batampos.co.id – Kloter pertama jemaah calon haji (JCH) embarkasi Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, akan diberangkatkan pada Minggu (7/7/2019) mendatang.
Kepala Seksi (Kasi) Informasi Haji dan Umrah Kemenag Batam, Amanuddin, menyebutkan tahun ini jumlah JCH yang berangkat sebanyak 679 jemaah.
“Rencananya mereka mereka (JCH) masuk tanggal 6 Juli dan tanggal 7 Juli berangkat. Tapi informasi yang kita terima keberangkatan akan dipercepat,” Senin (24/6/2019).
”Tapi pastinya kita masih menunggu dari pusat. Yang penting JCH mempersiapkan diri untuk berangkat. Terutama mereka yang tergabung di kloter pertama,” tambahnya.
Embarkasi Batam lanjutnya tergabung dengan JCH dari Provinsi Kepulauan Riau, Kalimantan Barat dan Embarkasi Antara Jambi dan Provinsi Riau.
Petugas PPIH Embarkasi Batam melayani JCH saat tiba di Asrama Haji Batam pada musim haji tahun lalu. Foto: Cecep Mulyana/ batampos.co.id
JCH akan diberangkatkan menggunakan maskapai Saudi Airlines. Kata dia, kloter pertama yang berangkat sebanyak 259 jemaah. Kemudian disusul kloter 17 dan terakhir kloter 28.
Menurutnya dari 679 JCH, yang termuda berusia 20 tahun dan paling tua 89 tahun. Saat ini lanjutnya, Kemenag Batam sudah menyelesaikan proses dokumen pengajuan visa jemaah calon haji (JCH) asal Kota Batam.
“Paspor sudah dikirim untuk pengurusan visa haji,” sebutnya lagi.
Amanuddin menyebutkan, saat ini pihaknya masih menunggu penyerahan bukti pelunasan dari JCH.
Kata dia, masih ada beberapa jemaah yang belum menyerahkan dan masih menunggu keperluan ibadah seperti koper dan baju ibadah selama di Tanah Suci.
”Persiapan sudah 80 persen. Tinggal beberapa jemaah saja lagi yang masih kami tunggu untuk penyerahan dokumen,” imbuhnya.
Selain itu, JCH juga masih menunggu kegiatan manasik tahap akhir, Sabtu (29/6/2019) nanti.(yui)
Wayang bukan hal asing bagi Faris Wibisono. Sejak kecil telinganya akrab dengan suara gamelan yang dimainkan di rumah. Buyut dan kakeknya adalah dalang wa-yang kulit. Sedangkan neneknya seorang sinden.
Faris kecil biasa mendengarkan kisah wayang dari buyutnya. Membuatnya jadi sangat menyukai seni tradisional tersebut. Namun, ketika dia TK, buyutnya meninggal.
”Tidak ada lagi panutan saya. Mbah kakung juga dalang, tetapi beda karakter sama mbah buyut,” jelasnya saat ditemui di Balai Pesunggingan Wonogiri yang didirikannya.
Saat krisis moneter pada 1998, keluarganya menjual perangkat gamelan. Faris tak lagi mendengarkan lantunan musik itu. Dia juga jarang menyimak cerita wayang. Tetapi, hobinya menggambar sketsa dan tokoh wayang yang dilakoni sejak SD tetap dilakukan.
Lulus SMK (sekolah menengah kejuruan), pemuda 27 tahun kelahiran Wonogiri tersebut melanjutkan kuliah di Jurusan Kriya Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Di sanalah terjadi episode awal kecintaannya terhadap wayang beber.
”Saya melihat bagusnya mural di tembok ISI,” ujarnya.
Bagi Faris, wayang bébér memiliki pesona tersendiri. Topik mengenai wayang beber pun diangkatnya sebagai tugas akhir kekaryaan. Dalam penggarapan, dia menemukan sejumlah tantangan mencari rujukan. Banyak yang dia baca, tapi tak ada yang komplet.
Belum ada yang menjelaskan secara utuh wayang yang berkembang sejak masa pra-Islam di Indonesia itu.
