dengan kehadiran Wakil Ketua DPRD Batam itu di kantor DPC PDI Perjuangan di kawasan Batam Center sekitar pukul 13.00 WIB, Senin (16/9/2019).

Ruslan ditemani Sekretaris DPD Golkar Batam, Muhammad Yunus Muda dan Bendahara DPD Golkar Batam, Hendra Asman.

Ketua DPD Partai Golkar Batam Ruslan M Ali Wasyim (kemeja kuning) mengambil formulir pendaftaran bakal calon (Balon) Wakil Wali Kota Batam di PDI Perjuangan. Foto: Istimewa untuk batampos.co.id

Saat mengambil formulir pendaftaran, Ruslan cs diterima langsung oleh Ketua DPC PDI Perjuangan, Nuryanto, Bendahara DPC PDIP Batam, Putra Yustisi Respationo, Wakil Ketua DPC PDIP Batam Budi Mardiyanto, sejumlah anggota Fraksi PDIP DPRD Batam dan pengurus partai besutan Megawati Soekarno Putri tersebut.

Koordinator koalisi politik DPC PDIP Kota Batam, Budi Mardiyanto, mengatakan, Ruslan M Ali Wasyim adalah orang pertama yang mengambil formulir untuk calon wakil wali kota.

“Beliau (Ruslan,red) ambil fomulir untuk bakal calon wakil wali kota,” ujar Budi.

Menurut anggota DPRD Batam ini, Ruslan M Ali Wasyim diberi waktu tiga hari sejak hari ini untuk mengembalikan formulir pendaftaran sekaligus persyaratan lain yang diminta oleh partai. (spt)

Rumah Zakat Batam Peduli Asap 

0

batampos.co.id – Rumah zakat Kota Batam melakukan aksi peduli asap dengan membagi-bagikan masker kepada pengendara sepeda motor di Simpang Frengki, Senin (16/9/2019).

Kegiatan tersebut dimulai tepat pukul 16.00 WIB dan dipimpin langsung Kepala Perwakilan Rumah Zakat Kepulauan Riau, Muhammad Isa.

Dari rilis yang diterima batampso.co.id, tim Rumah Zakat Kota Batam membagikan 1000 masker kepada para pengendara roda dua.

“Kita ingin semua tanggap darurat terhadap asap, sehingga membangun kepedulian terhadap sesama,” kata Isa.

Rumah Zakat lanjutnya, sangat peduli dengan bencana yang terjadi saat ini. Indonesia kata dia, harus bangkit untuk melawan bencana asap.

Relawan Rumah zakat Kota Batam memasangkan masker kepada pengendara sepeda motor yang melintas di sekitar Simpang Frengki, Batam Centre. Foto: Dokumentasi Rumah Zakat Batam untuk batampos.co.id

Pada kesempatan itu, Isa juga memberikan arahan dan bimbingan kepada peserta aksi untuk bisa saling bersinergi dalam membangun kepedulian sosial.

Sehingga semua pihak terkait mampu memberikan arti nilai manfaat hadirnya Rumah Zakat di tengah masyarakat Kota Batam khususnya dan Indonesia Umumnya.

Rumah Zakat Perwakilan Kepulauan Riau, juga mengadakan fundraising untuk bisa membantu donasi masker terhadap masyarakat terdampak asap di seluruh Indonesia.

Aksi tersebut berjalan dengan sukses dan semua peserta aksi bersemangat untuk mendukung solusi terhadap masalah bencana asap.

Turut Hadir dalam aksi tersebut Relawan Inspirasi, dan Relawan Nusantara serta perwakilan dari program, seperti IJF, CSF, MDI untuk memberikan dukungan serta kepedulian terhadap bencana asap yang terjadi di Indonesia.(*)

Genjot Digitalisasi Sekolah lewat Dana BOS

0

batampos.co.id – Perkembangan teknologi sudah jadi keniscahyaan. Sayangnya, belum semua sekolah bisa menikmatnya.

Guna mempercepat pemerataan digitalisasi sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyiapkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Afirmasi.

Dana BOS Afirmas berbeda dari BOS regular. Dana ini disediakan untuk mendukung operasional rutin dan mengakselerasi pembelajaran.

Termasuk, untuk perkembangan teknologi. Bagi sekolah yang berada di daerah tertinggal dan sangat tertinggal, dana BOS afirmasi dianggarkan sebesar Rp 2,85 triliun.

Selain itu, disiapkan pula dana BOS Kinerja untuk sekolah yang dinilai berkinerja baik dalam menyelenggarakan layanan pendidikan. Besarannya mencapai Rp1,5 triliun per sekolah.

Ilustrasi

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, menuturkan, tahun ini, program Digitalisasi Sekolah akan direalisasikan kepada 30.227 sekolah melalui BOS Afirmasi dan 6.004 sekolah melalui BOS Kinerja.

Melalui program ini, pemerintah akan memberikan tablet sebagai sarana pembelajaran di sekolah.

Targetnya, 1,753 juta siswa kelas 6, kelas 7, dan kelas 10 di seluruh Indonesia, khususnya sekolah yang berada di pinggiran.

Sebagai langkah awal, program ini akan diluncurkan di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau pada 18 September 2019 mendatang.

Muhadjir mengamini, jika salah satu tantangan dunia pendidikan saat ini adalah akses pendidikan di daerah pinggiran, pendidikan karakter, dan perkembangan teknologi yang belum merata.

Karena itu, pihaknya akan fokus untuk mengejar ketertinggalan tersebut mulai dari pinggiran.

“Tahun depan kalau bisa sepuluh kali lipat. Dengan begitu digitalisasi sekolah bisa berjalan secepat mungkin,” tegasnya.

Untuk memastikan penggunaan sarana pembelajaran yang diberikan dapat berfungsi dengan baik, Kemendikbud telah bekerjasama dengan berbagai kementerian/lembaga pemerintah terkait.(mia)

Selamat, BP Batam Raih WTP Tiga Tahun Berturut-Turut

0

batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam kembali menorehkan prestasi dengan meraih penghargaan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas keberhasilan dalam menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Tahun 2018.

Penghargaan ini adalah yang ketiga kalinya diterima BP Batam di 2019. Penghargaan diserahkan langsung Wakil Menteri Keuangan RI, Mardiasmo dan diterima Kepala Satuan Pemeriksa Internal (SPI) BP Batam, Agung Presetya Adi.

Dari rilis yang diterima batampos.co.id, penyerahan dilaksanakan bersamaan dengan Rakernas Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintahan Tahun 2019 di Gedung Dhanapala, Jakarta, Kamis (12/9) lalu.

Menurut Agung Prasetya Adi, kesuksesan BP Batam dalam meraih penghargaan WTP selama tiga tahun berturut-turut karena komitmen tinggi pimpinan untuk menjaga kualitas laporan keuangan instansi.

Ia juga mengapresiasi usaha pimpinan yang tanggap dalam menindaklanjuti temuan BPK di BP Batam.

“Penghargaan WTP merupakan akuntabilitas laporan keuangan yang tertinggi,” ujarnya.

“Dengan adanya akuntabilitas entitas tersebut, pertanggungjawaban laporan sudah terselenggara sesuai dengan standard akuntansi,” jelasnya lagi.

Kepala Satuan Pemeriksa Internal (SPI) BP Batam, Agung Presetya Adi (kiri) menerima penghargaan WTP yang diebrikan Wakil Menteri Keuangan RI, Mardiasmo. Foto: Humas BP Batam untuk batampos.co.id

Menurutnya, penghargaan itu merupakan buah hasil dari komitmen pimpinan dan kerja sama dari seluruh pihak di BP Batam.

Ia meyakini, dengan dasar komitmen inilah akan timbul efek domino kepada unit-unit terkait.

Baik unit akuntansi maupun unit pelaporan, yang bekerja keras untuk mengadakan pertanggungjawaban berupa pencatatan, pengikhtisaran, penglasifikasian, hingga terwujudnya laporan akuntansi.

“Arahan dari Wakil Menteri Keuangan ke depan para intansi pemerintahan diminta peralihan dari tangible asset menjadi intangible asset,” ujarnya.

Artinya kata dia, ada kreatifitas, ide-ide, serta gebrakan-gebrakan di bidang SDM yang harus dilakukan isntansi pemerintah.