FARIS Wibisino memperlihatkan wayang beber tani yang dibuatnya pada 2014 saat ditemui di Balai Pesunggingan Wonogiri, Jawa Tengah.
Wayang bébér memang langka. Wayang tradisi dengan cerita Panji dan disungging menggunakan kertas daluang tersebut kini hanya tersisa di dua tempat. Yakni di Desa Karang Talun, Kelurahan Kedompol, Pacitan, Jatim; dan di Desa Gelaran, Kelurahan Bejiharjo, Gunungkidul, Yogyakarta.
Dari segi media, menurut Faris, wayang beber merupakan wayang tertua di Indonesia. Penamaan wayang beber berasal dari cara memainkannya. Pertunjukan dilakukan dengan membeber atau membentangkan gambar wayang yang disungging di atas kertas daluang. Setelah itu lakon diuraikan melalui gambar yang tertera pada kertas atau layar tersebut.
Berbeda dengan wayang beber tradisional yang mengangkat cerita Panji, Faris punya pilihan sendiri. Dia memunculkan kisah masyarakat yang dilihatnya melalui wayang beber tani. Tema yang diangkat adalah pranoto mongso atau konsep hidup masyarakat Nusantara tentang aturan musim dengan 24 babak.
Faris menggambar dan menciptakan tokoh untuk kisah tersebut selama setahun pada 2014. Wayang beber, menurut dia, bisa menjadi karya untuk menandai setiap masa kehidupan manusia. Wayang beber kali pertama muncul dari masa Kerajaan Majapahit. Bercerita tentang Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji. Kemudian terus berkembang seperti pada masa Kerajaan Kartasura dengan lakon Joko Kembang Kuning.
”Nggak mungkin kan saya membuat wayang bébér dari Kartasura karena persoalan saya tidak seperti era Kartasura. Persoalan saya hari ini adalah yen nonton tonggoku (tetanggaku) dioyak (dikejar) bank plecit (perseorangan yang meminjamkan uang), bagaimana reaksinya?” terangnya.
Faris peduli terhadap persoalan lingkungan yang dihadapi kalangan petani di desanya. Sehingga proses pranoto mongso yang dia angkat bercerita tentang masyarakat agraris Wonogiri.
Pranoto mongso melahirkan budaya brubuh, budaya tebang pilih. Seperti dulu masyarakat dianjurkan menebang pohon di musim tua untuk bahan baku bangunan. Logikanya, pada musim itu kandungan air dalam pohon rendah sehingga ketika digunakan untuk membangun rumah tidak akan mudah lapuk. Sayang, aturan tersebut kini sudah mulai ditinggalkan.
Manusia sudah kian serakah mengeruk kekayaan alam. Tanpa memperhitungkan lagi pertanda alam. Itulah yang menjadi kegelisahan Faris untuk menghadirkan lakon pranata mangsa dalam wayang bébérnya, wayang béber tani.
”Orang sekarang bukan nyari kebutuhan hari ini. Tetapi butuhnya kapan. Butuh untuk njagong (ngobrol, red), menyekolahkan anak, sehingga pembelajaran tentang keserakahan tadi dikesampingkan,” ungkapnya.
Hal yang ingin dia tampilkan, menurutnya, selaras dengan konsep wayang beber pada awal kemunculan. Digunakan sebagai sarana pemberontakan masyarakat bawah. Dia juga menyuarakan kegelisahan mengenai maraknya jual beli lahan di kawasan karst Pegunungan Sewu dengan harga sangat murah. Yakni sekitar Rp 6 ribu hingga Rp 13 ribu saja per meter persegi. Selain itu maraknya lahan pertanian dan hutan yang berubah menjadi kawasan industri.
”Yang ditakutkan dari sudut pandang budaya, berapa rentetan sejarah yang hilang, berapa ribu masyarakat kebingungan akan arti identitas jika semua lahan itu berubah menjadi gudang, pabrik, dan sebagainya?” ucap anak pertama di antara dua bersaudara tersebut.
Faris memiliki program sonjong desa yang berarti bermain ke desa. Di situ dia akan mengajari anak-anak kesenian, khususnya wayang beber. Dia juga membagi ilmu cara membuat wayang suket dan keterampilan lainnya. Kegiatan itu dia lakukan dua minggu sekali.
”Doktrin art, culture, dan history di sana,” imbuhnya.
Untuk menggaet minat anak-anak, Faris menyediakan konsumsi. Biaya yang dibutuhkan dalam sekali workshop hanya Rp 50 ribu. Itu sudah cukup untuk menjamu 20 sampai 25 anak. Beberapa kali mendapatkan beasiswa, dananya dikumpulkan. Hingga dia membuat workshop pada awal 2012 di desa kelahirannya, Pracimantoro, Wonogiri.
Workshop tersebut dibuat untuk mengenalkan wayang bébér ke masyarakat luas. Anak pasangan Marseno dan Marwanti itu memutuskan untuk tidak meninggalkan Wonogiri. Selama ini sudah terlalu banyak desa yang ditinggalkan generasi muda mereka untuk merantau ke kota. Desa-desa menjadi sepi, asing, dan tertinggal.
Tidak mau desanya bernasib seperti itu, Faris merelakan mimpinya untuk menjadi seniman di Ubud, Bali.
”Kowe ki seorang perupa, apakah akan membohongi proses berkaryamu sendiri? Ketika yang kamu ceritakan masyarakat petani agraris, tetapi kamu tidak ada di dalamnya, tidak menjadi keseharianmu, berarti kowe mung ngapusi thok,” pikirnya kala itu.
Faris mengumpulkan dana hasil penjualan karyanya untuk membuat balai pesunggingan sebagai wadah menyebarkan wayang beber. Balai itu digunakan untuk mengembalikan kebudayaan akar rumput di daerahnya.
”Supaya desa itu reja (ramai). Ketika aku pulang, berkeluarga, punya anak, lingkungan itu masih ada,” imbuhnya.
Di Balai Pesunggingan Wonogiri Faris menularkan wayang beber ke masyarakat sekitar. Di balai yang dibangun di pekarangan rumahnya itu, ditempatkan seperangkat gamelan yang dibelinya secara bertahap sesuai dana. Tak sebatas menjadi lakon dalam pementasan wayang, dia juga memelopori komunitas Semprong Bolong. (VIRDITA RIZKI RATRIANI)
batampos.co.id – Ribuan pencari kerja (Pencaker) kembali memadati Multi Purpose Hall (MPH) Batamindo, Mukakuning, Senin (24/6/2019).
Sayangnya, membeludaknya jumlah pencaker tidak diiringi dengan jumlah lowongan yang ada. Meski lolos administrasi belum tentu para pencaker diterima di perusahaan yang dituju.
Alasannya bukan hanya pengalaman, tapi juga tinggi badan.
Mayasari, 22, salah satu pencaker, mengatakan, informasi lowongan kerja sangat minim di kawasan bursa kerja. Belum lagi, jumlah pencaker saban hari kian banyak.
“Kabarnya banyak PT (perusahaan) yang membuka lowongan, tapi jumlah pencaker juga bertambah dari luar daerah, persaingan jadi ketat, lowongan pun terbatas,” ujarnya.
Meskipun peluang untuk diterima sebagai pekerja sangat minim karena lowongan terbatas, namun ia tetap menunggu di kawasan bursa kerja itu.
Para pencari kerja memenuhhi Multi Purpose Hall (MPH) Batamindo, Mukakuning. Foto: Yulitavia /batampos.co.id
Informasi yang dihimpun batampos.co.id, tidak setiap hari perusahaan di kawasan industri Batamindo membuka lowongan kerja.
Kalau pun ada, jumlahnya sangat terbatas. Salah satunya, PT Patlite yang membutuhkan tenaga kerja khusus wanita.
Di lokasi terlihat ratusan pencaker antre melewati alat ukur tinggi badan sebelum menyerahkan berkas lamaran kerja.
Perusahaan pertama yang membuka lowongan yakni PT Patlite yang membutuhkan tenaga kerja di posisi molding dan quality control (Qc). Namun, itu hanya khusus untuk wanita.
Dengan persyaratan tinggi badan minimal 155 sentimeter untuk perempuan, tak sedikit para pencaker wanita kecewa karena tingginya tidak mencukupi.