Sehingga lebih maju dan berani untuk meningkatkan performa instansi. Karena lanjutnya, saat ini, laporan keuangan sifatnya masih historis.

“Jadi, kita butuh lebih daripada itu,” kata Agung lagi.

Dalam prosesnya, Agung menambahkan, BPK akan memeriksa catatan laporan keuangan yang menghasilkan opini dan catatan lain.

Adapun yang dimaksud dengan catatan lain tersebut adalah pertama, berupa pemeriksaan terhadap ketaatan, yaitu seberapa jauh entitas itu menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kedua adalah sistem pengendalian internal, yakni apabila sistem pengendalian internalnya juga baik, maka akan selaras dengan kualitas instansi terkait.

“Kita harapkan kerja keras ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan,” kata dia.

“Tidak boleh lengah, semua laporan harus dipertanggungjawabkan sesuai dengan aturan yang berlaku dan setiap ada kelemahan, harus segera dilaporkan. Itu yang terpenting,” tutup Agung.(*/esa)

Ibu Rumah Tangga Ini, Panen Cabai Keriting 1 Ton Per Hari

0

Menjadi petani tidak pernah terpikirkan sebelumnya di benak Ria Lubis dan suaminya. Itu karena keduanya tidak memiliki pengalaman maupun pendidikan di bidang pertanian. Namun, kemauan dan keberanian serta modal yang cukup, membuat mereka sukses menjadi petani cabai keriting.

Batam, Yulitavia

Ria tengah berbincang dengan pekerja yang sedang sibuk memanen cabai saat Batam Pos menjuampainya, beberapa pekan lalu.

Hari itu merupakan panen cabai yang kesekian kali di lahan seluas kurang lebih tiga hektare miliknya di Sembulang, Galang, Batam.

“Mereka karyawan saya,” ujar Ria sembari mengenalkan para pekerjanya.
Sudah menjadi rutinitas bagi perempuan asal Medan ini mendatangi pekerjanya di lahan pertanian yang ia kelola di Sembulang dan beberapa tempat lainnya.

Ia menceritakan bahwa saat ini ada delapan hektare lahan yang sudah ditanami dan dikembangkan khusus tanaman cabai.

Sebelumnya ia bersama suami sudah berhasil mengembangkan tanaman jambu madu dan lumayan sukses dipasarkan di Batam.

“Dulu sudah pernah tanam cabai tapi tak banyak. Waktu itu masih fokus ke jambu sama semangka,” kata ibu empat anak ini.

Ia memilih mengembangkan tanaman cabai keriting karena melihat pasar yang sangat terbuka lebar di Batam.

Permintaan pasar sangat tinggi sehingga sangat menjanjikan dan ia tak perlu repot mencari pasar di luar Batam.

“Iya, di sini semuanya didatangkan dari luar Batam. Jadi saya berfikir lebih baik bertanam cabai dan pasarnya cukup menjanjikan karena bisa dikatakan cabai sudah jadi kebutuhan pokok. Tak peduli mahal pasti dibeli juga,” beber perempuan kelahiran 23 Agustus 1976 ini.

Perempuan berhijab ini mengaku baru lima tahun menggeluti dunia pertanian. Khusus untuk cabai baru dua tahun belakangan ini.

Pertama kali ia bersama suami mencoba bertanam cabai dan mengandalkan petani serta mandor lokal untuk membantu budidaya cabai.

“Rugi dan tidak nutup modal. Dari situ mulai belajar sendiri,” ucapnya.

Tantangan pasti mengolah lahan karena harus dibersihkan, digemburkan hingga layak ditanami, lalu diberi mulsa plastik untuk mencegah tumbuhnya gulma pengganggu.

Awalnya, ia menggunakan bibit dari Medan. Hal ini karena kebanyakan cabai dari Batam berasal dari sana.

“Kami riset dan belajar juga ke Medan karena kami tidak ada background sebagai petani cabai. Bolak-balik Medan belajar sampai akhirnya bisa mandiri,” sebutnya.

Ia mengakui tidak mudah menjadi petani pemula. Namun, sekarang sudah bisa menghasilkan hingga satu ton per hari jika sudah masuk musim panen.