Selain itu, juga dipersyaratkan memiliki pengalaman kerja minimal satu tahun di bidangnya.
“Sudah antre menunggu dari pagi berdesakan tapi tidak lolos kriteria karena tidak ada pengalaman di bidang yang dibutuhkan, padahal sudah melengkapi berkas lamaran,” kata Rima, pencaker asal Padang.
Tampak raut kekecewaan dari pencaker lainnya yang tak lolos dalam kriteria. Di antaranya karena tinggi badan dan pengalaman kerja.
“Pengalaman kerja saya tak ada di bidang yang dibutuhkan, soalnya dulu pernah kerja di posisi operator. Tampaknya seleksi semakin ketat,” ungkapnya.
Nasib serupa juga dialami penkacer lainnya. Kebanyakan pencaker beralasan mereka datang ke Kota Batam, kebanyakan ikut saudara.
Mereka, lanjutnya, kebanyakan mengincar posisi operator di perusahaan. “Upah kerja sebagai operator di Batam ini tinggi, atas ajakan saudara saya coba mencari peruntungan,” timpal salah satu pencaker yang tak ingin disebut namanya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam Rudi Sakyakirti, mengakui, saat ini lowongan pekerjaan di Kota Batam masih terbatas dan tidak sebanding dengan jumlah pencaker.
“Padahal di daerah asal mereka juga ada perusahaan, namun mereka tetap memilih Batam. Alasannya upah di Batam cukup tinggi,” paparnya.(cr1)
batampos.co.id – Petugas Bea Cukai Batam dan Aviation Security (Avsec) kembali mengamankan seorang kurir sabu di Bandara Internasional Hang Nadim Batam.
Kurir tersebut, ditangkap petugas di pemindai pintu masuk ruang tunggu Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Setelah dilakukan pemeriksaan diketahui pelaku menyimpan benda haram tersebut di dalam anusnya.
Kepala Bidang (Kabid) Bimbingan Kepatutan dan Layanan Informasi (BKLI) Bea Cukai (BC) Batam Sumarna mengatakan, penangkapan dilakukan pada Rabu (19/6/2019) lalu sekitar pukul 07.30 WIB.
Petugas mengamankan seorang penumpang Lion Air dengan nomor penerbangan JT-0970 dan JT-0178 dengan tujuan Batam ke Lombok dengan transit Surabaya.
Ilustrasi sabu
“Penumpang yang kita tangkap atas nama Sahlan berusia 44 tahun. Dari kurir yang kita amankan ini, didapatkan barang bukti yang diduga Methamphetamine seberat 317 gram,” kata Sumarna.
Dijelaskannya, saat itu petugas Avsec melakukan pemeriksaan terhadap Sahlan dengan menggunakan alat pemindai.
Dari pengamatan petugas pemeriksaan, gerak-gerik Sahlan terlihat mencurigakan dan selanjutnya petugas membawanya untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan.
“Dari Hasil pemeriksaan lanjutan, kedapatan bahwa dia membawa tiga kapsul berlapis kondom berisi Methamphetamine yang disimpannya di dalam dubur atau anus,” ujarnya.
Atas temuan tersebut, selanjutnya Sahlan bersama barang bukti sabu seberat 317 gram itu dibawa petugas Bea dan Cukai Batam ke Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Tipe B Batam.
Pelaku lanjutnya, sudah diserahkan ke Satres Narkoba Polresta Barelang untuk dilakukan pengusutan lebih mendalam.
Ia menambahkan, sebagian besar kurir sabu yang tertangkap di Bandara Internasional Hang Nadim untuk dibawa ke berbagai daerah di Jawa, Kalimantan dan Sumatera.(gie)
batampos.co.id – Wakil Walikota Batam, Amsakar Achmad mendukung penuh Muhammad Rudi maju dalam pemilihan Wali Kota (Pilwako) Batam pada 2020 mendatang.
Ia menilai, prestasi Rudi sebagai wali kota Batam saat ini, merupakan salah satu yang terbaik dibanding wali kota pendahulunya.
“Selama sekitar 22 tahun saya berkecimpung di sini, perubahan yang paling signifikan ada di pemerintahan saat ini,” kata Amsakar ketika ditemui di gedung DPRD Kota Batam pada Senin (24/6/2019).
Begitu juga dengan wacana yang beredar bahwa dirinya akan maju pada pemilihan Bupati Kabupaten Lingga, tanah kelahirannya.
Amsakar menjelaskan, wacana tersebut muncul dari orang lain yang tidak bisa ia cegah.
Ia mengaku sampai saat ini masih fokus menuntaskan tugasnya sebagai wakil wali kota Batam.
“Nama Amsakar (Amsakar Achmad) itu jangan dipikirkan, yang jelas saya berpandangan bahwa pak Rudi (Muhammad Rudi) layak untuk maju dalam pemilihan di periode selanjutnya,” kata Amsakar lagi.(bbi)
batampos.co.id – Dalam beberapa hari terakhir, wilayah Natuna mengalami cuaca buruk terutama pada malam hari. Angin kencan disertai hujan datang secara tiba-tiba. Hal ini menyebabkan beberapa pohon tumbang akibat diterjang angin kencang.
Menurut prakirawan Stasiun Meteorologi Ranai Asrul Saparuddin, terjadinya cuaca buruk secara tiba-tiba disebabkan adanya pola sirkulasi angin di Samudera Hindia Bagian Barat Kepulauan Mentarai, serta terdapat pusat tekanan rendah di Samudera Pasifik Utara Papua.
”Adanya pola sirkulasi angin ini menyebabkan peningkatan kecepatan angin terpantau di perairan Natuna sampai laut Natuna Utara. Pola sirkulasi angin ini dapat menyebabkan peningkatan tinggi gelombang laut,” kata Asrul, Minggu (23/6).
Asrul mengatakan, kecepatan angin dapat terjadi di wilayah Natuna mencapai 40 kilometer per jam, yang bertiup dari Selatan menuju Barat. Namun kondisi cuaca di Natuna cerah dan berawan yang berpotensi terjadi hujan dengan intensitas ringan dan sedang.
ilustrasi
”Secara umumnya cuaca cerah berawan. Masyarakat tetap waspada potensi angin kencang yang terjadi secara tiba-tiba,” imbaunya.
Curah hujan yang terjadi sejak beberapa hari terakhir di Natuna dikhawatirkan menyebabkan rumah warga kembali direndam banjir, terutama di Desa Sebadai Hulu, Kecamatan Bunguran Timur Laut. Karena kawasan tersebut merupakan rawan banjir ketika aliran sungai meluap.
”Kami berharap, curah hujan lebat tidak berkepanjangan, karena bisa aliran sungai meluap seperti tahun lalu,” tutur Sudir warga Sebadai Ulu. (arn)
batampos.co.id – Tiga hari selama berada di pengungsian, korban kebakaran Baloi Persero Bawah, Lubukbaja, Kota Batam, mengeluhkan sakit kepala alias pusing.
Petugas kesehatan di posko pengungsian, Asmarita menuturkan, korban kebakaran di area tersebut mengeluhkan berbagai jenis sakit yang mereka alami.
Mulai dari infeksi saluran pernafasan, pusing, demam dan keluhan kesehatan lainnya.
“Rata-rata sakitnya itu pusing, demam, dan gangguan saluran pernafasan seperti batuk, flu,” katanya saat ditemui batampos.co.id, Senin (24/62019) sore.
“Sepertinya kelelahan setelah kebakaran itu,” katanya lagi.
Personel Dokkes Polda Kepri memeriksa kesehatan seorang bayi yang menjadi korban kebakaran di Baloi Persero, Kota Batam. Foto: Dokumentasi Humas Polda Kepri
Kata dia, 95 dari 134 jiwa pengungsi kebakaran sudah mengadukan masalah kesehatan yang mereka alami.
Asmarita mengatakan, semua masyarakat yang mengeluhkan kesehatannya tertangani dengan baik oleh petugas kesehatan.
Mereka bertugas secara bergantian untuk terus memastikan korban kebakaran ini tetap terlayani.
“Persediaan obat kita mencukupi untuk kebutuhan para pengungsi,” jelasnya.