“Gagal panen belum pernah. Cuma kalau hasilnya tidak sesuai dengan harapan pasti pernah. Maka dari itu kami mencoba belajar hingga saat ini,” imbuhnya.

Ria menyebutkan, saat ini ia masih menghasilkan cabai hijau. Hal ini dikarenakan tidak membutuhkan waktu lama untuk masa panen.

“Karena kami butuh modal juga untuk mengembangkan tanaman ini. Jadi, biar uangnya cepat berputar kami panen cabai hijau dulu,” jelasnya.

“Kalau cabai merah butuh waktu yang lebih lama dari cabai hijau ini,” ungkap Ria.

Ria Lubis (kanan) saat meninjau kebun cabainya di Galang, Batam, beberapa waktu lalu. Foto: Yulitavia/Batam Pos

Ia menuturkan, untuk menghasilkan cabai yang bagus, ia membutuhkan waktu 25 hari untuk pembibitan.

Selanjutnya bibit cabai dipindahkan ke lahan yang sudah dipersiapkan. Untuk satu hektare lahan bisa menampung seribu hingga seribu lima ratus batang cabai.

Agar bisa dipanen, cabai harus tumbuh dalam perawatan hingga usia 30-40 hari.

“Jadi, umur satu bulan kami sudah panen pertama untuk cabai hijau. Sedangkan untuk yang merah itu membutuhkan waktu hingga 70 hari,” jelasnya.

Ia menuturkan kondisi kemarau saat ini justru sangat baik untuk berbagai jenis tanaman, khususnya tanaman cabainya.

Sebab di sekitar lahannya saat ini terdapat sumber air yang cukup untuk kebutuhan irigasi kebun cabainya.

“Kalau musim hujan tanaman sulit tumbuh. Kalau saat ini bisa bagus hasilnya. Intinya air cukup, jadi tanaman tidak mati karena layu,” kata dia.

Menurutnya, lahan di Batam cukup baik dan cocok untuk dijadikan lahan pertanian. Hal ini terbukti dari hasil yang sudah ada.

Memang membutuhkan usaha, tenaga, dan modal yang cukup ketika awal memulai. Namun, hasilnya bisa dinikmati hingga cabai berusia sepuluh bulan.

“Cukup mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan,” ujarnya.

Untuk proses penyiraman, ia memasang pipa yang ujungnya disambungkan ke keran. Lalu pipa tersebut dibentang-kan ke setiap titik tanaman cabai. Cara ini cukup efektif untuk mengurangi tenaga manusia.

“Kami siramnya pagi dan sore. Jadi, dari kran induk tanaman bisa mendapatkan air karena ada pipa di setiap polibag yang menjadi tempat cabai ditanam. Hemat tenaga, jadi bisa menekan pengeluaran juga,” lanjut Ria.

Tidak saja keuntungan untuk sendiri, pertanian cabai ini sudah menjadi sumber mata pencaharian bagi warga setempat.

Ria mengaku memperkerjakan sejumlah petani lokal untuk membantu ekonomi mereka.

“Lumayan juga untuk ibu-ibu di sini. Mereka bisa bekerja membantu kami memanen cabai,” katanya.

Ia mengungkapkan untuk satu kilogram cabai yang berhasil dipanen, mereka diupah Rp 3 ribu. Satu hari masing-masing bisa dapat 200 kilogram cabai.

“Alhamdulillah. Mereka cukup ulet. Karena semakin banyak yang bisa dipanen upahnya semakin besar. Jadi bisa membantu ekonomi keluarganya.”

Meskipun hasil petani cabai ini belum bisa memenuhi kebutuhan warga Batam, ia berharap ke depan banyak petani cabai lainnya yang bisa mengambil peluang ini.

“Sekarang baru kami yang fokus ke cabai. Meskipun sudah ada juga yang lain tapi tetap saja belum mampu mengakomodir kebutuhan,” kata dia.

Melihat permintaan pasar dan harga yang cukup stabil, ia berencana akan merambah ke tanaman cabai merah.

Lahan seluas kurang lebih dua hektare telah dipersiapkan untuk merealisasikan rencananya itu.

“Kalau harganya aman kami akan mulai hasilkan cabai merah. Karena permintaan cukup banyak. Meskipun tidak banyak kami harap bisa mengurangi kelangkaan cabai di Batam,” tambahnya.