“Tiap puskesmas akan terlibat dalam pelayanan kesehatan di sini, kita bertugas dengan sistem sif, kebetulan hari ini kami yang berjaga,” kata Asmarita yang berasal dari Puskesmas Kampung Jabi, Nongsa ini.(bbi)
batampos.co.id – Kepala Dinas Perikanan Pemkab Natuna Zakimin Yusuf menga-takan, pasar ikan yang akan dibangun atas kerja sama Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) yang diberi nama Pasar Tsukiji nantinya akan dikelola oleh BUMD.
“Hal ini sesuai arahan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan,” kata Zakimin, Senin (24/6).
Dikarenakan pasar yang dibangun juga ditempati pedagang maka perusahaan daerah yang sudah mengelola pasar tradisional yang lama, dapat bekerja sama menyampaikan data dan informasi awal jumlah lapak atau meja penjual ikan. Datanya sesuai nama penjual ikan (by name by address, red), serta estimasi kebutuhan es untuk kegiatan penjualan ikan.
“Tidak hanya itu, sambungnya, pemerintah juga membutuhkan data kebutuhan air bersih dan lainnya yang terkait dengan kegiatan penjualan ikan di pasar tradisional Ranai saat ini,” jelas Zakimin.
Pasar ikan Ranai kondisinya sudah tidak layak dan perlu perbaikan. foto: batampos.co.id / aulia
Pasar yang akan dibangun tidak jauh dari lokasi pasar yang ikan yang lama. Di sana juga akan ada pusat kuliner dan fasilitas khusus menyusui sesuai yang diatur dalam Permenkes nomor 15 tahun 2013.
Menurut Zakimin, yang terpenting saat ini rencana pemanfaatan dan pengelolaan pasar ikan lebih lanjut setelah konstruksi selesai.
Pemkab Natuna dapat membahas dan menampung saran agar dibentuk perusahaan daerah pasar sebagai anak usaha BUMD Natuna.
“Pembangunan Pasar Tsukiji tentunya memerlukan proses, karena sebagian menggunakan kegiatan reklamasi pantai dan sebagian di bagian darat. Reklamasi di bagian pantai sekitar 65 meter ke arah laut. Namun, tahun ini proses izin ditargetkan selesai, baik izin Amdal maupu izin lingkungan dan lainnya,” ujarnya.
Proses lainnya, kata Zakimin, pemerintah daerah harus menyelesaikan rumah warga yang berada di sekitar kawasan pembangunan pasar. Dimana warga bersedia pindah dari lokasi pembangunan secara tertulis.
“Dan yang penting disiapkan peren-canaan akses jalan oleh peme rintah daerah,” ujarnya. (arn)
batampos.co.id – Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Provinsi Kepri menargetkan pendapatan pajak kendaraan 2019 sebesar Rp 439,3 miliar. Hingga Mei, sudah tercapai 39 persen.
”Tahun lalu itu, pencapaian pajak kendaraan melebihi target. Tahun ini kami harap sesu-ai target, bahkan lebih,” kata Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Provinsi Kepri Reni Yusneli, Senin (24/6/2019).
Ia menyatakan optimistis target pajak kendaraan tercapai. Hal ini, disebabkan keluarnya Peraturan Gubernur Kepri no 22 tahun 2019, tentang penghitungan dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor. Aturan baru ini, menyesuaikan pajak kendaraan berdasarkan tahun pembuatan.
”Penyesuaian ini berdasarkan masukan masyarakat. Mobil tahun tua, jarang dipakai atau hanya untuk koleksi. Kami sesu-aikan pajaknya. Saya harap teman-teman memiliki koleksi mobil mewah tahun lama, segera membayarkan pajak kendaraannya,” ungkap Reni.
Reni mengaku dengan adanya penyesuaian ini, tentunya akan meningkatkan animo masyarakat membayar pajak. Karena masyarakat yang memiliki kendaraan tahun lama, tidak lagi membayar dalam jumlah yang besar, seperti sebelumnya.
Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, kendaraan dengan tahun pembuatan di bawah 1999 mendapatkan penyesuaian 50 persen dari pajak yang diterapkan sebelumnya. Kendaraan tahun pembuatan 2000 hingga 2003 mengalami penyesuaian 40 persen, tahun pembuatan 2004 hingga 2007 mendapatkan penyesuaian 30 persen.