Kabag Perekonomian Pemko Batam, Zurniati, menambahkan, setiap tahun cabai selalu menjadi salah satu penyebab inflasi di Kota Batam.

Sebagai daerah yang bukan penghasil dan berharap dari daerah lain, menambah faktor harga cabai menjadi mahal di Batam.

Karena itu, ia berharap hadirnya petani cabai di Batam bisa menjadi suatu dorongan bagi pemerintah untuk mendukung petani cabai di Batam.

“Buktinya cabai bisa hidup dan berkembang di sini. Jadi, memang bisa karena lahan tidak ada masalah,” ujarnya.

Menurutnya jika hasil cabai ini bisa membantu memenuhi kebutuhan tentu harganya menjadi terjangkau dan inflasi bisa ditekan.

Jika hasil petani sudah ada, pemerintah sudah menyiapkan pasar TPID untuk memasarkan hasil petani ini.

Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DKPP) Batam Mardanis mengatakan, rencana untuk membangun pertanian di Batam sudah ada dari beberapa tahun lalu.

Dua pulau disiapkan untuk dijadikan lahan pertanian. Menurutnya tidak ada masalah dengan tanah.

Semua bisa diproses dan dengan pupuk organik dan lainnya agar lahan subur dan bisa ditanami.

“Cabai mahal kita mengeluh, tapi mau gimana lagi karena kita bergantung dari daerah lain,” imbuhnya.

Ia berharap, jumlah petani sayur dan cabai di Batam semakin bertambah. Sehingga kebutuhan sayur dan cabai di Batam sebagian besar bisa dipasok dari Batam sendiri. Hasilnya, harga komoditas tersebut bisa terus ditekan.(*)

Layanan Mesin Self Service di Rutan Batam

0

batampos.co.id – Rumah Tahanan (Rutan) kelas II Batam memiliki sepasang mesin Self Service dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan untuk keterbukaan informasi warga binaan di dalam Rutan.

Mesin-mesin ini akan menyuguhkan informasi masa pidana, hak remisi dan hak pengampunan lainnya, baik kepada warga binaan sendiri ataupun keluarga yang datang membesuk.

Caranya sangat mudah, untuk warga binaan cukup mencolokan jari yang telah direkam sebelumnya ke lokasi mesin. Setelah itu mesin akan menyuguhkan informasi status, informasi pidana ataupun hak remisi dan pengampunan lainnya.

Sementara pembesuk dari lingkup keluarga terdekat akan didata dan rekam sehingga mampu mengakses mesin tersebut dengan cara yang sama.

“Untuk warga binaan semuanya sudah ada data base yang selalu diperbaharui setiap ada perubahan status atau masa pidananya,” ujar Karutan Batam, Robinson Perangin-angin, saat memperkenalkan mesin sel service tersebut kepada warga binaan di Rutan Batam, Senin (16/9/2019).

Warga binaan menggunakan mesin Self Service di Rutan Batam. Mesin tersebut memberikan informasi mengenai masa tahanan dan hak-hak yang dapat diperoleh warga binaan. Foto: Eja/batampos.co.id

“Jadi tinggal finger saja sudah keluar semua datanya,” kata dia lagi.

Sementara untuk pembesuk dari keluarga terdekat warga binaan harus didata terlebih dahulu kemudian disinkronkan dengan database finger dari keluarganya yang berada di dalam Rutan.

“Sehingga saat dia finger maka data warga binaan yang ditujuh akan keluar di layar mesin ini,” ujarnya.

Kata dia, mesin self service ini ada dua unit. Satu untuk pembesuk dan satu untuk warga binaan.

Mesin-mesin ini dihadirkan untuk menunjang kinerja kerja pihak Rutan dalam hal transparansi data warga binaan.

Selama ini warga binaan ataupun pembesuk yang ingin tahu status atau masa pidana warga binaan harus melalui prosedur pengecekan manual.

Namun dengan hadirnya mesin ini, mereka tak perlu repot lagi sebab hanya memasukan jari yang sudah direkam untuk mengetaui semua data warga binaan.

Mesin ini telah siap beroperasi dan warga binaan telah dibekali dengan petunjuk teknis pengoperasian.(eja)

Play sound