Kendaraan dengan tahun pembuatan 2008 hingga 2011 mengalami penyesuaian pajak 20 persen. Lalu kendaraan tahun pembuatan 2012 hingga 2014 mendapatkan penyesuaian pajak 10 persen.
”Kepada masyarakat mari membayar pajak. Untuk membangun negeri ini,” tuturnya.
Penyesuaian pajak ini sudah dinikmati masyarakat. Rahmawati, warga Patam Lestari, ia mengaku pajak kendaraanya hanya Rp 525 ribu. Tahun lalu, katanya, pajak kendaraan jenis sedan tahun pembuatan 1999 tersebut sebesar Rp 1.050.000.
”Sepertinya sesuai dengan berita Batam Pos, saya hanya bayar setengahnya saja,” ucapnya.
Ia mengaku sangat senang adanya penyesuaian ini. Karena kendaraan yang dimiliki sudah terbilang uzur. Namun pajaknya masih tetap tinggi. ”Saat sangat apresiasi kebijakan pihak Samsat. Semoga kebijakan pajak kendaraan tua ini dapat dikaji setiap periodenya,” pungkasnya. (ska)
batampos.co.id – Kantor Pelayanan Umum Bea Cukai ((KPU BC) Tipe B Kota Batam telah selesai melakukan uji laboratorium sampel 65 kontainer berisi limbah plastik yang diduga memiliki kandungan bahan berbahaya beracun (B3).
Kepala KPU BC Batam, Susila Brata, mengatakan, hasil uji laboratorium itu sudah diserahkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang nantinya akan memaparkan hasil pemeriksaan tersebut.
Kata dia, hasil uji laboratorium akan menjadi dasar atas tindakan selanjutnya. Apakah nantinya akan dikembalikan ke negara asalnya atau tidak.
“Hasilnya sudah ada, kami hanya boleh menyerahkan kepada KLHK, nanti KLHK yang akan menjelaskan hasilnya itu, tidak lama lagi akan keluar hasilnya,” katanya, Senin (24/6/2019) sore.
Personel Bea dan Cukai Kota Batam memperlihatkan limbah plastik yang ditemukan di dalam kontainer di Pelabuhan Batuampar, Kota Batam. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id
Menurutnya, sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31 Tahun 2016 tentang impor limbah non B3, jika ternyata sampah di 65 kontainer ini mengandung B3, maka akan dilakukan re-ekspor ke negara asalnya.
Namun jika hasilnya negatif, maka limbah plastik tersebut tetap bisa diproses karena sesuai dengan ketentuan yang ada.
Pemeriksaan secara fisik, lanjut Susila, memang ada dalam ketentuan pengawasan barang di wilayah pabean.
Selain memang melalui pengawasan secara administratif, dokumen persetujuan impor yang dikeluarkan Kemendag dan dokumen penelusuran teknis ke negara asal oleh surveyor yang ditunjuk.
Pada prosesnya, BC Batam mengeluarkan nota hasil intelijen (NHI) terhadap 65 kontainer dari 16 dokumen yang dimiliki oleh empat perusahaan yang melakukan importasi ini.
Pemeriksaan fisik yang dilakuan lanjutnya, untuk mengetahui apakah limbah plastik tersebut mengandung B3 atau tidak, dengan melibatkan KLHK dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam.
“Kita (BC Batam) tidak punya kapabilitas untuk sampai menentukan status sampah ini, apakah mengandung B3 atau tidak,” jelasnya
“Makanya kita (BC Batam) menggandeng institusi yang punya kapasitas itu dalam hal ini KLHK dari pusat dan DLH di daerah yang juga memiliki bagian pejabat pengawas lingkungan hidup (PPLH),” tuturnya.
Bagaimana hasilnya nanti, Susila mengajak semua pihak untuk menerima dan mengambil sikap sesuai dengan ketentuan yang ada.
Suka atau tidak lanjutnya hal tersebut memang harus diterima.
Terlebih proses yang dilalui sudah sesuai dengan ketentuan dan melibatkan pihak yang memang memiliki keahlian sesuai dengan dibidangnya.